Vicky, Toni Blank, Parodi

Bagi yang akrab dengan dunia maya, suka mengkuti berita infotainment, terutama anak muda, banyak yang mendapati penggunaan bahasa Indonesia “gaya bebas” oleh Vicky Prasetyo. Video wawancaranya diunggah di Youtube beberapa pekan lalu, dan laris ditonton ribuan orang. Gaya bahasa Vicky itu kini menjadi tren bahan guyon di kalangan anak muda.

Tulisan ini tidak hendak membahas apa skandal yang terjadi dalam kehidupan Vicky Prasetyo sampai ia ditangkap polisi. Tulisan ini hanya membahas dampak dari gaya bahasa yang “ngintelek”. Bahasa yang dipakai seseorang bisa menjadi penanda sifat-sifatnya. Berikut petikan ucapan Vicky yang menghebohkan itu:

“Di usiaku saat ini… ya twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi karena basically aku suka musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menunjukkan konspirasi kemakmuran yang kita pilih. Kita belajar pada harmonisisasi pada hal yang terkecil sampai yang terbesar, nggak boleh ego terhadap satu kepentingan & mengkudeta apa yang menjadi keinginan. Ini bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia tetapi menjadi confident. Kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita lebih baik. Dan aku sangat bangga.”

Anda paham dengan ungkapan itu? Banyak orang menertawakannya. Itu menggelikan. Artinya, ia menjadi selingan hiburan dengan model baru, saat orang mulai bosan dengan gaya candaaan di TV yang cenderung memakai gaya mengejek fisik lawan mainnya.

Bahasa Vicky adalah campuran antara bahasa gaul dengan bahasa intelektual-politik. Di sana banyak serapan Inggris. Tapi yang membuat orang geli adalah, bahasa intelektual itu ditempatkan tidak pada yang semestinya. Boleh juga disebut “ngawurisasi”. Lihat pilihan katanya: kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, harmonisisasi, kudeta apa yang menjadi keinginan, mempersuram statusisasi, labil ekonomi.

Tampak bagimana kata, di otak Vicky, menjadi begitu liar. Ia lepas dari konteksnya. Kata “konspirasi”, misalnya, erat kaitannya dengan tema politik, tapi disandingkan dengan “kemakmuran”. Kata “kontoversi” adalah bahasa wacana media massa, tapi disandingkan “hati”. Bagaimana jadinya maknanya?

Bahasa Vicky ini turut mengingatkan publik akan fenomena Toni Blank beberapa tahun lalu. Toni adalah warga Yogyakarta yang, entah bagaimana bermula, didaulat menjadi “pengamat serba tahu” oleh sebuah tim kreatif di Yogyakarta. Video Toni Blank diunggah di Youtube, dan gaya ia bicara mirip Vicky.

Suatu saat, Mas Toni Blank ditanya, “Mas Toni tahu KPK?” Jawaban Mas Toni: “KPK adalah suatu komisi pemberantasan koruptor atau yang disebut MACC, mass organization commitment human rights.” Mas Toni juga pernah ditanya: “Presiden itu apa, Mas?” Dan jawaban sang pengamat serba tahu itu ialah: “Presiden adalah suatu kepada negara yang mengatur suatu musik atau simfoni kecerdasan anak bangsa dan memilih suatu harkat dan martabat yang wajib menjatuhkan sebuah nilai satu untuk kecerdasan anak bangsa yang wajib diselamatkan.”

Beda antara Vicky dengan Toni Blank, menurut saya, adalah Vicky amat percaya diri, atau—meminjam bahasa dia sendiri adalah—confident. Dia bukan orang gila. Bahkan dia tampak tak merasa bersalah dengan bahasanya itu. Sedangkan Toni Blank memang (maaf) bukan orang waras. Bahasa Toni Blank lebih cenderung mirip parodi: ia sindiran bagi kaum intelektual negeri ini. Toni ditahbiskan jadi pengamat, sebab dia tahu kata-kata kunci yang kerap digunakan kaum intelektual.

Namun demikian, fenomena Vikcy dan Toni Blank membawa berkah pula. Ada dua hal yang bisa menjadi pelajaran darinya. Pertama, kita orang Indonesia, selain mengalami “minder” berbahasa Indonesia, juga kerap menciptakan kata-kata baru, yang bukannya kreatif, tapi malah merusak. Naasnya, kata yang merusak itu jadi populer di kalangan kawula remaja, dan para artis ikut memasyhurkannya: menjadikannya citra pemuda gaul dan update tren mutakhir.

Sebutlah beberapa contoh kosakata yang dulu sempat ngetren, semacam “Alhamudillah yah, sesuatu”. Atau beberapa kosakata alay yang menghinggapi remaja kita, seperti cemungudh eaa (semangat, ya), ciyus (serius), enelan (beneran), miapah (demi apa), dsb.

Filsuf analitika bahasa, Ludwig Wittgenstein (1889-1951), pernah mengajukan tesis tentang picture theory. Ia berpandangan, bahasa adalah penggambaran dari realitas dunia para penggunanya. Dulu, sebab jiwa pemuda Indonesia adalah perjuangan maka slogan-slogan bahasanya bernada semangat: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, merdeka atau mati!’ Kini, bahasa-bahasa remaja Indonesia sangat “kreatif”, orisinil, asli buatan remaja Indonesia sendiri, dan sepertinya tidak mungkin bisa dibajak atau diplagiasi.

Kedua, bahwa pilihan kata seseorang turut menentukan citranya. Bila Anda kerap memakai kata-kata yang “ngilmiah” dengan kata yang banyak berakhiran “-isasi”, atau kerap memakai serapan bahasa Inggris, lazim orang memandang Anda sebagai orang dari kalangan intelektual.

Tendensi ini tampak kerap ditemui di sebagian kaum intelektual negeri ini. Pilihan kata kadang tampak lebih dipentingkan ketimbang substansi maksud yang hendak disampaikan. Saat orang sudah berpendidikan tinggi tampaknya gengsi bila dalam analisisnya tidak memakai kata-kata serapan asing. Padahal kata-kata itu bisa dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Vicky dan Toni Blank adalah sindiran agar kita bangga pada bahasa nasional kita sendiri.

Vicky dan Toni Blank juga merupakan kritik: bahwa orang pintar tidak dilihat dari gaya bahasa dan pilihan katanya. Orang yang cerdas justru adalah yang bisa menyederhanakan persoalan rumit dengan memakai kata-kata sederhana dan bisa dipahami orang awam.

Vicky dan Toni Blank adalah sindirian intelektual bagi kita. Saat menulis artikel inipun, saya cukup khawatir, jangan-jangan ada “unsur” Vicky dan Toni Blank dalam tulisan ini. Hehehe….

Tagged: , , , , , , ,

One thought on “Vicky, Toni Blank, Parodi

  1. Wisnu Putra 22/10/2013 pukul 11:03 Reply

    kalau Woody Allen bilang: KISS (keep it simple, stupid!)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s