Mikraj, Mukjizat, Merakyat

Isra’-Mikraj adalah ritus simbolis. Ketika kita ingin memaknainya dalam konteks kekinian, maka dia adalah sebuah metafor dengan berbagai tafsiran.

Di antara tafsir metaforis itu, misalnya, Isra’-Mikraj merupakan perlambang bahwa Nabi Muhammad mau turun ke bumi, bak to the earth, setelah mencecap kenikmatan bertemu Tuhan di suatu tempat yang melampaui batas langit, Sidrah al-Muntaha. Perlambang itu memberi pesan bahwa seorang pemimpin, setinggi apapun gelar atau jabatannya, semestinya mau turun ke bawah (mutakhir disingkat dengan “turba”) dan kembali ke kubangan lumpur dunia.

Muhammad Iqbal dalam Ziarah Abadi mendeskripsikan perjalanan itu dalam sebuah puisi: Malaikat menawarkan padaku/ Tinggallah di langit ini bersama syahdu sujud-sujud kami/ Bersama kenikmatan-kenikmatan suci/ Aku katakan, “Tidak! Di bumi masih ada angkara dan aniaya”/ Di sanalah aku mengabi, berkorban, dan berkarya.”

Nabi Muhammad adalah teladan yang baik (uswah hasanah), bukan bagi kaum muslimin saja, melainkan juga seluruh umat manusia (rahmatan lil-‘alamin). Ia memimpin tidak dengan memanfaatkan hak istimewanya (privilise) sebagai Nabi. Nabi Muhammad adalah pemimpin yang sadar betul dengan kemanusiaannya, dan bahwa dia akan dijadikan teladan oleh sesama manusia.

Banyak diceritakan dalam kitab-kitab Maulid, bahwa Nabi sering menjahit sendiri pakaian dan sandalnya, menggembala sendiri, dan hidup di rumah yang sederhana. Sikap hidup semacam ini juga ditiru oleh para sahabatnya. Umar hanya punya beberapa lembar pakaian. Utsman yang kaya, saat jadi khalifah ternyata bajunya tidak sepi dari tambalan-tambalan.

Maka jika ada pemimpin Islam masa kini yang memakai jam tangan, mobil, dan rumah dengan harga ratusan juta, sekalipun dengan dalil “kepantasan” sebagai seorang pejabat, hal itu telah menyelisihi sikap hidup Nabi dan para sahabat. Demikian pula dengan pejabat yang memanfaatkan hak eksklusifnya sebagai pejabat, dengan studi banding ke luar negeri misalnya. Padahal Nabi menmberi contoh dengan kehidupan yang sederhana, dan pemimpin yang turun ke bawah.

Nabi adalah pemimpin yang juga “manusia” dan merakyat. Maka kita baca dalam tarikh-tarikh, Nabi yang berdarah kena panah kala Perang Uhud. Nabi juga berdarah saat dilempari batu oleh Kaum Thaif (yang kemudian Nabi malah mendoakan anak cucu mereka). Juga Nabi yang ikut menggali parit saat perang Khandaq, sementara ia sangat lapar sehingga batu ia gunakan untuk mengganjal perutnya.

Nabi sangat “manusia”. Justru dengan sisi kemanusiaan Nabi itulah kita bisa meneladaninya. Ini satu pelajaran dari Isra’-Mikraj yang bergelimang dengan berbagai hal irasional dan keajaiban (kemukjizatan). Pemahaman terbaliknya (dalam bahasa epistemologi fikih, mafhum mukhalafah): bagaimana manusia bisa meneladani Nabi jika yang ditonjolkan adalah sisi mukjizatnya (tentangburaq, tentang ruh dan jasad sekaligus yang menembus langit, tentang bertemu para nabi lainnya, dst.)?

Sisi kemanusiaan itulah justru kemukjizatan Nabi. Dan memang, hal ini yang kerap terlupakan dalam kesadaran manusia, sebab orang kerap tertipu dengan kebiasaan, kelaziman. Padahal Nabi justru mencontohkan sebaliknya, demikian pula ayat-ayat-Nya yang kerap memerintahkan manusia untuk memerhatikan alam semesta dan dirinya sendiri.

Kita kerap terpesona pada hal-hal di luar nalar. Mukjizat dipahami sebagai hal fantastis: Nabi Musa (Moses) membelah laut lalu menyeberangi Laut Merah, banjir bandang pada masa Nabi Nuh (Noah), Nabi Ibrahim (Abraham) dengan tak terbakar api Namrud, Nabi Daud (David) mengalahkan Jalut (Goliath), Nabi Sulaiman (Solomon) yang berbicara dengan hewan, atau Nabi Isa yang menyembuhkan berbagai penyakit dan menghidupkan orang mati, dst.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari mukjizat-mukjizat itu? Bukankah kita manusia yang tak bisa meniru mereka? Bukankah kita tak mungkin seperti Nabi Muhammad yang bisa naik ke langit ke tujuh?

Bagi saya, mukjizat adalah tentang fenomena bahwa manusia bisa menembus (keter)batas(an) fisiknya. Yang paling penting dari mukjizat adalah bahwa manusia bisa mampu melakukan “transendensi”: melampaui sesuatu yang jasmani, menuju yang rohani, dari yang materi, ke spiritualitas.

Agama-agama semitik (Abahamic) menyatakan bahwa manusia diciptakan mengikuti citra Tuhan. Dalam al-Qur’an misalnya, disebutkan bahwa Tuhan menghembuskan “roh”-Nya ke dalam manusia (wanafakhtu fihi min ruhi). Ada unsur ilahiah dalam diri manusia. Unsur inilah yang bisa dicapai manusia untuk bisa menembus fakultas mentalnya, memunculkan mukjizat bagi dirinya sendiri.

Mukjizat tidak harus berarti hal-hal fantastis sebagaimana dalam film-film semacam Superman dan Spiderman. Seorang tukang becak yang bekerja tak kenal lelah demi anaknya agar bisa menyabet gelar di universitas adalah mukjizat. Seorang pemuda yang mampu bertahan menjadi baik di lingkungan yang mendukungnya untuk berbuat tak baik adalah mukjizat.

Itu adalah mukjizat sebab orang-orang itu telah mampu melampaui fakultas mental manusia yang bernama “kelaziman”. Kuli bangunan lazimnya memiliki anak yang tak berpendidikan tinggi, tapi jadi “ajaib” jika anaknya menjadi orang berprestasi di universitas. Kita kerap terpukau pada kemukjizatan gigantis para Nabi, tapi kadang lupa dengan mukjizat-mukjizat kecil yang bertebaran di sekitar kita.

Nabi Muhammad adalah yang mencontohkan itu. Jika ia mau, maka bisa saja Gunung Akhsyabin akan langsung dihantamkan ke penduduk Thaif yang menganiayanya. Tapi Nabi tidak demikian. Ia tetap berjalan selaras dengan hukum alam: bahwa dengan usaha keras, maka hasil akan terasa manis. Mukjizat Nabi ada dalam kemanusiaannya. Yang susah adalah bagaimana melewati batas fisik itu.

Maka ajaran yang dibawa Nabi dalam kisah Isra’-Mikraj adalah salat. Salat adalah media transendensi. Salat adalah laku interupsi spiritual. Salat adalah media agar seorang muslim melakukan “penjarakan” terhadap realitas yang sering bikin penat.

Tapi salat bukan ritus untuk selalu bernikmat dalam “penjarakan” itu. Setelah salat, seorang muslim harus kembali ke masyarakat, sebagaimana seorang pemimpin yang harus turun ke bawah, kembali ke kubangan lumpur yang menghitam karena banyaknya tindak korupsi dan kezaliman. Sebagaimana puisi Muhammad Iqbal itu: “Aku katakan, “Tidak! Di bumi masih ada angkara dan aniaya.”

~ (Artikel ini pernah dimuat di Republika, 07/06/2013)

Tagged: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s