Sebaiknya Ulama Menjauhi Politik

[ 1 ]

Imam Asy-Syafi’i adalah orang Arab-Quraisy. Asy-Syafi’i mengafirmasi corak negara berhaluan Arabisme, sebagaimana yang telah dipraktekkan di masa Kerajaan Umayyah. Sedangkan Malik ibn Anas dan Abu Hanifah tidak. Imam Malik berfatwa: baiat kepada Umayyah tidak sah jika dipaksa. Abu Hanifah bahkan mendukung perjuangan bersenjata kelompok penyokong Zaid ibn ‘Ali Zainal ‘Abidin melawan Umayyah, dan karena itu Abu Hanifah dipenjara.

Sikap Asy-Syafi’i berbeda saat Abbasiyah berkuasa. Abbasiyah mengkudeta Umayyah dengan ditopang etnis Persia. Kebencian Asy-Syafi’i kepada Abbasiyah semakin besar sepeninggal Harun ar-Rasyid. Dua putra Harun berperang berebut tahta: al-Amin (yang didukung faksi Arab) versus al-Ma’mun (yang didukung faksi Persia). Al-Ma’mun menang. Asy-Syafi’i lalu hijrah ke Mesir. Saat itu, gubernur Mesir adlh orang Quraisy.

[ 2 ]

Alm. Syaikh Sa’id Ramadhan al-Buthi dekat dengan Bashar al-Assad dari Syiah-Alawiyah. Padahal, Syiah-Alawiyah itu lebih ekstrem dari Syiah Imamiyah (Iran). Demikian pula dengan Syaikh Badruddin Hasun, mufti Suriah yang pernah mendapat gelar doktor honoris causa dari UIN Sunan Kalijaga.

Banyak ulama internasional yang mengupayakan “pendekatan antar mazhab” (at-taqrib baina al-madzahib): bahwa Sunni dan Syiah lebih banyak memiliki persamaan yang mestinya kian dekat didialogkan, ketimbang perbedaan yang seharusnya tak diruncingkan. Di antara figur pimpinan proyek taqrib itu adalah Syaikh Wahbah az-Zuhaili dan Syaikh ‘Ali Jum’ah, mufti Mesir.

Sementara itu, di Indonesia, banyak Sunni yang mengupayakan “putus hubungan” dengan Syiah, seolah-olah Syiah tak punya harga sama sekali kecuali “sesat”.

[ 3 ]

Dulu Syaikh Yusuf al-Qaradhawi adalah pemuka proyek “taqrib” juga. Al-Qaradhawi pernah dekat dan mendukung Hizbullah, sebab kelompok militer Hizbullah berhasil memukul mundur Israel pada 2006 dari Lebanon selatan.

Tapi, di awal bulan Juni 2013, muncul fatwa “jihad” Syaikh Yusuf al-Qaradhawi. Ketua Persatuan Ulama Sedunia (al-Ittihad al-‘Alamiy li ‘Ulamâ al-Muslimîn) itu melantangkan panggilan kepada seluruh muslimin sejagat untuk membantu saudaranya di Suriah (nida’an li ‘umûm al-muslimîn an yahmu ikhwânahum).

Sebagaimana terhadap Qadhafi di Libya, Qaradhawi mengajak para pemuda Sunni untuk “berjihad” ke Suriah demi menumbangkan Bashar al-Assad. Fatwa “jihad” itu dilatarbelakangi oleh kemenangan militer Assad di kota Qusair. Qusair adalah basis penting pertahanan Assad. Kemenangan Assad di kota itu tak lepas dari bantuan Syiah-Hizbullah Lebanon. Qaradhawi menabuh genderang perang melawan pemimpin Hizbullah, Hasan Nasrallah, dan Iran.

Dalam orasinya di Kairo, dalam Muktamar Persatuan Ulama Sedunia, pekan lalu, dengan tema “Sikap Ulama terhadap Masalah Suriah”, Qaradhawi menegaskan: “Iran sama sekali bukan bagian dari Islam. Iran hanya loyal kepada Husain. Mereka menyekutukan Allah.” Qaradhawi menyebut Hizbullah (Partai Allah) dengan Hizbussyaithan (Partai Setan).

Setelah Qaradhawi menyatakan permusuhan dengan Hasan Nasrallah, Qaradhawi dipuji oleh mufti Saudi, Abdul Aziz Alus-Syaikh. Media massa milik Saudi, Asharq al-Awsat menukil pernyataan dramatis Qaradhawi: “Dulu saya bertentangan dengan ulama Saudi sebab mendukung Hasan Nasrallah. Ternyata ulama Saudi lebih matang dan paham dari pada saya. Ulama Saudi tahu bahwa mereka (Hizbullah) sejatinya adalah para pendusta.”

[ 4 ]

Awal Juli 2013, presiden Mesir pertama dari kalangan sipil dan hasil dari pemilu demokatis, Muhammad Mursi (dari faksi al-Ikhwan al-Muslimun [IM]), dilengserkan oleh gerakan Tamarrud (Pembangkangan). Gerakan ini mengklaim mengumpulkan 22 juta petisi. Dikabarkan, demonstrasi Tamarrud adalah yang terbesar dalam sejarah Mesir.

Melihat begitu banyaknya suara protes kontra-Mursi, dan dengan asumsi demi menghindari pertumpahan darah, maka militer turun tangan. Militer meminta persetujuan dari Grand Syaikh al-Azhar Ahmad Thayyib, Paus Kristen Koptik Tawadros, wakil oposisi, dan kaum muda. Ringkas cerita, Mursi berhasil dimakzulkan. Dan salah satu dasar keagamaan yang dipakai oleh Syaikh al-Azhar waktu itu ialah kaidah fikih “irtikâb akhaff adh-dhararain” (mengambil resiko yang paling kecil saat terjebak dilema dalam dua mudarat).

Syaikh al-Azhar menuai banyak kecaman dari para pendukung Mursi, terutama dari para simpatisan IM. Syaikh al-Azhar dianggap telah berkhianat, menjadi boneka kaum militer, sisa-sisa (fulul) dari rezim Mubarak. Maka ribuan pendukung Mursi pun turun ke jalan, meminta kembalinya legitimasi (syar’iyyah) Mursi ke takhta kepresidenan.

Para pendukung Mursi demo berbulan-bulan, berpusat di kawaan Masjid Rab’ah al-‘Adawiyah (basis IM). Demo itu sebagian menggunakan kekerasan. Maka militer pun harus turun tangan. Akibatnya banyak korban tewas  berjatuhan.

Namun demikian, Mantan Mufti Mesir Syaikh ‘Ali Jum’ah mendukung sikap militer. Menurut Syaikh ‘Ali Jum’ah, Mursi tak lagi punya legitimasi sejak Tamarrud meledak, sebab golongan mayoritas condong ke kontra-Mursi. Hadits yang dinukil Syaikh ‘Ali Jum’ah, selain penghindaran dari pertumpahan darah, ialah ‘alaikum bi as-sawâd al-a’zham (berpeganglah kalian pada golongan terbesar).

Selepas fatwa Syaikh ‘Ali Jum’ah yang mendukung militer, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi menanggapinya. Al-Qaradhawi mengcounter fatwa Syaikh ‘Ali Jum’ah dengan fatwa yang berdasar hadis pula. Uniknya, hadits yang menjadi landasan fatwa al-Qaradhawi adalah hadits senada yang dijadikan dasar oleh Al-Buthi untuk mendukung rezim Asad di Suriah. Yakni, hadits-hadits yang esensinya ialah kewajiban taat pada penguasa, baik  dalam hal yang disuka atau dibenci (as-sam’u wa ath-tha’ah fimâ ahabba wa kariha), selama penguasa itu tak  memerintahkan kemaksiatan. Intinya, Al-Qaradhawi hendak menegaskan bahwa pemakzulan Mursi adalah ilegal dalam perspektif  syariat. Pendek kalimat, di sini ada perang “fatwa”  antar ulama, Syaikh ‘Ali Jum’ah vs Syaikh Yusuf al-Qaradhawi. Keduanya sama-sama berdasar hadits.

 [ 5 ]

Dalam politik, yang dulu kawan bisa jadi lawan, begitu pula sebaliknya. Dalam politik, tidak ada istilah kawan abadi atau musuh abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi. Adagium ini muncul dari kisah Amerika Serikat (AS).

Pada 1972, Presiden AS Richard Nixon berkunjung ke Beijing, Cina. Kunjungan seorang presiden AS ke Beijing pada saat itu sangat mengejutkan karena Cina adalah musuh bebuyutan AS. Sejak tahun 1950-an, AS bersekutu erat dengan Taiwan untuk menghadang Cina.

Dengan kunjungan Nixon ke Beijing itu, Taiwan sebagai sekutu terdekatnya merasa ditinggalkan AS. Namun, AS meyakinkan Taiwan bahwa hubungan AS dengan Cina tidak berarti AS meninggalkannya. Kepentingan yang lebih besar (untuk menghadapi Uni Soviet) membuat AS tidak mempunyai pilihan lain, kecuali merangkul China. Tadinya Cina adalah lawan, kemudian jadi kawan AS sebab punya kepentingan yang lebih prioritas: melawan Uni Soviet.

[ 6 ]

Kesimpulan dari berbagai fenomena itu iala: Pertama, tidak semua “fatwa” murni karena dorongan agama. Tak sedikit fatwa yang memiliki motif ideologis-politis. Kedua, menjadi ulama itu besar tanggung jawabnya, sama besarnya dengan resiko yang harus diterima jika salah ucap dalam satu-dua pandangan saja. Dalam hal ini berlaku peribahasa kuno Arab, al-lisân aqtha’u min as-saif (lisan lebih tajam daripada pedang).

Ketiga, tiap fatwa selalu mendasarkan diri pada nash (Al-Quran dan Sunnah). Tapi ingat bahwa nash itu seperti “karet”: bisa ditarik ulur untuk mendukung kepentingan ideologis-politis tertentu. Dengan sumber yang sama bisa muncul fatwa yang berlainan, bahkan berseberangan.

Keempat, lebih baik ulama itu tidak terjun ke politik, karena watak politik cenderung membawa seseorang terhanyut arus kepentingan partisan. Kredibilitas dan wibawa ulama  dipertaruhkan dalam menyikapi krisis politik: bisa dipuji, bisa pula tiba-tiba dihujat banyak orang.

Tagged: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s