Warisan Adiluhung Jawa

Nama bukan sekedar nama. Istilah bukan sekedar istilah. Para leluhur kita punya segudang filosofi yang mengandung ajaran adiluhung dari setiap budaya yang dicipta. Coba simak, apa saja hidangan lebaran tradisional?

Kupat (ngaku lepat), Lepet (eleke disilep sing rapet), Lonthong (olone nganti kothong), Santen (sagedo paring pangapunten), Lemper (yen dialem, atimu ojo meper), Apem (akhire kabeh dipendhem).

Parikane: kupat disiram santen (yen wis ngaku lepat, sagedo paring pangapunten).

Othak-athik dr bhs Arab: ketan ditutup apem; ketan [khatha’an: kesalahan] ditutup nganggo apem [‘afwun: pemaafan].

Kupat dibalut janur; janur: jatining nur; ngaku lepat harus benar-benar ikhlas, hati bersih.

Bandingkan dengan hidangan lebaran modern! Hidangan tradisional itu bahannya sederhana, tapi bisa jadi berbagai bentuk, warna, dan nama (insya Allah dapat sertifikat halal dari MUI :D). Kalau pas lebaran & sudah punya istri, inyonge nanti mau mewajibkan istri untuk bisa bikin itu semua.ūüôā

—-

[Note: fonologi Jawa hanya ada 16, sementara Arab ada 29. Huruf jawa tidak mengenal fonem “kha”, “dzal”, “ghain”, dll. Maka, kata-kata yang berfonem itu dialihkan ke lidah Jawa. Misal,¬†zhuhur¬†menjadi luhur; ‘ashr¬†menjadi ngasar. Ada juga karena susah diucapkan, misalnya:¬†dzul-qa’dah¬†menjadi dul kangidah. dst, dst]

Semar-Gareng-Petruk-Bagong = syammir khoiron fatruk baghyan

syammir: bersegeralah

khoiron: menuju kebaikan

fatruk: tinggalkanlah

baghyan: kedengkian

Interpretasi: orang mau berbuat baik sekalipun, selalu saja ada yang iri, hasud, dan dengki. Maka jangan gubris mereka yang dengki itu, fokus saja pada perbuatanmu. Jika itu baik, bersegeralah!

—-

Sluku-sluku bathok = usluk-usluk bathnak = jalankan, jalankan batinmu!

Bathoke ela-elo = bathnaka, la ilaha illallah = batinmu, [ucapkan] la ilaha illallah

Si romo menyang solo = sir ma yashil = berjalanlah menyusuri jalan yang sampai

Leh olehe payung muntho = la ilaha illallah fayamutu = [sampai kepada] la ilaha illallah, lalu [batinmu] mati

Mak jenthit lolo lobah = fajaddidil laila lubbah = maka perbaruilah malammu, tepat di tengah malam

Adapun terusannya (“wong mati ora obah, yen obah medeni bocah, yen urip goleko dhuwit”), itu murni bahasa Jawa. Tafsirannya: orang mati, jasadnya mati. “Ora obah” itu lambang materi, maka yang dimaksudkan dala syair itu adalah spiritnya, ruhnya. Ruh lebih penting. Maka persiapkan bekal untuk mati. Agar bisa tenang mencari bekal, cari¬†ma’isyah[penghidupan, rezeki] itu penting. “Yen urip goleko dhuwit”. Ini sekaligus kritik kepada paribasan “wong urip mung mampir ngombe”. Istilah ini kerap menjadi justifikasi untuk menyepelakan dunia. Padahal, bagaimana bisa menyepelekan dunia padahal kehidupan dunia, meski sebentar, turut menentukan nasib kehidupan abadi di akhirat?

Demikianlah, tembang-tembang dan istilah-istilah yang dibuat para leluhur Jawa punya makna filosofis mendalam. Sekarang? Aduh, virus chibi-chibi sudah merasuki generasi muda kita. Entahlah, apakah anak-anak muda sekarang, setelah dewasa dan tua nanti, masih ingat akan budaya adiluhung warisan para leluhur kita itu atau tidak?!

Kupat janure tuwo, kathah lepat, estu kulo nyuwun ngapuroūüôā

~ Kotagede, 26/08/2012

Tagged: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s