Koalisi dan Politik Dua Kaki

Dalam sidang paripurna DPR akhir Maret lalu, PKS mantap menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). PKS bersikukuh mempertahankan bunyi Pasal 7 Ayat 6 UU Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012: “Harga jual eceran BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan.”

PKS jelas telah mbalelo dari koalisi. Jika merujuk pada tata etika (code of conduct) koalisi dengan pemerintahan SBY-Boediono, PKS sudah semestinya undur diri. Parpol anggota koalisi lainnya memang sudah secara retoris menganggap kebersamaan PKS dalam koalisi sudah usai. Kendati demikian, eksistensi PKS tetap berada dalam genggaman SBY.

Barangkali SBY masih belum “tega” untuk mengecewakan basis massa dan simpatisan PKS sebab partai ini merupakan partai pendukung SBY-Boediono dalam Pemilihan Presiden 2009. Atau mungkin Pak SBY kini masih berpikir keras bagaimana menyikapi langkah PKS ini. Betapapun demikian, permasalahan ini semestinya tidak dibiarkan berlarut-larut. Ketidaktegasan sikap terhadap PKS ini bisa menjadi amunisi bagai “bom waktu”.

Perolehan suara PKS yang mencapai 7% dalam Pemilu 2009 memang menjadikan partai dakwah ini dalam posisi serbatanggung. PKS harus mencari ruang untuk menunjukkan eksistensinya dalam Setgab Koalisi. Karena itu, tak jarang PKS kerap memainkan politik dua kaki: bagaimana mewujudkan integritas dalam koalisi juga tetap mengakomodasi kebijakan yang populis. Manuver yang demikian memang sah-sah saja dalam politik.

Namun, hal itu kerap menampakkan semacam “hipokrisi”dalam politik. Politik zig-zag ala PKS itu boleh jadi semakin mengukuhkan asumsi dari para nonsimpatisan PKS bahwa setelah menjadi partai politik, idealisme PKS sedikit demi sedikit akan luntur. Lunturnya idealisme itu ke depan bisa jadi mengecewakan massa PKS yang berbasis pada muslim perkotaan yang relatif “melek” wacana dan gerakan kaderisasi di universitas-universitas umum.

Salah satu bukti lunturnya idealisme itu adalah kurangnya argumen khas ala PKS dalam perseteruan politik BBM. Kita hampir tidak mendengar bagaimana sikap PKS meneguhkan idealismenya dalam beradu pendapat melawan partai-partai lainnya, dengan argumen yang jernih dan masuk akal. Yang kerap terkemuka justru keinginan PKS untuk tidak mengecewakan “rakyat kecil”.

Survei mutakhir Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dirilis pada Februari 2012 menempatkan potensi elektabilitas PKS pada angka 3,7%, terdampar di peringkat kedelapan dari sembilan parpol di DPR.

Kemerosotan angka elektabilitas ini menyisakan pekerjaan rumah bagi PKS yakni mana yang lebih diprioritaskan: memperluas basis massa atau menjaga loyalitas kader dan simpatisan yang sudah ada dan setia.

~ (Artikel ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 01/05/2012)

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s