Ketika Nabi Dihina

Film “Innocence of Muslims” yang digarap oleh Nakoula Basseley Nakoula, dengan menggunakan nama samaran Sam Bacile, menuai protes keras dari umat Islam. Film itu berisi pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW: menggambarkan Nabi sebagai pemarah, pembenci, gila wanita, dan pedofilia. Film yang menghabiskan dana US$ 5 juta atau Rp 47,8 milyar hasil dari donasi 100 orang Yahudi-Amerika itu pun sengaja memanfaatkan momen tragedi 9/11.

Terry Jones, pendeta yang dua tahun lalu sempat menginisiasi gerakan pembakaran al-Qur’an di Ground Zero, ikut mempromosikan film itu. Sebelumnya, Terry Jones telah melancarkan provokasi dengan mendeklarasikan peringatan tanggal 9/11 sebagai International Judge Muhammad Day.

Ribuan umat Islam mengutuk provokasi dan pelecahan dalam film itu. Di Libya, roket meluncur dan menewaskan duta besar AS dan dua stafnya. Di Mesir, sekitar 3000 demonstran menyerbu kedubes AS dan menurunkan bendera AS yang dipasang setengah tiang untuk memperingati tragedi 9/11. Unjuk rasa besar-besaran juga terjadi di sejumlah negara Arab lainnya seperti Tunisia, Irak, Iran, Bahrain, dan Yaman.

Menurut berita dari CNN dan IANN News (13/9), banyak kru dan pemain yang terlibat dalam film itu mengaku terkejut. Pasalnya, mereka sebelumnya dikontrak untuk bermain film dengan judul Desert Warrior, dan tokoh utamanya bernama George. Film itu masih tergolong amatir. Aktor dan aktrisnya pun belum mencapai ‘maqam’ profesional.

Dalam proses editingnya, suara dari film itu yang menyebut “George” diganti dengan “Muhammad”. Judulnya diubah. Naskah pun diedit di tengah-tengah pembuatan film. Pemeran “Muhammad” adalah orang Amerika, bukan orang Arab. Film berdurasi dua jam itu, dengan demikian, jelas diproyeksikan sejak awal untuk memprovokasi. Nyata tidak ada niatan baik dari film itu untuk menghormati agama, melainkan untuk mengobarkan api kebencian terhadap Islam.

Jika memang demikian tujuan dari film itu, apakah kita harus bereaksi keras? Pertama, reaksi keras seperti yang terjadi di Libya itu, pada hemat saya, adalah tindakan reaktif yang boleh jadi memang yang diinginkan oleh si pembuat film. Tindakan reaktif itu kontraproduktif dan bisa dimanfaatkan oleh pembuat film itu untuk menyudutkan Islam di dunia Barat. Seolah pembuat film itu dan para pendukungnya ingin mengatakan: “Inilah orang Islam, orang-orang pemarah!”

Kedua, tindakan marah sampai membunuh orang yang tidak terlibat (kedubes AS di Libya) adalah berlebihan dan melampaui batas. Semestinya yang kita adili adalah oknum yang bersangkutan, bukan orang yang seagama atau sewarganegara dengan oknum tersebut. Simak QS 5:8 berikut: “Jangan sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum menjerumuskanmu dalam laku yang tak adil. Berlaku adillah! Adil itu lebih dekat kepada takwa.” Jadi, bahkan dengan musuh yang dibenci sekalipun, kita mesti mengadili tanpa emosi yang berlebihan.

Tidak Perlu Anarkis

Tragedi 9/11 membuat “virus” Islamofobia menjangkiti banyak orang Barat. Dulu pernah ada karikatur Nabi di surat kabar Denmark, juga film “Fitna” di Belanda, dan pembakaran al-Qur’an di Amerika. Islamofobia itu hingga kini belum juga hilang.

Islamofobia: membenci dan memaki-maki Islam. Terhadap mereka yang melecehkan Islam, apakah kita patut membalasnya dengan makian serupa dengan dalih, misalnya, QS 42:40 yang memerintahkan untuk  membalasa kejahatan dengan setimpal—wajaza’u sayyiatin sayyiatun mistluha [balasan keburukan adalah “keburukan” serupa]?

Pertama, ayat itu turun dalam konteks Madinah dimana umat Islam, Yahudi, Nasrani, dan paganis berada dalam posisi sederajat di depan kontrak sosial Piagam Madinah, yang secara implisit mengandung aturan hukum pidana (jinayah). Diantara hukuman setimpal itu—yang juga ada dalam syariat Yahudi dan dikonfirmasi oleh al-Qur’an—adalah “mata balas mata, telinga balas telinga, hidung balas hidung,” dan seterusnya.

Ketika Nabi Muhammad masih di Mekkah dan Islam masih minoritas (ini dengan asumsi bahwa sasaran film itu adalah warga Barat), Nabi justru diperintahkan untuk sabar menghadapi makian kaum musyrik. Simak QS 7:199 berikut: “Jadilah pemaaf, ambillah yang mudah, suruh orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang jahil.”

Kedua, ketika Nabi hijrah keduakalinya, yakni ke Thaif, lalu di sana beliau justru dilempari batu, Jibril datang menawarkan bantuan untuk menghempaskan gunung Akhsyabin ke warga Thaif. Tawaran Jibril itu ditolak. Justru Nabi berkata, “Jangan! Saya berharap semoga diantara keturunan mereka ada yang beriman.”

Ketiga, menyikapi orang-orang yang suka memaki beliau, Nabi sendiri kerap berdoa, “Allahumma ihdihim fainnahum qawmun la ya’lamun (Ya Allah, berilah mereka petunjuk, sebab mereka adalah kaum yang tidak mengerti).

Jadi, unjuk rasa sebagai protes terhadap film pelecehan itu, hemat saya, adalah boleh asal dalam batas yang proporsional dan prosedural. Tindakan anarkis dan melampaui batas semestinya kita hindari. Dengan meminjam redaksi doa Nabi itu, kita pun layak juga untuk berdoa: Allahuma ihdi ‘Nakoula Basseley Nakoula’ wa ‘Terry Jones’ wa ansharahuma wa da’imihima, fainnahum la ya’lamun.” Wallahu a’lam.

~ (Artikel ini pernah dimuat di Republika19/09/2012)

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s