Antara Dalil dan Dalih

Al-Quran dan Sunnah itu bisa seperti “karet”. Ayat dan hadis bisa “mulur-mungkeret”: ditarik dan dicari-cari dalilnya untuk mendukung suatu kepentingan ideologis tertentu. Amat jarang kita bisa mendapati segolongan kelompok Islam mutakhir yang bisa membiarkan ayat dan hadis bicara apa adanya.

Mungkin memang sudah demikianlah watak teks (nash). Bila kita lihat ke perdebatan mutakhir di internal umat Islam sendiri, kita tahu, setiap kelompok berupaya mendasarkan pandangannya pada teks (nash) itu sendiri. Dan dalam sekilas pandang, cukup tampak bahwa antara dalil yang satu dengan dalil yang lain ada pertentangan, padahal sumbernya sama, seakan-akan ada kontradiksi dalam nash itu sendiri. Berikut ini beberapa tamsilnya.

***

Misal pertama, mengenai debat tentang apakah kebenaran berpihak pada mayoritas atau minoritas? Bagi mereka yang kebetulan berada dalam kelompok atau pandangan yang didukung mayoritas akan cenderung menyatakan argumen dengan dalil hadis: “Faidzâ ra`aitum ikhtilâfan fa ‘alaykum bi as-sawâd al-a’zham” (Ketika kalian melihat perbedaan, maka wajib bagi kalian berpegangan pada kelompok mayoritas); atau hadis “Inna Allah la tajtami’u ummatî ‘alâ dhalâlah” (Sungguh Allah tak akan mengumpulkan umatku dalam kesesata); atau hadis-hadis lain yang sejenis dan senada.

Hadis tersebut kerap menjadi senjata andalah kaum Asy’ariyah-Maturidiyah, sebagai teologi yang diikuti oleh mayoritas pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hadis itu juga menjadi landasan legalitas ijmak dalam ushul fikih.

Namun demikian, kelompok minoritas tentu tak mau kalah. Mereka juga punya dalil untuk menguatkan argumen bahwa kebenaran berpihak pada minoritas. Mereka, misalnya, juga menukil hadis: “Ja`a al-Islâmu gharîban wa sayû’du gharîban fathûbâ li al-ghurabâ` (Islam datang secara terasing, akan kembali dengan terasing, maka berbahagialah orang-orang yang terasing); atau hadis-hadis lain yang sejenis.

Kelompok minoritas ini juga kerap menukil ayat-ayat yang kerap menunjukkan bahwa yang benar cenderung berada di kelompok minoritas. Ayat-ayat semacam ini cukup banyak: “wa aktsaruhum lâ ya’qilûn (kebanyakan mereka tak berpikir), wa aktsaruhum lil-haqq kârihûn (kebanyakan mereka benci kepada kebenaran)”, dan ayat-ayat lain yang sejenis.

Dalil yang dipakai untuk mendukung “kebenaran ada di pihak minoritas” ini, oleh kelompok Hizbut Tahrir kerap dipakai untuk menolak demokrasi. Dan kelompok pendukung demokrasi pun tak mau kalah, yakni dengan menukil QS Asy-Syura [42]:38, “Wa amruhum syurâ baynahum (Perkara di antara mereka ditentukan berdasar musyawarah).”

***

Misal kedua, tentang debat apakah Islam itu berwatak keras kepada mereka yang kafir? Bagi mereka yang berpandangan keras cenderung menukil hadis tentang perintah nahi munkar (kalau bisa dirubah dengan tangan), hadis tentang perintah untuk memerangi mereka yang kafir hingga bersyahadat (lihat hadis al-Arba’ain an-Nawawiyah no. 6 & no. 14), dan hadis-hadis lain yang sejenis.

Mereka yang keras ini juga kerap menukil ayat, misalnya, yang termaktub dalam QS Al-Fath [48]:29, “Walladzîna ma’ahu asyiddâ`u ’alâ al-kuffâr ruhamâ` baynahum” (Mereka yang bersama Muhammad adalah orang-orang yang keras terhadap para kafir dan saling berkasih sayang antar sesama mukmin).

Di pihak lain, bagi kelompok Islam yang mengutamakan kelembutan, akan cenderung menukil ayat tentang “Islam rahmatan lil-‘alamin” dan ayat-ayat lain yang sejenis. Misalnya, QS Ali Imran [3]:159, “Walaw kunta fazzhan ghalîzh al-qalb lanfaddhû min hawlik” (Sekiranya kamu, Muhammad, bersikap keras lagi berhati kasar niscaya mereka akan lari padamu).

***

Dari kedua tamsil di atas, kita tahu, masing-masing punya dalil. Masing-masing mendasarkan diri pada nash. Teks itu bisa ditarik-ulur. Yang membedakan adalah: apakah seseorang cenderung membiarkan teks bicara apa-adanya, ataukah seseorang cenderung mencari-cari pembenaran, mencari justifikasi untuk mendukung asumsinya. Antara “dalil” dan “dalih” itu memang tipis bedanya.

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s