Suriah dan Sikap Indonesia

Perkembangan di Suriah kini menunjukkan dua hal: semakin lemahnya legitimasi Presiden Bashar al-Assad dan semakin kencangnya seruan untuk melakukan intervensi dan sanksi kepada rezim Assad dan antek-anteknya.

Kabar mutakhir dari negeri yang dilanda krisis sejak 17 bulan lalu dan sudah kehilangan 17 ribu nyawa itu mewartakan, satu-persatu mitra Assad di lingkaran elite ring pertama hilang. Perdana menteri Suriah dan brigadir jenderalnya membelot. Belum lama juga bom meledak di Biro Keamanan Nasional di Damaskus dan menewaskan tiga orang penting: Menteri Pertahanan Daud Rajiha, Wakil Menhan Assef Syaukat (kakak ipar Assad), dan Jenderal Hasan Turkmani. Warta terhangat: duta PBB, Kofi Annan, mengundurkan diri. Annan mungkin sudah putus asa dengan “kengototan” rezim Assad.

Peristiwa tersebut semakin menambah runyam usaha pencarian solusi krisis Suriah. Presiden Assad memanfaatkan insiden bom itu untuk mejustifikasi dirinya sebagai komandan langsung perang melawan kelompok teroris Suriah yang diduga mencoba “memancing di air keruh”. Suasana perang kini menggelayuti Aleppo dan Damaskus.

Namun, alasan Assad itu klise. Kelompok teroris, pada hemat saya, tidak begitu kuat bercokol di Suriah yang rezimnya amat represif. Lagi pula, kelompok Islam lainnya yang dianggap radikal-militan tidak bisa bergerak leluasa di Suriah. Alibi Assad ini juga mirip dengan tameng politis yang dulu dipakai rezim Abdullah Saleh di Yaman: terorisme menjadi legitimasi untuk tetap mengukuhkan kuasa.

Di sisi lain, insiden bom itu memunculkan asumsi yang cukup kuat: tembok pertahanan dan keamanan rezim Assad sudah mulai bisa ditembus. Ini menandakan kekuatan jejering oposisi mulai menguat. Apalagi, empat pintu perbatasan Suriah dengan Irak dan satu pintu perbatasan dengan Turki juga sudah dikuasai oposisi. Jika jejaring keamanan ini sudah tertembus, Assad harus lebih waspada: boleh jadi beberapa orang dekatnya tidak lama lagi akan menjadi target bom.

Perang yang terjadi di Aleppo dan kawasan belahan utara Suriah mulai menunjukkan gejala akan dimenangkan pihak oposisi. Kini mulai muncul opsi untuk segera membentuk pemerintahan transisi—meski secara sepihak.

Intinya, legitimasi Assad mulai tergerus sedikit demi sedikit. Seolah tinggal menunggu waktu sampai Assad tak lagi punya pendukung kuat kecuali dari Rusia dan Cina. Insiden bom itu cukup mengerek kuat dukungan masyarakat bawah Suriah kepada oposisi dan militer (Free Syrian Army, FSA).

Diplomasi Setengah Hati

Namun demikian, Assad masih punya banyak kekuatan militer. Dalam bidang fasilitas persenjataan, kubu oposisi masih kalah jauh. Pasokan senjata dari Arab Saudi dan Negara-Negara Teluk lainnya kepada FSA via jalur institusi oposisi terbesar, Dewan Nasional Suriah (SNC), masih kurang memadai untuk mengimbangi militer Assad.

Konflik fisik dan senjata jelas tidak kita inginkan. Masyarakat dunia pada umumnya tidak menghendaki skenario Libya dan Irak terjadi lagi di Suriah. Hal itu akan menjadi bumerang: menambah kuat hegemoni Barat dalam konstelasi geopolitik Timur Tengah.

Namun demikian, solusi damai yang bagaimana yang bisa efektif? Sejauh ini, Assad sama sekali belum menampakkan tanda-tanda mau duduk berdialog bersama. Watak Assad sejak awal krisis meledak memang bersikeras tak mau undur diri. Bukankah sudah banyak upaya negosiasi damai yang kandas di tengah jalan, termasuk “rencana damai enam poin” oleh Kofi Annan?

Konsesi politik mutakhir yang difasilitasi PBB di Geneva beberapa waktu lalu pun masih diperdebatkan. Konsesi itu memang menyetujui pembentukan pemerintahan transisi. Namun perdebatan sengit mengerucut pada apakah pemerintahan transisi itu melibatkan elemen lama dari rezim Assad atau tidak? Barat mengatakan tidak, sedangkan Rusia mengharuskan ada bagian dari rezim lama di pemerintahan transisi itu.

Hal itu menandakan bahwa rencana diplomasi tak satu pendapat. Keputusan itu bisa jadi menyimpan ambiguitas. Interes asing ke Suriah menambah kesuraman nasib transisi Suriah ke depan. Diplomasi yang berjalan selama ini masih setengah hati. Jangankan dari pihak luar, kelompok oposisi di dalam pun tidak satu tujuan. Fragmentasi politik dan sektarian cukup tajam di dalam.

Oleh karena itu, sikap pemerintah Indonesia terhadap krisis Suriah inipun mesti dihitung dengan cermat. Indonesia selama ini masih dipandang relatif netral bagi publik Timur Tengah. Sikap yang ekstrim bisa menyeret Indonesia ke dua kubu paling tajam: antara Rusia-Iran dan Amerika-Israel. Suriah adalah medan proxy war.

Note: Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat [14/08/2012]

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s