Gelar (Kok) Haji?

Perspektif yang saya gunakan dalam tulisan ini adalah ilmu sharf [morfologi dalam linguistik Arab] dan sosiologi agama.

Teorinya begini: isim fa’il [nomina yang menunjukkan pelaku] menandakan orang yang melakukan sebuah proses (hadats) yang berlaku temporal, bukan selamanya. Hal ini berbeda dengan isim shifah musyabbahah (atau disebut juga dengan al-musyabbah bismil-fa’il) yang menandakan suatu adjektiva yang melekat pada seseorang secara permanen (dawam wal-istimrar) [untuk lebih detailnya, coba baca buku tentang gramatika bahasa Arab, misalnya, Jami’ ad-Durus al-‘Arabiyyah]

Berdasarkan hal itu, kita bisa tahu bahwa isim fa’il adalah bukan termasuk sifah musyabbahah dan hanya berlaku temporal: saat perbuatan itu dilakukan saja.

Contoh penerapan teori di atas begini: orang yang sedang salat disebut mushalli. Begitu selesai salat, ia bukan lagi mushalli. Orang yang sedang puasa disebut sha`im. begitu selesai puasa, ia bukan lagi sha`im. Orang yang sedang membayar zakat disebut muzakki. Begitu selesai membayar zakat, ia bukan lagi muzakki. Nah, orang yang sedang berhaji namanya haajj. Begitu selesai haji, ia bukan lagi haajj. (Kata mushalli, sha’im, muzakki, dan haajj termasuk isim fa’il dan bukan isim shifah musyabbahah)

Jadi, haji itu ya cuma ada di Arab Saudi saja. Kalau orang sudah selesai haji, lalu pulang ke Indonesia, maka ia bukan lagi haaj (haji). Sebab, proses melakukan hajinya sudah selesai.

Nah, mengapa haajj (haji) dijadikan semacam “gelar” dalam budaya masyarakat Indonesia? Mestinya, kalau mau adil dengan rukun Islam lainnya, sekalian saja sebut orang dengan, misalnya, profesor doktor syahadat salat zakat puasa haji fulan bin fulan. Bisa disingkat dengan: Prof. Dr. Sy. S. Z. Pu. H. Fulan bin Fulan.

Barangkali ini masalah yang sepele. Tapi pencantuman gelar haji menandakan adanya konformisme budaya yang sebenarnya kurang baik dan pencampuradukan amaliyah keagamaan dengan gelar duniawi. Padahal, boleh jadi, yang ukhrawi itu bisa menjadi amal duniawi. Gelar “haji” adalah sebentuk manifesto pen-duniawi-an ibadah yang semestinya berdimensi ukhrawi dan untuk-Nya semata, bukan?

~ Kotagede, 30/10/2012

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s