Korupsi dan Iman yang Hilang

Korupsi pengadaan al-Qur’an yang belakangan bikin heboh umat Islam Indonesia kini sudah bukan lagi teka-teki. Tersangkanya sudah jelas. Dan bukan sekedar korupsi. Itu juga kolusi dan nepotisme. Bukan juga sekedar nepotisme, ini melibatkan bapak dan anak kandungnya sekaligus. Juga bukan KKN biasa, ini sudah menjamah wilayah sakral bagi umat Islam.

Parahnya lagi, bahasa simbolik yang dipakai benar-benar melecehkan: jika mereka yang notabene “kurang agamis” memakai simbol buah-buahan (apel Malang & Washington, bos besar, ketua besar), maka kasus ini  memakai simbol komunitas keagamaan (kiai, ustadz, pesantren).

Kita geram. Barangkali kata-kata “ironi” dan “memuakkan” belum cukup mewakili kata-kata yang tepat untuk mengutuk perbuatan itu. Kejahatan dalam kasus ini sudah level kuadrat, tumpuk-undhung, kamil, syamil, dan mutakamil. Kriminalitas itu dilakukan bahkan oleh orang “beriman” yang membidangi wilayah keagamaan, dan seharusnya tahu besarnya dosa korupsi.

Kaum Beriman?

Orang beriman semestinya tidak korupsi. Iman bukan sekedar pernyataan lisan, tapi kenyataan dalam perbuatan. Ini merupakan proposisi akidah yang dianut mayoritas umat Islam sedunia: al-iman i’tiqad fi al-qalb, wa iqrar bi al-lisan, wa ‘amal bi al-jawarih (iman adalah keyakinan dalam hati, ikrar dalam lisan, dan amal perbuatan). Jadi, iman adalah aksi. Orang yang perbuatannya tidak selaras dengan keyakinan dan perkataanya disebut munafik. Orang yang secara lahiriah beriman tapi hatinya tidak disebut zindiq.

Maka, orang yang sedang korupsi sejatinya imannya sedang hilang. “La yasriq as-sariq hina yasriq wahuwa mu`min, wala yazni az-zani hina yazni wahuwa mu`min”, demikian dinyatakan sebuah hadits sahih yang amat masyhur itu, “Pencuri tidak mencuri—ketika ia sedang mencuri—sedang ia dalam keadaan beriman, dan pezina tidak berzina—ketika ia sedang berzina—sedang ia dalam keadaan beriman.” Hadits ini memberikan kesimpulan, bahwa pelaku maksiat sejatinya sedang kehilangan iman ketika dia melakukan maksiatnya. Maka, sebenarnya tidak tepat kita menyebut pelaku koruptor sebagai beriman—setidaknya saat dia melakukan korupsi itu sendiri.

Iman yang kemudian termanifestasikan dalam moralitas dan akhlak sejatinya tidak berkaitan sama sekali dengan luasnya pengetahuan agama. Iman, sekali lagi, adalah perbuatan. Iman diukur sampai sejauh mana seorang yang beragama mampu menghadirkan Tuhan (muraqabatullah) dalam setiap gerak-langkah dan tindak-tanduk-nya. Seorang ketua ormas Islam, kiai atau ustadz pesantren, atau para dai kondang sekalipun belum tentu mencapai tingkat iman yang lebih tinggi dibanding, misalnya, seorang tukang becak yang tulus-ikhlas bekerja demi menghidupi keluarganya.

Definisi moral juga tidak berkaitan sama sekali dengan tingginya intelektualitas. Al-Ghazali (1058-1111 M) dalam al-Mustasyfa menerangkan bahwa parameter akhlak dilihat dari gerak spontanitas yang keluar tanpa pikir panjang. Moralitas, dalam keterangan dari al-Ghazali itu, adalah watak yang menjadi kebiasaan dan membudaya. Watuk mudah dicari obatnya, tapi mengubah watak (apalagi watak korupsi yang sekaligus didukung lingkungan yang seolah memberi kesempatan) sama sekali bukan pekerjaan mudah.

Memang ada korelasi positif bahwa semakin tinggi intelektualitas seseorang semestinya semakin bermoral orang itu. Tapi itu bukan hukum mutlak. Kenyataanya, hawa nafsu sering menguasai kaum intelektual yang punya kuasa dan kesempatan. Yang jelas, kasus korupsi itu merupakan ironi yang mungkin paling besar dalam dunia “perkorupsian” Indonesia. Lembaga milik orang beriman semestinya menjadi lembaga terbersih dan menjadi teladan.

“Gunung Es”

Namun kenyataanya berbicara lain. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa Kemenag, sesuai laporan ICW beberapa bulan lalu, merupakan lembaga kementrian terkorup dibanding kementrian-kementrian yang lain. Kita masih berbaik sangka, bahwa di dalam institusi milik orang-orang beriman, beragama, dan “ikhlas beramal” itu masih banyak orang bersih, jujur, dan tak mau menerima suap dan uang korupsi.

Kendati demikian, kita pun patut waspada bahwa kasus itu boleh jadi hanyalah puncak “gunung es”: di bawah puncak gunung itu mungkin ada jejaring koruptor yang sudah mengakar dan menggurita sejak lama. Ini jelas tidak bisa dianggap sepele, apalagi sudah menjadi rerasan publik bahwa kinerja Kemenag sering kurang bagus dan efektif.

Oknum tersangka korupsi pengadaan al-Qur’an menjadi titik pertama untuk mengusut tuntas jejaring koruptor di lembaga “ikhlas beramal”. Laporan ICW tentang 32 titik yang rawan menjadi ladang korupsi layak untuk dijadikan peta panduan.

Konon dulu al-maghfurlah Gus Dur pernah berkelakar bahwa Kemenag (atau Depag) menjadi lembaga terkorup itu hal yang biasa-biasa saja, sebab orang-orang di dalamnya sudah tahu caranya bertaubat. Semoga itu hanya guyonan, bukan senyatanya demikian.

~ (Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 06/07/2012)

Tagged: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s