Invasi Militer ke Suriah

Tragedi tewasnya lebih dari 1000 jiwa di Suriah akibat serangan senjata kimia kini menarik perhatian dunia: akankah invasi militer menjadi opsi solusi mengakhiri krisis Suriah? Deras dikabarkan bahwa intervensi militer tampaknya akan terjadi tak lama lagi.

Persoalan utamanya adalah siapa dalang dibalik kebrutalan itu. Amerika dan sekutunya meyakini, itu perbuatan rezim Bashar al-Assad. Namun, sekali lagi, Assad menampik tuduhan itu. Assad mengklaim serangan kimia itu perbuatan kaum ekstremis. Menurut pendukung Assad, kaum ekstremis memanfaatkan krisis di Suriah. Sudah berkali-kali Assad mengkambinghitamkan kelompok teroris macam Al-Qaeda.

Satu pendapat dari pendukung Assad menyatakan, kelompok teroris sengaja melakukan serangan kimia itu agar tampak di mata dunia bahwa Assad sudah melanggar “garis merah” (red line), dan karena itu, intervensi militer harus segera dilakukan.

Pihak Barat tampak meyakini dan berusaha meyakinkan dunia soal perlunya intervensi militer. Menlu AS John Kerry tegas mengatakan, “Penggunaan senjata kimia adalah nyata dan berdasarkan fakta.” Presiden AS Obama dan Presiden Prancis Hollande menyatakan perbuatan itu harus dimintai pertanggungjawaban. Barat kini kembali mengudarkan wacana responsibility to protect. Betapapun, sudah jamak diketahui dalam kode etik perang, menyerang sipil tak bersenjata adalah haram.

Penggunaan senjata kimia itu membuka babak baru penyelesaian konflik di Suriah. Barat kini tampak bernafsu; tak seperti sebelumnya, di mana Barat terkesan maju-mundur sebab khawatir kejatuhan Assad justru akan memunculkan murid didikan Al-Qaeda, Jabhah an-Nusrah, ke panggung politik.

Ancaman Irakisasi

Meski demikian gamblang tragedi kemanusiaan itu terjadi, dalam analisis geopolitik di kawasan, kita tak bisa serta-merta menarik kesimpulan bahwa intervensi militer menjadi satu-satunya opsi mutlak. Beberapa pandangan dari para pendukung Assad menyatakan setidaknya tiga alasan.

Pertama, wacana dunia yang kini menghantam Suriah mirip dengan dulu yang pernah menimpa Irak di masa Saddam Husein. Waktu itu, Barat mengklaim Saddam punya senjata pemusnah massal. Dan belum juga tuduhan itu terbukti, AS sudah menginvasi Irak. Sungguh menyesakkan, setelah ribuan jiwa tewas, senjata pemusnah massal itu tak terbukti adanya. Dengan ini jelas, intervensi militer harus ditolak bila belum ada kejelasan bukti penggunaan senjata kimia.

Kedua, Assad masih didukung aliansi setianya, Hizbullah (Lebanon) dan Iran. Dalam soal ini, Suriah pun amat mirip dengan Irak. Intervensi militer ke Suriah jelas menarik terjadinya perang proxy.  Perang dalam skala besar diprediksi akan terjadi di kawasan bila interveni militer dilakukan. Tentu saja ini memunculkan korban yang lebih banyak lagi.

Ketiga, diakui atau tidak, kelompok kontra-Assad ini bermacam-macam. Ada aliansi yang tak biasa dalam kasus Suriah ini. Yakni, adanya kesamaan tujuan antara kekuatan Islamisme dengan Barat-sekuler.

Semakin para “mujahidin” keras menentang Assad, dan Assad pun membalas dengan sedemikian kerasnya, disadari atau tidak, itu berarti memanggil Barat untuk semakin jauh mengintervensi. Dengan opini dunia yang cenderung kontra-Assad, maka siapa yang berhasil menggulingkan Assad akan jadi “pahlawan”. Lalu “pahlawan” itu akan meminta imbalan jasa. Lihatlah sebagaimana yang kini terjadi pada Libya, setelah Qadhafi digulingkan dengan bantuan intervensi NATO.

Andaikanlah Assad berhasil tumbang, maka Suriah pasca-Assad akan menjadi rebutan banyak faksi politik. Dalam kondisi Suriah yang kini mengalami sentimen sektarian yang begitu sengit, lagi-lagi Irakisasi dikhawatirkan akan terjadi: pertikaian Sunni-Syiah akan menjangkiti Suriah dalam waktu yang lama.

Risiko

Di pihak lain, suara penganjur intervensi militer agar segera dilakukan pun tak kalah lantangnya. Thariq  Al-Hamid, kolumnis koran as-Syarq al-Awsath (kepunyaan elite Arab Saudi, yang jelas berseberangan dengan rezim Assad), menyatakan sanggahan-sanggahan kritis.

Pertama, argumen rezim Assad bahwa intervensi militer akan menyebabkan Irakisasi itu lemah. Kekuasaan efektif Assad kini hanya tersisa tak lebih dari separuh wilayah Suriah. Itu terjadi akibat perlawanan oposisi, terutama oleh Free Syrian Army, tanpa intervensi militer langsung dari Barat, Israel, Saudi, Qatar, maupun Turki.

Kedua, klaim Assad tentang memerangi kelompok teroris itu hanya retorika politik belaka untuk menutupi kepentingan aliansinya di kawasan. Kenyataannya, Assad hampir tak pernah terlibat pro-aktif memerangi terorisme di belahan kawasan lain, seperti di negara Teluk, misalnya, atau di Yaman. Retorika Assad pun mirip dengan ancaman Qadhafi bahwa bila ia digulingkan maka faksi-faksi keras akan menyeruak ke permukaan.

Namun demikian, intervensi militer tidak tanpa risiko. Problem utamannya memang jalan rekonsiliasi dan kompromi politik kini benar-benar sudah buntu. Tiada saling percaya antara rezim Assad dengan oposisi. Bahkan oposisi yang sudah disatukan dalam Koalisi Nasional (NC) saja tak sependapat.

Dalam beberapa kali kesempatan, Assad mampu secara efektif menolak ajakan dialog. Saat diwawancari media-media internasional, Assad beberapa kali mempertanyakan kohesivitas kelompok oposisi. Itu menjadi alasan kuat bagi Assad bahwa tak ada yang bisa menjadi representasi kuat bagi oposisi.

Apologi Assad itu tak bisa ditampik begitu saja. Dengan persiapan menuju transisi yang jauh dari matang, maka kemungkinan pasca-tumbangnya Assad, jika ini terjadi, ada dua. Pertama, transisi demokrasi di Suriah akan diwarnai pertikaian politik berlarut-larut, dan ditunggangi sentimen sektarian. Kedua, Barat mendikte peta jalan transisi.

Intervensi militer tampaknya tak akan membawa kemaslahatan bagi Suriah semudah yang dibayangkan.

~ Artikel ini pernah dimuat di Republika [02/09/2013]

Tagged: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s