PKS, Seberapa Terbuka?

Manifesto politik PKS bakal menjadi gertakan keras bagi partai-partai lainnya. Perolehan suara yang signifikan dari pemilu tahun 2004 ke pemilu 2009, menunjukkan bahwa partai yang merubah namanya di tahun 2002 ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan sampai saat ini, PKS masih menunjukkan dirinya sebagai partai yang bersih dari korupsi. Langkah politik terakhir yang cukup sensasional, PKS mengumumkan diri sebagai “partai terbuka” (baca: Partai Kita Semua).

Apa yang dilakukan PKS tersebut merupakan hal yang wajar. Dengan basis massa besar yang tidak lagi hanya terpusat pada kader-kader “militan” di masjid-masjid kampus, PKS telah mendapatkan dukungan dari kalangan non-Muslim pula- salah satu hal yang “memaksa” PKS untuk lebih terbuka. Setelah bertengger di peringkat 4 pada pemilu tahun 2009, PKS menargetkan masuk ke peringkat tiga besar pada pemilu tahun 2014 nanti.

Munas II pada tanggak 16-20 Juni lalu, menjadi langkah awal PKS menunjukkan inklusifitasnya secara simbolis. Bertempat di hotel Ritz-Carlton, Jakarta –hotel yang pernah dibom bersama JW Marriot dan diduga berhubungan dengan Yahudi- seolah-olah PKS hendak menyatakan bahwa partainya tidaklah anti-AS. Di samping itu, PKS kini telah secara terang-terangan menyatakan bahwa partai itu bersedia menerima keanggotaan (kader) dari non-Muslim, seperti yang telah terlaksana di NTT dan Papua.

Hanya saja, perubahan paradigma ini tidaklah sepi dari pro-kontra. Selain mendapat sejumlah tentangan dari kader-kader di level grassroot, banyak para pengamat politik mempertanyakan kejelasan identitas PKS ini. Apakah langkah PKS ini memang semata-mata merupakan pragmatisme politik? Sesuaikah dengan idealisme partai berasaskan Islam itu?

Seberapa Terbuka?

Membaca landasan filosofis berdirinya PKS ini (di tahun 1998 masih bernama PK), maka kita bisa menafsirkan bahwa PKS memang dulunya berupaya mengintegrasikan agama dengan negara (entah dalam sisi substansinya saja, atau bersama simbol-formalnya juga). Berdirinya PKS ini tampaknya diilhami dari tegaknya al-Ikhwan al-Muslimun (IM) di Mesir. Simaklah bagaimana PKS menggagaskan konsep universalitas Islamnya sama dengan apa yang dikatakan Hasan al-Banna, pendiri IM, bahwa: Islam adalah sistem hidup universal yang mencakup seluruh aspek kehidupan, Islam adalah negara dan tanah air (al-Islam nizhamun syamilun yatanawalu mazhahira al-hayati jami’an, al-Islam daulatun wa wathanun).

Tampaknya dalih bahwa Indonesia kini telah sampai pada tahap keniscayaan konsolidasi demokrasi belumlah cukup menjadi alasan keterbukaan PKS. Dengan gerak yang cenderung pragmatis, kita patut mempertanyakan kembali bagaimana PKS meneguhkan idealismenya sendiri.

Dengan memasukkan kader non-Muslim, apakah mereka juga memiliki peluang untuk menjadi pemimpin di daerah atau bahkan bisa masuk dalam dewan legislatif? Padahal, kalau memakai al-Quran dan as-Sunnah sebagai rujukan utamanya, terdapat larangan (secara tekstual) untuk menjadikan orang-orang “kafir” sebagai pemimpin. Ataukah memang saudara non-Muslim hanya menjadi semacam simbol figur untuk meraup suara dari kalangan mereka dan tidak boleh masuk dalam pimpinan “inti” PKS? Itu artinya, kader-kader non-Muslim seolah-olah dimarginalisasikan dan, secara logis bisa diartikan, PKS  kini berwatak vote-seeker party (partai pragmatis yang bertujuan utama untuk meraup suara (kekuasaan) sebanyak-banyaknya).

Meneguhkan Konsep

Konsep keterbukaan PKS bagi semua kalangan selayaknya diperjelas. Tidak hanya dalam klaim formalitas yang hanya menjadi retorika politis untuk menggaet suara, namun harus disertai perubahan mind-set dalam langkah nyatanya. Pasalnya, bila itu hanya sekedar klaim simbolis, PKS ke depan banyak mendapat tantangan, terutama dalam menyesuaikan program dengan konstituen yang menjadi landasan filosofisnya.

Bila dibandingkan dengan partai-partai berbasis massa Islam lain yang menyatakan dirinya sebagai partai nasionalis, PKS bukan tidak mungkin mendapatkan perpecahan dari kader di bawahnya. Apalagi bila langkahnya kemudian tidak sesuai dengan “konsep” Islam yang diajarkan kepada kader-kadernya. Banyak pihak yang terkejut, PKS bahkan diberitakan mau merekrut Ariel dan Luna Maya, dua artis yang sedang tersandung skandal kasus video porno.

Tidak hanya itu, sikap terhadap masalah Palestina juga menjadi pertanyaan contoh bagi konsep keterbukaan PKS ini. PKS perlu kembali menempatkan prioritas konsentrasinya. Mana yang lebih didahulukan, permasalahan bangsa sendiri atau Palestina? Apakah Palestina dibela atas dasar persaudaraan sesama Muslim? seberapa besarkah nasionalismenya bila dihadapkan dengan permasalahan agama? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi kritikan utama bagi iklan PKS (baca: Palestina Kita Sayangi).

Daya kritis PKS dan kepeduliannya terhadap permasalahan bangsa sendiri pun tidak boleh dilupakan. Bisa jadi, karena terlalu berkonsentrasi dengan target masuk peringkat tiga besar di pemilu 2014 nanti, langkah PKS yang peduli bisa bergerak melambat.

Di sisi lain, langkah PKS ini menjadi bahan pembelajaran bagi partai-partai lainnya. Dengan gerak sedini ini, seharusnya bisa memaksa partai-partai lain, terutama yang berbasis massa Islam, untuk kembali mematangkan programnya. Meski terkesan pragmatis, bukan tidak mungkin langkah PKS ini –setelah berhasil memadamkan prasangka kader-kader di bawahnya- mendapat sambutan luas di masyarakat dan bisa mencapai target yang dicanangkannya di pemilu 4 tahun nanti. PKS, bukan mustahil bisa meniru langkah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki yang bisa menjadi partai yang memerintah dengan tetap berbasis massa Islam, meskipun berada di negeri yang berideologi bukan Islam.

~ [Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 25/06/2010]

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s