Kiai Hasyim dan Syiah (Tanggapan untuk Islamia-Republika)

Pada hari Kamis, 20 Juni 2013, sebagaimana rutinitasnya sekali dalam sebulan, harian Republika terbit dengan suplemen khusus berjudul Jurnal Islamia. Jurnal Islamia ini diterbitkan atas kerjasama antara Republika dengan INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations). Pada edisi hari itu, tema yang dibahas adalah tentang Hadhratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari yang tampaknya diangkat sembari memanfaatkan momentum dirilisnya film Sang Kiai.

Ada lima artikel panjang yang membahas hal ihwal Mbah Hasyim (demikian biasanya orang-orang NU menyebut beliau). Sebagiannya berisi analisis tentang karya-karya Mbah Hasyim, dan tampak diberikan penekanan pada poin-poin tertentu dalam pernyataan Mbah Hasyim yang menyinggung mazhab lain. Catatan ini ditulis untuk memberikan beberapa komentar terhadap sebagian isi artikel-artikel di Jurnal Islamia itu. 

[ 1 ]

Dalam artikel berjudul “Kesesatan Agama Menurut KH Hasyim Asy’ari” oleh seorang peneliti dari InPAS, Surabaya, tertulis:

“Beliau mengatakan dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama: Di zaman akhir ini tidak ada mazhab yang memenuhi persyaratan kecuali mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali). Adapun mazhab yang lain, seperti mazhab Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah adalah ahli bid’ah. Sehingga, pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti.”

Dalam artikel berjudul “Jihad dan Pemikiran Sang Kiai” oleh dosen STAI Lukmanul Hakim, Surabaya, tertulis:

“Demikian juga terhadap hal-hal yang menurutnya berpotensi memengaruhi akidah umat tidak lepas dari perhatiannya. Sebagai bukti, dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama, Kiai Hasyim dengan tegas melarang warganya untuk tidak terpengaruh apalagi mengikuti aliran Syiah Zaidiyah. Padahal, Syiah Zaidiyah tergolong aliran yang relatif ringan kesalahannya, yaitu mereka berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib RA lebih utama ketimbang Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA.”

Tidaklah keliru bahwa Mbah Hasyim menulis secara eksplisit dan menyatakan bahwa mazhab Zaidiyah dan Imamiyah termasuk ahli bid’ah. Hal ini termaktub dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasiy (yang dalam kompilasi Irsyad as-Sari oleh Almarhum Gus Ishom Hadziq digabung dengan at-Tibyan), persisnya pada bab Risalah fi Ta’akkud al-Akhdzi bi Madzhahib al-A’immah al-Arba’ah. Di risalah itu, pada halaman 29, Mbah Hasyim menulis:

وإذا تعين الاعتماد على أقاويل السلف فلا بد من أن تكون أقاويلهم التي يعتمد عليه مروية بالإسناد الصحيح أو مدونة في كتب مشهورة … وليس مذهب في هذه الأزمنة المتأخرة بهذه الصفة إلا هذه المذاهب الأربعة , اللهم إلا مذهب الإمامية والزيدية, وهم أهل البدعة لا يجوز الاعتماد على أقاويلهم.

“Setelah dijelaskan ketentuan tentang keharusan berpegangan pada pernyataan-pernyataan Salaf, maka mestilah pernyataan-pernyataan yang dijadikan sandaran itu diriwayatakan dengan sanad yang sahih atau terkodifikasi dalam kitab-kitab yang masyhur…. Dan tidak ada mazhab di zaman mutakhir ini yang memenuhi kriteria itu kecuali Mazhab Empat. Adapun Mazhab Imamiyah dan Zaidiyah, mereka adalah ahli bid’ah dan pernyataan-pernyataannya tak boleh dijadikan pegangan.”

Dalam artikel di Jurnal Islamia itu, bagian pernyataan bahwa Syiah Zaidiyah dianggap ahlul-bid’ah di-highlight di bagian atas artikel. Dan terhadap hal itu, saya ingin mengajukan dua catatan untuk memahami pernyataan “ahli bid’ah” itu secara proporsional agar tak diambil secara atomistis sebagaimana yang dilakukan artikel di Islamia itu.

Pertama, dalam tafsir saya terhadap risalah Mbah Hasyim itu, Mbah Hasyim menyatakan mazhab Syiah Zaidiyah tidak boleh diikuti karena kitab mereka tidak terkodifikasikan dengan baik (sekurang-kurangnya di zaman saat Mbah Hasyim masih sugeng) sehingga hilanglah kepercayaan akan isi kandungan ajaranya. Ini dikuatkan dengan dua paragraf di akhir bab tentang keharusan berpegangan pada 4 mazhab itu. Mbah Hasyim menyatakan bahwa mazhab-mazhab yang diikuti sebenarnya tidak terbatas pada empat saja. Ada mazhab lain, seperti mazhab Dua Sufyan (at-Tsauri dan ibn ‘Uyainah), Ishaq ibn Rahawaih, Awza’i, bahkan Dawud az-Zhahiri. Namun, tersebab hilangnya kitab-kitab mereka dan tiadanya penerus mazhab mereka, maka Mbah Hasyim memperingatkan untuk tak mengikuti kecuali mazhab yang empat. Sebab, menurut Mbah Hasyim, hanya mazhab empat yang terjamin sanadnya sehingga bisa dijadikan pegangan dalam beragama. Maka dari itu, terkait Imam Zaid ibn ‘Ali Zainal’Abidin, Mbah Hasyim menulis:

ولذا قال غير واحد في الإمام زيد بن علي رحمه الله: إنه إمام جليل القدر عالى الذكر, وإنما ارتفعت الثقة بمذهبه لعدم اعتناء أصحابه بالأسانيد 

“… Karena itulah tak sedikit yang berkata tentang Imam Zaid ibn ‘Ali rahimahullah bahwa beliau adalah seorang imam yang mulai dan masyhur keagungannya, hanya saja telah hilang kepercayaan pada mazhabnya karena hilangnya sanad kepada para penerus mazhabnya…”

Bila menyambungkan pernyataan Mbah Hasyim yang terakhir ini dengan yang dinukil di awal, cukup jelas bahwa alasan utama Mbah Hasyim me-wanti-wanti untuk tak mengikuti Zaidiyah ialah karena khazanah mazhab itu tak terbukukan dengan sanad yang sahih. Dalam penafsiran saya, ini mengimplikasikan bahwa yang dinyatakan bid’ah-nya oleh Mbah Hasyim bukanlah mazhab Zaidiyah dalam dirinya sendiri, melainkan keraguan akan keterjagaan dan ketersambungan sanad dari penerus kepada pendirinya.

Kedua, pada kenyataannya di abad 21 ini, setelah teknologi mempermudah penggalian manuskrip-manuskrip dan khazanah klasik Islam, akses terhadap karya-karya otentik mazhab-mazhab awal Islam mulai bisa dilakukan. Kajian-kajian akademis fikih perbandingan mazhab mulai bisa merumuskan kembali sedikit demi sedikit mazhab-mazhab yang hilang itu (sebelum terkerucut hanya pada 4 mazhab saya, menurut mantan Mufti Mesir Syaikh ‘Ali Jum’ah, dalam era Islam perdana ada lebih dari 70 mazhab). Dalam kasus Zaidiyah, misalnya, tak jarang tertemui kini kitab-kitab dari literatur Zaidiyah yang dibaca dan dikaji sebagai bahan fikih perbandingan di pesantren-pesantren NU, misalnya Subulus-Salam karya as-Shan’ani (kitab ini merupakan syarah terhadap Bulugh al-Maram karya Ibn Hajar al-‘Asqalani yang bermazhab Syafi’i) dan Naylul-Awthar karya as-Syaukani.

Penekanan saya pada dua poin di atas ialah bahwa di zaman yang kian terbuka dengan peradaban luar dan kontak dengan mazhab-mazhab Islam lain kian intensif ini, keharusan untuk saling mempelajari bahkan saling merujuk ke mazhab lain susah terhindarkan—kecuali bila seseorang memilih untuk jadi eksklusif. Hal ini tampak, misalnya, dalam karya Syaikh ‘Ali as-Shabuni, ulama Saudi, yang karya tafsirnya Shafwah at-Tafasir dikaji di pesantren-pesantren NU yang terbuka pada literatur ulama modern. Kitab Shafwah at-Tafasir itu, terutama untuk menjelaskan tafsir-tafsir lafal al-Quran secara linguistik, sering merujuk ke az-Zamakhsyari yang berhaluan Mu’tazilah. Contoh lain, ada Tafsir al-Maraghi, karya al-Maraghi (Syaikh al-Azhar awal abad 20) yang memunculkan tafsir-tafsir rasionalis, khususnya yang berkenaan dengan hal ihwal mukjizat [akhir abad 19 dan awal abad 20 adalah era munculnya tafsir-tafsir rasionalis di kalangan intelektual Islam yang disebabkan, antara lain, sebagai respon rasionalisme Barat yang datang bersama kolonialisme; saat itu ialah era kemunculan figur besar seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha]. Di kalangan beberapa kiai NU sepuh, sebagian isi tafsir al-Maraghi dianggap bertentangan dengan doktrin Aswaja, tapi tak sedikit pula kiai-kiai NU mutakhir yang tetap merujuk tafsir itu.

 [ 2 ]

Dipaparkan dalam artikel di Jurnal Islamia itu, yang berjudul “Kesesatan Agama Menurut KH Hasyim Asy’ari”, bahwa Mbah Hasyim memerangi banyak model kesesatan yang mesti diwaspadai umat Islam di Jawa. Di antaranya: kebatinan, paham ibahiyah, paham hulul-ittihad, tasawuf yang menyimpang (mutashawwifah), dan Rafidhah. Khusus soal Rafidhah ini, artikel di jurnal Islamia itu menganggap Rafidhah adalah sama saja dengan Syiah Imamiyyah saat ini, tanpa ada pemilahan atau klasifikasi.

Bagaimana pernyataan Mbah Hasyim tentang Rafidhah? Mbah Hasyim menulis:

ومنهم رافضيون يسبون سيدنا أبا بكر وعمر رضي الله عنهما, ويكرهون الصحابة رضي الله عنهم, ويبالغون هوى سيدنا علي وأهل بيته رضوان الله عليهم أجمعين, قال السيد محمد في شرح القاموس: وبعضهم يرتقي إلى الكفر والزندقة أعاذنا الله المسلمين منها

“Di antara mereka (yang jangan dijadikan pegangan dalam beragama—penerjemah) ialah kaum Rafidah yang mencaci Sayyidina Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, yang membenci Sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan berlebihan mencintai Sayyidina ‘Ali dan Ahlul-Baitnya ridhwanullahi ‘alayhim ajma’in. Sebagian dari mereka telah sampai pada taraf kafir dan zindiq, semoga Allah melindungi kita dan kaum muslimin dari mereka.”

Membaca teks itu, ada dua hal yang tidak boleh silap dari perhatian. Pertama, klausa “rafidhiyyun yasubbuna….”, dalam sintaksis (nahwu) bahasa Arab, adalah shifah-maushuf dan shifah memiliki fungsi takhshish atau spesifikasi. Artinya, Rafidhah yang dimaksud dalam ialah Rafidhah yang mencaci dua khalifah pertama; dan klausa itu berimplikasi adanya Rafidhah yang tidak mencaci. Dua, dalam pernyataan tentang vonis kafir itu, jelas di sana disebut sebagian (dan “sebagian” bisa saja berarti sebagian besar atau sebagian kecil). Dan tiada keraguan bahwa, dengan dasar bahwa yang disebut adalah sebagian (ba’dhuhum) maka ada Rafidhah yang tidak sampai taraf kafir, atau dengan kata lain masih berada dalam koridor agama Islam.

Dua poin itu berlaku bila asumsi dasar yang dipakai ialah bahwa Rafidah yang dimaksud Mbah Hasyim dalam statemennya adalah sama dengan Syiah-Imamiyah sebagaimana yang disasar artikel di Jurnal Islamia itu. Kalau tidak demikian (maksudnya: Syiah Imamiyah tidak serta merta berarti Rafidhah), maka berarti salah alamat bila vonis Mbah Hasyim yang diberikan kepada Rafidhah dijatuhkan kepada Syiah Imamiyah.

Pembedaan tentang Syiah mainstream dengan Rafidhah ini, misalnya, ditekankan oleh Habib ‘Ali al-Jufri (ulama Sunni kontemporer yang banyak diikuti oleh jamaah NU saat ini), sebagaimana keterangannya di video di Youtube ini (berbahasa Arab): https://www.youtube.com/watch?v=1uWxaHzLpNQ. Kata Habib al-Jufri, beda Syiah mainstream dengan Rafidhah ialah Syiah mainstrem menyatakan keutamaan Ali ibn Abi Thalib melebihi Abu Bakar dan Umar namun tak menyatakan perang kepada kedua khalifah pertama itu (sebagaimana ini ialah contoh dari Imam Ali sendiri), sedangkan Rafidhah ialah yang mencaci dan menyatakan perang terhadap Abu Bakar dan Umar (sebagaimana istilah Rafidhah itulah yang dipakai oleh Imam Zaid ibn Ali Zainal Abidin untuk mendeskripsikan mereka). Hal yang sama pun dikonfirmasi oleh ulama Syiah sendiri, antara lain oleh Ayatullah Sayyid Kamal al-Haydari dalam video di Youtube ini (berbahasa Arab): https://www.youtube.com/watch?v=LTeD2OB_0lE—dan Sayyid Kamal al-Haydari memaparkan argumentasinya dengan merujuk literatur Sunni.

Di atas segalanya, persoalan istilah Syiah dan Rafidhah ini akan tambah elaboratif kalau diperbandingkan dengan rujukan pada literatur klasik. Di antara contoh yang menarik ialah tentang keterangan Imam ad-Dzahabi (yang pernah berguru kepada Ibn Taimiyah) mengenai Imam an-Nasa’i dan Imam al-Hakim an-Naisaburi dalam karyanya, Siyar A’lam an-Nubala’ (Biografi Para Alim nan Cerdas—sebuah karya ensiklopedis tentang para intelektual klasik Islam).

Imam an-Nasa’i (829-915 M), yang merupakan satu dari empat penulis buku babon hadis Sunni yang bercorak sunan (di samping Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah), dideskripsikan oleh ad-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ (dalam software al-Maktabah as-Syamilah yang telah disesuaikan dengan terbitan Muassasah ar-Risalah ada di juz 27 halaman 140)  sebagai berikut:

ولم يكن أحد في رأس الثلاث مائة أحفظ من النسائي، هو أحذق بالحديث وعلله ورجاله من مسلم، ومن أبي داود، ومن أبي عيسى، وهو جار في مضمار البخاري، وأبي زرعة إلا أن فيه قليل تشيع وانحراف عن خصوم الإمام علي، كمعاوية وعمرو، والله يسامحه.

“Tidak ada di awal tahun 300-an (hijriyah) seseorang yang lebih hafal hadis melebihi an-Nasa’i. Ia lebih pandai dalam soal hadis dan ilmu ‘illah dan rijal hadis dibanding Muslim, Abu Dawud, dan Abu ‘Isa. Ia selevel al-Bukhari dan Abu Zur’ah. Hanya saja, ia sedikit punya kecenderungan pada Syiah dan menentang musuh-musuh Imam Ali, seperti Mu’awiyah dan ‘Amr, dan (semoga) Allah menoleransinya.”

Sedangkan Imam al-Hakim an-Naisaburi (933-1012 M), yang menulis al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain (yang berisi hadis-hadis sahih yang memenuhi kriteria Bukhari-Muslim namun tak dimasukkan ke dalam dua kitab sahih itu), dideskripsikan oleh ad-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala (Maktabah Syamilah: 23/168) sebagai berikut:

أنبأني أحمد بن سلامة، عن محمد بن إسماعيل الطرسوسي، عن ابن طاهر:أنه سأل أبا إسماعيل عبد الله بن محمد الهروي، عن أبي عبد الله الحاكم فقال: ثقة في الحديث رافضي خبيث. قلت: كلا ليس هو رافضيا، بلى يتشيع. قال ابن طاهر:كان شديد التعصب للشيعة في الباطن، وكان يظهر التسنن في التقديم والخلافة، وكان منحرفا غاليا، عن معاوية – رضي الله عنه – وعن أهل بيته

“Ahmad ibn Salamah memberitahuku, dari Muhammad ibn Isma’il at-Tharsusi, dari Ibn Thahir bahwa ia bertanya kepada Abu Ismail Abdullah ibn Muhammad al-Harawi, mengenai Abu Abdillah al-Hakim an-Naisaburi, lalu dikatakannya: ‘Ia terpercaya dalam soal hadis, tapi ia seorang Rafidhah yang jelek.’ Aku berkata: ‘Tidak. Dia bukan Rafidhah, tapi Syiah.’ Ibn Thahir mengatakan bahwa al-Hakim sangat fanatis terhadap Syiah dalam batinnya, dan dalam zahir menampakkan kesunnian dalam soal khilafah, dan ia (al-Hakim) sangat memusuhi Mu’awiyah dan keluarganya.

Keterangan yang ditulis ad-Dzahabi tentang al-Hakim itu mengimplikasikan bahwa ada beda antara Syiah dan Rafidhah (bahkan meski disebut Rafidhah pun di sana dinyatakan bisa terpercaya dalam hadis—artinya: bisa dirujuk dalam soal agama dan karena itu bagian dari Islam).

Juga, bila benar bahwa kedua imam itu adalah Syiah (kalau bukan Rafidhah), dan sebagian Sunni bersikeras bahwa Syiah bukan Islam, maka Sunni yang demikian itu masihkah layak merujuk ke kitab hadis yang ditulis an-Nasa’i dan al-Hakim? Opsi yang tersedia di sini hanya dua: an-Nasa’i dan al-Hakim memang benar Syiah atau persaksian yang ditulis ad-Dzahabi adalah salah. Pertanyaan penting yang juga tak boleh ketinggalan: bila persaksian ad-Dzahabi itu benar, maka apakah pernyataan Mbah Hasyim tentang Rafidhah menyasar juga kepada an-Nasa’i dan al-Hakim?

[ 3 ]

Kembali ke artikel di Jurnal Islamia itu, dalam pemaparan tentang yang “sesat” dalam artikel “Kesesatan Agama Menurut KH Hasyim Asy’ari” itu tidak dipaparkan kelompok pertama yang juga di-wanti-wanti Mbah Hasyim agar umat Islam menjauhinya. Kelompok ini bahkan disebut terlebih dahulu sebelum Mbah Hasyim memaparkan soal Rafidhah.

Di dalam Risalah Ahl as-Sunnah wal-Jama’ah, pada bab Fi Bayani Tamassuk Ahli Jawa bi Madzhab Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, halaman 9-10, Mbah Hasyim menyebutkan bahwa di antara kelompok yang mesti dijauhi adalah para pengikut pandangan Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, Ahmad ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim, dan Ibn ‘Abd al-Hadi. Mbah Hasyim menulis:

ومنهم فرقة يتبعون رأي محمد عبده ورشيد رضا ويأخذون من بدعة محمد بن عبد الوهاب النجدي وأحمد بن تيمية وتلميذيه ابن القيم وابن عبد الهادى, فحرموا ما أجمع المسلمون على ندبه وهو السفر لزيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم, قال ابن تيمية في فتاويه: وإذا سافر لاعتقاده أنها أي زيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم طاعة, كان ذلك محرما بإجماع المسلمين

“Di antara mereka (yang harus dijauhi) ada kelompok yang mengikuti pendapat Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, dan yang mengambil bid’ah yang diperbuat Muhammad ibn Abdil Wahhab an-Najdi, Ahmad ibn Taimiyyah, dan kedua muridnya, Ibn al-Qayyim dan Ibn ‘Abd al-Hadi. Mereka mengharamkan apa yang umat Islam telah sepakat akan kesunnahannya, yakni melakukan safar untuk menziarahi kubur Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Ibn Taimiyah berkata dalam Fatawa-nya: ‘Ketika seseorang melakukan safar dengan keyakinan bahwa menziarahi kubur Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam itu adalah ketaatan, maka hal itu adalah haram berdasarkan kesepakatan (ijmak) umat Islam.”

Begitulah yang ditulis Mbah Hasyim. Lalu, pertanyaan kepada para penulis artikel Jurnal Islamia yang sedang mengangkat tema tentang Mbah Hasyim itu: mengapa tak mengemukakan pula pernyataan Mbah Hasyim soal para perintis “Salafisme” itu? Apakah karena hal itu tak berkesesuaian dengan ideologi dari para penulis INSISTS sendiri, sebab menyinggung Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab dan Ibn Taimiyyah? Wallahu a’lam. Dalam keterangan lanjutan dari nukilan di atas, Mbah Hasyim bahkan menyebut para kaum “Salafi” itu justru sebagai ahli bid’ah, perusak agama, dan penebar permusuhan (ilqa’ al-‘adawah). Bila mau fair hendak membahas tentang karya Mbah Hasyim, yakni tak hanya mencomot pernyataan Mbah Hasyim yang membincang soal Rafidhah, mestilah para penulis di Jurnal Islamia itu turut mengetengahkan penyataan Mbah Hasyim mengenai perintis “Salafisme” itu—adapun soal boleh-tidaknya ulama Salafi itu dirujuk, adalah bahasan lain; poinnya di sini: keberimbangan dalam menukil pendapat Mbah Hasyim.

Yang mengherankan adalah justru artikel berjudul “Toleransi Sang Kiai” oleh seorang magister UMS, Surakarta, menulis: “Meski ketika di Mekkah ia menerima ide-ide Muhammad Abduh agar umat Islam kembali kepada Alquran dan Sunnah namun ia tidak sejalan dengan pikiran untuk melepaskan diri dari keterikatan mazhab…” Bila ada pembaca tulisan ini yang pernah mengkaji secara mendalam biografi Mbah Hasyim, terharap bisa mengonfirmasi hal itu: apakah saat di Mekkah, Mbah Hasyim menerima ide-ide Muhammad Abduh?

[ 4 ]

Mengenai Syiah Zaidiyah dan Syiah Imamiyah, Syaikh Wahbah az-Zuhaili menyatakan dalam al-Fiqh al-Islamiy-nya bahwa keduanya adalah mazhab yang sah di dalam Islam. Selain 4 mazhab yang utama (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), Wahbah az-Zuhaili juga mengakui keabsahan 4 mazhab lainnya, yakni: Zhahiri (Dawud ibn ‘Ali al-Ashfihani), Syiah-Zaidiyah (Zaid ibn Ali Zainal Abidin), Syiah-Imamiyah (Muhammad ibn al-Hasan al-Qummi), dan Ibadhi-Khawarij (Abdullah ibn Ibadh at-Tamimi).

Berikut komentar dari Syaikh Wahbah tentang fiqh mazhab Syiah-Imamiyah:

“وفقه الإمامية, وإن كان أقرب إلى المذهب الشافعي, فهو لا يختلف في الأمور المشهورة عن فقه أهل السنة إلا في سبع عشرة مسألة تقريبا, من أهمها إباحة نكاح المتعة. فاختلافهم لا يزيد عن اختلاف المذاهب الفقهية كالحنفية والشافعية مثلا. وينتشر هذا المذهب إلى الآن في إيران والعراق. والحقيقة أن اختلافهم مع أهل السنة لا يرجع إلى العقيدة أو إلى الفقه, وإنما يرجع لناحية الحكومة والإمامة ” 

“Fiqh Imamiyah, meski lebih dekat ke mazhab Syafi’i, ia tak berbeda dengan fiqh Ahlus-Sunnah dalam persoalan yang masyhur kecuali kira-kira terkait 17 masalah. Yang paling penting (dari perbedaan itu) adalah pembolehan nikah mut’ah. Perbedaan Syiah Imamiyah dengan Ahlus Sunnah tak lebih sebagaimana perbedaan mazhab-mazhab fiqh lainnya, seperti Hanafi dengan Syafi’i. Mazhab Imamiyah ini sampai sekarang menyebar di Iran dan Irak. Secara substantif, perbedaan Syiah-Imamiyah dengan Ahlus Sunnah tidak merujuk ke soal akidah atau fiqh, melainkan hanya pada aspek pemerintahan dan imamah.”

Pembahasa lebih jauh tentang ini silakan dibaca di tulisan di blog saya: Syiah Bagian dari Islam.

[ 5 ]

Masa hidup Mbah Hasyim sudah beda dengan kondisi sekarang. Saat ini, kontak antara dunia Sunni dan Syiah makin massif dan intensif. Bahkan konflik Sunni-Syiah yang terjadi di luar negeri seolah tak berjarak, dan terasa gaungnya sampai negeri ini. Pun mestinya tak hendak dilupakan bahwa para ulama besar dunia masa kini mengupayakan “pendekatan antara mazhab” (at-taqrib baina al-madzahib) antara Sunni dengan Syiah.

Mbah Hasyim, sebagaimana kerap dituturkan oleh para guru NU, terkenal tegas dalam pendapat-pendapatnya—beliau adalah seorang ahli hadits, sehingga sangat hati-hati dalam mendasarkan setiap amaliyah-ibadah kepada ada-tiadanya nash. Mbah Hasyim, misalnya, pernah mengharamkan kentongan, karena kentongan, selain bid’ah, mengandung unsur menyerupai (tasyabbuh) terhadap kaum Nasrani, sampai-sampai beliau menulis risalah khusus tentang masalah ini dengan judul Al-Jasus fi Ahkam an-Naqus.

Namun demikian, para guru NU pun kerap mewedarkan cerita tentang Mbah Hasyim dan Kiai Faqih Maskumambang. Ceritanya: Mbah Hasyim mengharamkan penggunaan kentongan sebagai alat untuk mengajak salat (yang biasanya dibunyikan saat masuk waktu salat, sebelum adzan), sedangkan Kiai Faqih membolehkannya dengan dasar bahwa kentongan bisa diqiyaskan dengan beduk. Perbedaan pendapat ini terekam dalam saling balas tulisan dalam jurnal bulanan NU (yang mulai terbit pada 1928 dan bertahan sampai tahun 1960-an).

Diceritakan, bahwa setelah tulisan Kiai Faqih muncul, Mbah Hasyim memanggil para kiai se-Jombang dan para santri senior beliau untuk berkumpul di Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Di acara itu, Mbah Hasyim mengumumkan bahwa kedua pendapat itu boleh dipegangi, hanya saja, khususnya di masjid Tebu Ireng, kentongan tak boleh dipakai. Lalu, pada peringatan Maulid tahun berikutnya, Mbah Hasyim diundang sebagai penceramah di Pesantren Maskumambang milik Kiai Faqih. Dan mendekati hari pelaksanaan acara, Kiai Faqih berpesan kepada para ketua ta’mir masjid di Gresik agar selama Mbah Hasyim ada di situ maka semua kentongan harus diturunkan dari tempatnya biasa bergantung.

Cerita di atas mengingatkan pada kisah Imam Syafi’i (yang mensunnahkan qunut subuh) saat berziarah ke makam Abu Hanifah (yang berpendapat qunut subuh tidak ada landasan syariatnya). Dalam kajian ushul-fiqh cukup terkenal statemen as-Syafi’i: “Man istahsana faqad syara’a” (Siapa yang memakai metode istihsan maka telah membuat syariat baru)—istihsan adalah metode ushul fiqh khas mazhab Hanafi dan vonis “membuat syariat baru” itu bukan vonis ringan. Pun demikian, bila as-Syafi’i berziarah ke makam Abu Hanifah (dan as-Syafi’i saat di Baghdad sering berziarah ke makam Abu Hanifah sebagaimana diceritakan al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad), as-Syafi’i melakukan salat subuh di samping makam tanpa melakukan qunut demi menghormati pendapat Abu Hanifah.

Hendaknya dalam kerangkan yang demikian itulah, kita membaca tulisan-tulisan Mbah Hasyim, juga kiai-kiai lainnya. Wallahu waliyyut-taufiq.

Tagged: , , , ,

3 thoughts on “Kiai Hasyim dan Syiah (Tanggapan untuk Islamia-Republika)

  1. Abdullah 25/11/2013 pukul 21:43 Reply

    JempoLLL

    Suka

  2. monash 29/11/2013 pukul 20:49 Reply

    ngaco

    Suka

  3. Anti Majos Indonesia Malaysia 23/07/2015 pukul 18:59 Reply

    menarik juga nih artikel, tapi Kamal Haydari itu ayatulah syiah 12 imam. Syiah model ini yang seperti di Iran adalah Syiah rafidoh. al Haydari ini kontroversial karena dia suka berkomentar apa adanya. Dia berkata ulama besar Syiah Iran, al-Majlisi, percaya al-Qur’an tidak asli, tapi ini video dia yang paling kontroversial ketika mengakui bahwa menurut ijma ulama Syiah, Sunni = kafir

    http://antimajos.com/2015/05/10/ulama-syiah-sepakat-sunni-kafir/

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s