Maulid dan Perlawanan Kultural

Sebagai sebuah tradisi dan budaya, maulid Nabi adalah inovasi kreatif yang baik (bid’ah hasanah). Maulid Nabi bukanlah improvisasi ritual yang tercela (bid’ah sayyi’ah). Hal ini bisa dirunut dari dua perspektif: basis teologis dan historisnya.

Dari sisi basis teologis, berkebalikan dengan klaim sebagian kalangan yang menganggapnya sebagai tradisi heretik, peringatan kelahiran Nabi berlandaskan pada penafsiran dengan logika silogis dari al-Quran. Pertama, Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam (QS 21:107). Kedua, seorang muslim dianjurkan untuk menyambut gembira terhadap datangnya rahmat Tuhan (QS 10:58). Konklusinya: menyambut gembira datangnya rahmat Tuhan, yakni Nabi Muhammad, adalah baik dan ia bisa diejawantahkan, antara lain, dengan tradisi maulid itu.

Dari sisi historisnya, Muhammad Zaki Ibrahim dalam Fiqh as-Shalawat wa al-Mada’ih an-Nabawiyyah(2011: 103-105) menceritakan bahwa tradisi maulid dimulai oleh kalangan Syiah dari Dinasti Fathimiyah di Mesir. Tradisi maulid waktu itu digalakkan untuk membangkitkan semangat cinta Nabi dan Ahlul Bait, serta memperkokoh persatuan dan konsolidasi negara sebagai oposisi pemerintahan Sunni di Baghdad.

Melihat efek dari tradisi maulid itu, Sultan Muzhaffar ad-Din di Irbil (masih bawahan Abbasiyah Baghdad yang Sunni) ikut membudayakannya. Ia bahkan menggelontorkan lebih dari 1000 dinar sebagai hadiah bagi siapa saja yang mampu menyusun syair-syair pujian kepada Nabi (madah nabawiy). Sejak saat itu, tradisi maulid menjadi budaya populer dan semarak dilakukan di negara-negara kekhilafahan lainnya.

Tradisi maulid semakin berkembang ketika Shalahuddin al-Ayyubi (penakluk Yerussalem dan pahlawan Perang Salib) memanfaatkan efek tradisi maulid itu. Shalahuddin berpandangan bahwa maulid bisa menjadi manifesto persatuan dan persaudaraaan (ukhuwwah) umat Islam. Untuk membangkitkan semangat juang prajuritnya, Shalahuddin mengadakan sayembara menggubah syair-syair madah. Salah satu karya besar yang lahir waktu itu adalah kitab maulid al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far al-Barzanji, yang masih banyak dibaca hingga kini dan sering didendangkan rutin mingguan di masyarakat santri.

Intinya, maulid menjadi tradisi dan budaya populer pada mulanya untuk membangkitkan rasa cinta kepada Nabi dan semangat persaudaraan: bahwa umat Islam punya Nabi yang sama, jadi mengapa harus berpecah belah?

Hingga kini, tradisi itu masih diperingati dengan semarak. Di Turki, seminggu sebelum puncak maulid, masjid-masjid dihiasi dengan lampion-lampion warna-warni. Di Mesir dulu, ketika masa Mamluk, sebagaimana diceritakan Annemarie Schimmel dalam bukunya Muhammad Utusan Allah, perayaan besar-besaran diselenggarakan di pelataran benteng Kairo hingga ruas-ruas jalan penuh sesak dengan manusia. Di sebagian negara berpenduduk mayoritas muslim, peringatan kelahiran Nabi dirayakan dengan semarak pula.

Kekuatan Budaya

Bila melihat sisi historisnya, maka salah satu aspek penting yang bisa kita gali dari tradisi maulid adalah soal kekuatan budaya. Budaya ini menggerakkan semangat rakyat populer. Suatu ideologi, propaganda, dakwah, ajaran agama, atau hal-hal lain semacamnya akan efektif jika disebarkan secara bersenyawa dengan budaya populer. Ia bisa menyebar luas dan publik menyambutnya tanpa terpaksa.

Beda halnya jika ia disampaikan secara elitis, misalnya, dengan kajian atau ceramah sebagaimana umumnya. Ini cenderung membuat orang awam bosan dan sering hanya dinikmati oleh mereka yang benar-benar punya kesadaran religius. Tradisi maulid yang dibalut dengan kreativitas musikal akan menarik perhatian masyarakat hingga ke akar rumput.

Kekuatan budaya yang termanifestasikan dalam tradisi maulid ini patut dilestarikan. Pada hemat saya, ia punya setidaknya tiga signifikansi dalam kehidupan sosial.

Pertama, nilai edukatif. Kitab maulid al-Barzanji berisi pemaparan etika-etika luhur yang diteladankan oleh Nabi. Di bagian akhir kitab itu, misalnya, disebutkan beberapa perangai mulia Nabi: lebih suka bersama para fakir miskin, hidup dengan amat sederhana, menjahit sandal dan bajunya sendiri, sangat pemalu, bila berjalan tidak membusungkan dada, selalu berjalan di belakang para sahabatnya, sangat penyayang dengan keluarganya, dst.

Kedua, sebagai “oposisi kultural”. Di tengah dominasi budaya populer yang cenderung memanjakan konsumen dalam gemerlap materi, tradisi maulid punya eksistensi penting sebagai budaya tandingan. Ia berperan minimal sebagai penyeimbang dari hegemoni lagu-lagu populer yang akhir-akhir ini cenderung tidak punya nilai edukatif sama sekali, bahkan cenderung memopulerkan hal-hal yang kurang baik dan tabu.

Ketiga, untuk menginternalisasikan kembali idealisme etika Nabi. Salah satunya yang penting adalah sikap asketis (zuhud). Sikap ini menjadi benteng dari gempuran budaya materialisme. Sikap zuhud berdasar pada paradigma bahwa kehidupan dunia ini fana dan sementara, sebagaimana sabda Nabi: “Di dunia ini, jadilah kamu seolah-olah orang yang mengembara atau orang yang melewati jalan. Persiapkan bahwa dirimu akan termasuk (kelompok) orang-orang yang mati.”

Ini sekaligus menjadi nasehat untuk para pemimpin kita. Masih ingatkah Anda dengan membengkaknya dana Banggar DPR tahun lalu untuk hal-hal remeh semacam renovasi ruang, bikin kalender, pengharum ruangan, pembenahan toilet, jasa internet, dan lain-lain? Para pemimpin kita hari ini pun gemar memerkan kekayaannya, mobilnya, jam tangan Rolex-nya.

Kepemimpinan ala Nabi adalah kepemimpinan yang sarat dengan askestisme. Sementara para raja di Persia dan Romawi bergelimang materi, Nabi Muhammad kerap tidak menemukan sarapan di meja makannya dan karena itu ia memilih untuk berpuasa. “Jika seorang anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia masih menginginkan lembah yang ketiga,” demikian sabdanya, “dan tidak ada yang mampu memenuhi perut anak Adam kecuali tanah.”

Peringatan maulid Nabi merupakan momentum untuk mengingat kembali dan menginternalisasikan sikap-sikap kesederhanaan Nabi itu. Teladan Nabi adalah teladan tentang perlawanan terhadap konsumerisme. “Zuhudlah dari apa-apa yang ada di tangan manusia,” kata Nabi, “niscaya Engkau akan dicintai manusia.”

~ (Artikel ini pernah dimuat di Media Indonesia, 22/01/2013)

Tagged: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s