Islam dan Perpecahannya

Bahwa umat Islam akan pecah menjadi beberapa golongan, itu sudah dinubuatkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Perpecahan ini sudah bermula sejak masa Sahabat. Fragmentasi kelompok berawal dari konflik politik. Di masa Sahabat, gejolak politis mulai muncul dari kasus al-fitnah di masa Sayyidina Utsman hingga Perang Jamal dan Perang Shiffin di masa Sayyidina Ali.

Fragmentasi politis itu kemudian merembet ke akidah. Lahirlah kaum Khawarij, Murji’ah, lalu Mu’tazilah. Hingga muncullah Asy’ariyah dan Maturidiyah, mazhab teologi yang hingga kini masih menjadi mayoritas. Asy’ariyah-Maturidiyah menjadi teologi Ahlus Sunnah wal-Jama’ah (Sunni). Sementara Mu’tazilah terintegrasi dan melakukan perkawinan ideologis dengan Syiah. Selama beberapa abad, fragmentasi sektarian di tubuh Islam diramaikan oleh dua sekte itu: Sunni dan Syiah.

Sunni adalah yang mayoritas. Tak kurang dari 85 % muslim sedunia adalah Sunni. Sebagai kelompok mayoritas, Sunni punya “kredo mayoritas” sebagai argumen kredonya. Dalilnya: nubuat dalam hadits bahwa bila umat Islam nanti pecah, maka berpeganglah pada kelompok mayoritas. Hadits itu antara lain: “Alaikum bis-sawâd al-a’zham” (Berpeganglah pada golongan terbesar). Juga hadits, “Talzam jamâ’atal-muslimîn” (Engkau ikuti jamaah umat Islam). Hadits ini kemudian ditambahkan ke dalam label Ahlus Sunnah (wal-Jama’ah). Jamaah adalah perlambang golongan terbesar.

Hadits pendukung mayoritas lainnya adalah: “Inna ummatî la tajtami’ ‘ala dhalâlah” (Umatku tak akan bersepakat dalam kesesatan). Hadits yang terakhir ini adalah dasar legalitas ijmak (kesepakatan ulama) dalam epistemologi fikih. Hadits ini menjadi semacam “jaminan”: yang mayoritas pasti benar—setidaknya menurut Sunni sendiri.

Lantas, apakah dengan demikian Syiah pasti salah karena ia minoritas. Kesimpulan simplistis semacam ini bukan hal yang mudah diambil. Syiah tentu punya argumen sangkalan sendiri terhadap “kredo mayoritas” Sunni itu. Salah satunya: ada perbedaan mendasar dalam standar validasi hadits antara Sunni dan Syiah. Oleh karena itu, tak bisa dimungkiri bahwa “kredo mayoritas” adalah klaim relatif dari Sunni sendiri, bukan pernyataan mutlak.

Bagi saya, “kredo mayoritas” ini perlu disikapi dengan arif. Pertama, karena ia rentan diperalat untuk merepresi kelompok minoritas sehingga berubah jadi “tirani mayoritas”. Kedua, logika yang jernih berkesimpulan bahwa yang benar tidak ditentukan oleh jumlah pengikut!

Pada faktanya, di Sunni sendiri ada beraneka orientasi keagamaan, baik dalam perincian kredo, maupun hukum (fikih). Mazhab fikih yang diakui Sunni sebagai arus utama (mainstream) ada empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali. Di luar mainstream ada mazhab Ja’fari, Zaidi, Zhahiri, dan Ibadhi. Total 8 mazhab ini diakui oleh Syaikh Wahbah dalam “al-Fiqh al-Islami”-nya.

Perpecahan dalam kredo Sunni sendiri di kemudian hari memunculkan “sempalan”—setidaknya menurut kelompok arus utama. Di sebagian pengikut Hanbali ada yang dianggap melenceng ke paham “tajsîm” (antropomorfisme). Paham “tajsîm” itu populer diakui bermula dari Ibnu Taimiyyah. Paham “tajsim” itu kemudian dihidupkan oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab. Yang terakhir ini dianggap sebagai “perintis” kelompok yang terkenal disemati nama “Wahabi”, atau kadang dihaluskan dengan istilah “Salafi”. Kaum Wahabi mulai berkembang kurang lebih sejak dua abad mutakhir.

Di pihak lain, ada pula gerakan “pembaruan” (tajdîd). Gerakan ini juga kerap disebut “kebangkitan” (an-nahdhah). Penggeraknya adalah Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Gerakan “tajdid” ini di satu sisi mengupayakan purifikasi, dan di sisi lain mengampanyekan rasionalisasi. Bagi ulama tradisional-konservatif, gerakan “tajdid” ini dianggap melawan ortodoksi. Gerakan tajdid itu dianggap “antek” rasionalisme ala Barat.

Pertentangan berbagai kelompok itu berkembang hingga kini. Saya ingin memfokuskan bahasan ini ke perpecahan di tubuh Sunni sendiri. Ada beberapa istilah yang kerap dipakai untuk mengklasifikasikan “friksi” dalam di tubuh Sunni saat ini.

Ada yang memakai istilah “ortodoksi” sebagai representasi arus utama. Namun istilah ini tidak sepenuhnya tepat. Sebab bila kita menganggap Sunni-Asy’ari-Maturidi sebagai arus utama, maka ia masih “kurang” ortodoks di banding, misalnya, Salafi-Wahabi dan Taliban. Ini berlaku bila kita memaknai ortodoksi sebagai bentuk penafsiran literal dan copy-paste dari teks wahyu.

Ada pula yang memakai istilah “fundamentalis” dan “radikal” di satu sisi, dan “liberal” dan “progresif” di sisi lain. Istilah ini menurut saya mengandung masalah. Istilah fundamentalis itu berarti berakar pada pondasi. Bahasa Arabnya: “ushuliy”. Tentu saja setiap muslim mesti mengacu pada pondasi agama, harus punya ushul, sekalipun ia muslim-liberal. Sebab, jika sudah kehilangan ushul, maka bangunan kepercayaannya akan roboh, tak lagi disebut Islam. Maka setiap muslim harus fundamentalis, terlepas dari perdebatan tentang apa itu isi “fundamen” itu.

Istilah “radikal” juga bermasalah. Radikal itu berasal dari kata “radict” yang berarti “akar”. Bahasa Arabnya: “judzûriy”. Ini sama dengan fundamentalis. Setiap muslim tentunya harus radikal, terlepas dari perdebatan apa itu isi “radict”-nya, isi akarnya. Kecuali jika istilah “radikal” dimaknai secara politis, yakni perombakan sistem masyarakat sampai ke akar-akarnya. Di masa kini, yang paling layak disebut radikal adalah Hizbut Tahrir. Sebab, HT ingin mengubah sistem sampai ke akar-akarnya, bahkan bergerak di luar sistem.

Sedang istilah “liberal-progresif” juga tak selamanya tepat. Sebab dalam Sunni-Asy’ari-Maturidi yang—katakanlah—merupakan arus utama, juga mengandung unsur-unsur liberal-progresif. Unsur-unsur itu terletak, antara lain, dalam kasus ketika fikih tak dilaksanakan secara saklek-harfiah sebab mempertimbangkan realitas-historis. Hukum potong tangan, misalnya. Bahkan Islam itu sendiri juga liberal, jika liberal diartikan sebagai “pembebasan” dari banyak tuhan (syirik) menuju satu Tuhan (tauhid).

Pesan utama dari tulisan ini: menerapkan peristilahan politik dalam faksionalisasi di tubuh umat Islam itu tak mudah. Yang penting, pakailah dengan hati-hati, sebab ia rentan menjerumuskan ke jebakan overgeneralisasi.

Tagged: , , , , , ,

One thought on “Islam dan Perpecahannya

  1. Avraham Naji 04/12/2013 pukul 17:57 Reply

    good post🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s