Barat dan Islamofobia

Anugerah Pulitzer 2012, agenda rutinan yang diselenggarakan tiap bulan April, memberikan penghargaan kepada laporan investigatif tentang praktik intelijen polisi New York terhadap komunitas Muslim Amerika. Penghargaan berhadiah uang tunai 10 ribu dolar AS itu diberikan kepada Matt Apuzzo, Adam Goldman, Eileen Sullivan, dan Chris Hawley. Keempatnya berasal dari Associated Press.

Penghargaan Pulitzer untuk kategori foto juga diberikan kepada Massoud Hossaini dari AFP. Massoud memenangkan foto bergambar anak perempuan, Tarana Akbari, yang dengan muka ketakutan menyaksikan serangan bom bunuh diri di Kabul, Afghanistan, pada 6 Desember 2011. Penyelenggara Pulitzer sampai-sampai menyebut foto itu sebagai “gambar yang akan diingat sepanjang masa.”

Penghargaan itu memang menyaratkan adanya unsur investigasi. Dan inilah “poin” terbesar dalam penilaian jurnalisme. Ingat, pada 2007, Andrea Elliot juga memenangkan penghargaan serupa untuk laporan tiga episodenya tentang kehidupan seorang Imam di Amerika.

Laporan investigasi itu tentu saja menyiratkan apa yang sesungguhnya ada di benak media massa Amerika. Apa yang ada dipermukaan sama sekali tidak mengindikasikan “hati” rakyat Amerika. Kita belakangan mungkin mendengar mulai maraknya dialog Islam-Barat dan “perang melawan Islamofobia”. Dialog itu disponsori pula oleh PBB, sebagai upaya moderasi terhadap “perang melawan terorisme” yang disuarakan lantang oleh mantan presiden AS, Goerge W. Bush.

Namun, kita tahu, investigasi adalah penggeledehan terhadap fakta yang tersembunyi. Laporan itu, tak bisa dimungkiri, menjadi tanda akan hal itu. Boleh jadi, ia semakin menjustifikasi fobia warga Amerika terhadap Islam.

Ini jelas kabar tidak menyenangkan bagi dunia Muslim. Orang Amerika masih memicingkan mata memandang Muslim yang berjubah dan berjenggot panjang, sekalipun ia, seperti Reda Shata, syekh keturunan Mesir, sudah berupaya bersikap terbuka dengan FBI dan polisi New York.

Islamofobia menjadi kosakata yang kerap muncul di media massa, terutama sejak fatwa mati yang pernah dilancarkan Ayatollah Khomeini kepada Salman Rushdie, penulis novel The Satanic Verses. Virus rasisme itu kemudian mengalami akselerasi penyebaran sejak kasus 9/11.

Sejak tragedi 9/11, memang virus Islamofobia menyebar amat cepat. Menurut laporan the Pew Research Center, kini hanya 30 % persen warga Amerika yang memiliki pandangan positif terhadap kaum Muslim. Angka ini menurun jika dibanding dengan lima tahun lalu dengan 41 %. 

Lebih jauh dari itu, menurut Syed Hossein Nasr (Confronting Islamophobia: Education for Tolerance and Understanding, 2004), Islamofobia sudah ada bahkan sejak masa menjelang era Pencerahan di Eropa. Saat itu, Islam identik dengan Anti-Christ. Bersama dengan Islam, ada pula anti-Semitisme. Ingatlah bagaimana “pembersihan” yang pernah dilakukan oleh Ferdinand dan Isabellla di Spanyol terhadap komunitas Muslim dan Yahudi diaspora.

Sayangnya, era Pencerahan Eropa pun tidak lantas menghilangkan virus itu. Justru muncullah Xenophobia, yang juga dibalut dengan nasionalisme. Tragisnya, itu juga terjadi di “ibu kota” Pencerahan, yakni Prancis. Saat itu, Yahudi turut menjadi korban, hingga Zionisme pun perlu dibentuk untuk memperjuangkan “rumah” Yahudi.

Sampai kini, warga Amerika, terutama yang setuju dengan pandangan-pandangan sayap kanan (Kristen-fundamentalis), masih memandang Islam sebagai pengganti komunisme, setelah Perang Dingin mereda. Kurang lebih jalur transmisinya begini: Anti-Christ, Anti-Semit, Xenophobia, Anti-Komunis, dan diakhiri dengan Islamofobia.

Jika kita melihat pola yang berulang-ulang dari idelogi rasis itu, dapat diambil satu benang merah: rasisme muncul dari cara pandang ekstem, dari agama apapun, dari komunitas manapun. Pihak yang kerap menyebarkan paham rasis itu, dan bertikai di media massa (terutama elektronik), kini kerap didominasi oleh mereka yang sama-sama ekstrem. Maka moderasi adalah upaya yang niscaya. Kita tahu, ekstremitas justru semakin mengjauhkan kedua belah pihak untuk duduk bersama, berdialog secara jernih dan sehat.

Islamofobia pun tidak lepas dari standar ganda. Ada dua hal yang, pada hemat saya, menjadi bukti akan hal itu.

Pertama, mereka yang fobia dengan Islam kerap tidak bisa mengimplementasikan arti “kebebasan” secara tegas. Tentu saja, ini tanpa mengesampingkan bahwa dalam Islam pun ada sekelompok yang anti-kebebasan (setidaknya dari persepekif HAM). Para “penganut” Islamofobia mengutarakan bahwa ideologi Islam(is) adalah anti-tesis HAM dan kebebasan. Sementara itu, mereka sendiri juga mendiskreditkan Muslim dan menghalangi kaum Muslim memperjuangkan kebebasan.

Kedua, jika para “penganut” Islamofobia itu kerap mengungkit-ungkit tragedi 9/11 dengan 3000 korban tewas semata-mata karena kesalahan Islam, maka bagaimana dengan invasi ke Afghanistan (15.000 korban) dan Irak (ratusan ribu korban)? Lalu, ketika senjata pemusnah massal tidak ditemukan di Irak, Washington kala itu menjawab dengan simpel: minta maaf! Islamofobia tidak memberi jawaban tegas tentang hal ini.

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s