Agama Vs Budaya Pop

Ketika bulan Ramadhan tiba, bisa dipastikan berbagai budaya pop seolah berputar hampir 180 derajat. Mulai iklan, film, sampai musik-musik populer yang bergenre “buka-bukaan” dan “cinta-cintaan” merubah haluan ke ladang garapan bertema religi. Yang semula auratnya terbuka, kini telapak kedua tangan mulai terkatup, bertemu di depan dada. Langganan SMS bertema taushiyah banyak diperjualbelikan.

Budaya “latah” mengikuti tren populer semacam itu memang tidak sepenuhnya salah. setiap entitas memiliki sisi positif. Budaya pop mampu mengarahkan suasana. Budaya pop dapat membawa suasana religius Ramadan seolah menyeruak, atau minimal, nuansanya tetap ada. Bayangkan kalau Ramadan tidak diacuhkan dan televisi tetap menyiarkan tayangan seperti hari-hari biasa, mungkin suasana Ramadan serasa tiada.

Melihat ke legitimasi dari hadits, penyambutan Ramadan dengan suka cita semacam itu tidaklah salah, bahkan sangat dianjurkan. “Man fariha bi dukhuli ramadlan, harramallahu jasadahu ‘alan-niran”,kata Nabi, “Barang siapa gembira menyambut datangnya bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka”. Perlu kita bayangkan lagi: kalau bersuka-cita saja mendapat pahala sebesar itu, bagaimana kalau bisa mengisi bulan penuh berkah tersebut dengan banyak kesalehan? Hitung-hitungan di atas kertas, kita seharusnya mendapat lebih dari sekedar dijaga dari api neraka. Ah, tapi pahala itu urusan Tuhan.

Kembali ke permasalahan budaya pop tadi, selayaknya kita perlu bertanya, mengapa hal-hal bernuansa religi tersebut hanya muncul ketika Ramadan tiba? Seolah agama hanya ditilik beberapa saat saja. Agama menjadi entitas yang memenuhi tayangan media elektronik dan cetak ketika ia sedang banyak “dilakukan” oleh pemeluknya. Agama seolah dimarginalkan: hanya diangkat ketika pasar menghendaki. Hemat saya, inilah salah satu sisi kelemahan dari fenomena budaya pop menjelang (saat) Ramadan.

Kontrol Media

Tak dapat dipungkiri, gambaran seperti disebut di atas adalah hasil dari kontrol media. Media massa yang mampu mengarahkan opini, juga mampu mengontrol interaksi dan nuansa imajinasi publik. Agama, kaitannya dengan media, telah menjadi komoditas dengan laba yang lebih besar dari sekedar berita sensasional lainnya atau musik-musik ala cinta remaja. Agama menjadi “lahan basah” dalam waktu yang relatif cukup lama, satu bulan lebih.

Hanya saja, fenomena hasil dari kontrol media ini kadang menunjukkan sisi -maaf- “kemunafikan” pelaku yang acap tampil di media. Lihatlah sebagian dari para artis itu, saat Ramadan tiba, penampilan di depan publik akan berbeda, sedikit lebih “sopan”. Yang semula menampakkan aurat, tiba-tiba jadi berkerudung (berjilbab) dengan pakaian bergaya “islami”. Kata “islami”, saya beri tanda petik karena busana islami sudah kadung cenderung diasosiasikan dengan pakaian gamis, jilbab, baju koko, serban, dan sebagainya. Meski sebenarnya, penampilan luar bukanlah bagian terpenting dari agama.

Inilah nasib agama di negara sekuler, dimana agama hanya menjadi urusan privat, dan menjadi satu dari sekian bahan pertimbangan dalam menyelesaikan masalah sosial. Ia menjadi bagian yang sama dengan masalah lain, semacam politik, ekonomi, kebudayaan, dan semacamnya. Agama akan dilirik kembali kala momentumnya tepat alias sedang aktual. Saat masalah yang sedang hangat bukan lagi menyentuh bidang agama, ia akan ditinggalkan. Dan opini serta wacana publik mendadak berubah.

Lunturnya Idealisme

Idealisme agama seakan luntur dihadapkan pada pragmatisme mengikuti tren publik. Agama yang menuntut pemeluknya agar ia dijadikan pandangan hidup (way of life), menjadi sampingan saja yang sesekali dipandang. Saat ia mampu menarik perhatian publik, saat itulah uang bisa didatangkan.

Betapa tidak? Contoh saja: langganan SMS bertema taushiyah Ramadan banyak dijual. Siraman rohani banyak ditayangkan. Proposal pengajuan ustadz kultum tarawih dan subuh banyak masuk ke masjid, dan sebagainya. Papan-papan liar di pinggir jalan, juga beriklan: butuh penceramah Ramadan, hubungi nomor sekian. Agama, juga menjadi ladang mendapatkan rupiah.

Di saat seperti ini, ikhlas dalam berdakwah menyebarkan ilmu agama semakin menjadi pernyataan klise. Seolah, kemuliaan agama yang harus dibawakan dengan hati yang tulus menjadi isapan jempol belaka. Agama, layaknya “barang”, bisa didatangkan kepada mereka yang “memesan”.

Kalau melihat ke literatur klasik, mungkin para ulama dahulu akan miris melihat fenomena semacam ini. al-Maghfurlah KH Hasyim Asy’ari, dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, menyebutkan salah satu etika seorang alim agama: ilmu (agama) seharusnya yang didatangi, bukan didatangkan (al-‘ilmu yu`ta wala ya`ti). Itulah sebuah pernyataan yang cukup kesohor di kalangan pengkaji etika belajar agama Islam, yang juga pernah diucapkan oleh Imam Malik kala beliau diminta untuk mengajar agama ke salah satu putra khalifah kala itu.

Ilmu agama, haruslah dihormati sedemikian rupa seperti kita menghormati agama itu sendiri. Ia bukan komoditi yang mengikuti pragmatisme pasar (baca: market oriented). Lebih jauh bahkan, di literatur klasik yang membahas tentang etika belajar agama disebutkan bahwa sikap kita dalam belajar agama juga menentukan kemanfaatan ilmu agama tersebut di kemudian hari. Kalau kita membuka lembaran-lembaran kitab itu, akan kita temui bahwa bab pertama adalah tentang niat, berkaitan dengan penataan hati agar ikhlas dalam mengajarkan agama.

Ah, mungkin sudah zamannya. Hampir semuanya harus dinilai dari sisi materi (uang). Mana yang tak menghasilkan uang, ia tidak dilirik orang. Ibaratnya, saya beri bila kamu punya. Siapa bilang ikhlas ia akan terlindas.

(Artikel ini pernah dimuat di Kompas Jogja, 10/08/2010)

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s