Jawa Ilang Jawane

Meski saya orang Jawa, putra asli kelahiran Jogja bahkan, ada dua hal dari budaya Jawa yang—sejujurnya—tidak saya suka: (1) budaya pakewuh & (2) boso kromo.

Entah ini sudah watak orang Jawa atau bukan, tapi dari hasil pengamatan beberapa kali, saya berkesimpulan bahwa orang Jawa itu lebih suka memendam rerasan-nya. Ia tahu betul berada di pihak yang benar, tapi pakewuh bicara—apalagi kalau yang dihadapi adalah yang lebih tua—tak mau tegas: bilang ya atau tidak!

Kedua, tentang boso kromo. Orang bilang itu tradisi unggah-ungguh ala Jawa yang perlu dilestarikan terus menerus. Tapi bagi saya, muncul beberapa uneg-uneg: bahasa itu yang baik egaliter atau berkasta? Tidakkah Anda tahu, bahasa-bahasa paling banyak penggunanya di dunia (ex: Inggris dan Arab) itu tidak memiliki kasta-kasta? Apakah sistem kasta dalam bahasa Jawa merupaka karakteristik unggul ataukah malah kelemahan bahasa jawa itu sendiri?

Masalahnya begini: boso kromo sering menjadi tolok ukur tingkat unggah-ungguh seseorang. Bagi anak muda yang tiap hari bersentuhan dengan budaya modern, hal tersebut sangat sulit dilakukan. Bahasa adalah kebiasaan. Anak muda sekarang ini lebih sering berbahasa Indonesia, terutama di bangku pendidikan. Sudah sangat sulit dijumpai, seorang pemuda yang mambu berbahasa Jawa alus-mlipis.

Lha kalau tiap hari di pendidikan formal maupun non-fromal lebih banyak memakai bahasa Indonesia, lalu orang tua atau tetangga di rumah juga jarang memberi contoh ber-boso kromo, siapa yang salah? Boso kromo juga kadang bisa menjadi media anarkisme (kepatuhan) orang-orang yang lebih tua. Bukan berarti tidak menghormati, tidak mesti bisa diartikan tidak punya sopan santun, hanya karena salah dalam mengucapkan boso kromo, bukan? Bisa jadi ia benar-benar tidak tahu.

Saya berpikir keras untuk ini, sebab beberapa waktu lalu, saya menerima slenthingandianggap kurang unggah-ungguh hanya karena salah ucap “satu” kata saja dalam ber-boso kromo, yang seharusnya dipakai untuk orang yang lebih tua, tapi malah dipakai untuk saya sendiri. Padahal saya benar-benar tidak tahu bahwa itu boso-kromo yang salah dipake. Salahkah saya? Orang tua kadang anarkis dalam ber-boso kromo: suatu bentuk feodalisme yang entah, sampai sekarang, saya belum bisa yakin itu benar atau tidak.

Karena budaya pakewuh dan bahasa berkasta, semua tatacara bicara dan bersikap dengan yang lebih tua dalam bahasa Jawa terlalu banyak aturan formalnya. Siapa menyalahi aturan itu sedikit saja, hati-hati bisa dicap: cah enom ra nduwe unggah-ungguh! ra tau diwulang totokromo yo?

~ Kotagede, 10/12/2013

Tagged: , , ,

One thought on “Jawa Ilang Jawane

  1. Tri Pambudi 08/08/2014 pukul 13:30 Reply

    Tapi saya suka pakai bahasa kromo ke yang lebih tua untuk menunjukkan rasa hormat saya sama orang tua dan juga yang saya hormati. Guru, Pak Kyai, Pak Lurah dsb.
    Kromo saya tidak begitu bagus dan sempurna, tapi belum pernah saya terima tuduhan “cah enom ra nduwe unggah-ungguh! ra tau diwulang totokromo yo?”. Justeru kalau salah, yang saya terima adalah koreksi dan nasehat. Kalimat “cah enom ra nduwe unggah-ungguh! ra tau diwulang totokromo yo?” lebih sering ditujukan bagi anak yang kelakuannya tidak baik. Jarang bagi yang “salah” berbahasa kromo.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s