Mengkafirkan itu Tidak Mudah

Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali (1058-1111 M) punya satu risalah berjudul Fayshal at-Tafriqah Baina al-Islâm wa az-Zandaqah [Kriteria Pembeda antara Islam dengan Zindiq]. Karya ini, dalam terbitan mutakhir, diikutkan dalam Majmu’ah Rasâ`il al-Imâm al-Ghazâli [Kumpulan Risalah (Surat-Surat) Imam al-Ghazali], sebanyak 7 jilid. Fayshal al-Tafriqah sendiri berada di juz ke-2, di halaman 75-99. Tulisan ini hanya akan menukil beberapa bagian dari risalah itu.

***

Al-Ghazali hidup di masa sekitar 4 abad setelah Islam menyebar. Saat itu, Islam tak lagi punya satu pusat pemikiran; “daulat” yang tak lagi kukuh; sengketa dan skisma terjadi; dan kekuasaan politik para khalif mengalami problem legitimasi. Al-Ghazali hidup ketika banyak aliran Islam mengecambah. Saling mengkafirkan antara umat Islam bukan hal yang jarang terjadi dalam diskursus agama waktu itu.

Mungkin itulah latar belakang dari lahirnya risalah Fayshal at-Tafriqah itu. Risalah ini, sebagaimana kata Al-Ghazali di bagian muqaddimahnya, ditulis untuk merespon gejala saling mengkafirkan. Dengan tegas Al-Ghazali mengecam para pengikut Asy’ari, Mu’tazilah, dan Hanabilah yang satu-sama lain sangat fanatik dengan kelompoknya dan mudah mengkafirkan kelompok lain.

Hanabilah mengkafirkan Asy’ariyah karena tidak membenarkan pendapat Hanabilah bahwa “Allah bersemayam di atas ‘Arsy” (lihat QS 20: 5). Al-Asy’ari mengkafirkan Hanabilah sebab Hanabilah telah menyamakan (musyabbih) Allah dengan makhluk yang membutuhkan ruang (seperti ‘Arsy), padahal jelas disebutkan dalam surat al-Ikhlas dan ayat-ayat lainnya, “Tiada satupun yang menyamai-Nya”(Laysa kamitslihi syai’). Pengikut Asy’ariyah mengkafirkan Mu’tazilah sebab Mu’tazilah berpandangan bahwa melihat Allah itu mustahil dan bahwa Mu’tazilah menafikan adanya sifat yang melekat pada dzat-Nya. Sebaliknya, Mu’tazilah mengkafirkan Asy’ariyah karena Asy’ariyah menyatakan adanya sifat-sifat Allah yang qadîm (terdahulu, tanpa permulaan), padahal bagi Mu’tazilah, bila sifat-Nya qadîm dan dzat-Nya juga qadîm maka akan muncul banyak qadîm (ta’addud al-qudamâ`) dan itu mustahil bagi Mu’tazilah. (h. 79)

Kita perlu memahami argumen Mu’tazilah ini. Bagi sebagian orang hari ini, Mu’tazilah dianggap sesat gara-gara Mu’tazilah berpandapat bahwa Al-Qur’an (kalamullâh, firman Allah) itu suatu yang “baru”, hadits, bukan “terdahulu” (qadîm), dan karena itu ia adalah makhluk. Sebagian orang hari ini terlampau berlebihan dengan menyatakan bahwa saat Mu’tazilah berpendapat bahwa Al-Quran itu makhluk maka Al-Quran bisa saling mengoreksi dengan teks lain. Sebagian orang itu menyatakan bahwa Mu’tazilah adalah bibit liberal.

Padahal, hakikat masalah bukanlah seperti itu. Proposisi awal Mu’tazilah adalah bahwa berbilangnya hal yang qadîm (ta’addud al-qudamâ`) itu mustahil adanya, sehingga bila ada sifat Allah dan sifat itu dikatakan qadîm, maka ini adalah kemustahilah—menurut silogisme ala Mu’tazilah. Karena itu, Mu’tazilah menegasikan adanya sifat bagi dzat Allah.

Asy’ariyah kemudian menjawab problem Mu’tazilah itu. Proposisi Asy’ari adalah bahwa sifat itu merupakan sesuatu yang lain dari dzat, tapi dia “melekat” pada dzat (shifatun zâ`idatun qa`imatun ‘ala adz-dzât, laysat hiya ad-dzât, walâ hiya ghairuhâ). Jadi, menurut logika Asy’ariyah, ketika disebut “Allah” maka itu berarti dzat sekaligus sifatnya.

Sengketa yang terjadi antara Asy’ariyah versus Mu’tazilah di masa kejayaan Abbasiyah dulu cukup sengit. Masing-masing saling mengkafirkan, bahkan berujung pada pemenjaraan ulama dan pertumpahan darah. Konflik itu masih terus berlanjut hingga di masa Al-Ghazali.

Fayshal at-Tafriqah ditulis untuk mendudukan persoalan kafir-mengkafirkan itu secara proporsional. Di bab awal, Al-Ghazali menghardik sebagian kalangan Asy’ari yang mengkafirkan Al-Baqillani yang menafikan adanya sifat baqa’ (kekal) bagi Allah. Padahal Al-Baqillani sendiri juga seorang pengikut Asy’ari, hanya saja persoalan perbedaan itu berpulang pada masalah apakah sifat Allah itu melekat pada dzat-Nya atau sesuatu yang berdiri sendiri. (h. 77)

***

Di fasal tentang “Kekafiran”, Al-Ghazali menjelaskan bahwa batas kekafiran adalah takdzîbur-rasûl fi syai’in min mâ jâ’a bihi (mendustakan ajaran yang dibawa Rasulullah). Al-Ghazali menerangkan bahwa aliran manapun, dengan tafsirannya yang begitu rupa, selama tafsirannya tidak dimaksudkan untuk mendustakan ajaran Rasulullah, maka tak boleh divonis kafir. (h. 78)

Al-Ghazali menerangkan bahwa tiap aliran itu (Hanabilah, Asy’ariyah, dan Mu’tazilah) masih menggunakan tafsir dan takwil yang ditolerir dan tiada maksud untuk mendustai ajaran Rasulullah. Perdebatan ketiga aliran itu, sebagaimana masyhur diketahui, antara lain berkaitan dengan perbedaan mengenai takwil terhadap ayat-ayat yang mutasyâbihât (bermakna ambigu). Misal, QS 48: 10 menyatakan, “Yadullâh fawqa aydîhim” (Tangan Allah di atas tangan mereka). Apakah tangan dalam ayat itu bermakna tangan secara harfiah ataukah ditakwil dengan makna “kekuasaan” Allah? Di sini, kita tahu, hakikat masalah adalah soal pemaknaan secara harfiah atau metaforis belaka.

Dalam persoalan penafsiran itu, Al-Ghazali menerangkan bahwa selama orang masih berada dalam kaidah-kaidah takwil yang “benar”, maka orang tersebut tak bisa dikatakan telah mendustai ajaran  Islam, dan karena itu tak boleh divonis kafir. Dusta atau tidakknya terukur dari seberapa jauh seseorang menakwil kebenaran proposisi yang termaktub dalam nash wahyu.

Takwil yang dimaksud di sini adalah bagiamana seorang penafsir menjelaskan eksistensi dari apa yang ternisbat pada Allah. Misalnya, kalau Allah punya “tangan”, apakah maksud “tangan” itu adalah tangan dalam maknanya yang harfiah ataukah dalam maknananya yang metaforis; kekuasaan, misalnya. Misal lainnya, ketika Allah “bersemayam”, apa maksud dari “bersemayam” itu? Bagaimana takwil terhadap eksistensi akan kebersemayaman Allah? Di sini seorang penafsir bisa berbeda pendapat dalam tafsir-harfiah atau takwil-metaforis.

Al-Ghazali mendaftar urut-urutan takwil itu sampai ke 5 tahap eksistensi. Pertama, eksistensi hakiki (al-wujûd al-haqîqiy). Misalnya, tangan itu ya tangan sebagaimana Anda punya—dalam maknanya yang harfiah.

Kedua, eksistensi inderawi (al-wujûd al-hissiy). Misalnya, keberadaan rasa manis dalam gula, suara merdu burung-burung di pagi hari, panasnya sinar matahari, dst. Rasa, bunyi, dan suhu itu mewujud dalam cerapan inderawi. Ketiga, eksistensi imajinatif (al-wujûd al-khayâliy). Misalnya, keberadaan hal-hal yang Anda bayangkan dalam pikiran. Hal-hal itu “ada” dan mewujud dalam imajinasi.

Keempat, eksistensi rasionalis (al-wujûd al-‘aqliy). Misalnya, bahwa tangan memiliki “potensi” kekuatan untuk memukul orang. Keberadaan “potensi” memukul orang di dalam tangan itu ada dan mewujud secara rasio, ‘aqliy. Kelima, eksistensi semu (al-wujûd asy-syibhiy). Misalnya, ketika seseorang menyebut Allah sedang “murka” saat menimpakan bencana pada suatu kaum yang durhaka. Penisbatan perbuatan “murka” dalam iradah-Nya untuk menimpakan bencana adalah eksistensi semu, sebab kehendak-Nya sama sekali tak berhubungan dengan “murka”-Nya.

Itulah lima tahapan takwil eksistensial. Eksistensi pertama adalah yang paling mendekati makna harfiah, sementara yang kelima adalah makna metaforis terjauh. Selama seorang muslim masih memakai satu dari lima takwilan itu maka dia tak bisa dikatakan menafikan eksistensi dari suatu proposisi ajaran Rasulullah.

Di antara implikasi dari takwil-takwil itu misalnya, ketika Rasulullah melakukan Isra’-Mi’raj dan melihat orang-orang di neraka. Bagaimana eksistensi neraka itu? Apakah itu neraka dalam maknanya yang harfiah, dalam artian benar-benar melihat apinya, ataukah neraka di situ adalah suatu eksistensi imajinatif semata? Di sini terbuka ruang untuk berbeda pendapat mengenai eksistensi neraka yang dilihat Rasulullah saat mi’raj. Ketika seseorang masih memakai satu dari lima takwilan di atas, maka yang bersangkutan belum bisa dikatakan mendustai ajaran Rasulullah, dan karena itu tak bisa divonis kafir.

***

Di fasal mengenai “Zindiq Mutlak” (fî bayân az-zandaqah al-muthlaqah), yakni di halaman 88-89, Al-Ghazali berpesan:

“Hendaklah engkau sebisa mungkin menahan lisanmu dari mengkafirkan ahlul-qiblah selama mereka masih menyatakan tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, tanpa merusaknya. Merusak syahadat itu terjadi ketika seseorang menerabas batas: mendustakan Rasulullah. Sungguh mengkafirkan itu mengandung bahaya, sedangkan diam itu selamat.

Adapun tentang aturan mengkafirkan, hendaklah engkau tahu bahwa ajaran agama itu ada dua: satu bagian berkaitan dengan hal-hal pokok (ushûl), dan satu bagian lain berkaitan dengan hal-hal cabangan (furû’). Pokok-pokok iman itu ada tiga: iman kepada Allah, Rasul-Nya, dan Hari Akhir. Selain itu adalah ajaran cabangan. Ketahuilah bahwa tidak boleh mengkafirkan pada yang berbeda dalam soal cabangan, kecuali dalam satu masalah, yakni mengingkari dasar agama yang diajarkan oleh Rasullullah dan diterima secara mutâwatir.”

Salah satu implikasi dari pernyataan Al-Ghazali itu, sebagaimana ditulisnya dalam bahasan selanjut pernyataan itu, misalnya, persoalan imâmah. Seorang muslim yang meyakini bahwa imâmah merupakan salah satu tiang iman tidak bisa dikafirkan. Sebab, persoalan imâmah adalah “cabang” iman (bukan termasuk dasar iman yang tiga) dan, di samping itu, persoalan imâmah bukan suatu hal yang mutawâtir. Al-Ghazali menyatakan, ada banyak hal yang mutawâtir bagi satu kelompok, Sunni misalnya, tidaklah mutawâtir menurut kelompok lain, Syiah misalnya. Perbedaan dalam soal ke- mutawâtir-an ini tak bisa dibawa ke ranah kafir-mengkafirkan.

Contoh dari hal yang layak untuk dikafirkan, menurut Al-Ghazali, misalnya adalah kalau orang menyatakan bahwa kiblat yang menjadi arah salat bukanlah di Mekkah, sebab hal ini disepakati mutawâtir. Juga, misal lainnya, bila seseorang menyatakan bahwa Sayyidah ‘Aisyah melakukan perbuatan zina, padahal mutawâtir dan termaktub di Al-Quran, belasan ayat yang membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan zina.

Bila seorang muslim mengingkari kebenaran ajaran dari Rasulullah yang tersampai kepadanya secara âhâd (tidak mutawâtir), maka muslim tersebut tak bisa divonis kafir. Bahkan, kalau ada muslim mengingkari sesuatu yang telah jadi konsensus (ijmak), maka masih perlu dicermati, sebab legalitas (hujjiyyah) ijmak sebagai sumber hukum masih diperselisihkan. Ibrahim an-Nazzham (dari Mu’tazilah) menolak legalitas ijmak. Karena itu, ijmak bukan sesuatu yang muttafaq ‘alayh (disepakati), melainkan mukhtalaf fîh (diperselisihkan). Suatu hal yang dipersilisihkan dihukumi sebagai hukum cabangan (furû’).

***

Al-Ghazali, pada bab Fi Ba’ts an-Nâr (h. 96) menulis:

“Saya katakan, rahmat Allah meliputi banyak bangsa terdahulu, meskipun kebanyakan mereka akan dimasukkan ke neraka. Ada yang masuk dalam waktu  yang sebentar, bahkan sesaat,  ada pula yang dalam beberapa waktu, hingga mereka disebut dibangkitkan dari neraka (ba’ts an-nâr). Bahkan saya katakan: Kebanyakan orang Nasrani di Romawi dan Turki di zaman ini (zamannya al-Ghazali—penerj.) akan terliputi rahmat Allah, jika Allah menghendaki.  Maksud saya, mereka yang tinggal di pelosok Romawi dan Turki dan dakwah belum sampai kepada mereka.

Mereka (Nasrani Romawi  dan Turki) terdiri dari tiga golongan. Pertama, golongan yang nama Muhammad belum sampai sama sekali kepada mereka. Mereka ini ditolerir (ma’dzurûn). Kedua, golongan yang sampai kepada mereka nama Muhammad, sifatnya,  dan mukjizatnya; mereka juga  tinggal di dekat negara Islam bahkan bergaul dengan orang Islam.  Mereka inilah yang kafir dan ingkar. Ketiga, golongan yang berada di antara kedua golongan itu: telah sampai kepada mereka nama Muhammad, namun  sifatnya belum sampai kepada mereka. Bahkan mereka mendengar sejak masa kecil mereka bahwa ada seorang pendusta bernama Muhammad yang mendaku sebagai nabi, sebagaimana anak kecil zaman ini (zamannya Al-Ghazali—penerj.) sering mendengar ada seorang pendusta bernama Al-Muqaffa’ yang diutus Allah sebagai pendusta untuk  menantang kenabian. Mereka, golongan ketiga ini, bagi saya, sebagaimana golongan yang pertama.”

Rahmat Allah itu luas. “Warahmati wasi’at kullla syai`i,” kata-Nya, “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” “Sabaqat rahmatî ghadhabî,” kata-Nya juga, “Rahmat-Ku mendahului murkaku.” Orang yang mudah mengkafirkan berarti mempersempit keluasan rahmat-Nya.

Tagged: , , , , , , , , , , , ,

6 thoughts on “Mengkafirkan itu Tidak Mudah

  1. […] pernah mengulas tentang Fayshal at-Tafriqah itu di bagian lain di blog ini (rujuk ke tulisan ini: Mengkafirkan itu Tidak Mudah). Saya ulas sedikit di sini beberapa poin penting […]

    Suka

  2. […] pernah mengulas tentang Fayshal at-Tafriqah itu di bagian lain di blog ini (rujuk ke tulisan ini:Mengkafirkan itu Tidak Mudah). Saya ulas sedikit di sini beberapa poin penting […]

    Suka

  3. […] pernah mengulas tentang Fayshal at-Tafriqah itu di bagian lain di blog ini (rujuk ke tulisan ini: Mengkafirkan itu Tidak Mudah). Saya ulas sedikit di sini beberapa poin penting darinya. Sudah menjadi kesepakatan ulama […]

    Suka

  4. […] pernah mengulas tentang Fayshal at-Tafriqah itu di bagian lain di blog ini (rujuk ke tulisan ini: Mengkafirkan itu Tidak Mudah). Saya ulas sedikit di sini beberapa poin penting […]

    Suka

  5. […] pernah mengulas tentang Fayshal at-Tafriqah itu di bagian lain di blog ini (rujuk ke tulisan ini: Mengkafirkan itu Tidak Mudah). Saya ulas sedikit di sini beberapa poin penting darinya. Sudah menjadi kesepakatan ulama […]

    Suka

  6. […] pernah mengulas tentang Fayshal at-Tafriqah itu di bagian lain di blog ini (rujuk ke tulisan ini: Mengkafirkan itu Tidak Mudah). Saya ulas sedikit di sini beberapa poin penting darinya. Sudah menjadi kesepakatan ulama […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s