Syariat itu “Menyejarah”

Sebagian umat Islam yang berpandangan literalis berpendapat bahwa hukum Islam itu tak terbatasi ruang dan waktu. Hukum Islam, menurut mereka, tak “menyejarah”. Islam  sudah sempurna sejak “bayi”. Sebab, bila Islam itu menyejarah, maka apa yang menjadi hukum Islam bisa diubah-ubah menyesuaikan zaman. Mereka menyatakan bahwa ketika hukum Islam sudah menjadi “teks”, maka ia adalah rujukan mutlak, tiada nilai tawar, tak bisa didialogkan, apalagi dipaksakan untuk menyesuaikan realita zaman yang telah berubah drastis dari sejak “teks” itu dimaktub.

Namun pandangan ahistoris yang demikian itu lemah. Fakta sejarah jelas membuktikan bahwa Al-Quran sendiri, sebagai rujukan paling utama umat Islam, tersusun sempurna dalam bentangan 22 tahun. Al-Quran banyak memuat respon dialogis: sebagai jawaban dari peristiwa atau pertanyaan dari para sahabat maupun Ahli Kitab terhadap Nabi Muhammad.

Dalam terbentuknya Al-Quran ada hubungan dialektis (‘alâqah jadaliyyah) antara wahyu di satu sisi dengan realita di sisil yang lain.  Dalam kasus tawanan Perang Badar, misalnya, saat Nabi dan Abu Bakar berbeda pendapat dengan Umar, wahyu turun membenarkan Umar. Ada 15 ayat dalam Al-Quran yang diawali kalimat yas’alûnaka (mereka [Ahli Kitab] bertanya padamu, Muhammad), lalu wahyu turun memberikan jawabannya. Bisa dikatakan, realitas atau sabab an-nuzûl itu sendiri adalah “co-author” Al-Quran.

Al-Quran, dengan demikian, tak datang dari ruang hampa. Ia “menyejarah”. Di antara fakta pendukung proposisi itu ialah bahwa dalam Al-Quran sendiri ada nasikh-mansukh (nasikh: yang menghapus; mansukh: yang dihapus). Ada ayat dalam Al-Qur’an  yang membatalkan hukum yang dinyatakan oleh ayat lain, baik di satu surat yang sama maupun di surat yang berlainan.

Contoh yang kerap dikutip tentang nasikh-mansukh antara lain adalah pemindahan kiblat dari Masjidil-Aqsha ke Masjidil-Haram (QS 2:144). Juga, mengenai iddah seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, dari setahun penuh (QS 2:240)  menjadi 4 bulan lebih 10 hari (QS 2:234).

***

Nasikh-mansukh itu, sebagaimana ditulis Ash-Shabuni dalam Rawâ’i al-Bayân tentang tafsir QS 2:106, ada tiga jenis. Pertama, ada hukum yang sudah dibatalkan berlakunya, tapi ayatnya termaktub dalam Al-Quran. Kedua, ada hukum yang sudah dibatalkan, sekaligus ayatnya juga sudah dibatalkan (di-nasakh), tak lagi termaktub dalam Al-Qur’an. Ketiga, ada hukum yang masih berlaku, tapi ayatnya sudah dihapus (di-nasakh), tak lagi termaktub dalam Al-Qur’an.

Yang pertama adalah yang terbanyak contohnya dalam Al-Quran. Contoh yang kedua, menurut pernyatan Aisyah yang direkam dalam Shahih Muslim bab Persusuan (Kitâb ar-Radhâ’), bahwa ada satu ayat Al-Qur’an turun berbunyi ‘asyru radha’âtin ma’lûmatin yuhramna. Ayat ini tiada dalam Al-Qur’an, dan hukumnya pun tak berlaku.

Contoh jenis nasikh-mansukh ketiga adalah, sebagaimana disebut oleh Az-Zarkasyi dalam Al-Burhân, hukum rajam bagi pezina muhshan itu berlaku hukumya, tapi tiada ayatnya dalam Al-Qur’an. Ayat yang “hilang” itu, menurut keterangan Az-Zarkasyi, tadinya ada di Surat an-Nur dan berbunyi: “Asy-syaikhu wasy-syaikhatu idza zaniyâ farjumûhâ al-battata nakâlan minallâh.”

Ayat itu memuat dalil hukum rajam bagi pezina muhshan. Ayatnya “terhapus”, tiada  dalam  Al-Quran, tapi  hukumnya berlaku. Diriwayatkan, terkait “hilangnya” ayat rajam itu, Sayyidina Umar berkata, “Kalau bukan karena orang-orang nanti  akan bilang Umar menambahi ayat Al-Quran, niscaya aku tulis ayat itu dengan tanganku.” Diriwayatkan pula dalam Shahih-nya Ibn Hibban, bahwa Ubay ibn Ka’b berkata, “Dulu Surat An-Nur itu panjangnya sama  dengan Surat Al-Ahzab.”  An-Nur kini ada 64 ayat. Al-Ahzab ada 73 ayat. Pertanyaan kritisnya: Kemana hilangnya ayat-ayat itu? Mengapa ayat itu tak ditulis?

Saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan itu. Tapi poin saya di sini adalah: bahkan dalam proses penulisan Al-Quran itu sendiri, dalam memasukkan-tidak-memasukkan sebuah ayat dalam Al-Quran, ada keterlibatan tangan manusia, yang tentu saja profan, dan itu bagian dari sejarah. Al-Quran mewujud sebagaimana yang kita baca hari ini bukanlah datang sekonyong-konyong dalam satu bundel rapi; langsung jadi dalam satu paket matang yang tinggal ditelan. Ia menyejarah.

***

Bentuk keterikatan erat antara Islam dengan realita sejarah adalah adanya prinsip kebertahapan (tadarruj) dan penerapan syariat. Masyhur diketahui, dalam Al-Quran ada ayat Makkiyah (turun sebelum hijrah) dan ayat Madaniyah (turun sesudah hijrah). Karakteristik dari Makkiyah adalah ayat-ayatnya cenderung menjelaskan persoalan akidah, teologi, dan hukum-hukum universal kemanusiaan. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah cenderung menjelaskan penerapan dari hukum universal itu dalam konteks masyarakat Madinah. Masyarakat Mekkah adalah masyarakat pedagang, dengan komposisi yang relatif homogen, sementara masyarakat Madinah adalah masyarakat agraris dengan komposisi yang cukup plural: Islam juga banyak bersinggungan dengan Ahli Kitab. Konteks yang berbeda turut memengaruhi jenis-jenis ayat yang turun padanya.

Di antara contoh yang kerap dikutip mengenai proses kebertahapan syariat yang termaktub dalam Al-Quran ialah hukum khamr. Pengharaman khamr itu sendiri melalui tiga tahap. Pertama, dengan menyatakan bahwa khamr itu lebih banyak mudaratanya dibanding manfaatnya (lihat QS 2:219).  Kedua, mulai muncul larangan meminum saat akan salat (lihat QS 4:43). Ketiga, barulah turun pengharama khamr secara mutlak (lihat QS 5:90). Di sini jelas kita tahu, ada dialog antara teks wahyu dengan realita sejarah.

***

Persoalannnya kemudian ialah: apakah dialog yang terjadi antara teks wahyu dengan realita sejarah itu berhenti seiring sudah selesainya penubuhan wahyu dalam korpus Al-Quran dan Sunnah? Apakah kita sebagai umat Islam hanya tinggal menerapkan saja isi teks Al-Quran tanpa mempertimbangkan realita kekinian?

Beberapa riwayat menuturkan berita menarik. Di masa Umar ibn al-Khattab menjadi amirul mukminin, pernah terjadi ia tak menerapkan syariat yang berkesusaian dengan  nash secara tekstual. Az-Zarqa’ dalam Al-Madkhal al-Fiqhiy al-‘Amm menceritakan  ada setidaknya tiga hal “baru” hasil “ijtihad” Umar.

Pertama, Umar pernah tidak membagikan hasil rampasan perang (ghanimah) berupa tanah kepada para prajurit perangnya denga ketentuan sebagaimana sudah diatur dalam teks wahyu. Umar berpandangan bahwa tanah itu tetap menjadi hal milik penduduk yang ditaklukkan, dan sebagai gantinya diaturlah kewajiban membayar kharaj. Pendapat Umar ini dilandasi pada argumen bahwa dengan diatur begitu maka kemanfaatanya akan lebih luas. Beberapa Sahabat sempat menghaturkan penolakannya pada ijtihad Umar itu, tapi setelah berjalan beberapa lama mereka menyetujuinya.

Kedua, Umar tidak memberikan zakat kepada para muallaf (yang baru masuk Islam; muallaf secara etimologis bermakna orang yang diperlakukan halus [agar senang saat masuk Islam]). Padahal, menurut ketentuan teks wahyu, muallaf termasuk dari 8 golongan yang berhak menerima zakat. Umar berpandangan bahwa tujuan syariat dari pemberian zakat kepada para muallaf sudah tiada. Di sini, sekali lagi, Umar lebih mengedepankan aspek maslahat ketimbang bunyi harfiah teks wahyu.

Ketiga,  Umar pernah tidak melaksanakan hukum potong tangan bagi pencuri. Ini terjadi pada saat Tahun Paceklik (Am ar-Ramâdah). Saat itu, ada seorang budak yang mencuri. Tapi  Umar tidak memotong tangannya, sebab budak itu amat lapar, kondisinya sedang susah cari pangan, dan tuan dari budak itu adalah tuan yang kikir pada budaknya. Dalam kasus ini, Umar nyata meninggalkan teks Al-Quran yang memuat ketentuan bahwa pencuri mesti dipotong tangannya. Umar beralih kepada sabda Nabi, “Idra`û al-hudûd  bi asy-syubuhât” (Hindarilah hukuman pidana pada kasus-kasus syubhat).

Di sini, sekali lagi kita tahu, ada hubungan dialektis antara teks wahyu dengan realitas historis. Syariat Islam itu “menyejarah”.

Tagged: , , , , , ,

One thought on “Syariat itu “Menyejarah”

  1. Abdullah 23/10/2013 pukul 17:10 Reply

    Specifik mengenai ayat rajam. Kenapa dihapus, siapa yang menghapus, dan terkait peristiwa apa? Apakah ada kaitannya dengan hadits dari Aisyah tentang lembar ayat yang dimakan kambing?
    Nyang udah punya ilmunya mohon di share. Sukron.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s