Rumitnya Krisis Mesir

Kisruh yang terjadi di Mesir kali ini rumit: tak bisa dengan mudah dinyatakan mana yang benar dan mana yang salah.

Belakangan yang terjadi bukan hanya sipil vs militer, tapi juga sesama sipil: antara pro-Mursi vs kontra-Mursi. Sesama orang Islam juga. Yang kontra-Mursi tidak seragam. Kontra-Mursi ada beragam kelompok, antara lain, Al-Azhar, Salafi, Kristen-Koptik, kaum muda revolusi (gerakan kiri, Syabab 6 April, yang menggerakkan “Tamarrud”), dan kaum liberal (yang terakhir sebenarnya tidak banyak).

Secara garis besar dalam tataran institusional bisa dikatakan, al-Ikhwan al-Muslimun (IM) terpojok secara politik, meski banyak pendukungnya di akar rumput.

Untuk bisa mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi itu bukan hal yang mudah. Tiap media memiliki bias yang amat kentara. Jangankan yang ribuan kilo jauh di sana, berita politik di negeri sendiri saja susah dicari mana yang benar, dan mana yang dipalsukan. Padahal, bias media di sini kita tak terlalu tajam; setidaknya tak setajam media di Arab sana.

Untuk tahu apa yang terjadi di Mesir, bagi kita di sini, ada setidaknya lima versi media: (1) media versi negara Mesir; (2) media versi Ikhwan; (3) media versi oposisi-Ikhwan; (4) media versi politik regional Arab; (5) media versi jejaring sosial.

Salah satu contoh bias yang terjadi, misalnya, media versi Ikhwan menyebut tragedi di Rab’ah al-‘Adawiyah sebagai “pembantaian” (majzarah) dengan “ribuan” korban tewas. Sedangkan media versi oposisi-Ikhwan, menyebut tragedi itu “bentrokan” (isytibak) dengan “ratusan” korban tewas.

Yang disorot pun beda. Media pro-Ikhwan cenderung menyorot begitu banyak & tragisnya korban yang tewas dari kelompok pro-Mursi. Media oposisi-Ikhwan cenderung menyorot bahwa demo Ikhwan tidaklah damai, memakai kekerasan, memprovokasi militer, bahkan membakar gereja. Ini soal mana yang cenderung lebih banyak disorot.

Media yang pro-Ikhwan, selain koran milik Hizb al-Hurriyyah wa al-’Adalah (sayap politik IM) sendiri, adalah Aljazeera. Media Qatar ini mendukung Ikhwan. Sedang yang kontra-Ikhwan, antara lain, Al-Masry al-Yaum, Al-Yaum as-Sabi’, Al-Wathan, Al-Hayat, Shorouk, Al-’Arabiya (Saudi), Asy-Syarq al-Awsath (Saudi), dll. Yang cukup independen agaknya Al-Ahram, koran terbesar di Mesir.

Kronologi

Kelompok pro-Mursi demo berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Kehidupan publik tentu saja terganggu. Mereka ngotot, meski sadar juga bahwa yang kontra-Mursi juga banyak. Memang secara formal mereka hendak demo dengan damai (ihtijaj silmiy). Tapi tetap ada sebagian yang provokatif, membawa anak-anak, bahkan pakai kekerasan—yang ini, banyak disorot media kontra-Ikhwan. Dalam tensi yang begitu panas, apalagi orang wataknya beda-beda, tentu yang emosional akan jadi seperti “api disiram bensin”: mudah tersulut kemarahannya.

Lalu Al-Azhar mengajak islah, rekonsiliasi, kompromi; antara pemerintahan hasil kudeta (yang secarade facto memang dihegemoni militer) dengan pendukung Mursi. Ini agar bentrokan tak berlarut-larut dan korban tak terus berjatuhan. Tapi pendukung Mursi menolak: tiada rekonsiliasi sebelum Mursi dikembalikan ke takhta kuasanya. Mereka tetap demo. Tentu saja, pemerintah sebagai penjaga stabilitas negara dan keamanan tak bisa diam. Road map untuk membentuk pemerintahan baru, dan penyegeraan pemilu jadi terhambat.

Maka militer turun untuk membubarkan demonstrasi. Pendukung Mursi memilih tetap melawan. Bagi mereka, perlawanan itu “jihad”. Akibatnya, tentu banyak korban berjatuhan. Bila ada sedikitnya ratusan korban tewas dari pendukung Mursi, ada puluhan tewas dari pihak aparat. Di sini ada pertanyaan penting: Kalau demonya damai, mengapa ada puluhan aparat polisi yang tewas juga? Dua pertanyaan ini kurang disorot dan sudah dicari jawabnya di media pro-Ikhwan.

Sikap Indonesia

Kisruh di Mesir ini turut menyedot perhatian banyak negara. Qatar dan Turki (PM Erdogan) mendukung Ikhwan. Venezuela dan Ekuador sudah menarik dubesnya di Mesir. Tapi Saudi lantang menyatakan dukungannya pada militer. Tak dinyana sebelumnya, pascakudeta Mesir memecah kekuatan Islamis.

Bagaimana sikap Indonesia? Pada hemat saya, sikap Indonesia menyerukan rekonsiliasi dan kompromi antara militer dengan pendukung Mursi sudah tepat.

Intervensi akan berujung pada nasib hubungan diplomatis Indonesia dengan Mesir, yang kalau diputus, akan susah dikembalikan. Apalagi, kita tahu, krisis di Mesir ini tak bisa disimplifikasi secara biner, antara Islam versus liberal misalnya, atau antara demokrasi versus kudeta.

~ Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat [26/08/2013]

Tagged: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s