Sekelumit Tentang Gie dan Wahib

Berawal dari lagu Donna-Donna (yang sudah saya bahas sedikit tentangnya di catatan lain di blog ini), saya jadi penasaran dengan sosok Soe Hok Gie. Saya mulai mencari filmnya dan menontonnya. Saya juga segera membaca bukunya, Catatan Seorang Demonstran (Cet. X, LP3ES: 2011). Buku itu sudah “setengah” selesai saya baca. Cuma “setengah”, sebab saya membacanya tak urut sampai khatam: loncat-loncat ke bagian-bagian yang menurut saya agak menarik.

Beberapa bagian memang membosankan bagi saya sebab, sebagai catatan harian, Gie banyak menulis tentang teman-temannya sendiri yang saya tak kenal—atau lebih tepatnya tak ingin tahu. Namun demikian, memang ada beberapa bagian dari catatannya yang benar-benar keren untuk ukuran zamannya.

Saya ingin membandingkannya dengan Ahmad Wahib. Antara Wahib dan Gie memang banyak kemiripan. Dua bulan lalu saya sudah membeli bukunya Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam. Bukunya Wahib itu juga sudah saya baca, “setengah” selesai juga.

Gie dan Wahib lahir dalam tahun yang sama. Gie (1942-1969) meninggal usia 27 tahun. Wahib (1942-1973) meninggal usia 31 tahun. Meski mati muda, keduanya meninggalkan catatan harian yang dikumpulkan dan diterbitkan oleh para sahabatnya. Dua-duanya pemikir muda-kritis yang menyaksikan peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Dan karena ditulis, maka ide-ide kritis itu masih bisa dibaca hingga kini, setelah setengah abad berlalu sejak keduanya tiada.

Bedanya, catatan Gie adalah “catatan harian”, sedangkan catatan Wahib adalah “catatan renungan”. Soal kualitas isi dan ketajaman analisis pemikiran, menurut saya Wahib lebih unggul. Pantas, memang Wahib memulai catatan perenungannya itu sejak usia 25-an. Lingkungan tempat Wahib mengolah intelektualitas juga lebih “subur”. Kelompok diskusiLimited Group yang rajin diikutinya beranggotakan intelektual hebat yang menjadi garda depan di zamannya, seperti Mukti Ali, Nurcholish Madjid, Djohan Efendi, Dawam Rahardjo, dll. Wahib aktif di HMI.

Sedangkan Gie memulai catatan hariannya sejak usia 15-an. Dia tak punya kawan-kawan hebat sesama pemikir seperti Wahib. Gie lebih “aktivis” daripada Wahib. Pun demikian, cukup banyak buah pikiran Gie yang ia tuangkan dalam catatan hariannya sebagai hasil bacaannya terhadap sebuah buku.

Yang keren adalah, menurut saya, justru catatannya waktu usia SMA dan mahasiswa semester awal sangat berbobot di catatan harian itu. Selebihnya, Gie lebih banyak bercerita tentang aktivitasnya bersama teman-temannya sebagai mahasiswa kritis yang kadang-kadang ikut demo. Fragmen cerita yang filmis dalam imajinasi saya adalah cerita ketika Gie ikut demo menunut diturunkannya harga.

Waktu itu, harga bensin naik. Kenaikan harga ini diduga memang direkayasa oleh rezim Soekarno sendir agar perhatian publik yang memberi cap negatif terhadap “perselingkuhan” Soekarno-PKI beralih, sebab rakyat harus memikirkan perutnya sendiri [Gie tampaknya mengamini kenyataan rekayasa ini]. Mahasiswa pun mendemo gedung kementrian yang mengotaki kenaikan harga ini. Diceritakan, menteri itu diseret keluar, disuruh berdiri di atas “panggung” orasi, lalu mahasiswa meneriakkan yel-yel seraya mengacungkan telunjuk mereka, menunjuk-nunjuk ke arah muka menteri itu. Yel-yel itu, yang juga dijadikan fragmen dalam film Gie, berbunyi:

Tek-kotek-kotek-kotek,

Ada menteri tukang ngobyek,

Blok-goblok-goblok-goblok,

Kita ganyang menteri goblok.

Kembali ke catatan Gie tadi, yang menurut saya paling menarik justru adalah catatannya waktu masih SMA. Untuk ukuran zaman itu, saat televisi masih jarang (untuk tidak dikatakan belum ada), bayangkan Gie yang masih SMA bisa menulis begini (di hal. 69):

“Yang berkuasa sekarang adalah orang-orang yang dibesarkan di zaman Hindia Belanda almarhum. Mereka adalah pejuang-pejuang kemerdekaan yang gigih. Lihatlah Seokarno, Hatta, Sjahrir, Ali dan sebagainya. Tetapi kini mereka telah mengkhianati apa yang diperjuangkan. Soekarno telah berkhianat terhadap kemerdekaan. Yamin telah memalsukan (atau masih dalam zaman romantik) sejarah Indonesia. Hatta tak berani menyatakan kebenaran (walaupun kadang-kadang ia menyatakan).”

Juga catatan berikut yang ditulisnya pada 1960 saat masih SMA (di hal. 78):

“Sekarang aku tengah mendengarkan musik Jepang. Biar bagaimanapun kita harus kagum kepada Jepang. Musiknya walaupun bernada Barat tapi hakekat daripada musik Jepang tak pernah hilang. Suatu dasar yang kuat tak pernah dapat dikalahkan oleh kebudayaan Barat yang kuat itu. Kebudayaan Barat telah memusnahkan peradaban orang-orang Maori, Indian, dan lain-lain. Tapi kebudayaan Jepang masih sanggup mewarnai kebudayaan Barat. Aku kira seperti ini: Jepang adalah tanah dan Barat adalah benih. Benih itu ditanam dan walaupun yang tumbuh adalah pohon Barat, tapi pohon tadi telah mempunyai sifat-sifat yang khas Jepang. Apakah Indonesia sekuat Jepang? Setan pun tak tahu. Tapi aku kira begitu. Tiongkok telah membuktikan kekuatan kebudayannya. Melebur kebudayaan India (Budha), Mongol. Dan dapat pula mengatasi peradaban kapitalis Barat. Tapi apakah ia sanggup melawan peradaban Komunis dari Barat? Apakah Komunis dapat diwarnai kebudayaan Tiongkok atau kebudayaan Tiongkok akan musnah oleh Komunisme? Aku tak tahu. Tapi semoga komunis tak melebur kebudayaan Tioghoa. Sejarahlah yang akan menjawab semuanya tadi. Aku jadi ingat sebuah karanga Toynbee: The Russian Dilemma. Dalam karangan tadi dikatakan bahwa Rusia mau tak mau harus memilih totalitarisme sebagai jawaban Rusia terhadap hidupnya. Tanpa totaliter, Rusia telah lama kehilangan diri.”

Saya katakan catatan Gie itu keren, bukan sekedar dari isinya, melainkan juga dari bahasanya, cara mengekspresikan idenya. Untuk anak umur 17 tahun, di zaman itu, catatan seperti di atas adalah luar biasa!

Bacaan Gie memang luas, lebih banyak referensi dinukilnya daripada dalam catatan Wahib. Dalam catatan Pergolakan-nya, Wahib memang mengaku jarang membaca: refleksi Wahib berasal dari diskusi dan tanggapannya terhadap cetuasan pemikiran lawan diskusinya. Gie belajar di jurusan sejarah. Ia banyak membaca buku-buku biografi tokoh besar dunia—agaknya sebagian besar berbahasa Inggris. Maka wajar, jika dalam catatannya, Gie punya banyak bendahara quotes dari tokoh-tokoh besar itu lalu menukilnya. [Sampai di sini, saya jadi teringat tentang Gus Dur yang waktu SMA juga sudah membaca Das Kapital-nya Karl Marx]

Sayangnya, catatan Gie itu hanya catatan “harian”. Padahal, diceritakan dia banyak menulis di media massa. Andai saja artikelnya di media massa itu dibukukan juga, kita bisa membaca pemikiran secara utuh, terutama soal kecondongannya pada sosialisme. Membaca catatan harian Gie, membuat kita susah untuk menemukan gambaran idealisme yang komprehensif dalam pikirannya.

Poin utama saya dalam notes ini adalah: bagaimana melahirkan kembali orang-orang semacam Gie dan Wahib? Yang jadi permenungan saya adalah: apakah faktor yang lebih dominan dalam membentuk orang-orang semacam keduanya adalah produk sistem sosial di zamannya ataukah semata-mata berasal dari inisatif dan bawaan alam dirinya sendiri? Saya tak tahu.

Tapi saya berharap, di Indonesia lahir lebih banyak lagi orang-orang semacam keduanya. Zaman kini perlu anak-anak muda-kritis dengan idealismenya, sebagai penyeimbang budaya permisif-apatis. Sayang, keduanya mati muda. Jika saja masih hidup, kita bisa menyaksikan apakah keduanya akan menjadi oportunis lalu luntur idealismenya yang berapi-api itu ketika, misalnya, ikut terseret ke dalam pusara kekuasaan. Gie mati muda, mungkin seperti kutipan filsafat yang disukanya, yang dinukil dari adegan Midas-Silenus: “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda.”

~ Kotagede, 17/03/2013

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s