Suriah Vs Liga Arab

Rezim Bashar al-Assad yang semula diprediksi akan segera tumbang, ternyata tidak mudah digulingkan. Asumsi yang mulanya mendasari prediksi itu adalah sudah tumbangnya empat pemimpin Arab pada akhir Oktober tahun lalu (Ben Ali Tunisia, Mubarak Mesir, Qadhafi Libya, dan Abdullah Saleh Yaman). Prediksinya: kalau rezim sekuat Mubarak saja lengser, maka Suriah tentunya lebih mudah, sebab selain pemerintahnya berasal dari kalangan minoritas (Syiah-Alawiyah), Suriah lebih miskin daripada Mesir.

Pun demikian, faktanya Assad hingga kini masih belum mengendur. 5400 korban yang sudah tewas tidak berarti menyurutkan rasa teganya. Tim Pemantau yang dikirim oleh Liga Arab (Jami’ah ad-Duwal al-‘Arabiyyah) tidak berhasil menjinakkan Assad.

Alih-alih menyerah, Assad bahkan berani menyerang balik. Dalam pidato terakhirnya, ia menyatakan bahwa mereka (Liga Arab) tidak pantas mengajari demokrasi, sementara mereka sendiri memberlakukan sistem monarki-absolut. Para pemimpin Liga Arab itu, kata Assad, seperti seorang dokter yang menyuruh pasiennya untuk tidak berhenti merokok sementara dokter itu sendiri menasehati pasiennya sambil merokok.

Warta terakhir, Liga Arab –didukung oleh Uni Eropa- mendesak Dewan Keamanan (DK) PBB untuk mengeluarkan resolusi mengecam kekerasan rezim Assad. Resolusi itu masih akan dirapatkan atau di-voting. Prancis dan Inggris bekerjasama dengan Qatar menyusun resolusi itu, yang isinya: mendukung rencana damai Liga Arab untuk membentuk pemerintahan bersatu, sanksi ekonomi untuk Suriah, dan penyerahan kekuasaan Assad. Rusia dan Cina, cukup mudah diprediksi, menolak rencana resolusi itu.

Ideologi Liga Arab

Sebenarnya bukan hanya rezim Assad yang tidak suka dengan campur tangan Liga Arab. Pihak oposisi Suriah sendiri juga mengutarakan kritikannya pada upaya Liga Arab itu. Sebabnya adalah: Liga Arab bagi mereka bukanlah badan independen dan bersikap sama di atas semua negara Arab. Liga Arab membawa kepentingan negara-negara bersaham besar, seperti Arab Saudi dan Qatar. Terlebih Qatar yang dalam masa revolusi Arab kini seolah menjadi aktor baru dalam konstelasi politik Timur Tengah. Emir Qatar, Hamad bin Khalifa at-Tsani, pada pertengahan Januari lalu sempat menyatakan pasukan bantuan perlu dikirim ke Suriah.

Sejak dahulu memang Liga Arab tidak pernah akur dengan Suriah. Terdapat perbedaan ideologi politik yang cukup tajam antara keduanya. Liga Arab dibentuk berdasarkan perpecahan negara-negara Arab. Piagam Liga Arab yang menjadi dasar konstitusional pendiriannya secara tegas menyatakan “penghormatan terhadap kedaulatan dan kemerdekaan masing-masing negara”. Artinya, sikap dasar organisasi yang berdiri pada 1945 ini adalah menerima realitas Arab yang sudah terpecah dalam berbagai nasionalisme sempit (wathaniyyah) dan menolak persatuan Arab (al-qawmiyyah al-‘arabiyyah).

Sedangkan Suriah adalah pengusung ideologi Pan-Arabisme; ideologi yang hendak menyatukan semua negara Arab dalam satu ikatan kebangsaan Arab. Ideologi ini juga tercermin dari namanya: Republik Arab Suriah (al-Jumhuriyyah al-‘Arabiyyah as-Suriyyah). Para pengusung Pan-Arabisme dulu direpesentasikan oleh Suriah, Irak (masa Saddam), Mesir (sebelum perjanjian Camp David), dan Libya. Dan Suriah, tidak bisa dimungkiri, masih menyimpan memori kejayaan Daulah Umayyah, sehingga bisa jadi karena inilah ia begitu bernafsu ingin menjadi pemimpin Timur Tengah.

Dari dua watak dasar yang berbeda itu dapat dimengerti mengapa Suriah memiliki sentimen dengan Liga Arab. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab baru satu kali diselenggarakan di Damaskus, itupun tidak dihadiri oleh pejabat-pejabat penting –dan memang disengaja demikian. Setelah tumbangnya rezim Qadhafi di Libya, secara umum bisa dikatakan bahwa Suriah satu-satunya negara pengusung Pan-Arabisme yang tersisa. Ideologi Pan-Arabisme itu jelas bertolakbelakang dengan ideologi Liga Arab yang “membenarkan” perpecahan negara-negara Arab.

Tidak hanya Suriah bahkan, sebelumnya di Libya, Liga Arab keras mengutarakan dukungannya terhadap intervensi NATO melawan rezim Qadhafi. Dua kenyataan ini seakan menegaskan kembali bahwa sentimen ideologi lama melawan Pan-Arabisme belumlah hilang.

Ambiguitas Liga Arab

Selama ini, Liga Arab sebenarnya dikenal sebagai institusi yang lemah, tidak begitu kentara perannya dalam memperbaiki hubungan internasional di Timur Tengah, terlebih lagi dalam menyikapi konflik Palestina-Israel. Liga Arab hampir tidak pernah memunculkan keputusan penting dalam bidang politik dan ekonomi –apalagi jika dibandingkan dengan Uni Eropa. Liga Arab baru kelihatan perannnya secara signifikan semasa revolusi Arab kini.

Kendati demikian, upaya Liga Arab untuk memantau keadaan Suriah itu secara objektif patut disambut secara positif. Mungkin saja, itu adalah momen perubahan Liga Arab untuk bisa lebih ambil bagian dalam perubahan politik di negara-negara Arab. Sebab, seandainya Liga Arab tidak mengambil kebijakan seperti dalam kasus Libya, belum tentu Qadhafi bisa lebih cepat lengser dari kekuasaanya.

Masalahnya kemudian ada dua. Pertama, Liga Arab tidak boleh terlalu memihak ke negara-negara yang memiliki dana besar. Selama Liga Arab masih berpihak kepada kepentingan Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait, ia tidak akan mendapat legitimasi kuat dari negara-negara anggotanya untuk ikut berperan dalam perpolitikan dalam negeri. Bukan hanya itu, intervensi Liga Arab yang berat keberpihakannya pada penyandang dana besar bisa memicu ketegangan proxy, apalagi Iran sekarang sedang “panas”.

Kedua, Liga Arab masih dipertanyakan komitmennya terhadap demokrasi. Di Bahrain yang pemerintahannya Sunni sementara mayoritas rakyatnya Syiah, mereka membela rezim Hammad. Sedang di Suriah, yang rezimnya Syiah sedangkan mayoritas rakyatnya Sunni, Liga Arab berperan seolah-olah seperti pahlawan dengan membela rakyat Suriah. Ambiguits Liga Arab ini jelas bisa mengurangi kredibilitas Liga Arab di mata orang-orang Arab sendiri.

~ Artikel ini pernah dimuat di opini Republika [06/02/2012]

Tagged: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s