Rohingya dan Ramadhan

Tragedi yang menimpa umat Islam dari etnis Rohingya menyisakan banyak ironi. Banyak dari kita yang merasa sedih dengan meninggalnya beberapa figur terkenal, sementara kadang kita lupa untuk berempati: bahwa di luar sana ada bangsa dan komunitas Muslim yang harus “mengais-ngais” kedaulatan, dipandang sebelah mata, dan diremehkan justru di tanah di mana mereka sudah hidup sejak lama. Rohingya tinggal di Myanmar sejak negara itu bernama Burma, sekitar 80 tahun lalu.

Banyak orang yang menangisi wafatnya Steve Job, membuat orbituari untuknya, membikin buku untuk mengenang perjuangan bisnisnya yang pantang menyerah, sementara tak begitu banyak yang menangisi nasib orang-orang yang menderita busung lapar dan homeless di belahan Afrika.

Banyak orang merasa prihatin dengan tragedi pemutaran perdana film “Batman: The Dark Night Rises”. Peristiwa dengan korban belasan orang itu bahkan sempat menjadi headline media massa. Diberitakan pula, pemeran film itu ikut menyambangi keluarga korban. Tak ketinggalan, Presiden Obama ikut mengutarakan keprihatinan. Sementara itu, kasus pembantaian etnis Rohingya nyelip dalam space yang kecil di pojok surat kabar.

Tragedi Rohingya juga mengingatkan akan ironi bagi Indonesia sebagai bangsa yang mayoritas Muslim. Indonesia dengan gagahnya memberi hutang kepada IMF, tapi sampai kini kita belum mendengar dengan tegas bagaimana sikap resmi pemerintah RI kepada Myanmar.

Myanmar sempat gempita dengan mulai terbitnya era baru demokrasi. Aung San Suu Kyi, ikon baru demokrasi itu, belum lama ini menerima hadiah nobel. Beragam tulisan menyambut positif akan prospek cerah demokrasi di Myanmar. Tapi Suu Kyi juga belum bersuara lantang. Ataukah justru dalam kamus demokrasi dan nasionalisme versi Suu Kyi tidak ada kata Rohingya? Pemerintah junta militer Myanmar justru dengan arogan mengatakan Rohingya merupakan imigran gelap.

Ratusan jiwa Muslimin Rohingya tewas dalam pembantaian. Sebagian kabar mewartakan jumlah korban sudah mencapai angka seribu. Kalau itu benar, maka ini nyaris menjadi tragedi genosida. Naas sekali, bahkan Bangladesh yang konon merupakan etnis induknya juga menganggap Rohingya sebagai “anak haram”.

Rohingya menjadi suku bangsa tanpa tanah air. Rohingya menambah daftar duka dunia Islam, di samping Palestina dan Suriah kini.

Pertanyaan “haruskah kita berempati?” adalah retoris. Ya, kita menghormati prinsip “non-intervensi” yang berlaku di kawasan ASEAN. Tapi, apakah “non-intervensi” berarti menegasikan dan mengabaikan kasus pembantaian? Ya, kita menghargai prinsip nasionalisme: bahwa negara terkotak dalam batas teritorial tertentu—ini sudah zamannya negara bangsa (nation state). Tapi, apakah nasionalisme lantas berarti acuh-tak-acuh dengan nasib nation yang lain? Politik luar negeri Indonesia adalah bebas-aktif. Semestinya Indonesia bisa aktif, apalagi kini menjadi pimpinan ASEAN. Juga, di sana berlaku solidaritas Islam, prinsip ukhuwwah Islamiyyah.

Dalam hadits dikatakan, “Umat Islam ibarat satu tubuh: jika satu bagian merasa sakit, maka seluruh anggota badan juga merasa sakit.” Juga kata hadits yang lain, “Orang-orang beriman itu bagai bangunan: (stukturnya) saling menguatkan satu sama lain (kal-bunyan, yasyuddu ba’dhuhum ba’dhan).” Komunitas Muslim kerap disebut dengan ummah (satu induk), ukhuwwah (satu persaudaraan). Saya tak perlu menukil banyak dalil dari nash al-Qur’an atau hadits tentang hal itu.

Dan memang semestinya ini tidak dianggap duka bagi umat Islam saja. Umat Islam seharusnya juga berempati dengan Palestina bukan karena mayoritas warganya adalah Muslim, sebab bangsa Palestina juga terdiri dari umat Kristiani. Solidaritas dunia Islam untuk Palestina, Suriah, dan Rohingya seharusnya adalah karena mereka dizalimi, ditindas martabat humanismenya. Jadi, ini juga tragedi kemanusiaan.

Karena itu, kiranya saya tak perlu mendramatisasi dengan mengatakan: “Bayangkan jika dirimu ditakdirkan lahir dari rahim etnis mereka, lalu kamu menjadi minoritas, dikesampingkan, tidak dianggap warga negara, akses pendidikan dan pekerjaan dipersulit, lalu dibantai, rumahmu dirusak—kamu terlunta, lalu rasakan ketika kamu minta pertolongan dan tidak juga dipenuhi.”

Ini bulan Ramadan, bukan? Para dai dan khotib biasa mengujarkan: Ramadan merupakan bulan empati. Pun cukup sering didakwahkan, puasa berguna agar kita bisa tepo seliro, merasakan penderitaan mereka yang kelaparan.

Maka dari itu, kalaupun kita tidak bisa berbuat banyak untuk mewujudkan empati kita dalam langkah nyata dengan datang ke sana, setidak-tidaknya janganlah mengatakan, “Ngapain mengurusi orang luar, sementara masalah kita di dalam negeri saja sudah bikin pusing?”. Juga jangan mengatakan, “Mari bersyukur karena atas karunia-Nya kita hidup di negara yang aman tenteram, gemah ripah loh jinawi.” Bagi para Sufi, itu bentuk syukur yang perlu diistighfari.

~ (Artikel ini pernah dimuat di Republika, 01/08/2012)

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s