Obituari: Syaikh Ramadhan al-Buthi

Pukul 3 dini hari tadi, ketika sedang browsing berita di situs-situs Timur Tengah, saya kaget membaca berita meninggalnya Syaikh al-Buthi. Dikabarkan di Aljazeera, Al-Buthi meninggal karena terkena ledakan bom saat berada di masjid Al-Iman, Damaskus, Suriah, bakda maghrib waktu setempat. Al-Buthi meninggal bersama belasan orang lainnya.

Catatan berikut ini, anggaplah, semacam obituari untuk beliau. 

***

Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthiy lahir pada tahun 1929 di desa Jilka, pulau Buthan, Turki. Beliau bermigrasi ke Damaskus, Suriah, bersama ayahnya, Syaikh Mulla Ramadhan, saat berusia empat tahun. Al-Buthi menyelesaikan pendidikan menengahnya di Ma’had at-Taujih al-Islamy (Institue of Islamic Guidance), Damaskus. Gelar sarjananya diperoleh pada tahun 1955 dari Fakultas Syariah, Universitas Al-Azhar. Tahun berikutnya, al-Buthi meraih gelar S2 Bahasa Arab dari Universitas Al-Azhar. Dan pada tahun 1960, al-Buthi mendapatkan mandat untuk menjadi dosen, mengajar di Fakultas Syariah, Universitas Damaskus.

Berkat beasiswa dari Universitas Damaskus, pada tahun 1965, al-Buthi menyelesaikan S3 di Universitas Al-Azhar dan menyabet gelar doktor dalam bidang Epistemologi Hukum Islam. Pada tahun yang sama, beliau diangkat menjadi dekan Fakultas Syari’ah, Universitas Damaskus.

Al-Buthi sangat produktif menulis, tidak kurang dari 40 karya. Ia dikenal sebagai salah seorang pemikir Islam yang mempertahankan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (madzhab empat dan akidah Asy’ariyyah). Berkat kegigihannya membela Ahlus Sunnah wal Jamaah, beliau harus mendapat tentangan keras dari aliran-aliran Islam lainnya, termasuk juga yang paling keras adalah dari kaum Salafi. Dua karya pertamanya, as-Salafiyyah dan al-Lâmadzhabiyyah, melambungkan namanya sebagai salah satu ulama garda depan pembela Sunni-Asy’ari. Dengan dua karya tersebut, ia berdebat melawan Syaikh Nashiruddin al-Albani, ulama besar Salafi, sekitar tahun 1970-an.

Mobilitas dakwahnya yang tinggi (Al-Buthi sering memberikan kuliah di masjid-masjid Damaskus dan dihadiri ratusan orang) dan jamaahnya yang banyak dan loyal, membuat beliau banyak dilirik oleh para politisi untuk diangkat menjadi anggota partai. Namun, beliau menampiknya. Beliau bahkan menolak diajak untuk menjadi anggota aliran Islam lain, seperti Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimin dan lainnya. Menanggapi aliran Islam “radikal” lainnya, pada tahun 1993, Al-Buthi menulis buku berjudul al-Jihâd fi al-Islâm. Beliau sempat bersitegang dengan Syaikh Yusuf al-Qardhawi, ulama kenamaan al-Ikhwan al-Muslimun.

Hingga saat-saat terakhir hayatnya, beliau masih menjadi anggota konferensi dan simposium internasional. Beliau menjadi anggota The Royal Society of The Islamic Civilization Researches, Oman; anggota dewan penasehat Yayasan Thabah, Abu Dhabi; anggota The Higher Board of Oxford Academy, Inggris.

***

Saya mulai mengenal Al-Buthi ketika masih jadi santri di madrasah diniyah PP Nurul Ummah. Di tingkat Wustho, pelajaran tarikh menggunakan buku pegangan dari karya beliau, Fiqh as-Sirah. Kitab ini merupakan kitab sirah nabawiyyah berbahasa Arab favorit saya (sirah nabawiyyah favorit saya yang berbahasa Indonesia adalah karya Pak Quraish Shihab, sedangkan yang berasal dari orang Barat adalah karya Karen Armstrong). Setiap saya menulis artikel, dan saya harus merujuk ke sejarah Nabi, seringkali saya menjadikan Fiqh as-Sirah sebagai rujukan pertama, sebelum membandingkannya dengan rujukan lainnya.

Kitab Fiqh as-Sirah sangat menarik sebab disusun secara sistematis dan manhajiyyah. Di setiap bahasan, Al-Buthi selalu memulai dengan memaparkan kisah, lalu dirunut riwayat dan sumber-sumbernya sehingga pembaca akan lebih mantap validitas kisah itu, baru kemudian mengemukakan analisis dan hal-hal yang bisa dijadikan pelajaran (al-‘ibar wa al-‘izhat) dari kisah itu.

Yang menjadi keistimewaan dari kitab itu, menurut saya, adalah dalam kesetiaannya pada legitimasi nash, baik Al-Quran maupun hadis. Boleh dibilang, pandangan al-Buthiy memang konservatif. Tapi dalam konservatifitasnya itulah kekuatan karya Fiqh as-Sirah berada. Jika orang ingin mempelajari Fiqh as-Sirah dalam pandangan jumhur ulama, dan dikontekstualisasikan dalam perdebatan modern, maka kitab itu tak bisa diabaikan.

Fiqh as-Sirah mengalihkan perhatian saya yang semula tertarik pada karya Husain Haikal, Hayat Muhammad (yang diterjemahkan denga judul “Sejarah Hidup Muhammad”). Dan memang Fiqh as-Sirah dibuat dengan tujuan, antara lain, meng-counter pandangan Husain Haikal yang rasionalis dan mengabaikan hal-hal yang khariq al-‘adah (menentang hukum alam) dalam kisah Kanjeng Nabi Muhammad.

Contoh dari hal itu, misalnya, kisah Isra’-Mi’raj. Dalam pandangan rasionalis Husain Haikal, tidak mungkin Nabi yang berjasad manusia bisa menempuh perjalanan dari Masjid al-Haram, Masjid al-Aqsha, hingga Sidrah al-Muntaha, dengan kecepatan luar biasa tanpa rusak jasadnya. Dalam teori fisika, untuk sampai ke matahari saja butuh ratusan tahun dengan kecepatan cahaya. Ini tidak rasional. Maka ditakwillah cerita itu bahwa kisah Mi’raj Nabi adalah hanya ruhnya saja, bukan jasadnya. Isra’-Mi’raj adalah perpindahan spirit Nabi dari dimensi alam dunia ke dimensi alam lainnya.

Rasionaliasi Husain Haikal terhadap kisah Isra’-Mi’raj itu ditampik al-Buthi. Argumen al-Buthiy adalah, kisah perjalanan malam Nabi dengan jasadnya (bukan hanya ruh saja) itu sudah menjadi kesepakatan para ulama (mujma’ ‘alaih). Bahwa Nabi melakukan Isra-Mi’raj dengan jasad sudah terdapat dalam nash yang sahih, valid, dan sumbernya terpercaya. Singkatnya, menurut al-Buthi, kisah Isra-Miraj Nabi beserta jasadnya adalah hal yang mutawatir, dan mustahil para ulama berbohong. Al-Buthi melanjutkan, kemutawatiran itu adalah salah satu epistemologi yang bisa dipegang, dan ia bisa melebihi tingkat kebenaran sains. Secara rasional juga, Al-Buthi menegaskan, tidak setiap hal yang tak masuk akal dan di luar kebiasaan itu pasti berarti tak pernah dan tak akan pernah terjadi.

***

Perkenalan saya dengan al-Buthi semakin berlanjut sejak saya mulai tertarik untuk mengamati perkembangan politik di Timur Tengah. Di Republik Arab Suriah (al-Jumhuriyyah al-‘Arabiyyah as-Suriyyah), al-Buthi menuai banyak kontroversi.

Singkat ceritanya begini: Dalam gelombang Musim Semi Arab (ar-Rabi’ al-‘Arabiy) yang meledakkan pemberontakan hampir di semua negara Arab pada 2011-2012, Suriah tertinggal oleh negara-negara tetangganya. Di saat negara-negara lain sudah selesai dan kini menghadapi fase transisi demokratisasi, rezim Bashar al-Assad masih ngotot untuk menduduki tahta kekuasaan Suriah. Krisis politik di negeri bekas kekuasaan Kerajaan Umayyah ini sudah memakan korban tak kurang dari 50.000 jiwa yang tewas; setidaknya saat tulisan ini dibuat. Ratusan ribu penduduk Suriah mengungsi ke negara-negara tetangga, seperti Yordania, Lebanon, dan Turki.

Rezim Assad didominasi oleh kelompok Syiah-Alawiyyah, sementara mayoritas rakyatnya adalah Sunni. Sunni di Suriah sekitar 75 persen, sedangkan Syiah sekitar 10 persen. Suriah adalah kebalikan dari Bahrain. Di Bahrain, mayoritas rakyatnya adalah Syiah, sementara yang memerintah adalah Sunni.

Krisis politik Suriah itu turut menggeret para ulama ke dalam pusaran kekuasaan—dan oleh karena itu rawan menyulut kontorversi. Dengan jumlah korban yang begitu banyaknya, kalau ada figur besar yang mendukung Asssad maka ia akan menuai banyak kecaman dari publik. 

Al-Buthi termasuk yang mendukung Assad. Tampaknya al-Buthi setia dengan watak politik Sunni yang anti-pemberontakan. Dalam salah satu konferensi bersama para loyalis Assad, al-Buthi mengutarakan argumen dari ijtihad politiknya itu dengan menukil, antara lain, statemen yang dinisbatkan kepada Imam an-Nawawi:

وأما الخروج عليهم (أى على أئمة المسلمين) وقتالهم فحرام بإجماع المسلمين وإن كانوا فاسقين ظالمين وقد تظاهرت الأحاديث الكثيرة في بيان ذلك

Konferensi itu bisa Anda lihat di Youtube dan carilah video berjudul (البوطي يستشهد بأحاديث بوجوب طاعة بشار الأسد). Dan setelah saya cari-cari di al-Maktabah as-Syamilah, ‘ibârah  al-Buthi itu ternyata ada di Syarh Shahih Muslim, dengan redaksi sebagai berikut:

وأما الخروج عليهم وقتالهم فحرام بإجماع المسلمين، وإن كانوا فسقة ظالمين. وقد تظاهرت الأحاديث بمعنى ما ذكرته، وأجمع أهل السنة أنه لا ينعزل السلطان بالفسق، وأما الوجه المذكور في كتب الفقه لبعض أصحابنا أنه ينعزل، وحكي عن المعتزلة أيضا، فغلط من قائله، مخالف للإجماع.

“Memberontak dan memerangi pemerintah adalah haram, sesuai ijmak umat Islam, sekalipun pemerintahnya adalah orang-orang fasik dan zalim. Banyak hadits yang jelas menerangkan hal yang semakna dengan itu. Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa penguasa tak bisa dimakzulkan karena kefasikan. Adapun pandangan yang disebutkan dalam kitab-kitab fikih oleh sebagian sahabat kita, bahwa penguasa semacam itu bisa dimakzulkan, dan diceritakan bahwa pendapat itu juga berasal dari Mu’tazilah, adalah pendapat yang salah dan menyalahi ijmak.”

Dengan “fatwa” tersebut Al-Buthi mendapat kecaman luas dari publik. Bahkan, dalam suatu khutbah Jumat di masjid Damaskud, ketika al-Buthi membawakan tema krisis politik itu di mimbar dan menyatakan tuduhan ada konspirasi Israel dan Amerika di balik para pemberontak, jamaah jumat pun banyak yang bubar dan menyisakan satu-dua shaf. Kajian rutin minggun al-Buthi di Masjid Umayyah pun mulai sepi pengunjung.

Al-Buthi tidak mendapat banyak dukungan dari rekan sejawat sesama ulama. Diantara ulama yang mendukung al-Buthi adalah Syaikh Badruddin Hasun mufti Suriah yang dulu pernah mendapat gelar doktor Honoris Causa dari UIN Sunan Kalijaga. Sedangkan para ulama yang lain, baik dari dalam Suriah atau di negara-negara Timur Tengah lainnya, lebih banyak yang pro-oposisi Suriah. Mereka itu, antara lain: Syaikh Wahbah az-Zuhaily, Syaikh Anis Suwaid, Syaikh Muhammad al-Ya’qubiy, Syaikh Ratib an-Nabilisy, Syaikh Usamah ar-Rifa’i, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, Syaikh Muhammad ‘Ali as-Shabuni, dll. Argumen ulama pendukung oposisi antara lain adalah hadits, “Lâ thâ’ata li makhlûq fi ma’shiyyah al-khâliq”, ayat “Walâ ta’âwanû ‘ala al-itsm wa al-‘udwân”, dan ayat “Wa in istansharûkum fi ad-din fa’alikum an-nashr”. (tentang ini, silakan search video di Youtube dengan judul رأي علماء المسلمين في الثورة السورية عكس البوطي وحسو).

***

Setelah meninggalnya beliau tadi malam, saya mengikuti berita mutakhir dari Suriah, juga dari Twitter tentang berita bom di masjid al-Iman Damaskus itu. Dua hal yang kiranya penting untuk disimak.

Pertama, siapa dalang di balik ledakan bom itu memunculkan perdebatan. Menurut versi pemerintah Suriah (rezim al-Assad), peledakan bom itu dilakukan oleh kelompok teroris. Memang, belakangan ini rezim Assad banyak menyatakan propaganda bahwa kelompok oposisi ditunggangi gerombolan teroris seperti Al-Qaeda dan Jabhah an-Nushrah.

Sedangkan menurut kelompok pemberontak, bom itu direkayasa oleh pemerintah sendiri. Menurut sebagian pemberontak, bom itu awalnya diarahkan rezim Assad untuk menjebak mereka, namun naas yang berada di sana saat bom itu meletus justru adalah al-Buthi.

Kedua, selepas al-Buthi wafat, muncul juga perdebatan apakah al-Buthi seorang yang syahid atau tidak. Banyak pendukung oposisi Suriah yang menyatakan bahwa al-Buthi tak layak dianggap syahid, sebab ia memberikan legitimasi keagamaan pada rezim yang telah melakukan “genosida” kepada rakyatnya. Namun, kebanyakan figur besar, seperti mantan mufti Mesir, Syaikh Ali Jum’ah, menyatakan bela sungkawa dan menggelari al-Buthi sebagai seorang yang syahid.

***

Sekedar info, saya sudah menerjemahkan salah satu karya beliau yang berjudul al-Lamadzhabiyyah: Akhtharu Bid’ah Tuhaddidu as-Syari’ah al-Islamiyyah (Anti-Mazhabisme: Bid’ah yang Paling Berbahaya yang Mengancam Syariah Islam). Buku itu berisi kritikan kepada aliran Salafi-Wahabi yang membid’ahkan praktek bermazhab kaum muslim-tradisional. Buku itu, bimasyi’atillah, akan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, dengan judul “Menampar Propaganda Kembali kepada Quran”.

Selamat jalan, Syaikh Sa’id Ramadhan al-Buthi. Nafa’ana-Lllah bi ‘ulûmika wa rahimaka wa radhiya ‘anka wa askanaka fasîha jannatih.

~ Kotagede, 22/03/2013

Tagged: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s