Prospek Perdamaian Israel-Palestina

Krisis Gaza untuk sementara ini berhenti. Israel menghentikan Operasi Could Pillar-nya. Penduduk Gaza bisa bernafas lega. Hamas dan Israel setuju gencatan senjata.

Apakah gencatan senjata itu bisa mulus dalam pelaksanaanya? Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Kita pun tidak bisa memastikan bahwa ke depan tidak akan ada lagi saling serang rudal. Namun, terlepas dari hal itu, gencatan senjata itu menandakan perkembangan menarik bagi hubungan Israel-Palestina.

Akhir konflik kali ini berbeda dengan tragedi 2008-2009 saat Israel melancarkan Operasi Cast Lead. Waktu itu, konflik berhenti dan gencatan senjata secara otomatis terjadi karena Israel menarik mundur pasukannya. Yang berbeda dengan kali ini: ada kesepakatan di atas kertas.

Kesepakatan yang berisi perjanjian untuk tidak saling serang lagi itu menandakan kemenangan Gaza. Sekalipun korban lebih banyak di pihak Gaza, secara politis Gaza mendapat banyak keuntungan. Ini ditunjukkan dengan dibukanya pintu gerbang Rafah: penduduk Gaza bisa bebas masuk ke Mesir.

Jelas, dengan dibukanya blokade Israel terhadap Gaza, satu diantara berbagai tuntutan Hamas tercapai. Ketua Biro Politik Hamas, Khalid Meshal, seusai penandatangan gencatan senjata juga mengonfirmasi kemenangan itu.

Menuju Rekonsiliasi

Kesepakatan gencatan senjata itu secara politis membawa beberapa keuntungan, utamanya terkait prospek perdamaian Israel-Palestina ke depan. Pertama, kesepakatan itu menandakan adanya pengakuan eksistensi secara resmi dari kedua belah pihak, Israel dan Hamas. Pasalnya, selama ini kedua pihak terjerumus ke dalam sikap saling menegasikan: Hamas ingin menghapus Israel dari peta dan mengembalikan kondisi Palestina ke pra-1948, sementara Israel menganggap Hamas sebagai gerakan radikal-teroris.

Kesepakatan itu menyiratkan bentuk sikap realistis dari kedua belah pihak. Israel tentu saja harus bersikap pragmatis. Bom bunuh diri di Tel Aviv tidak bisa diremehkan, maka mereka harus legawa untuk gencatan senjata. Demikian pula Hamas harus melihat ke akar rumput: banyak warga non-kombatan Gaza yang tak bersalah meregang nyawa.

Kedua, sikap realistis dari kedua belah pihak itu menandakan adanya “pelunakan” sikap politis. Inilah yang, pada hemat saya, memunculkan harapan bagi proses perdamaian yang selama ini berhenti di tengah jalan. Harapannya: sikap realistis itu mampu menjadi pelajaran baik bagi Hamas maupun faksi konservatif di Israel bahwa pertimbangan nyawa manusia adalah lebih penting daripada idealisme ideologis.

Ketiga, dengan sikap realistis itu, rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah lebih mudah terwujud. Ini juga sempat dikonfirmasi sendiri oleh Khalid Meshal yang, setelah gencatan senjata itu, menyampaikan ajakan kepada Mahmud Abbas untuk memulai kembali agenda konsolidasi internal yang sejak 2007 lalu sudah tercabik-cabik.

Fragmentasi politik antara Hamas dan Fatahlah yang membuat krisis Palestina kerap berlarut-larut. Masyarakat dunia juga tidak bisa serta merta mengatasnamakan Palestina sebab faktanya di lapangan ada dua wajah politik. Gencatan senjata Hamas dengan Israel itu, meski bukan perjanjian abadi, setidaknya bisa menjadi batu pijakan untuk menyatukan kembali visi dan misi dan memutihkan lembaran yang ternoda oleh konflik-konflik masa lalu.

Tantangan

Pun demikian, tidak ada jaminan pasti bahwa dalam ranah implementasinya rekonsiliasi itu akan mulus, tanpa aral melintang. Tantangan pertama tentu saja datang dari potensi munculnya pelanggaran gencatan senjata. Kita tahu, belum ada kesepahaman ideologis antara Hamas dan Israel.

Ini bisa menjadi bak bara api dalam sekam: tersulut sedikit saja akan membara lagi. Jika pelanggaran terjadi juga, dikhawatirkan hal itu ke depan akan menjadi preseden untuk bersikap apatis: masing-masing mendaku bahwa negosiasi sama sekali bukan solusi.

Kedua, belum adanya kesepahaman sikap politik antara Hamas dan Fatah. Secara umum bisa dikatakan, Fatah mengupayakan “solusi dua negara” (two state solution). Sedangkan Hamas selama ini belum menampakkan persetujuan pada solusi tersebut. Maka, penyatuan paham politis ini bukan hal yang mudah dilakukan jika, misalnya, Hamas tetap bersikukuh dengan ideologi lamanya.

Ketiga, memanasnya konstelasi politik Israel. Banyak pakar menyatakan, gencatan senjata itu mengerek turun elektabilitas Partai Likud. Pun demikian, dominasi faksi kanan-tengah di Israel masih menghendaki konfrontasi dengan Hamas. Ini menjadikan tantangan tersendiri bagi mulusnya gencatan senjata itu sebab arah politik Israel menjelang pemilu masih sulit ditebak.

Keempat, gejolak politik yang sedang menimpa Mesir. Kini rezim Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir sedang diprotes oleh karena dekrit yang dikeluarkan Presiden Mursi. Kita tahu, IM sebagai induk ideologi Hamas menjadi pelindung dan pemeran utama dalam proses gencatan senjata Hamas-Israel itu. Jika pemerintahan Mursi di Mesir goyang dan itu merembet ke sikap politik luar negerinya,  maka nasib gencatan senjata Hamas-Israel kali ini bisa terancam.

~ (Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 29/11/2012)

Tagged: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s