Seleb Narkoba dan Sanksi Massa

Badan Narkotika Nasional (BNN) menggebrek belasan artis. Empat dari belasan orang itu adalah seleb papan atas. Sebagian adalah anggota legistlatif dan calon kader partai. Mereka kini menjalani tes. Sampai artikel ini ditulis, melalui tes urine, keempat artis itu terbukti negatif mengkonsumsi narkoba, sementara lima orang lainnya dari belasan itu sudah positif. Keempat artis itu masih akan menjalani tes lainnya.

Sungguhpun memprihatinkan, hal ini seolah sudah menjadi kabar biasa. Kasus ini adalah yang kesekiankalinya menimpa para seleb. Sebelumnya, sudah banyak artis mengalami hal serupa.

Logikanya sederhana saja, konsumsi narkoba bukan hal susah diupayakan oleh mereka yang bergelimang materi. Tentu saja pengedar narkoba menyasar kalangan ini. Di samping sasaran empuk, kalangan seleb juga punya pangsa pasar yang menggiurkan. Mereka tergabung dalam kelompok berbudaya hedonis.

Hedonisme ini kerap memunculkan kepenatan, baik karena jam kerja atau kesal dengan gosip-gosip, yang kadang membuat seleb ingin mencoba-coba “hal baru” sebagai pelarian. Gaya hidup seleb yang dekat dengan gemerlap materi dan popularitas memungkinkan untuk hal itu. Parahnya, tidak ada filter yang kuat menahan bujukan teman sejawatnya. Sebabnya ialah, konsumsi narkoba dan dopping terkesan menjadi hal yang lumrah sebab banyak orang dalam lingkaran seleb itu pernah melakukannya.

Yang jelas, kita sungguh prihatin dengan kasus ini. Logika awamnya, jika benar bahwa BNN sudah memata-matai rumah artis yang digunakan untuk pesta narkoba itu selama berbulan-bulan, maka janggal terasa jika sang pemilik rumah tidak ikut terlibat. Toh jika memang tidak ikut mengkonsumsi, dia juga terlibat aksi pembiaran. Adilnya, tindakan pembiaran ini mesti mendapat hukuman juga.

Tindak Pencegahan

Persoalannya kemudian, bagaimana mencegah hal semacam ini agar tidak semakin meluas? Pertama, untuk jangka pendek, satu-satunya cara yang perlu dicanangkan adalah memperberat sanksi. Hal ini perlu dikaji sebab belajar dari pengalaman sebelumnya, seorang artis bisa saja kembali mengkonsumsi narkoba sekalipun sudah dihukum penjara, yang “cuma” satu tahun itu. Ini artinya, hukuman yang diregulasikan sementara ini belum ampuh menimbulkan efek jera.

Pembedaan hukuman untuk korban dan pengedar perlu juga ditinjau ulang, utamanya jika sebuah kasus menyangkut para figur publik semacam para artis. Sebabnya, selama ini para artis itu lebih dipandang sebagai korban, sehingga hukumannya tak seberat pengedar. Padahal, efek sosial-populer yang diakibatkannya jauh lebih dahsyat ketimbang, misalnya, yang menjadi korban adalah orang biasa. Artis punya banyak fans yang sebagiannya mengidolakan secara buta.

Kedua, untuk jangka panjangnya, masyarakat perlu dididik untuk memberikan tekanan sosial. Ini bukan hal yang mudah sebab masyarakat kita adalah masyarakat yang mudah melupakan dan memaafkan. Masyarakat kita sudah lupa dengan kasus perzinaan vokalis band papan atas, bahkan kini berbalik mengelu-elukannya. Seolah-olah, perzinaan yang gamblang dilihat banyak orang itu sudah termaafkan, dianggap lalu, padahal ia menimbulkan dampak yang sama sekali tak mendidik. Sebaliknya, ketika seorang dai terkenal melakukan poligami, padahal itu melalui pernikahan yang sah, baik secara agama maupun negara, justru publik susah untuk melupakannya.

Budaya Massa

Itulah efek dari budaya massaa. Pengidolaan publik terhadap artis termasuk faktor terbesar yang membuat sang artis tak tampak merasa berdosa selepas keluar penjara. Perasaan berdosa acapkali ditentukan oleh tekanan sosial, bukan oleh iman dari pribadi yang bersangkutan.

Budaya massa kita mirip kerumunan (crowd). Ia mudah diombang-ambingkan oleh konsensus informal dari opini mayoritas. Budaya massa adalah tren yang kerap diperalat para kapitalis untuk mengeruk uang. Parahnya, budaya massa adalah cermin masyarakat tak terpelajar dan berasal dari kelas menengah ke bawah di Barat dulu pada pertengahan pertama abad ke-20.

Ini merupakan salah satu perbedaan kita dengan masyarakat Barat. Di Barat, masyarakat pembaca sudah terbentuk sebelum datangnya era digital. Di negeri kita, masyarakat pembaca belum terbentuk, kita sudah diserbu televisi. Maka “kerumunan” masyarakat mudah disetir media elektronik sebelum siap filternya. Akibatnya, antara lain, tiadanya pertimbangan rasional untuk mengidolakan seorang artis. Budaya yang menyeruak ke permukaan adalah kerumunan orang yang emosional.

Soal narkoba tadi, agaknya masyarakat harus dididik secara perlahan untuk tidak terlibat secara emosional dengan budaya massa itu. Ini diupayakan dengan memberi sanksi sosial. Tekanan sosial mestinya dimulai dari media yang membesarkan artis yang bersangkutan. Dengan demikian, diharapkan citra “lumrah” artis pengkonsumsi narkoba lambat laun luntur, tak terlupakan, syukur-syukur bisa menjadi kasus yang susah termaafkan! Budaya massa yang pelupa mesti dikikis pelan-pelan.

~ (Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 30/01/2013)

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s