Asy-Syafi’i dan Ahlulbait

Nama lengkap Imam Asy-Syafi’i (150 – 204 H)  ialah: Muhammad ibn Idris ibn al-‘Abbas ibn Utsman, ibn Syafi’ ibn as-Sa`ib ibn ‘Ubaid ibn ‘Abdi Yazid ibn Hasyim ibn al-Muthalib ibn ‘Abdi Manaf. Nasab Asy-Syafi’i bertemu dengan nasab Nabi Muhammad di Simbah ‘Abdu Manaf. ‘Abdu Manaf punya 4 putera, yang dua di antaranya bernama Hasyim dan Muthalib. Hasyim yang menjadi mbah buyut-nya Nabi adalah paman dari Hasyim yang menjadi puak Asy-Syafi’i—nama yang sama tapi beda orang.

Asy-Syafi’i dengan demikian adalah orang Quraisy. Ia lahir di Gaza (menurut riwayat lain, lahir di ‘Asqalan), di perkampungan yang banyak dihuni orang-orang imigran dari Yaman. Mengenai perjalanan hidup Asy-Syafi’i sudah cukup masyhur. Dalam tulisan ini, saya hanya hendak menukil satu fragmen kisah hidup Asy-Syafi’i di peralihan antara Yaman ke Baghdad.

***

Selepas wafatnya Imam Malik, Asy-Syafi’i meninggalkan Madinah. Ia kemudian pergi ke Yaman—boleh jadi ini ada kaitannya dengan masa kecil Asy-Syafi’i di perkampungan Yaman. Waktu itu adalah masa Abbasiyah, dan Harun ar-Rasyid sedang menjadi rajanya. Gubernur Abbasiyah untuk ‘provinsi’ Yaman sangat pro-status quo, sehingga tak menyukai kelompok-kelompok yang menjadi oposisi pemerintahan Abbasiyah.

Menurut penuturan Al-Abiri dari Ar-Rabi’ ibn Sulaiman al-Muradi (murid Asy-Syafi’i), Asy-Syafi’i menceritakan pengalamannya waktu di Yaman. Dikatakannya, di Yaman waktu itu ada kelompok pendukung Ahlulbait, yang dinamai ‘Alawiyah, dan Asy-Syafi’i dekat dengan mereka.

Kemungkinan besar, ‘Alawiyah di Yaman waktu Asy-Syafi’i ke sana adalah ‘Alawiyah yang bermigrasi ke Yaman untuk menghindari represi Abbasiyah. Sebelumnya, banyak kelompok pendukung Ahlulbait yang terkonsetrasi di Basrah, Irak. Memang, tentang penamaan ‘Alawiyah pada kelompok yang ditemui Asy-Syafi’i di Yaman ini cukup janggal saat dicek dalam kronologi sejarah yang populer. Nama ‘Alawiyah yang terkenal, dan populer diketahui sebagai puak para sunan Wali Sanga (penyebar Islam di Nusantara), ialah penisbatan kepada keturunan Alawi ibn Ubaidillah ibn Ahmad al-Muhajir ibn Isa ar-Rumi ibn Muhammad an-Naqib ibn ‘Ali al-‘Uraidhi ibn Ja’far ash-Shadiq. ‘Ali al-‘Uraidhi adalah putra bungsu Imam Ja’far ash-Shadiq (Imam keenam-nya Syiah Imam Duabelas, atau Syiah Imamiyah).

‘Ali al-‘Uraidhi ini berbeda dengan dua kakaknya, Isma’il (yang meninggal mendahului Ja’far ash-Shadiq, dan menjad imam ketujuh sekte Syiah Isma’iliyah atau Syaih Tujuh) dan Musa al-Kazhim (yang menjadi imam ketujuh sekte Syiah Duabelas). ‘Ali al-‘Uraidhi punya putra Muhammad an-Naqib yang mengisolasi diri dari perpolitikan dan memilih hidup asketis (zuhud). Muhammad an-Naqib punya putra bernama ‘Isa ar-Rumi, yang menjadi pemimpin Ahlulbait di Basrah. Dan putra ‘Isa ar-Rumi, yang bernama Ahmad, tersebab kerasnya represi dari Abbasiyah, memutuskan hijrah ke Hadramaut, Yaman—dan karena ini ia diberi nisbat sifat Ahmad al-Muhajir (Ahmad yang hijrah).

Masa hidup Ahmad al-Muhajir sendiri ialah 241-345 H. Artinya, ia tak bertemu dengan Asy-Syafi’i yang wafat pada 204 H. Itu berarti, ‘Alawiyah yang ditemui Asy-Syafi’i di Yaman adalah ‘Alawiyah yang diduga keras adalah pendukung Ahlulbait yang tiada imam di kalangan mereka.

***

Ringkas ceritanya, gubernur Yaman berkirim surat ke Harun ar-Rasyid: “Ada sekelompok orang ‘Alawiyah sedang menggalang pergerakan. Saya khawatir mereka akan memberontak. Dan di sini ada seorang lelaki keturunan Syafi’ al-Muthalibi (Inna nâsan min al-‘Alawiyyah qad taharraku, wa innî akhâfu an yakhrujû, wa inna hâ hunâ rajulan min waladi Syafi’ al-Mutthalibiy).”

Maka Harun ar-Rasyid segera mengirimkan komando kepada gubernur Yaman agar membawa sekelompok ‘Alawiyah itu berserta Asy-Syafi’i ke istana Abbasiyah di Baghdad. Sesampai di istana, di samping Harun ar-Rasyid ada Muhammad ibn al-Hasan asy-Syaibani, murid terkasih Imam Abu Hanifah, peletak fondasi Mazhab Hanafi.

Pada saat itu juga, Harun ar-Rasyid hampir memerintahkan para algojo untuk memenggal kepala orang-orang ‘Alawiyah dan Asy-Syafi’i. “Sebentar, Ya Amiral-Mu`minin,” Asy-Syafi’i menghela komando, “Anda mampu melakukan apa yang Anda inginkan, sedangkan aku tidak mampu melakukan apa yang kuinginkan. Wahai Amirul-Mu`minin, apa pendapatmu tentang dua lelaki, yang satu menganggap lainnya sebagai saudaranya, yang satu menganggap lainnya sebagai budaknya. Mana yang lebih Anda sukai?”

“Yang menganggapmu sebagai saudaranya,” jawab Harun ar-Rasyid.

“Begitulah Anda, wahai Amirul-Mu`minin,” timpal Asy-Syafi’i, “Kalian adalah putra al-‘Abbas. Mereka adalah putra ‘Ali. Sedangkan kami adalah putra al-Mutthalib. Kalian putra al-‘Abbas menganggap kami sebagai saudara kalian, sedangkan mereka menganggap kita sebagai budak mereka.”

Harun ar-Rasyid terkesan dengan jawaban Asy-Syafi’i itu. Singkat kisah, setelah berdialog cukup lama dan Harun ar-Rasyid jadi tahu bahwa Asy-Syafi’i adalah orang yang alim nan faqih, maka dibebaskanlah kaum ‘Alawiyah berserta Asy-Syafi’i. Asy-Syafi’i bahkan diberi 50 ribu dirham, lalu uang itu dibagikannya kepada para penjaga gerbang istana dengan kompensasi semua naskah tulisan Muhammad Asy-Syaibani. Naskah yang berisi ilmu Muhammad Asy-Syaibani itu dipelajari Asy-Syafi’i untuk bekal debat keesokan harinya.

***

Asy-Syafi’i amat dekat dengan Ahlulbait. Karena itu tak mengherankan saat ia membela Ahlulbait dari tekanan penguasa Abbasiyah. Sikap ini menyebabkan Asy-Syafi’i dituduh sebagai Rafidhah (makna etimologisnya: penolak; tapi kerap dipakai penguasa Abbasiyah itu sebagai sematan kepada kaum Syiah, yang jadi kelompok oposisi).

Atas tuduhan itu, Asy-Syafi’i menjawabnya dengan satu syair yang masyhur diketahu, juga termaktub dalam antologi puisi (dîwân) Asy-Syafi’i: In kâna rafdhan hubbu âli Muhammadi, falyasyhad at-tsaqalân annî râfidhiy (Jika mencintai keluarga Nabi dianggap Rafidhah, maka saksikanlah, jin dan manusian, bahwa saya seorang Rafidhah).

Tagged: , , , , , ,

2 thoughts on “Asy-Syafi’i dan Ahlulbait

  1. Abdullah 23/10/2013 pukul 16:41 Reply

    “Kalian adalah putra al abbas. Mereka adalah putra ali. Sedangkan kami adalah putra al mutthalib. Kalian menganggap kami sebagai saudara kalian. Sedangkan mereka menganggap kita sebagai budaknya”

    Suka

  2. Abdullah 23/10/2013 pukul 16:44 Reply

    “Kalian adalah putra al abbas. Mereka adalah putra ali. Sedangkan kami adalah putra al mutthalib. Kalian menganggap kami sebagai saudara kalian. Sedangkan mereka menganggap kita sebagai budak mereka”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s