Menanti Akhir Krisis Suriah

Dari semua negara Arab yang mengalami pemberontakan rakyat, Suriah adalah negara yang mengalami problem paling kompleks. Suriah berbeda dengan Tunisia, Mesir, dan Yaman yang rezimnya cenderung pro-Barat.

Suriah punya rekam jejak yang kuat menentang Barat. Suriah pun menjadi battle ground yang mempertarungkan kubu AS-Eropa-Qatar-Saudi di satu sisi, dengan Iran-Rusia-Cina-Lebanon di sisi lain.

Sebab banyak aktor luar yang bermain, tak heran jika pencarian opsi solusi untuk Suriah selalu mengalami tarik-ulur. Padahal, korban tewas sudah mencapai lebih dari 10.000 jiwa. Perkembangan mutakhir justru menunjukkan krisis Suriah turut diperparah oleh friksi internal: kontestasi oposisi dan polarisasi kelas sosial.

Dari semua grup oposisi yang terbentuk, ada dua yang terbesar: al-Majlis al-Wathani as-Suriy (Syrian National Council, SNC) dan Hai’ah at-Tansiq al-Wathaniy (National Coordination Board, NCB). SNC adalah oposisi di “pengasingan”, didirikan dan bermarkas di Istanbul, Turki. Sedangkan NCB adalah oposisi di dalam, bermarkas di Damaskus.

SNC merupakan oposisi yang mendapat dukungan luas, terutama dari aktor eksternal. Pada awal April 2012, SNC mendapat pengakuan sebagai representasi sah rakyat Suriah dalam konferensi ke-2 Friends of Syria, di Istanbul, yang dihadiri lebih dari 70 negara. Dalam konferensi itu pula, SNC ditahbiskan sebagai “payung” bagi semua oposisi (the umbrella organization under which Suriahn opposition groups are gathering). Kelompok pendukung SNC antara lain: gerakan Damascus Spring (pendukung Deklarasi Damaskus 2000/2001), al-Ikhwan al-Muslimun (IM), faksi Kurdi, dll.

Namun SNC adalah oposisi “radikal” di mata rezim Assad. Tujuan utama SNC adalah melengserkan Assad. SNC menolak dialog dan cenderung mendukung intervensi militer. SNC bahkan sempat meminta NATO untuk menerapkan operasi no-fly-zone seperti di Libya. SNC juga berafiliasi denganal-Jaisy as-Suriy al-Hurr (Free Syrian Army, FSA), kumpulan para tentara Suriah yang membelot –kabarnya sudah mencapai 40 ribu tentara dan 23 batalyon. Melalui SNC, Arab Saudi dan Qatar memberi funding kepada FSA.

Sedangkan NCB, karena beroperasi di dalam, lebih bisa memobilisasi massa dan tahu keadaan di level bawah (on the ground). Ini yang tidak dimiliki SNC. NCB lebih mengutamakan dialog dan tegas menolak intervensi militer. Bagi NCB, mempersenjatai militer oposisi dan melengserkan Assad hanya akan menambah jumlah kekerasan dan menimbulkan chaos.

NCB didukung oleh para aktivis independen, koalisi al-Watan, kelompok kiri-sosialis, Pan-Arabis, dan partai-partai sekuler lainnya. NCB adalah oposisi “moderat” di mata rezim Assad. NCB inilah yang didekati oleh Rusia, ketika Menlu-nya, Sergei Lavrov, berkunjung ke Damaskus.

Rivalitas SNC dan NCB tentu saja memanaskan tensi politik Suriah. Kontestasi keduanya menyebabkan pencarian solusi krisis Suriah terhambat. Rakyat Suriah pun ikut terbelah: sebagian menyatakan bahwa kelompok oposisi itu hanya memburu ambisi politik saja. Padahal, persatuan oposisi semestinya menjadi hal yang niscaya sebelum dialog dengan rezim dilakukan. Disparitas SNC dan NCB bisa jadi malah menguntungkan rezim Assad.

Polarisasi Sektarian

Kelas sosial dalam tubuh rakyat Suriah juga mengalami polarisasi. Beberapa kelompok minoritas -seperti Kristen Ortodok, Syiah-Alawiyah, dan Syiah-Imamiyah- cenderung mendukung rezim Assad. Mereka sempat menyelenggarakan demo yang cukup massif sebagai tandingan terhadap para pendemo anti-rezim.

Kubu Islamis pun ikut ambil bagian. IM tentu saja masih menyimpan memori pembantaian Hama 1982 oleh Hafez al-Assad. IM pernah dilarang beroperasi di Suriah. Sebagian dari anggotanya kemudian mengungsi dan menjadi pebisnis besar di pengasingan.

Keberpihakan IM kepada SNC jelas memberi dua keuntungan: memberi dukungan finansial sebagai wujud solidaritas dan sekaligus memperteguh komitmen IM pada anti-otoritarianisme. Sebagai catatan, IM sudah menandatangani piagam perjanjian dengan SNC sebagai bukti komitmennya terhadap kebebasan berpendapat dan transisi demokrasi.

Warta mutakhir memberitakan, PBB mengirim pengamat lagi ke Suriah. Untuk sementara, Assad berada di atas angin. Banyak pengamat menilai Assad bisa bernafas lega setidaknya sampai akhir 2012. Assad kini lagi-lagi mengupayakan pemilu parlemen, meski ini tampaknya tidak akan disambut baik oleh oposisi: pemilu hanya akal-akalan rezim.

Pertanyaan yang tentu saja akan menjadi ganjalan besar adalah: bagaimana nasib para korban tewas itu dan bagaimana perbuatan Assad dan militernya dimintai pertanggungjawaban? 

~ Artikel ini pernah dimuat di opini Republika [09/05/2012]

Tagged: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s