Perang Fatwa dan Ujian Keulamaan

Pada tanggal 21 Maret 2013, Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi wafat. Beliau meninggal terkena ledakan bom bunuh diri, saat mengajar tafsir di Masjid al-Iman, Damaskus, bakda maghrib waktu setempat.

Al-Buthi adalah figur besar di dunia Sunni, khususnya pengikut manhaj Asy’ariyyah dan Mazhab Empat. Karya ulama kelahiran Buthan, Turki, tahun 1929 itu tak kurang dari 60 buah. Banyak karyanya yang bersifat argumentatif-polemikus: disusun untuk beradu argumentasi dengan lawan pendapat. Karya-karyanya yang bersifat polemikus, antara lain, as-Salafiyyah dan al-Lamadzhabiyyah; dua karya yang mula-mula melambungkan namanya dan ditulis untuk membendung arus Salafi-Wahabi.

Karya lainnya, seperti Kubra al-Yaqiniyyat ditulis untuk mempertahankan manhaj akidah Asy’ariyah. Karyanya dalam bidang sirah nabawiyyah yang juga banyak dikaji di pesantren di Indonesia, Fiqh as-Sirah, disusun, antara lain, untuk mempertahankan legitimasi nash yang nyata-nyata secara mutawatir menyebutkan hal-hal yang khariq al-adah (melawan hukum alam) dalam sejarah Nabi. Dalam hal tertentu, Fiqh as-Sirah ditulis untuk menangkis rasionalisme dalam penulisan sejarah nabi yang dilakukan oleh para orientalis dan Husain Haikal (penulis Hayat Muhammad). Karya terbesarnya tentu adalah disertasinya yang kemudian dibukukan: Dhawabit al-Mashlahah—ditulis untuk membatasi kaidah maslahat (public good) agar tak digunakan sewenang-wenang.

Al-Buthi adalah benteng Sunni, khususnya di kawasan “Syam”. Kebesaran figurnya tak diragukan lagi. Hanya saja, mungkin karena kebesaran figurnya itulah maka posisinya amat riskan, terutama ketika ikut masuk dalam pusaran politik kekuasaan. Al-Buthi mulai berada dalam posisi kontroversial ketika ia menyatakan dukungan tegas kepada rezim Bashar al-Asad.

***

Korban tewas dalam krisis Suriah, saat artikel ini ditulis, sudah mencapai angka 60 ribu jiwa tewas. Asad adalah musuh nomor 1 bagi rakyat Suriah. Figur manapun yang mendukung Asad akan mendapat banyak kecaman, tak terkecuali al-Buthi. Sejak menyatakan fatwa haramnya pemberontakan kepada rezim Asad, al-Buthi pelan-pelan mulai ditinggalkan jamaahnya.

Al-Buthi banyak ditentang oleh beberapa teman sesama ulama Sunni-Asy’ari. Kecaman yang paling keras datang dari beberapa ulama Sunni-Wahabi yang, di antara kecamannya itu, mengarah pada sikap al-Buthi yang membela rezim Syiah. Kita tahu, Arab Saudi punya klaim dengan berperan di kawasan sebagai khâdim al-haramain dan lawan geopolitik bagi Syiah-Iran.

Apa yang mendasari “ijtihad” politik al-Buthi itu? Tampaknya al-Buthi lebih cenderung setia pada watak politik Sunni yang anti-pemberontakan. Di antara argumennya adalah hadis-hadis yang menyebutkan bahwa seorang penguasa (ulil-amri) tak bisa dimakzulkan atau dilengserkan selama ia tidak melarang ibadah umat Islam dan tidak mengajak kepada kemusyrikan, sekalipun penguasa itu fasik dan zalim. Anda bisa membaca argumentasi mengenai ini lebih jauh dalam Syarh Shahih Muslim karya Imam Nawawi ad-Dimasyqi dalam bab tentang pemerintahan (Kitâb al-Imârah).

Namun, “fatwa” al-Buthi itu ditentang oleh lebih banyak ulama. Mereka itu, antara lain, adalah Syaikh Muhammad al-Ya’qubiy, Syaikh Usamah ar-Rifa’i, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, Syaikh Muhammad ‘Ali as-Shabuni, dll. Argumen ulama pendukung oposisi antara lain adalah hadits la tha’ata li makhluq fi ma’shiyyah al-khaliq (tiada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan terhadap Sang Khaliq), dan ayat wala ta’awanu ‘ala al-itsm wa al-‘udwan (jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan).

***

Tragedi yang menimpa al-Buthi itu memberikan pelajaran setidaknya tentang tiga hal penting. Pertama, bahwa nash (Al-Quran dan Sunnah) itu seperti “karet”: bisa ditarik ulur untuk mendukung kepentingan ideologis-politis tertentu. Dengan sumber yang sama bisa muncul fatwa yang berlainan, bahkan berseberangan. Permusuhan akan muncul jika perbedaan pandangan itu dibumbui fanatisme dan tak disikapi arif.

Kedua, menjadi ulama itu besar tanggung jawabnya, sama besarnya dengan resiko yang harus diterima jika salah ucap dalam satu-dua pandangan saja. Dalam hal ini berlaku peribahasa kuno Arab, al-lisan aqtha’u min as-saif (lisan lebih tajam daripada pedang).

Ketiga, yang paling penting, bagaimana sikap kita terhadap al-Buthi? Kenyataanya, posisi al-Buthi itu bisa jadi “dagangan politik”. Hal ini terlihat dari interpretasi tentang siapa sesungguhnya dalang di balik tragedi 21 Maret itu. Versi pemerintah, sebagaimana propaganda Asad sejak krisis Suriah meledak, al-Buthi dibunuh oleh kelompok teroris-radikal. Versi lainnya menyebut bahwa sebenarnya Asad sendiri yang menjebak al-Buthi. Faktanya, meninggalnya al-Buthi itu bisa ditarik-ulur untuk meraih simpati dari jamaah loyalnya.

Perdebatan tentang al-Buthi selepas wafatnya itu juga merembet ke arah, apakah al-Buthi mati syahid? Beberapa ulama Saudi menentang penisbatan syahid itu. Sedangkan Syaikh ‘Ali Jum’ah dan Habib ‘Ali al-Jufry menggelarinya sebagai syahid.

Betapapun, kita yang di Indonesia kiranya bisa memberikan pandangan yang lebih “santri”: mereka para guru mulia yang berjasa besar dan tetap harus dihormati. Perbedaan pandangan politik sebetulnya sudah biasa terjadi.

Juga, hadis yang amat masyhur menyebutkan, selama ijtihad itu bukan berdasar nafsu, maka jika benar berpahala dua, dan jika salah berpahala satu. “Ijtihad” al-Buthi itu pun—wallahu a’lam—tetaplah berpahala.

Tagged: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s