Tuhan dan Antropomorfisme

Tuhan tak bisa dibatasi oleh rasionalitas manusia. Itu kata banyak orang yang, entah, darimana bermula.

Namun, terlepas bagaimana mendefinisikan apa itu “pembatasan” dan apa itu “rasionalitas”, pernyataan tersebut menyisakan satu ambiguitas: begitu mengatakan Tuhan tak bisa dibatasi, maka pada saat yang sama kita tengah membatasi Tuhan dengan ke-tak-terbatas-an itu sendiri.

Maka masalahnya kemudian adalah bagaimana meletakkan Tuhan dalam suatu kalimat bahasa. Bagaimana menjaga agar bahasa tidak membatasi Tuhan? Karena bahasa jelas melemparkan sebuah penisbatan pada pelaku, atau yang terkena perlakuan, termasuk Tuhan.

Masalah ke-tak-terbatas-an itu memang kemudian menjadi pikiran para filsuf bahasa. Ludwig Wittgenstein (1889-1951) menyatakan bahasa akan bermakna jika ia memiliki proyeksi dalam realitas dunia. Sebuah proposisi yang tak ada realisasinya di dunia, maka ia tak bermakna. Pikiran Wittgenstein yang dituangkannya dalam Tractacus Logico-Philosophicus itu, atau sering disebut juga Wittgenstein I, kemudian memengaruhi kaum filsuf Lingkaran Wina, dengan mazhab positivisme-logis.

Diantara yang tak ada proyeksinya dalam realitas adalah “aku”. “Aku” tak mungkin mendefinisikan “aku” itu sendiri, sebab dengan “aku”, aku mengimajinasikan realitas. “Aku” adalah satu dari lain hal yang “mengatasi” proyeksi realitas dunia. Demikian pula dengan hal yang metafisis:  kegaiban adalah non-empiris sehingga tak verifiable dan tak berealitas. Maka proposisi yang mengandung kegaiban adalah tak bermakna. Problemnya, diantara yang gaib itu adalah Tuhan.

Lalu Tuhan didekati dengan logika manusia. Bila memakai pendekatan negasi, maka segala pendefinisian-pembatasan terhadap Tuhan adalah tak bermakna. “Semakin seseorang menghindari membicarakan Tuhan, maka ia semakin religius,” kata seorang filsuf bahasa. Atau dengan pendekatan sintetik: maka Tuhan harus didefinisikan dengan analogi tertentu di dunia—agar ia “logis” dalam pikiran.

Mungkin logika sintetik ini sempat terlintas di pikiran Ibnu Taimiyyah (1263-1328)–tapi jelas, Ibnu Taimiyyah sudah ada sebelum lahirnya mazhab positivisme-logis di Wina itu. Golongan mainstream Ahlus-Sunnah sering menyebutnya paham tajsîm (“pen-jasad-an” Tuhan).

Seperti yang diceritakan oleh Hasan ibn ‘Ali as-Saqqaf dalam as-Salafiyah al-Wahhâbiyah: Afkâruhâ al-Asâsiyyah wa Judzûruhâ at-Târîkihiyyah, logika sintetik-harfiyah dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyâbihât berkenaan dengan penisbatan Allah dalam al-Qur`an memiliki akar sejarah, bahkan sejak masa Sahabat.

Ka’ab al-Ahbar sepertinya menjadi tertuduh utama di masa itu. Ia yang mantan ahli kitab, menjadi tersangka mempunyai “saham” memasukkan cerita-cerita Israiliyat–bahkan bercampur dengan hadits. Dan tidak tanggung-tanggung, cerita itu merembes ke dalam Shahih Bukhari dan Muslim, demikian menurut penelitian Hasan ibn ‘Ali.

Lalu pada generasi kedua para perawi, “penyambung sanad” Israiliyat, antara lain: Nu’aim ibn Hammad, Muqatil ibn Sulaiman, Wahab ibn Munabbih, dan Muhammad ibn Karram as-Sijistani. Hingga sampailah pada masa dimana cerita Israiliyat berisi paham tajsim itu merasuk ke sebagian ulama mazhab Hanabilah, pengikut metodologi Imam Ahmad ibn Hanbal.

Versi ekstrimnya, dikemudian hari, dirumuskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim. Simaklah tulisan Ibn al-Qayyim dalam Ijtimâ’ al-Juyûsy al-Islâmiyyah:

“’Abdurrazzaq menyebutkan dari Ma’mar dari Ibnu al-Musayyab dari Abu Hurairah ra dari Nabi Saw, bahwa Nabi berkata: “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla turun ke langit dunia. Di setiap langit, Allah memiliki kursi. Ketika turun ke langit dunia, Allah duduk di kursi-Nya kemudian mengatakan “Siapa ini…” Saat subuh, Allah naik lalu duduk di atas kursi-Nya.”

Kalimat itu menyisakan satu pernafsiran: bahwa Allah bertempat. Karena bertempat, tentu saja ia sama dengan makhluknya yang membutuhkan tempat. Simak pula komentar Ibn al-Qayyim terhadap tulisan sebelumnya itu:

“Dalam Musnad Imam Ahmad, dari haditsnya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ada kisah tentang syafaat. Hadits itu, dengan isinya yang panjang, adalah marfu`. Dalam hadits itu ada keterangan: “Maka Tuhanku ‘azza wa jalla datang. Saya menemui-Nya sedang berada di kursi atau dipan-Nya seraya duduk.”

Bagaimana Allah duduk? Bagaimana Allah bertempat?

Kemudian pewaris tajsîm ala Ibnu-Taimiyah-Ibn-al-Qayyim itu adalah Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab. Ia menulisnya dalam risalah-risalanya, mengajarkannya pada para pengikutnya. Syaikh Hamud at-Tuwaijiry misalnya, menulis kitab dengan judul yang vulgar: “‘Aqîdah Ahl al-Imân fi Khalqi Adam ‘ala Shûrah ar-Rahmân” (Akidah Orang Beriman tentang Penciptaan Adam dalam Bentuk seperti Ar-Rahman [Allah]). Kitab ini bahkan disanjung-sanjung oleh Bin Baz.

Pun demikian, penisbatan pada Tuhan akan kita temukan berbeda dalam kredo Sunni arus utama (Asy’ariyah-Maturidiyah). Logika Sunni adalah logika afirmatif: Tuhan didefinisikan dengan propisisi bahasa dimana Dia menisbati Dzat-Nya sendiri. Sebagaimana kata Sayyidina Ali ibn Abi Thalib: Allâhu maujûd bilâ makân, wahuwa al-âna ‘ala mâ ‘alaihi kâna (Allah ada tanpa tempat, dan Dia berada dimana sekarang Dia berada).

Ini mirip dengan pendekatan filsafat bahasa ala Wittgenstein II, yang sekaligus meralat dan me-nasakh Wittgenstein I. “Bahasa bermakna dalam konteks penggunaannya,” demikian tulisnya dalam Philosophical Investigations. Wittgenstein II menyebutnya dengan language games.

Wittgenstein II mengembangkan pendapat bahwa bahasa memanfaatkan sesuatu yang disebut “analogi tentang yang berada”. Analogi ini menyiratkan bahwa ada keserupaan hanya dalam “hal tertentu” antara Yang-Berada dengan yang-berada, sehingga ia sampai dalam benak manusia.

Maka, dengan logika ini, “tangan Tuhan” dalam ayat yadullâh fauqa aydîhim bisa ditakwil dengan makna “kekuasaan Tuhan”. Dan jelas, ia bukan seperti tangan manusia! Laisa kamitslihi syai`un [Tiada satupun yang semisal dengan-Nya!].

Tagged: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s