Ramadhan dan Pelajaran Toleransi

Amaliyah-amaliyah terkait Ramadhan menyisakan banyak perbedaan di antara umat Islam. Itu sudah terjadi sejak lama. Dulu, pertentangan beda amaliyah Ramadhan diramaikan oleh dua ormas Islam terbesar Indonesia: Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Kini perbedaan itu lebih ramai dan berwarna seiring kian banyaknya ormas-ormas Islam yang mengemuka pasca-Reformasi.

Perbedaan amaliyah itu meliputi, antara lain, soal awal mulai puasa (ru’yah dan hisab), jumlah rakaat dan tata cara salat tarawih, qunut di witir pada setengah terakhir bulan Ramadhan, tarkhim­-an menjelang salat subuh, dll.

Namun demikian, yang menarik dari fenomena perbedaaan amaliyah Ramadhan ini adalah, kini hal-hal itu tak lagi jadi alasan perpecahan. Perbedaan itu tak lagi menajam, tak diungkit-ungkit sebagaimana dulu, khususnya saat masih di masa Orde Baru.

Fenomena ini mestinya bisa menjadi media untuk melatih toleransi dan kedewasaan menyikapi perbedaan pendapat. Banyak tokoh ormas Islam sepakat, perbedaan amaliyah-amaliyah di bulan Ramadhan itu bersifat “cabangan” (far’iyyah) dalam agama dan, karena itu, tak perlu menjadi alasan untuk bersengketa.

Perkembangan sikap keberagamaan dalam menyikapi beda amaliyah Ramadhan ini menarik pula jika dilihat dari sudut pandang argumen masing-masing. Para tokoh ormas Islam menyepakati, selama perbedaan itu memiliki dasar yang valid menurut “epistemologi” ilmu agama, maka ia sah sebagai pendapat, dan mesti dihormati.

Kita ambil contoh, misalnya, perbedaan soal penentuan awal-akhir Ramadhan. Perbedaan pandangan itu terjadi sebab adanya beda metodologi penetapan. Bila kita ambil sampel dari dua ormas Islam terbesar di negeri ini, kita tahu, NU memakai metode imkan ar-ru’yah (hilal mungkin untuk dilihat), sedangkan Muhammadiyah memakai metode wujud al-hilal (sudah adanya hilal—meski tak sampai derajat “mungkin untuk dilihat”).

Masing-masing dari kedua metode yang berbeda ini memiliki dasar. Dasar dari metode imkan ar-ru’yah adalah hadits shumu li ru’yatihi fain ghumma ‘alaikum faakmilu al-‘iddata tsalatsin (Berpuasalah karena melihat hilal; jika ia tertutupi awan maka sempurnakan Sya’ban hingga 30 hari). Eksplisit dinyatakan dalam hadits ini bahwa penetapan awal Ramadhan harus dengan melihat hilal (rukyah).

Sedangkan metode wujud al-hilal, selain berdasar dengan satu interpretasi terhadap hadits tadi, juga berhujjah dengan QS 10:5; “Dia yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan ditetapkan-Nya jalur-jalur peredaran bagi perjalanan bulan itu, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu (hisab).” Dengan tafsiran bahwa di antara maksud diciptakannya matahari dan bulan adalah untuk diketahui waktu, maka hisab—yang kemudian melahirkan metode wujud al-hilal itu—adalah metode yang sah untuk menetapkan awal Ramadhan.

Intinya, kedua metode itu punya argumen. Tiap pengikut salah satu metode bisa menambahi argumen penguat, tentu dengan kecenderungan subyektif masing-masing. Pada titik ini, sebagaimana banyak disepakati, perbedaannya tak menyentuh pokok ajaran agama (ushulud-din) dan karena itu tak layak jadi bahan pecah-belah.

Cara menyikapi perbedaan sebagaimana di atas amat bagus dilanjutkan. Bahkan, perlu ada pengayaan pandangan bahwa perbedaan yang ditolerir tidak sebatas pada soal “cabangan”agama, melainkan juga hal-hal yang lebih mendasar. Beberapa paradigma toleransi bisa kita ajukan.

Pertama, pluralitas pandangan dalam agama adalah hal yang niscaya. Jangankan dalam ayat atau hadits yang sama, sebagaimana kasus ru’yah-hisab itu, dalam satu kata yang sama di dalam ayat atau hadits yang sama pula bisa memunculkan beda interpretasi. Bahkan, bukan hanya satu kata, beda satu syakal (penanda bunyi dalam sistem alfabet Arab) juga bisa memunculkan beda tafsir. Perbedaan semacam ini sudah lazim terjadi dan termaktub ratusan di dalam khazanah fikih Islam.

Kedua, salah satu kaidah fikih (legal maxim) menyatakan: al-ijtihad la yunqadh bi al-ijtihad (suatu ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lainnya). Salah satu tafsiran dari kaidah itu, di samping terkait konteks waktu munculnya ijtihad, juga terkait sejauh mana argumentasi yang dibangun.

Maka, hasil ijtihad X, misalnya, tidak bisa membatalkan hasil ijtihad Y. Meski berada dalam satu tema bahasan, ijtihad fikih mazhab A tidak boleh dipakai untuk menegasikan ijtihad fikih mazhab B. Dan, sebagaimana tersebut di dalam hadits, ijtihad itu berpahala satu bila salah dan berpahala dua jika benar. Tiap-tiap upaya ijtihad, selama tidak main-main dan dapat dipertanggungjawabkan, tetap memperoleh ganjaran.

Dengan kesadaran bahwa pluralitas pandangan itu niscaya, yang tak lain disebabkan watak “lentur” dari Teks wahyu, maka paradigma toleransi bukan hal yang susah dirumuskan. Persoalannya selama ini adalah, umat Islam terfragmentasi dalam kutub-kutub doktrin dan sekte. Fanatisme dalam memegang doktrin dan sekte, hingga mengklaimnya sebagai representasi agama Islam itu sendiri, adalah penyakit bagi sikap toleran.

Kita perlu mengembangkan sikap toleran untuk hal-hal yang lebih fundamental sifatnya, dari yang sekedar “cabangan” dalam agama. Salah satu perspektif yang layak diajukan adalah: bahwa perbedaan yang ushul dan yang furu’ kadang-kadang tipis batasnya, toh juga kerap terkait soal interpretasi terhadap teks. Yang disayangkan, sengketa kerap muncul oleh sebab beda dalam memilah mana yang fundamental dan mana yang cabangan.

Misalnya, perbedaan antara Sunni dengan Syiah. Dari berbagai argumen pro-kontra, dapat disimpulkan bahwa poros pengkafiran Sunni terhadap Syiah adalah dalam soal mencaci Sahabat Nabi dan bahwa ada distorsi (tahrif) dalam Al-Quran yang kini dipegang mayoritas umat Islam.

Perbedaan ini, bila disikapi secara dingin, sebenarnya adalah perbedaan interpretasi sejarah, epistemologi tafsir, serta validasi riwayat. Ini adalah perbedaan interpretasi, dan tidak bisa dianggap 100 persen sebagai perbedaan antara Islam dengan kafir.

Demikianlah, dari perbedaan dalam amaliyah Ramadhan itu, kita perlu mengembangkan sikap toleransi yang lebih jauh, yang melampaui aspek doktrinal dan sektarian.

Tagged: , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s