Quo Vadis Revolusi Suriah?

Meskipun korban tewas sudah mencapai angka ribuan, ditambah sanksi dari Liga Arab dan kecaman dari Uni Eropa, pasukan militer rezim Bashar Assad bukannya mengendur, justru semakin ganas. Keadaan itu diperparah oleh kebrutalan pasukan elite pengawal presiden Assad; Shabbiha. Pasukan yang dibentuk dari kalangan Syi’ah-Alawiyah –sekte yang dipeluk Assad dan dominan di Parta Baath- itu direkrut dari kalangan mafia atau gangster yang terlibat kriminal dengan menyelundupkan narkoba dan berbisnis prostitusi.

Tragisnya, fokus serangan militer Assad plus Shabbiha cenderung mengarah kepada kalangan muslim Sunni. Assad sepertinya hendak mengulang shock terapy yang pernah dilakukannya ayahnya, Hafez Assad, dalam pembantaian Hama pada 1982 yang menewaskan hingga puluhan ribu muslim Sunni. Assad semestinya perlu berhitung lebih cermat: kelakuannya bisa menimbulkan dendam kesumat.

Sekte dominan di Suriah adalah muslim Sunni, sekitar 70 persen. Syi’ah-Alawiyah ada sekitar 14 persen. Sisanya terbagi ke dalam Syi’ah-Imamiyah, Kristen Ortodoks, dan Yahudi. Keberpihakan sekte-sekte minoritas diberitakan cukup simpang siur di media massa. Namun, melihat perkembangan mutakhir, sekte-sekte minoritas itu mulai menampakkan dukungannya pada rezim Assad. Alasan utamanya: mereka cukup mendapat kebebasan beragama di bawah rezim Assad.

Sekte minotiras mungkin khawatir jika pemerintahan baru pasca Assad akan merepresi mereka. Kekhawatiran itu cukup wajar sebab sebagian kecil demonstran yang terpancing emosi sempat  meneriakkan: “Christian  to Beirut, Syi’ah to coffin (peti mati).”

Sebenarnya mayoritas demonstran berusaha mengupayakan reformasi damai. Kebanyakan spanduk dan yel-yel yang mereka usung memang bernada ajakan untuk damai: “Na’am lil-hurriyyah, la lil-‘unf (ya untuk kebebasan, tidak untuk kekerasan)”. Meskipundemikian, gejolak konflik sektarian tampaknya akan mewujud. Memori pembantaian Hama 1982 perlahan naik ke permukaan.

Keganasan kelompok eksklusif Alawi terhadap muslim Sunni semakin mengobarkan sentimen sekte. Apalagi, sebagaimana sudah jelas dalam konstelasi politik Timur Tengah, Suriah adalah temannya Iran. Perpecahan Sunni-Syi’ah sangat mungkin muncul kembali. Kita tentu berharap, perang antar sekte, apalagi perang sipil (civil war) tidak benar-benar terjadi, seperti konflik Sunni vs Syi’ah di Irak dan Lebanon. Negeri-negeri muslim lainnya diharapkan memperingatkan pemerintah Suriah untuk tidak memicu perang sekte, sebab hal itu mampu membangkitkan sentimen akut yang akan meluas di dunia Islam secara keseluruhan.

Militer Assad memang brutal. Sebagian media massa memberitakan, mereka -mungkin- juga akan mendapat pasokan bantuan militer dari Iran. Tapi secara kuantitas, jumlah pendukung revolusi jauh lebih banyak. Beberapa kekuatan militer Assad kini membelot dan bergabung dengan demonstran. Sebagian membentuk Free Syrian Army. Barat, yang sebelumnya kurang vokal, tidak seperti dalam kasus lain sepeti Mesir dan Libya, kini mulai bersuara lantang mendukung oposisi.

Rusia, mitra Suriah menghadapi hegemoni AS di Timur Tengah, sepertinya tidak mampu memberikan bantuan optimal karena ada permasalahan dalam negerinya sendiri menyangkut PM-nya, Vladimir Putin. Hizbullah di Lebanon tentu tidak bisa diharapkan memberi banyak bantuan. Hanya Iran yang paling diandalkan Suriah.

Kans Islamis

Rezim Assad sudah di ujung tanduk. Reformasi dan demokrasi akan segera terbit di Suriah. Kekuatan politik akan bermunculan. Memang, kebanyakan partai yang sudah berdiri sebelumnya di Suriah adalah partai-partai berhaluan sosialis. Satu-satunya partai Islamis hanyalah Hizb at-Tahrir (Partai Pembebasan). Hizb at-Tahrir, jamak kita ketahui, tidak bisa menyatu dengan sistem demokrasi.

Kendati demikian, bukan berarti kekuatan Islamis lainnya tidak mampu naik ke permukaan (catatan: kata “Islamis” secara etimologis mungkin kurang tepat, tapi tidak mengapa kita terima sebagai kata yang sudah umum digunakan khusus dalam koridor perpolitikan, baik oleh Barat maupun negara-negara Arab sendiri). Ada setidaknya empat alasan yang melatarbelakangi hal itu.

Pertama, kesuksesan partai-partai Islamis di negara-negara lain selama Arab Spring kali ini mampu menjadi inspirasi bagi kekuatan Islam politik di Suriah untuk bangkit. AKP di Turki, an-Nahda di Tunisia, JDP di Maroko, dan FJP di Mesir adalah sekian model yang akan menginspirasi Islam politik di Suriah. Bukankah Arab Spring juga bermula dari Tunisia, Maroko, dan Mesir lalu merembet ke Suriah?

Kedua, partai politik sosialis mungkin masih banyak. Tetapi dukungan publik kepada sosialisme cenderung akan menurun. Partai-partai sosialis dikhawatirkan akan membangkitkan neo-Assad. Mungkin tidak sama dari sisi represinya, tapi secara politik internasional akan sama: menjalin dukungan dengan Iran dan Rusia. Hal ini berpotensi besar untuk membangkitkan kekuatan Islam politik sebagai lawan tanding atau minimal sebagai “alternatif”.

Ketiga, jaringan massa al-Ikhwan al-Muslimun (IM) sangat kuat. Meski IM di Suriah tidak terlalu nampak, tidak seperti di Mesir misalnya, akibat rezim Assad yang sangat represif kepada mereka, tapi IM terbukti mampu bergerak dibalik layar. Sunni-moderat sangat besar secara kuantitas si Suriah. Banyak ulama Sunni berpengaruh hingga level internasional di sana. Di antara ulama Sunni itu sebagian berafiliasi kepada IM.

IM berpotensi bangkit memanfaatkan efek “democracy trap”: kebebasan berpolitik memunculkan Islam politik ke permukaan. Salafi-radikal mungkin saja akan bersuara, tapi tidak akan dominan, sebab Salafisme di Suriah tidak banyak pengikutnya. Selain itu, dalam rapat konsolidasi oposisi Assad di Antalya, Turki, beberapa waktu lalu, IM mendapat sambutan cukup baik. Itu menandakan: setengah gerbang telah terbuka bagi munculnya IM dalam konstelasi politik Suriah.

Keempat, faktor Turki tidak boleh kita lupakan. Selama ini hubungan Turki cukup baik dengan Suriah sebagai mitra dagang logistik dan persenjataan. Di masa krisis Suriah kali ini, Turki bahkan bersedia menampung para pengungsi Suriah. Turki juga sangat vokal mendesak Assad untuk segera mundur. Bukan tidak mungkin, the rising star dalam geopolitik Timur Tengah, Erdogan (PM Turki), akan membantu bangkitnya Islamis di Suriah.

Kita tunggu, apakah revolusi Suriah akan membangkitkan kenangan kejayaan Umayyah di Damaskus ataukah justru memunculkan rezim neo-Assad.

~ Artikel ini pernah dimuat Jawapos [13/12/2011]

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s