Survival Rezim Suriah

Presiden Suriah, Bashar al-Assad, memang tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan diktator Libya, Qaddafi. Pun demikian, perlakuan seperti yang telah terjadi terhadap Qaddafi memiliki kemungkinan besar bisa terulang kepada Assad jika presiden dari sekte Syiah-Alawiyah itu tetap ngotot mempertahankan kuasanya.

Paling tidak ada tiga alasan yang mengantarkan ke arah itu. Pertama, semua opsi damai yang telah dilakukan terbukti gagal. Tim Pemantau dari Liga Arab (Jam’iah ad-Duwal al-‘Arabiyah) tidak bisa menghentikan kekerasan pasukan Assad terhadap rakyat sipil, sehingga menyerah dan menarik diri akhir Desember tahun lalu.

Himbauan dari banyak pihak, termasuk Turki yang semula digadang-gadang bisa membujuk Assad sebab negara itu punya kemitraan dagang yang cukup erat dengan Suriah, tidak bisa mementahkan Assad.

Rencana resolusi (damai) Dewan Keamanan PBB yang awalnya diprakarsai oleh Qatar dan negara-negara Barat terhenti di tengah jalan karena di-veto oleh Rusia dan Cina. Segera setelah itu, negara-negara Barat dan beberapa negara yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (Majlis at-Ta’awun al-Khalijy) menarik kedubesnya dari Suriah.

Tekanan luar semakin memanaskan tensi negeri yang menyimpan memori Daulah Umayyah itu. Dan meski Assad sudah dikepung dari berbagai arah, pasukannya tetap sadis membunuh rakyatnya sendiri. Korban mencapai angka 6000. Itu yang terdata, kenyataan sebenarnya bisa jadi lebih banyak.

Kedua, menggunakan cara sanksi ekonomi, misalnya dengan pembekuan aset bank atau embargo, dikhawatirkan justru lebih banyak mudaratnya. Cara ini sudah digunakan di awal-awal krisis Suriah meledak, dan malah menyiksa rakyat sipil sendiri. Di samping itu, ketahanan ekonomi Suriah cukup lemah. Di antara negara-negara yang tersapu Arab Spring, kekuatan ekonomi Suriah, yang dilihat dari PDB dan pendapat perkapita, berada di urutan kedua dari bawah, di atas Yaman.

Ketiga, seperti Qaddafi, Assad membawa kepentingan di kawasan Timur Tengah yang berseberangan secara ekstrim dengan Barat (AS dan Israel). Sudah jamak diketahui, jika dengan Mesir dan Yordania status Israel kini berdamai, dengan Suriah statusnya masih at war. Hal ini mengesahkan adagium yang populer itu: “tidak ada perdamaian tanpa Mesir, dan tidak ada perang tanpa Suriah”.

Diantara tesis yang berkembang terkait fenomena Arab Spring adalah bahwa manuver Barat, selain mengkampanyekan demokrasi, tertuju kepada dua ideologi: Pan-Islamisme dan Pan-Arabisme. Terhadap Islamis, Barat berupaya memainkan lobi. Sedangkan terhadap pengusung Arabisme, Barat menekan kuat.

Paham persatuan Arab itu bisa dilihat, antara lain, dari nama kedua negara: Republik Arab Suriah (al-Jumhuriyah al-‘Arabiyah as-Suriyah) dan Republik Arab Libya (al-Jamahiriyah al-‘Arabiyah al-Libiyah). Bila dibandingkan dengan Islamis, Pan-Arabisme memiliki potensi lebih besar mengancam eksistensi Israel. Dengan tewasnya Qaddafi, kini tinggal Suriah pengusung Arabisme yang tersisa.

Faktor Rusia

Yang membedakan dengan Qaddafi dan membuat upaya melengserkan Assad selalu terhambat adalah faktor Rusia. Dalam kasus Libya, Rusia lebih cenderung bersikap diam. Hal ini tentu saja membuat resolusi DK PBB berjalan lebih mulus, dan NATO bisa dengan mudah membantu pasukan oposisi menumpas Qaddafi.

Sementara itu dalam kasus Suriah, Rusia mengutarakan pembelaan tegas. Menlu Rusia, Sergei Lavrov, dielu-elukan pendukung Assad saat ia berkunjung ke Damaskus baru-baru ini. Rusia konon ingin mengupayakan negosiasi dengan Assad agar krisis Suriah bisa diselesaikan secara damai, meski hingga sekarang upaya seperti apa yang hendak dilakukan Rusia belum jelas.

Rusia dan Suriah memang memiliki kemitraan yang sangat dekat dan sudah berjalan lama, bahkan sejak Suriah masih dipimpin oleh Hafez al-Assad, ayahnya Bashar al-Assad. Kemitraan itu berada di bidang, antara lain, perdagangan, persenjataan, kemiliteran, dan tentu saja kepentingan di kawasan.

Pembelaan Rusia ini jelas berimbas besar terhadap citra Rusia. Bagi oposisi Suriah, kredibilitas Rusia sudah jatuh. Demikian juga dengan negara-negara Arab lain seperti Arab Saudi dan Qatar. Manuver Rusia itu menyebabkan ketegangan proxy di kawasan semakin meninggi.

Apalagi Qatar kian bernafsu. Aktor baru yang kini amat vokal itu, bersamaan dengan manuver Rusia, menyebabkan friksi dalam konstelasi politik Timur Tengah kian tajam.

Perang

Krisis Suriah sebenarnya bisa segera mudah diselesaikan jika dua hal terealisasi. Pertama, Rusia tidak memveto resolusi DK PBB. Ini tentu saja sudah tak masuk daftar opsi solusi. Kedua, jika Assad dengan legawa undur diri dari kursi kekuasaanya.

Tapi opsi kedua itu tampaknya sulit dilakukan. Alih-alih bersedia meletakkan jabatan, Assad justru semakin bengis membunuh rakyatnya sendiri dan mengecam Barat serta mitranya di kawasan dengan komentar-komentar pedas. Jalan negosiasi sepertinya sudah tertutup.

Kabar mutakhir, Qatar sedang menyiapkan empat opsi lainnya setelah prakarsa resolusinya gagal. Opsi-opsi yang hendak dilakukan Qatar itu belum diketahui publik secara luas.

Pun demikian, Opsi perang memiliki potensi untuk mewujud. Ribuan korban tewas tidak mungkin akan dibiarkan begitu saja tanpa ada tuntutan pertanggungjawaban terhadap Assad.

Tensi yang semakin memanas, buntunya opsi damai, dan rusaknya hubungan dengan aliansi Barat, menjadikan opsi perang kian sulit dihindari. Di dalam Suriah sendiri, tampaknya tidak mungkin jika oposisi lantas menghentikan perlawanannya, mengingat korban sudah sedemikian banyaknya.

Di atas kertas, dengan membandingkan antara yang mendukung dengan yang melawan Assad, kekuatan yang melawan Assad lebih besar. Jika terjadi perang, bukan tidak mungkin Assad akan bernasib seperti Qaddafi.

~ Artikel ini pernah dimuat di Republika [22/02/2012]

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s