Taubat, Memaafkan Diri

Apa yang lalu, sudah berlalu. Pepatah Arab mengatakan: ma madha fata (yang sudah lewat, sudah tiada). Semestinya pun kita tak perlu membawanya ke hari ini, lalu larut dengan kesedihannya. Bukankah sudah jelas, yang berlalu tak akan kembali?

Maka bertaubatlah! Taubat bukan sekedar bermakna meminta ampun. Bagi saya, makna mendasar dari taubat adalah “memaafkan diri sendiri”. Taubat berasal dari bahasa Arab, yang akar katanya adalah taba-yatubu. Taba berarti kembali; kembali ke sejatian diri, yang putih.

Agar kembali putih, maka perlu dibersihkan, yakni dengan menerima dan memaafkan diri sendiri.

Wahai, bukankah tiada yang sempurna? Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri. Orang kaya dan tenar yang mungkin kamu dambakan itu belum tentu bisa sebahagia abang becak yang, meski berpenghasilan minim, sanggup mensyukuri kehidupannya. Boleh jadi, orang kaya itu punya masalah pelik: banyak hutang, misalnya.

Lantas, mengapa orang meratapi nasibnya? Mengapa remaja jadi galau karena penampilannnya? Mengapa orang yang banyak harta masih merasa kurang? Mengapa yang sudah tenar justru terbuai dengan popularitasnya? Karena iri. Karena tidak terima. Karena merasa belum cukup!

Dalam tasawuf, term yang digunakan untuk menyebut kaya adalah al-ghina (tidak butuh). Sementara miskin disebut dengan al-faqir (butuh). Mereka yang miskin adalah mereka yang masih merasa kurang, kendatipun punya banyak uang, rumah megah, mobil mewah.

Jadi, kaya itu sebentuk mentalitas: seberapa bisa dirimu puas dengan apa yang sudah kamu punya saat ini. Lagi pula, hampir tak ada ajaran doa Kanjeng Nabi Muhammad untuk minta kaya. Kalaupun ada, saya hampir yakin, itu tidak banyak dilakukan Nabi. Justru Nabi menolak hadiah harta dan wanita saat ditawari Walid ibn al-Mughirah dengan syarat mau menghentikan dakwah-risalahnya. Bahkan, suatu ketika Nabi dilempati kerikil oleh kaum Thaif hingga pelipisnya berdarah, lalu berdoa, “In lam takun ghadhiban ‘alayya, fala ubali” (Asal Engkau, Ya Tuhan, tidak murka padaku, aku tak kan peduli).

Begitulah, mentalitas itu pertama, selanjutnya silakan mencari materi. Kesiapan mental tidak akan—atau setidaknya susah—terwujud sebelum bisa bertaubat. Memaafkan diri sendiri adalah pintu pertama menuju jalan kebahagiaan.

Mungkin ada di antara dirimu yang bernasib tak baik: broken home, cacat tubuh, direndahkan orang, dan sebagainya. Itu realitanya. Tapi, bagi saya. realita itu netral. Realita menjadi ilusif menyesuaikan dengan bias pemikiran yang ada dalam otak dan mentalmu. Reaksimu tergantung pada persepsi.

Sensualitas tubuh yang dijajakan dimana-mana itu sebetulanya bisa menjadi biasa jika sudah tertanam kuat dalam mentalmu bahwa kulit dan dagingnya tak jauh beda dengan kulit dan dagingnmu. Porno itu kadang bukan urusan otot, tapi isi otak.

Bayangkan, jika tubuhmu dipecah habis-habisan, dipreteli. Terus dipecah sampai ke satuan dzarrah terkecil. Saya tak tahu persis namanya, sebut saja itu atom. Dari atom itu, tentu saja masih bisa dipecah-pecah lagi, bukan? Maka bayangkan lagi, jika atom itu dipecah, dipreteli, dikrikiti, teruuus begitu sampai pada satu titik keadaan: hampa.

Boleh jadi benar kata biksu Tong itu: isi adalah kosong! Memang hampa itulah isi dunia fana ini. “Fana” bukan saja berarti akan rusak, melainkan kosong, hampa, tak berarti. Kefanaan inilah isi diri kita, benda-benda di sekitar kita, dan isi dunia. Maka, boleh jadi benar lagi kata biksu Tong itu: kosong adalah isi!

Yang tidak fana adalah tuh, jiwa-jiwa abadi, jiwa-jiwa yang tenang, an-nafsu al-muthma`innah. Nirwana!

Konsep eksistensial itulah salah satu pintu spiritul untuk mulai memaafkan diri sendiri: dengan mengingat kefanaan ini, bahwa semua manusia sama, akan mati. Sabda sang Nabi, “Aktsiru dzikra hadzim al-ladzdzat” (Perbanyaklah mengingat [mati] pemutus kelezatan [dunia]). Untuk mendapat kebahagiaan, justru kita disuruh mengingat hal-hal yang merusak kenikmatan itu.

Tua itu pasti. Kematian juga pasti. Yang sudah berlalu, itu pasti tak kembali. Kebahagiaan karena materi itu tidak pasti. Memaafkan diri sendiri, menerima kesamaan manusia dalam level materi, mengingat mati, adalah pintu-pintu taubat. Mungkin, demikian itulah salah satu esensi tauhid.

Kotagede, 21/10/2012

Tagged: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s