Natal Yesus, Maulid Muhammad

Salah satu ayat dalam al-Quran yang patut direnungkan terkait Nabi Isa (Yesus) adalah berikut: “Salam sejahtera semoga dilimpahkan kepadaku (Isa), pada hari aku dilahirkan, hari aku akan meninggal, dan hari aku dibangkitkan kembali.” (QS Maryam [19]: 33)

Ayat tersebut, oleh beberapa cendekiawan Muslim, dijadikan dasar bagi bolehnya umat Islam untuk mengucapkan selamat Natal kepada saudara Kristiani. Terlepas dari adanya perbedaan konsepsi antara Islam dan Kristen tentang figur Isa (Yesus), yang jelas sosok yang diperingati kelahirannya tiap 25 Desember itu tak lain adalah Nabi Isa atau Yesus.

Frase “salam sejahtera” dalam ayat di atas tegas mengarah pada “pemberkatan” yang terjadi dalam kelahiran Yesus. Dan cukup menarik juga, salam itu bukan saja pada saat kelahiran, melainkan juga saat akan meninggal dan saat dibangkitkan. Pendapat seperti ini didukung oleh sebagian ulama Al-Azhar, tak terkecuali juga Syaikh Ali Jum’ah, mufti resmi Republik Mesir.

Namun, beberapa ulama di Indonesia menyatakan, mengucapkan selamat Natal haram hukumnya. Argumen pengharaman ini setidaknya berlandaskan pada dua hal. Pertama, ucapan selamat Natal diartikan sebagai menyetujui kekafiran: menjadikan Yesus sebagai Tuhan, padahal bagi Islam, Isa adalah rasul, seorang manusia, bukan Tuhan.

Di antara ulama klasik yang dirujuk dalam pandangan ini adalah Ibnu Taimiyyah dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Kedua ulama itu berdalih dengan QS 39:7: wa la yardha li ‘ibadihi al-kufr (Tuhanmu tak menyukai kekafiran untuk hamba-Nya). Adagium yang menjadi implikasi dari ayat itu: ar-ridha bi al-kufr kufrun (reda dengan kekafiran adalah kekafiran juga).

Kedua, dengan penelitian sejarah didapatkan bahwa tiada kepastian bahwa Yesus lahir 25 Desember. Diantara tesisnya begini: di masa kekaisaran Romawi, ada kultus bernama Natalis Sol Invicti (kelahiran matahari yang tak terkalahkan). Yakni, keadaan saat matahari sangat lama menguasai siang. Itu terjadi pada 25 Desember. Matahari adalah dewa yang mengejawantah dalam diri kaisar Romawi. Doktrin ini bermanfaat untuk mengendalikan stabilitas negara dan menundukkan rakyat.

Seiring dengan semakin populernya Kristen di kalangan rakyat, dan agar tidak terjadi benturan dengan agama lama (pagan), maka di sekitar abad III-IV diadakanlah “adopsi”: kelahiran Yesus diperingati pada 25 Desember. Berangkat dari tesis ini, sebagian umat Islam menyatakan, perayaan 25 Desember pada muasalnya adalah perayaan paganisme: penyembahan kepada Dewa Matahari (Apollo).

Itu satu versi. Versi tesis lainnya tentu saja banyak dan usia perdebatan ini sudah sangat lama. Faktanya, tidak semua gereja memperingati natal pada 25 Desember. Beberapa gereja di Eropa Timur seperti Ukraina dan Rusia  misalnya, melaksanakan natal di antara tanggal 6 dan 19 Januari.

***

Terlepas dari perdebatan itu, tulisan ini ingin mengajukan sedikit urun rembug agar perayaan natal tidak dipandang dengan cara yang hitam-putih, benar-salah. Bukankah QS 49:13 menyatakan Tuhan menciptakan manusia dengan berbeda-beda bangsa (syu’uban wa qaba’ila) agar saling mengenal (lita’arafu)? Frase lita’arafu secara gramatikal mengandung makan resiprokal (musyarakah): bukan sekedar ko-eksistensi, melainkan juga pro-eksistensi dan saling memahami. Ada beberapa makna yang justru bisa digali dari perayaan natal ini, yang bisa menjadi salah satu paradigma dalam dialog Islam-Kristen.

Pertama, perayaan pada 25 Desember adalah konsesi ritual-budaya dengan konteks tempat di mana suatu agama hidup. Makna dari konsesi ini adalah, jika agama ingin tersebar luas dan mudah diterima masyarakat, maka pendekatan budaya adalah yang paling efektif dan relatif tak memunculkan kekerasan. Ingat pula, Islam di Indonesia tidak menyebar dengan perang, tetapi dengan adopsi kebudayaan lokal yang diisi dengan spirit Islam. Walisongo adalah “agen budaya” yang sukses melakukan cara ini.

Kedua, dalam ritual, kadang waktu bukan hal yang utama. Yang lebih esensial adalah penghayatan makna dalam ritual itu. Bagi umat Islam, peringatan kelahiran (maulid) Nabi Muhammad, misanya, tidak terlalu mementingkan harus pada tanggal 12 Rabiul Awwal. Setiap malam Jumat, banyak muslim tradisional yang merayakannya dengan pembacaan kitab-kitab maulid (Barzanji, Diba’i, dan Simtud-durar). Selain itu, hari lahir Nabi Muhammad tidak didapat kepastiannya dalam kitab-kitab tarikh klasik.

Dengan mementingkan makna ritualnya, justru bisa lebih ditinjau ulang, sejauh mana penghayatan ritual itu kini: adakah terjadi erosi? Di era kapitalisme ini, hampir segala ritual agama menjadi budaya populer yang hampa makna. Natal yang dirayakan dengan hura-hura, misalnya, bukankah itu bertentangan dengan teologi “penderitaan” Yesus? Bagaimana dengan pemaknaan kehadiran ikon atau figur Sinterklas (Santo Nicolaus) yang identik dengan Natal? Bukankah diantara makna kelahiran Yesus—sebagaimana ditulis dalam Matius 1:23—adalah “Imanuel” (“Allah” menyertai kita)?

Ketiga, Yesus disebut lahir dari ruh. Dalam Perjanjian Lama, Dia disebut sebagai ruh bekerja. Dia mencipta sesuatu dari tiada menjadi ada, persis ketika mencipta alam semesta. Ruh itu bekerja dan hasilnya adalah kandungan Maria (Maryam) berupa Yesus.

Konsepsi yang mirip dengan ini dalam Islam adalah Dia pertama kali menciptakan nur muhammad. Konsep ini amat melekat dalam tradisi sufisme. Dari nur muhammad itu, terpancarlah alam semesta ini. Dalam shalawat-shalawat, konsepsi semacam ini kerap disebutkan dalam syair-syair. Bagi Anda yang akrab dengan, misalnya, shalawat sholatun bis-salamil-mubin, ada konsep bahwa Nabi Muhammad adalah nuqthah at-ta’yini: titik penentu yang menjadi muasal alam semesta.

Makna dari dua konsepsi di atas, hemat saya, adalah bahwa Dia memberi rahmat kepada manusia dengan “perantara” yang mengejawantah ke dunia. Pesan yang dibawa pun tak jauh beda, yakni pembebasan manusia dari belenggu tirani: Romawi dalam kisah Yesus, dan peradaban Jahiliyah dalam kisah Nabi Muhammad. Dalam tataran ini, saya kira Islam dan Kristen membawa pesan yang berada dalam titik temu. Salam sejahtera kepada Nabi Isa.

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s