Menyambut Komitmen Obama

Obama menang lagi. Presiden Amerika Serikat (AS) yang menghabiskan masa kecilnya di Menteng, Jakarta, itu mengalahkan kandidat berhaluan konservatif, Mitt Romney. Namun, kemenangan Obama itu tidak sejumawa pada pemilu sebelumnya, tahun 2008. Obama hanya menang tipis. Selisih perolehan popular vote hanya satu persen. Itu menandakan bahwa tantangan kubu oposisi terhadap pemerintahan Obama ke depan bukan hal yang mudah untuk diatasi.

Ujian yang akan dihadapai Obama, dengan demikian, berasal dari dua sisi: internal dan eksternal. Dari dalam, Obama akan menghadapi lobi keras dari kubu konservatif yang di kongres AS memperoleh suara sangat signifikan. Kubu Demokrat tidak mudah melunakkan kubu Republik untuk menyusun kebijakan.

Dari luar, Obama mesti menggarap PR yang belum selesai, terutama terkait kebijakan luar negeri. Tantangan terbesar berasal dari Timur Tengah secara khusus, dan dunia Islam pada umumnya—tentu saja tanpa menafikan persoalan lain seperti perekonomian dan demokratisasi.

Lima Komitmen

Secara umum, kebijakan luar negeri AS pada masa pemerintahan Obama dalam menyikapi isu Timur Tengah dan dunia Islam lebih lunak daripada, misalnya, jika pemilu AS dimenangi kubu Republik. Kita tentu masih ingat bagaimana keganasan AS dibawah kepemimpinan Bush junior dulu.

Ada lima isu besar terkait kebijakan luar negeri AS dibawah Obama dan sempat memanaskan debat kandidat capres pemilu itu. Inilah yang bisa kita pegangi dan kita tagih sebagai sebuah janji.

Pertama, tentang persoalan proyek nuklir. Dalam hal ini, AS berhadapan dengan Republik Islam Iran. Persoalan ini disikapi Obama cenderung dengan jalur diplomasi dan sanksi ekonomi. Beda halnya dengan sikap Romney dan Republik yang cenderung menghendaki perang. Meski belum jelas konsepsi yang hendak dibangun AS apakah proyek nuklir itu adalah hak, kita patut menyambut sikap non-kekerasan Obama ini.

Kedua, hubungan AS-Israel. Meski kedua kubu, baik Republik maupun Demokrat, mengakui Israel sebagai mitra terdekat (closest ally), ada kecenderungan yang berbeda antara keduanya. Demokrat cenderung berusaha bersikap kritis terhadap sikap keras Israel. Hal ini tidak lepas dari solusi yang dikumandangakan Obama menyikapi eksistensi Israel, yakni solusi dua negara (two states solution) atau koeksistensi antara Israel dan Palestina.

Ketiga, kedaulatan Palestina. Sikap Obama dan Romney memang sama dalam hal menolak sikap keras gerakan Hamas di Gaza, Palestina. Namun Romney sangat keberatan untuk mengakui kedaulatan Palestina, sementara Obama berupaya mempertahankan hak Palestina untuk memperjuangkan hak pengakuan Palestina sebagai negara di forum PBB.

Keempat, isu Arab Spring. Sampai kini, Obama cenderung positif menyikapi gejolak demokratisasi di dunia Arab. Obama pun bersikap kooperatif dengan rezim-rezim yang baru, seperti dengan Presiden Mursi di Mesir.

Kelima, isu terorisme. Berbeda dengan sikap Republik yang melantangkan suara untuk perang, Obama dan kubu Demokrat lebih mengedepankan dialog. Obama tidak bersikap simplistik memandang dunia Islam seperti Bush. Selama ini, Obama menyuarakan mutual respect (saling menghormati) antara Islam dan Barat.

Menyambut Positif

Komitmen Obama itu perlu kita sambut positif. Barangkali memang tidak ideal bagi umat Islam secara umum, namun keberhasilan Obama ini, pada hemat saya, adalah lebih baik.

Jika boleh memakai salah satu adagium kaidah fiqh, preferensi ke Obama ini ibarat dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih (menghindari mudarat lebih didahulukan daripada mencapai kemaslahatan). Dengan kemenangan Obama, genderang perang untuk sementara semakin jauh untuk ditabuh. Pendekatan dialog yang selama ini dibangun Obama layak kita apresiasi.

Melalui kemenangan Obama ini pun kita belajar untuk tidak simplistik memandang AS. Sebab, banyak kalangan yang terlalu menyederhanakan AS sebagai musuh bersama umat Islam. Betapapun ada itikad baik dari AS, beberapa kalangan Islam susah menerimanya—biasanya dengan mengemukakan teori konspirasi dan skandal Zionisme.

Cara pandang seperti itu bisa jadi kontraproduktif. Ekstrimitas mestinya bukan dihadapi dengan sikap yang sama esktrim, melainkan dengan moderasi. Justru, ketika umat Islam terus mendengung-dengungkan konfrontasi dengan AS dan bahwa AS-Israel merupakan penjahat dan teroris sesungguhnya, maka proyek dialog Islam-Barat susah tercapai. Dialog Islam-Barat hanya bisa dimulai jika—sebagaimana yang digagas pemerintahan Obama sendiri—ada sikap mutual respect antar keduanya.

Dunia yang ideal untuk Islam dan Barat adalah dunia yang koeksistensial, masing-masing bisa hidup berdampingan dan saling mengakui keberadaannya, bukan saling menegasikan.

~ (Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 12/11/2012)

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s