Akar Krisis Politik Suriah

Apa yang sebenarnya menjadi akar krisis politik di Suriah? Konflik politis-sipil-sektarian di Suriah sudah berusia lebih dari dua tahun, dengan korban jiwa tak kurang dari 50 ribu dan jumlah pengungsi sekitar 200 ribu.

Banyak pihak sepakat, faktor mendasar yang menyebabkan krisis Suriah tak kunjung usai, selain adanya backing dari Iran-Rusia-Cina, adalah karena terbelahnya kelompok oposisi. Friksi di tubuh oposisi itu semakin menguat, sekalipun sudah diselenggarakan konsesi untuk menyatukannya dengan fasilitas dari Liga Arab.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab ke-24 di Doha, Qatar, bulan Maret lalu, kursi Suriah diduduki oleh pimpinan Koalisi Nasional Kekuatan Revolusi dan Oposisi Suriah (al-I’tilaf al-Wathaniy li Quwa at-Tsawrah wa al-Mu’aridhah as-Suriyyah), atau biasa disingkat Koalisi Nasional (NC). Kursi Presiden Bashar al-Assad di Liga Arab telah dikudeta oposisi.

Aksi penggulingan politis dari Liga Arab itu sebenarnya cukup mudah dimaklumi. Jamak diketahui, rivalitas Liga Arab dengan rezim Assad sudah berjalan lama, dan memuncak dalam krisis Suriah sejak dua tahun ini.

Rivalitas Suriah-Liga Arab mewujud dalam kompetisi memperebutkan hegemoni di kawasan. Arab Saudi dan Qatar kini menjadi pemain baru yang amat agresif, khususnya sejak masa Arab Spring. Rivalitas itu bahkan ikut merembet dalam ranah otoritas keagamaan.

Qatar bisa dikatakan adalah yang paling ambisius ingin melengserkan Assad. Emir Qatar, Hammad bin Khalifa at-Tsani sudah beberapa kali menggalang lobi internasional, termasuk PBB, meski belum sepenuhnya berhasil. Dan dari KTT itu, Menlu Qatar bahkan lantang mengajak negara-negara di Liga Arab untuk mempersenjatai opisisi Suriah.

Pecahnya Oposisi

Perseteruan itu akan terus berlanjut, mungkin sampai Assad lengser dari tahtanya. Sekalipun intervensi militer tak bisa dilakukan secara terbuka, Qatar dan pendukungnya akan terus melakukan penggalangan dukungan semaksimal mungkin kepada oposisi Suriah (NC).

Dengan demikian, NC pelan-pelan akan memperoleh kedaulatan dan legitimasi dari komunitas internasional. Dikabarkan, sekalipun masih bersifat pemerintahan sementara, NC menguasai cukup luas wilayah yang sudah terbebas (liberated areas): 100 ribu km persegi dengan jumlah penduduk tak kurang dari 10 juta.

Persoalannya adalah, apakah NC mampu membentuk pemerintahan yang efektif? NC menghadapi setidaknya dua tantangan berat.

Pertama, NC menghadapi hambatan dari grup-grup militer, yang sebagian anarkis dan berpandangan ekstrim. Kehadiran Al-Qaeda dan kelompok Jabhah an-Nushrah mesti diwaspadai. Di samping itu, yang lebih berat, tentu saja dalam mengharapi Tentara Pembebasan Suriah (FSA). Dalam beberapa ledakan konflik di Suriah, cukup sering diberitakan tentang kekecewaan FSA yang harus berjuang di dalam, sementara figur-figur NC duduk nyaman di kursi diplomasi.

Kedua, friksi dalam tubuh NC sendiri. Ada ketidaksatuan pandangan Muadz al-Khatib (Presiden NC) dengan Ghassan Hito (PM NC). Keduanya berbeda pendapat dalam menentukan pembentukan pemerintahan sementara, sampai-sampai Muadz beberapa kali sempat mengancam akan mengundurkan diri.

Sebagian besar figur NC berasal dari dua faksi oposisi terbesar, yakni Syrian National Council (SNC), yang berbasis di Turki, dan National Bloc. Kedua faksi itu dominan dalam tubuh NC, terbukti dengan keberhasilan mendapatkan 35 suara (dari total 49 suara) untuk menjadikan Hito sebagai kepala pemerintahan NC.

Friksi yang terjadi antara kubu Muadz dan kubu Hito itu turut diperparah dengan pengunduran diri dari 12 anggota NC. Mereka memprotes hegemoni orang-orang al-Ikhwan al-Muslimun (IM), yang mendominasi SNC. Mereka menuntut ditambahkan lebih banyak lagi anggota NC dari figur-figur yang berhaluan sipil-demokratis.

Konsolidasi

Upaya yang mutlak pertama kali harus dilakukan oleh NC, dengan demikian, adalah menyatukan pandangan, sebagaimana pandangan Yazid Seyigh dalam Hukumah al-Mu’aridhah as-Suriyyah(Carnegie Endowment, 28/03).

Konsolidasi internal di tubuh NC bukan hal yang mudah dilakukan. Diprediksi akan banyak faksi berkepentingan yang memperebutkan kursi “pemerintahan sementara” itu. Kekhawatiran terbesar datang, antara lain, dari kelompok-kelompok radikal yang hendak menunggangi NC. Dikhawatirkan, justru rivalitas internal ini akan membawa friksi yang meluas di kalangan rakyat.

Jika konsolidasi internal itu tak terwujud, maka pemerintahan sementara yang kini disepakati dalam KTT Liga Arab itu tak akan efektif. Secara de facto hingga kini, kantong-kantong wilayah yang terbebas banyak bergantung pada proteksi FSA. Pemerintahan sementara boleh jadi hanya formalitas politik, tanpa legitimasi yang kuat mengakar sampai ke level bawah. 

~ Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat [30/04/2013]

Tagged: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s