Taqrib dan Jurumiyah

Salah satu kitab fikih mazhab Syafi’i yang banyak dikaji di pesantren-pesantren tradisional di Indonesia adalah al-Ghâyah wa at-Taqrîb. Para santri lazim menyebutnya matan “Taqrib”. “Taqrib” artinya “pendekatan”. Kitab ini memang diperuntukkan bagi pelajar fikih tingkat pemula. Pembahasan di dalamnya singkat, global, tanpa dalil, tapi cukup menyeluruh membahas hampir semua bab fikih, khususnya fikih mazhab Syafi’i.

Kitab Taqrib amat masyhur dan banyak diberi komentar (syarh) maupun catatan kaki (hâsyiyah) oleh ulama. Di antara komentar terhadap kitab ini ialah: Fath al-Qarîb  al-Mujîb karya Ibn Qasim al-Ghazzi, al-Iqnâ karya al-Khathib asy-Syirbini, Kifâyah al-Akhyar karya Taqiyyuddin al-Hishni, dan yang kontemporer adalah at-Tadzhîb karya Dr Mushtafa Dib al-Bigha. Fath al-Qarîb kemudian diberi catatan kaki oleh Syaikh Ibrahim al-Bajuri dengan karyanya Hâsyiyah al-Bâjûri dan oleh Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi dengan karyanya Tausyîh.

Penulis kitab Taqrib ini adalah Abu Syuja’ Ahmad ibn al-Husain ibn Ahmad al-Ashfihani. Di Hâsyiyah-nya (Cet. Al-Haramain, halaman 9-10), Ibrahim al-Bajuri yang pernah menjadi Syaikh Al-Azhar (1847-1860 M) mengisahkan sekilas biografi Abu Syuja’

Diceritakan, Abu Syuja’ dulu adalah seorang hakim yang kemudian pernah memangku jabatan sebagai menteri. Tak jelas diceritakan dia jadi menteri di masa siapa, tapi bila melihat tahun hidupnya mungkin dia hidup di masa saat Dinasti Abbasiyah masih berkuasa. Abu Syuja’ adalah orang yang dermawan dan gemar bersedekah. Dikisahkan oleh Al-Bajuri bahwa Abu Syuja’ pernah membagi-bagikan uang sebanyak 120.000 dinar (Catatan: 1 dinar pada tahun 2013 sama dengan Rp 2.230.000,-).

Selepas pensiun dari jabatannya sebagai menteri, Abu Syuja’ memilih hidup menyepi, zuhud. Abu Syuja’ memutuskan tinggal di Madinah, menjadi pelayan (khâdim) di Masjid Nabawi: menjadi penyapu dan penyala lampu masjid. Abu Syuja’ hidup selama 160 tahun dan di waktu tuanya hidupnya tetap sehat-afiat. Ketika suatu saat ditanya tentang resep kesehatannya, Abu Syuja’ menjawab, “Aku menjaga-Nya dengan tak bermaksiat pada-Nya di masa muda, maka kini Dia menjagaku di waktu tua.” Abu Syuja’ wafat pada tahun 488 H.

***

Salah satu kitab nahwu (ilmu gramatika-sintaksis Arab) yang banyak dikaji di pesantren-pesantren tradisional adalah Al-Ajurrûmiyyah. Para santri lazim menyebutnya Jurumiyah. Kitab ini amat masyhur, banyak disyarahi, bahkan di-nazham-kan. Hampir di setiap pesantren yang masih memakai pola pendidikan tradisional memakai kitab ini untuk kurrikulum kajian pemula.

Diceritakan oleh Syaikh Muhammad ibn Muhammad al-Ahdal dalam al-Kawâkib ad-Durriyyah (syarah terhadap Mutammimah [dan Mutammimah sendiri adalah syarah terhadap Ajurrumiyah]), bahwa penulis Jurumiyah ialah Muhammad ibn Muhammad ibn Dawud ash-Shanhaji, yang lebih akrab dikenal dengan kunyah Ibn Ajurrum. Diceritakan bahwa Shanhaj adalah salah satu kabilah di Maghrib (Maroko).

Kata ‘Ajurrum” jelas bukan asli bahasa Arab. Kata “Ajurrum” dalam bahasa suku Berber (Barbar) di pedalaman Maroko artinya al-faqîr ash-shufiy. Tampaknya Ibn Ajurrum adalah orang yang hidup asketis,  sangat zuhud. Namanya tak begitu dikenal di deretan para mu’allif (penulis kitab) ternama. Tak banyak yang diketahui dari karyanya kecuali kitab tipis nan kecil, yakni Jurumiyah itu sendiri.

Suatu riwayat menuturkan bahwa Jurumiyah berasal dari gabungan dua kata “jurru” (tariklah) dan “miyah” (air). Konon, sang penulis kitab, setelah merampungkan penulisan kitab itu, melemparkan kitab itu ke aliran sungai dan dia “bertaruh”: kalau air itu meleburkan tinta tulisan dalam kitab itu, maka kitab itu tak akan bermanfaat; dan jika tak melebur, maka kitab itu akan bermanfaat. Meski riwayat cerita ini kurang bisa dipertanggungjawabkan, kenyataannya para santri tahu, kitab ini begitu luas dikenal, nyumerambah, dan punya kemanfaatan yang menjagat.

Ibn Ajurrum lahir di Fas, Maroko, pada tahun yang sama dengan tahun wafatnya Ibn Malik, penulis Alfiyyah (seribu bait nazham tentang ilmu nahwu): 672 H/1273 M. Ibn Ajurrum wafat pada 723 H/1332 M. Ibn Ajurrum dikebumikan di dekat makam Syaikh Abbas Ahmad at-Tijani, pendiri Tarekat Tijaniyah.

***

Saat artikel ini ditulis, sudah tahun 2013, dan kedua kitab itu, Taqrib dan Jurumiyah, masih dikaji di banyak pesantren. Berarti sudah berabad-abad lamanya dua kitab tipis itu menebar kemanfaatan. Saya sendiri kerap membayangkan, andai kitab itu memiliki hak cipa (copy right) tentu amat besar honorarium yang akan diterima penulisnya. Tapi jelas, penulisan kitab itu bukan untuk mendapatkan uang. Dari kisah kedua penulis kitab itu tersirat keikhlasan yang besar. Sangat boleh jadi, keikhlasan itulah penyebab utama keberkahan dan kebermanfaatan kitab itu.

Dulu pada 1943, dalam puisinya yang berjudul “Aku”, Chairil Anwar pernah bersyair: “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Chairil Anwar belum membuktikan pernyataanya dalam kalimat itu secara harfiah. Tapi kitab Taqrib, kita tahu, sudah menebar manfaat hampir seribu tahun sejak penulisannya; “seribu tahun” dalam maknanya yang harfiah. Allâhu yarhamu Abu Syuja’ & Ibn Ajurrum.

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s