Suksesi Tak Diatur Nabi

Nabi Muhammad Saw. wafat pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal 11 H atau 9 Juni 632 M, pada waktu Dhuha. Pemakamannya dilakukan sekitar 40 jam setelah itu, yakni malam Rabu, pada tanggal 14 Rabi’ul Awwal. Nabi dimakamkan persis di tempat pembaringannya, di kediaman Aisyah ra. yang saat itu masih diluar area Masjid Nabawi.

Di antara hal yang menghambat segera dimakamkannya Nabi ialah, selain karena memang banyaknya orang yang menyalatkannya, adalah soal suksesi: siapa pemimpin pengganti Nabi?

Diceritakan bahwa setelah kabar Nabi wafat menyebar, berkumpullah orang-orang Anshar di Saqifah Bani Sa’idah (salah satu keluarga mulia suku besar Khazraj)—sebuah balai di dekat Pasar Madinah. Sa’d ibn ‘Ubadah adalah tokoh terkemukanya. Dan dia, dalam keadaan sakit dan dipapah, menyampaikan ujarannya di sidang kaum Anshar itu. Ibn Jarir ath-Thabari dalam Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, Juz II, bab Hadîts as-Saqîfah menceritakan isi pidato Sa’d ibn ‘Ubadah itu.

***

Di Saqifah Bani Sa’idah, setelah berbicara mengenai Nabi yang sedikit pengikutnya di Mekkah, lalu Nabi hijrah ke Madinah, dan ditolong kaum Anshar, Sa’d ibn Ubadah berujar:

“Kalian bersikap keras kepada musuhnya, hingga bangsa Arab tunduk pada agama Allah, dengan pedang kalian. Allah mewafatkannya kini, sedangkan dia sendiri menaruh rela pada kalian. Kalian menjadi kesayangannya. Tetapi mereka itu (kaum Muhajirin) hendak merebut kepemimpinan. Kepemimpinan itu adalah hak kalian, bukan hak siapapun di luar kalian.”

Bisa dibayangkan bagaimana pengaruh pidato itu bagi kalangan awam Anshar. Lalu, ringkas cerita, datanglah tiga tokoh Muhajirin, yakni Abu Bakar, ‘Umar, dan Abu ‘Ubaidah ibn al-Jarrah. Ketiga tokoh itu sempat mendengar bagian akhir pidato Sa’d. Diceritakan, Umar sempat muntab karena pidato itu, dan hendak maju ke depan, tapi dicegah oleh Abu Bakar.

Dengan tenang, Abu Bakar, setelah mengucapkan hamdalah dan shalawat, pun segera berbicara:

“Allah telah menjadikan kaum Muhajirin sebagai pihak yang pertama membenarkan Muhammad, beriman padanya, menderita bersamanya… Mereka itulah keluarganya, dan lebih berhak dengan pimpinan sepeninggalnya. Tiada yang bisa membantah ini kecuali pihak yang sengaja melupakan fakta ini. Adapun kalian, wahai orang Anshar, tiada yang membantah kedudukan kalian di dalam agama… Muhammad telah berhijrah pada kalian. Sesudah Muhajirin, tiada satupun pihak yang punya kedudukan tinggi seperti kalian. Maka kami adalah umarâ` (para penguasa/pemerintah), sedangkan kalian adalah wuzarâ` (para menteri). Kalian adalah tempat berunding, dan tiada satupun keputusan tanpa pendapat kalian.”

Namun demikian, pemuka Anshar belum bisa terima. Maka berdirilah Hubab ibn Mundzir. Ia berkata:

“Kalian, hai kaum Anshar, memegang tampuk kuasa. Mereka (Muhajirin) berada di bawah lindungan kalian. Tiada yang membantah hal ini… Jangan kalian berbeda pendapat hingga kedudukan kalian lemah. Jika mereka enggan menerima kenyataan itu, maka jalan satu-satunya ialah: kami punya amîr (pemerintah) dan kalian punya amîr (pemerintah) sendiri.”

Jelas bahwa ujaran Hubab itu panas. Ia bisa memicu perpecahan. Umar yang kesulitan menahan diri akhirnya angkat bicara:

“Tidak mungkin dua berada dalam satu tanduk. Allah niscaya tak rela bila kalian memegang tampuk kekusaaan, sedang Nabi tak berasal dari lingkungan kalian. Bangsa Arab sendiri pasti tak menerima pimpinan pihak yang Nabi bukan berasal darinya… Kami adalah kerabat Nabi. Pihak yang mempertahankan kebatilan dan ingin membenarkan keonaran maka pihak itulah yang memang keras kepala.”

Tanggapan keras dari Umar itu pun mendapat tangkisan yang keras pula dari Hubab. Seraya mengeraskan suara, Hubab lantang berkata:

“Kalian, wahai kaum Anshar, kokohkan persatuan. Jangan dengarkan ucapannya. Kalian akan kehilangan hak kepemimpinan. Jika mereka tak mau dengarkan apa yang kalian tuntut, maka usir mereka. Kalian akan mampu menentukan segalanya Kalian lebih berhak memegang pimpinan ini. Dengan kekuatan pedang kalianlah agama ini berkembang. Jika mereka berkeras kepala, demi Allah, mari kita ulang kembali sejarah lama.”

Umar merespon dengan garang, “Allah akan membunuhmu!” Hubab balik menimpali, “Kaulah yang akan dibunuh Allah!” Dan di tengah suasana yang sedemikian panas, majulah Abu Ubaidah (Muhajirin) dan Basyir ibn Sa’d (Anshar). Tampaknya keduanya bisa menenangkan suasana. Kata Abu Ubaidah:

“Wahai sahabatku, kaum Anshar. Kalian adalah pihak yang pertama menyokong dan membantu. Janganlah kalian menjadi pihak yang pertama berubah dan berganti pendirian.” Kalimat ini singkat, tapi mampu menusuk pikiran dan mengheningkan kepala yang tadinya panas.

Lalu Basyir ibn Sa’d pun menambahi:

“Saudaraku, kaum Anshar. Kita semua, demi Allah, memperoleh kedudukan mulia dan paling pertama berjihad melawan orang-orang musyrik. Semua itu kita lakukan tak lain demi mengharap ridha-Nya, patuh pada Nabi, dan demi kehormatan kita. Maka tidaklah layak kita mempersoalkan hal itu. Bukankah Muhammad itu dari suku Quraisy. Justru kaumnya lebih berhak memimpin. Demi Allah, saya sendiri tidak akan membantah hal ini. Marilah kita sama-sama bertakwa, jangan saling berbantah dan bertengkar.”

Ringkas cerita, setelah saling “berrendah hati” antara Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah, diputuskanlah bahwa Abu Bakar menjadi pemimpin umat Islam sebakda wafatnya Nabi.

***

Yang menjadi poin pertanyaan di sini terkait kisah itu ialah: Bagaimana sesungguhnya Islam mengatur suksesi pemimpin? Bukankah ada hadits masyhur yang menyatakan bahwa al-a`immatu min quraisy (para pemimpin berasal dari kalangan Quraisy)? Mengapa hadits itu tak muncul dalam debat di Saqifah, padahal jelas bahwa yang berdebat di Saqifah adalah para sahabat besar?

Saya cenderung pada pendapat bahwa memang dalam soal suksesi kepemimpinan, Islam tak mengatur dengan detail bagaimana tatacaranya. Islam menyerahkan persoalan “duniawi” ini pada umat Islam sendiri untuk mengaturnya, sesuai sabda Nabi, “Antum a’lamu biumûri dunyâkum” (Kalian lebih tahu mengenai persoalan dunia kalian).

Diceritakan pula oleh Ibn Sa’d dalam Thabaqât-nya, dinukil oleh Quraish Shihab di buku karyanya, Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw (2011: 1115), bahwa Al-‘Abbas paman Nabi bertanya pada khalayak ramai sebelum Abu Bakar tiba dari Saqifah Bani Sa’idah, “Adakah di antara kalian yang mengetahui bahwa Nabi berpesan menyangkut suksesi?” Semua menjawab, “Tidak!” Al-‘Abbas kemudian juga bertanya pada Umar pertanyaan serupa yang dijawab juga dengan menafikan. Al-‘Abbas kemudian meminta semua hadirin menyaksikan bahwa tidak ada pesan dari Rasul Saw. sehingga siapa yang mengaku ada pesan Nabi menyangkut suksesi maka dia adalah pembohong.

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s