Hukum Islam Bergerak Maju

Termaktub di fikih klasik, negara Islam (ad-dawlah al-Islâmiyyahi) zaman dulu memakai konsep jizyah. Jizyah adalah pajak kepala atau upeti yang wajib dibayar khusus oleh non-Muslim yang tinggal di negara Islam. Jizyah adalah kompensasi (badîl) dari suaka politik dan jaminan kemananan harta dan darahnya, yang dibayar oleh non-Muslim dzimmi (yang ditanggung/dijamin).

Besar bayaran yang wajib dipasokkan oleh dzimmi ke negara Islam tiap setahun: 48 dirham (Hanafiyah & Hanabilah); 4 dinar (Malikiyah); minimal 1 dinar (Syafi’iyah)—perinciannya lebih detail bisa Anda baca sendiri di kitab fikih.

Non-Muslim yang tergolong dzimmi ini, menurut mayoritas ulama fikih, hanya berlaku bagi Ahli Kitab saja, Nasrani dan Yahudi. Namun, menurut Malikiyah, Awza’i, Tsauri, dan fuqaha Syam, dzimmi  berlaku bagi semua non-Muslim, tak terkecuali penyembah berhala. (lihat al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, bab Jihad, fasal intihâ` al-harb bi al-Islâm aw bi al-mu’âhadât [berhentinya perang karena masuk Islam atau perjanjian])

Nabi Muhammad sangat melarang orang Islam untuk memerangi non-Muslim dzimmi. Al-Quran menyatakannya di QS at-Taubah [9]:29. Nabi juga bersabda: “Siapa yang membunuh orang yang dijamin (ahl ad-dzimmah) maka ia tak akan mencium bau surga.” Juga, seperti yang dinukil Fakhri, tokoh utama dalam novel Ayat-Ayat Cinta, sabda Nabi, “Man adzâ dzimmiyyan faqad âdzânî” (Siapa yang melukai orang dzimmi, maka ia telah melukaiku).

Persoalannya, bila kita pandang bagaiamana tata aturan bagi dzimmi dengan perspektif zaman ini, kita bisa melihat bahwa dzimmi di negara Islam pra-modern itu adalah warga negara kelas dua. Dzimmi di negara Islam yang belum mengadopsi konsep demokrasi, dibatasi aturan ketat.

Syaikh Wahbah az-Zuhaily dalam al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, menerangkan ada 13 aturan bagi dzimmi. Yakni: (1) membayar jizyah; (2) menerima sampai 3 hari, bila ada orang Islam bertamu; (3) membayarkan sepersepuluh dagangannya yang dipakai berdagang di negara lain; (4) tidak boleh membangun geraja yang besar; (5) tidak boleh menunggang kuda yang bagus; (6) tidak boleh berjalan di tengah-tengah jalan besar, harus di pinggiran; (7) memakai penanda khusus untuk membedakan dengan yang Muslim [Misal, memakai ikat pinggang. Di Hâsyiyah al-Bâjuri bahkan diatur pakaiannya: biru untuk Nasrani, kuning untuk Yahudi, merah-hitam untuk Majusi]; (8) tak boleh menjadi mata-mata bagi dan bekerja sama dengan negara kafir-harbiy; (9) tidak boleh menghalangi orang Islam masuk ke tempat peribadatan mereka, baik siang maupun malam; (10) harus menghormati orang Islam, tak boleh mencelanya; (11) tak boleh memperlihatakan terang-terangan syiar agama mereka [Misal, lonceng, menara, dll.]; (12) tidak boleh mengejek Nabi dan para sahabat; dan (13) hukum pidana Islam juga berlaku untuk mereka.

Tata aturan ini nyatanya masih termaktub di al-Fiqh al-Islamy karya Syaikh Wahbah az-Zuhaily. Padahal kitab itu ditulis di akhir abad 20; kitab fikih perbandingan mazhab, yang bisa dianggap sebagai representasi fikih konservatif.

***

Selain konsep jizyah, tata aturan lain yang berlaku di negara Islam zama dulu adalah konsep budak. Masyhur termaktub di kitab-kitab fikih: bila pasukan Islam berhasil mengalahkan kafir-harbiy, maka mereka (para kafir-harbiyi itu) jadi tawanan. Bila tawanan itu laki-laki, maka ada empat alternatif perlakuan: (1) dibunuh; (2) dijadikan budak; (3) dibebaskan secara cuma-cuma; dan (4) dibebaskan dengan syarat atau tebusan. Dalilnya: QS Muhammad [47]:4. Dari keempat opsi itu, pemimpin negara berhak memilih mana yang lebih membawa maslahat. Dan bila tawanan itu adalah perempuan dan/atau anak-anak, maka dijadikan budak.

Konsepsi tentang budak ini suatu hal yang lazim saja di zaman dulu. Di fikih klasik, kita akan menemukan banyak istilah jenis budak. Di antaranya: budak mudabbar (yang merdeka bila tuannya mati); budak mukâtab (yang merdeka bila ditebus); budak muba’adh (yang dimiliki separonya), dll.

Budak zaman dulu hampir seperti benda mati: bisa diperjualbelikan. Budak perempuan halal disetubuhi oleh tuannya tanpa melalui akad nikah. Istilah Qurannya: mâ malakat aymânukum. Ini fenomena umum dan lazim di zaman itu. Tapi Islam waktu itu sudah bergerak maju dari zamannya: memperlakukan budak dengan manusiawi dan memberi pahala besar bagi yang memerdekakan budak. Namun demikian, “institusi” budak itu sendiri tak dihapus total oleh Islam.

Menurut Wahbah az-Zuhailiy, Islam zaman dulu tak menghapus total praktek perbudakan karena perbudakan menjadi sistem sosial zaman itu yang turut menyokong sistem perekonomian masyarakat. “Tak mungkin dilakukan,” kata Syaikh Wahbah, “Bila Islam mengharamkan budak, sementara umat lain menawan orang Islam dan menjadikannya budak.” Bisa dikatakan, konsepsi budak yang masih dipakai tata aturan masyarakat Islam zaman dulu adalah bentuk penyesuaian dengan zamannya.

***

Konsep jizyah dan budak yang diadopsi sistem kenegaraan  dan kemasyarakatan Islam zama dulu adalah dua dari sekian contoh konsep yang kini tak lagi dipakai. Kita tak mungkin menghidupkannya kembali dalam lanskap demokrasi kini yang berasaskan egalitarianisme. Bila konsepsi itu dihidupkan lagi, maka zaman mengalami regresi, bergerak mundur. Itulah contoh dari adanya unsur progresivitas fikih. Hukum Islam itu menyejarah dan bisa bergerak maju.

Tagged: , , , , , , , ,

One thought on “Hukum Islam Bergerak Maju

  1. Abdullah 27/10/2013 pukul 16:46 Reply

    – Aturan buat dzimmi menurut Syaikh wahbah benar2 diskriminatif

    – Mudabbar budak yg merdeka bila tuannya mati. Syaratnya lebih dulu harus ada janji dari si tuan akan memerdekakan bila dia mati. (Fathul qarib)

    – Waktu itu Islam bnyak mendapt kemenangan. Kalau saja Islam memperlakukan tawanan perang dgn lebih manusiawi pasti efeknya tentu akan jauh lebihbaik.
    Perbudakan jelas2 keji tapi malah dicontoh. Jadi (kalau begitu) apa bedanya Islam sama kafir?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s