Indonesia, Ramadan, dan Solidaritas

Di bulan Ramadan ini, ada dua isu krusial yang menarik perhatian masyarakat internasional, khususnya dunia Islam: (1) kasus pembantaian Muslim Rohingya di Myanmar dan (2) “genosida” yang menyertai krisis politik di Suriah.

Kasus pertama adalah kasus yang sudah bermula sejak satu abad yang lalu. Muslimin Rohingya tidak diakui sebagai bagian dari warga negara Myanmar. Mereka tinggal di wilayah perbatasan Myanmar dengan Bangladesh. Dan naasnya, meski secara kultur dan etnisitas cukup dekat, Bangladesh tidak mengakui pula kewarganegaraan Muslimin Rohingnya. Muslimin Rohingnya sempat berinisiatif untuk “hijrah”: mencari “payung” legitimasi yang bisa menaungi mereka dan mengangap mereka menjadi warga negara yang sah—konon sebagian dari mereka sempat berlayar ke Aceh, tapi tidak mendapat tanggapan positif. Jadilah nasib mereka bagai (suku) bangsa tanpa negara.

Kasus pembantaian yang belum lama terjadi dan telah memakan korban hingga puluhan—bahkan kabarnya melebihi 100 jiwa—itu disulut oleh konflik kecil yang diawali oleh segelintir orang Islam yang menyerang orang Budha. Lalu kaum Budha yang notabene mayoritas di Myanmar membalas perlakuan itu secara tidak setimpal: menumpas banyak orang—dan tragedi ini pun segera terangkat menjadi isu internasional.

Ini Ironis! Sebab baru saja Myanmar mulai melakukan transisi politik ke arah demokrasi yang cukup cerah prospeknya. Di sana ada Aung San Suu Kyi, aktivis demokrasi yang baru saja memenangkan suara mayoritas di parlemen dan menerima hadiah Nobel di Oslo. Suu Kyi sebagai tumpuan harapan demokrasi di Myanmar sampai kini belum bersuara lantang membela nasib Muslimin Rohingya.

Adapun kasus kedua di Suriah, itu sudah terjadi sejak 16 bulan lalu. Rakyat sipil Suriah yang tewas sudah lebih dari 15 ribu. Itu jumlah yang amat tidak sedikit, apalagi tewasnya mereka atas nama pengukuhan kekuasaan rezim represif pimpinan Presiden Bashar al-Assad.

Sekitar 75 persen rakyat Suriah adalah Muslim Sunni. Meski demikian, orang-orang di pemerintahan didominasi oleh kaum Syiah-‘Alawiyyah. Yang terjadi di sana bukan hanya masalah konflik yang bernuansa sektarian, melainkan juga perebutan hegemoni-konstelasi politik Timur Tengah antara kubu pro-Iran-Rusia dan pro-Israel-Amerika.

Berbagai upaya untuk memecahan problem Suriah sampai detik ini belum juga ketemu. Lobi-lobi di PBB selalu gagal oleh “veto” Rusia, kawan dekat Iran dan Suriah. Beberapa elemen lembaga internasional mulai menyerukan keniscayaan intervensi, atau minimal sanksi berat untuk rezim Suriah. Pemerintah Indonesia sampai kini belum menunjukkan sikap tegas menyikapi krisis Suriah. Sikap Indonesia yang muncul beritanya di media massa baru sekedar menarik pulang WNI yang ada di sana.

Ukhuwwah Islamiyyah

Ada tiga bentuk persaudaraan yang sesungguhnya menjadi spirit ajaran Islam: ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan setanah-air), danukhuwwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia). Terkait poin yang pertama, dalam hadits Nabi dikatakan, “Kaum Mukminin itu bagai satu bangunan; bagian yang satu menyokong bagian yang lain (kal-bunyan, yasyuddu ba’dhuhum ba’dhan).”

Kita tahu, Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Sudah semestinya kita ikut terlibat sebisa mungkin untuk mendorong perdamaian dunia. Termasuk di antaranya adalah kasus-kasus yang sensitif bagi umat Islam. Bukankah politik luar negeri kita adalah bebas-aktif?

Indonesia selama ini relatif dipandang berada di posisi yang netral, tidak ekstrim berpihak ke kubu-kubu politik global. Ini menjadi modal nilai tawar yang cukup besar bagi Indonesia untuk menyuarakan lantang dukungan kepada setiap perlakuan yang tidak adil dan tidak manusiawi—terutama menyangkut umat Islam dunia, seperti di Palestina, Suriah, dan Myanmar yang sedang dibahas di sini.

Untuk itu, di Myanmar, Indonesia misalnya bisa mendekati pemerintahan di sana agar mempertegas bagaimana posisi Myanmar dalam menyikapi kewarganegaraan Muslimin Rohingya. Indonesia pernah mengalami hal yang kurang lebih sama dengan Myanmar saat ini. Di Myanmar, transisi politik sedang berusaha melepaskan diri dari dominasi junta militer di pemerintahan. Ini hampir sama dengan Indonesia yang bertransisi dari Orde Baru ke era reformasi.

Di Suriah, Indonesia pun perlu menimbang opsi agar bisa menjadi mediator untuk mempertemukan kedua kubu yang berkonflik: antara rezim Assad dengan kelompok-kelompok oposisi. Ini mungkin akan disambut baik mereka, sebab beberapa kali even perdamaian antar negara Timur Tengah sempat menjadikan Indonesia sebagai pihak yang dipercaya untuk menengahi.

Demikianlah, dalam Islam dikenal konsep ummah: persaudaraan antar Muslimin sedunia yang disatukan dengan ikatan akidah. Umat Islam sedunia saat ini sedang melaksanakan puasa Ramadan bersama-sama. Ini juga wujud dari ukhuwwah Islamiyyah itu. Bulan Ramadan merupakan momen yang tepat untuk menguatkan ukhuwwah itu dan kembali memperteguh solidaritas dunia Islam.

~ (Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 30/07/2012)

Tagged: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s