Hamzah, Noah, Raja Negeriku

Musik adalah komunikasi jiwa. Musik barangkali bukan untuk dianalisis, baik dengan logika bahasa atau matematika, tapi dirasakan. Rasa adalah soal cermin hati, cermin jiwa. Sebab ia merupakan persoalan rasa, maka bukan untuk diiris dengan ungkapan benar-salah, tapi indah!

“Tanpa musik,” kata Friedrich Nietzche, filosof yang terkenal dengan kata-katanya bahwa Tuhan telah mati itu, “hidup adalah suatu kesalahan.” Orang serasional itu mengakui, musik merasuk dalam kegaiban hidup, namun dia ada dan menjadi bagian penting dari kehidupan. Sebab jika tak ada dia, hidup ini “tidak benar”. Ia ada sebab mengajak rasa bicara. Rasa adalah sepertiga dari hidup, disampiang kata dan makna. Musik, dengan demikian, juga bahasa universal, melintas batas-batas bangsa.

Sebab sifatnya yang universal itu, maka musik mampu “mengawam”, bahkan melebihi ideologi keagamaan. Ia menjadi juru bicara paling ampuh untuk menghanyutkan massa, dari yang elite sampai rakyat biasa. Musik menjadi pintu untuk membawa manusia masuk ke dalam tujuan tersembunyi di luar dirinya.

Ideologi biasanya dikampanyekan lewat jargon, adagium, ungkapan epik, dan sebagainya. Musik adalah lebih dari sekedar jargon. Musik membawa manusia tenggelam dalam lautan rasa berisi ideologi itu—kadang bahkan tanpa terasa. Maka agama dan ideologi apapun itu, jika ingin tersebar rata, mesti memanfaatkan musik.

Saya cukup terhanyut ketika mendengarkan Hamza Namira, penyayi Mesir, dengan lagunya, “El Midan”. Terhanyut dan terpikir sejenak: betapa ideologi nasionalisme menjadi semacam agama.

“El Midan” [dalam bahasa Arab yang fushha: al-Maidan. Artinya: lapangan, medan] mengacu pada Alun-alun Tahrir (Liberation Square), tempat ribuan kaum muda Mesir dulu berkumpul demi menggulingkan rezim Husni Mubarak, melantangkan suara atas nama demokrasi, kebebasan, dan HAM.

El Midan adalah lagu pembangkit nasionalisme: agar rakyat bangga pada Mesir-nya, agar rakyat bangkit kembali dari keterpurukan akibat represi rezim otoriter. Irfa’ raasak enta mashry, enta wahid min al-ly nezlu fil midan, begitu salah satu isi syairnya,“tegakkan kepalamu, kamu orang Mesir, kamulah salah satu yang turun di Maidan [Tahrir].”

Syair itu hendak berkata, Mesir bukan hanya Piramida dan Nil seperti yang dikatakan orang-orang luar. Mesir juga punya tekad, pewaris peradaban kuno yang bertahan berabad-abad. Kata syair itu: enta arga’tal mashrib-ta’ zaman (kamu, kembalilah ke Mesir dulu yang membentang zaman).

Itu sebenarnya indoktrinasi biasa: untuk membuat bangga pada negerinya, rakyat sering diajak untuk mengenang keindahan masa lalu. Tapi auranya menjadi tak biasa ketika dibungkus musik. Romantisme itu seolah menjadi nyata.

Seperti juga ketika saya mendengarkan salah satu lagu dalam album terbaru NOAH (nama baru bagi eks-Peterpan itu). Dalam lagu “Raja Negeriku”, tersirat hal yang sama dengan “El Midan”. Mungkin lagu itu akan mengawali gaya baru dalam blantika musik Indonesia, bukan saja secara musikal, melainkan juga isi lagu.

Lagu itu, singkatnya, berisi tentang kelelahan bangsa akan masalah-masalah yang tak kunjung usai—dan lambat diselesaikan. Maka lagu itu mengajak pada kenangan akan ketegasan Soekarno. Di lagu ini, pidato Soekarno diketengahkan. Lantang suara presiden pertama RI itu berkata di sela-sela lagu: “Revolusimu belum berhenti!”

Soekarno (yang terkenal dengan jargonnya “Ganyang Malaysia” dan “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”; juga yang terkenal di Timur Tengah itu, sampai-sampai Basher Othman [perempuan cantik berumur 16 tahun yang sempat menjadi walikota Allar, Palestina itu] mengidolakannya) merupakan ikon nasionalisme: mengajak bangsa Indonesia untuk bersatu: satu bangsa, satu negara, satu cita-cita. “Bangsa Indonesia, tetap tegak kepalamu!”

Aura nasionalisme itu begitu bangkit dalam lagu “Raja Negeriku”. Dan lebih terasa epik sejak disajikan dengan musik yang heroik dan didendangkan dengan backing-vokalsecara massal bak penonton bola—mungkin juga lagu ini akan melebihi heroisme “Garuda di Dadaku”.

Poin saya dua saja. Pertama, musik adalah karya yang mungkin tak perlu kita bahas jauh siapa pembuatnya. Jika Abu Nuwas yang mantan pemabuk dan pezina saja kita apresiasi syairnya, maka demikian pula dengan NOAH. Karya seni ini lepas dari senimannya.

Kedua, musik lebih ampuh membawa hidden-ideology dari sekedar kampanye keagamaan lewat ceramah, tausiyah, atau pengajian. Gerakan keagamaan, jika hanya mempropagandakan akidah dan syariah saja, niscaya miskin pengikut. Namun jika dibalut budaya [termasuk seni bermusik], akan “mengawam”. Perannya: suka dulu, mengerti kemudian.

Sekali lagi, musik adalah bahasa universal. NOAH [catat: bukan terinspirasi dari nama nabi Nuh] konon memiliki arti “sesuatu yang menginspirasi”. Musiknya pun mampu menghanyutkan rasa—setidaknya bagi beberapa orang yang seleranya demikian.

‘Ala kulli hal, mungkin musik NOAH itu akan menggebrak kaum muda agar bangga dengan negara dan budayanya sendiri: dengan cara, misalnya, melepaskan diri dari virus chibi-chibi!

~ Kotagede, 28/10/2012

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s