Korupsi, Agama, dan Moral

Salah satu pelajaran penting dari berita heboh mengenai skandal suap di Mahkamah Konstitusi (MK) ialah: apakah pendidikan agama memiliki korelasi positif pada penekanan syahwat korupsi?

Beberapa orang yang ditangkap KPK itu, AM, CN, RAC, bukanlah orang-orang yang awam agama, bahkan pernah aktif di lembaga agama. Dari beberapa sumber yang saya dapatkan, AM pernah tercatat sebagai anggota Lembaga Hikmah PP Muhammadiyah. CN yang juga seorang dosen, muslimah, dan berjilbab ini, pernah kuliah S1 di IAIN Yogyakarta, S2 IAIN Jakarta, dan pernah tercatat sebagai bendahara MUI.

Memang, mereka yang tertangkap belum selesai menjalani proses hukum; belum resmi terpidana. Namun, biasanya dalam kasus tertangkap tangan sebagaimana yang mereka alami sepertinya susah untuk bisa mengelak dari dakwaan. Apalagi, biasanya KPK sudah mengantongi bukti-bukti kuat sebelum menangkap sasarannya.

Mereka yang kini harus menjalani proses hukum itu juga tak lagi punya kaitan dengan lembaga agama yang dulu mendidik atau menggunakan tenaga mereka. Tapi jelas bahwa mereka bukan orang yang tak mengerti agama; bukan orang yang tak mengerti bahwa menyuap itu dosa. Saya yakin, mereka cukup hafal hadis Nabi, “Ar-rasyi wa al-murtasyi kulluhum fin-nar” (Penyuap dan yang disuap, semuanya akan masuk neraka).

Dari kasus ini kita sekali lagi mengambil pelajaran tentang hubungan antara pengetahuan agama dengan moral. Ironi besar di dunia perkorupsian tampaknya juga bukan rahasia lagi: tingkat korupsi terbesar dari semua kementerian justru ada di kementerian agama. Kasus penangkapan mereka kembali mengingatkan kita akan kasus korupsi pengadaan Alquran yang heboh di tahun lalu—apalagi CN diduga punya ‘saham’ dalam kasus itu.

Habitus

Pertanyaan yang amat mendasar di sini ialah: apakah pendidikan agama sangat efektif untuk memperbaiki moralitas masyarakat? Apakah kebejatan moral terjadi tanpa ada rasa takut akan dosa? Ada sejumlah asumsi simplistis di kalangan pemegang kebijakan pendidikan. Yakni, bahwa saat menemukan kasus kebejatan moral remaja maka serta merta diambil kesimpulan bahwa jumlah jam pendidikan agama mesti ditingkatkan.

Saya cenderung berpendapat bahwa pendidikan agama tak begitu efektif menekan laju dekadensi moral. Sebab hal-hal yang paling banyak menggerakkan moralitas bukanlah pengetahuan agama, melainkan lingkungan dan habitus (kebiasaan).

Pengertian dari moral sendiri, bila kita lihat di berbagai referensi, baik filsafat maupun tasawuf, hampir sama: tata nilai yang merasuk ke alam bawah sadar masyarakat.  Ulama besar Al-Ghazali menuturkan bahwa pengertian moral atau akhlak ialah: al-af’al bi suhulah wa yasr min ghairi fikr wa rawiyyah (tindak tanduk yang muncul dengan spontan, tanpa pikir panjang). Pemahaman filsafati terhadap moral, yang berasal dari bahasa Prancis ‘morale’, ialah “proper behavior of a person in society” (tingkah laku yang pantas dalam bermasyarakat).

Jadi, dalam moralitas, yang paling banyak bermain adalah unsur kesadaran dari manusia, bukan pengetahuan kognitifnya; bukan seberapa banyak seseorang mengetahui dalil dan hukum halal-haram. Faktor terbesar yang membentuk kesadaran masyarakat ialah kebiasaan lingkungannya. Sering kita ketahui, beberapa tata nilai yang dulu dianggap tabu, kini dipersepsikan sebagai lumrah saja, sebab sudah biasa dilakukan.

Begitu pulalah yang terjadi dalam dunia perkorupsian. Mengapa korupsi seperti sudah menggurita di kalangan pejabat? Sebab praktik rasuah itu sudah “terbiasa” terjadi, bahkan semacam mendapat permakluman. Maka dari itu, hal yang pertama kali wajib dilakukan kepada para pejabat bukanlah menambah kajian taklim agama, tapi membabat lingkungan pemerintahan yang subur bagi benih-benih korupsi.

Bicaralah!

Ajaran agama dalam lingkungan pejabat semestinya tidak lagi banyak bicara soal dosa. Sebab ingatan akan dosa mungkin sudah hilang dari memori para koruptor itu. Agar orang bisa ingat akan dosa, dalam kajian tasawud, ia harus memiliki tingkat muraqabah (merasa diawasi) yang tinggi.

Namun sayangnya, bahkan seorang yang beriman pun ketika ia sedang melakukan kebejatan moral, sejatinya sisi muraqabah itu hilang. Orang yang sedang korupsi sejatinya imannya sedang hilang. “La yasriq as-sariq hina yasriq wahuwa mu`min, wala yazni az-zani hina yazni wahuwa mu`min”, demikian dinyatakan sebuah hadits sahih yang amat masyhur itu, “Pencuri tidak mencuri—ketika ia sedang mencuri—sedang ia dalam keadaan beriman, dan pezina tidak berzina—ketika ia sedang berzina—sedang ia dalam keadaan beriman.” Hadits ini memberikan kesimpulan, bahwa pelaku maksiat sejatinya sedang kehilangan iman ketika dia melakukan maksiatnya.

Karena itu, yang mesti diambil dari agama adalah ajarannya yang mampu memotivasi & menggerakkan para pejabat jujur di dalam lingkungan pemerintahan sendiri untuk berani bicara. Itulah makna jihad yang sesungguhnya. Di antara sabda Nabi ada yang berbunyi, “Afdhalul-jihad qawlul-haqq ’inda sulthanin ja’ir” (Seutama-utama jihad ialah mengutarakan kebenaran di depan penguasa tiranik). “Penguasa yang tiranik” itu bisa pula kita tafsirkan dengan lingkungan pemerintahan yang melazimkan korupsi.

Kepada para pejabat yang jujur, beranilah bicara untuk membabat korupsi dari dalam lingkungan pemerintahan!

~ Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 11/10/2013

Tagged: , ,

3 thoughts on “Korupsi, Agama, dan Moral

  1. sjamsudin 23/10/2013 pukul 07:58 Reply

    oleh karena itulah Islam menyampaikan ajaran yang lengkap untuk didalami secara kognitif maupun asertif nya.. mengajarkan..goal, dan lalu isi isi dalam tahapan mencapai goal nya itu…..sederhanaya “ilmu & praktek” harus menjadi satu sinergi yang membawa berkah….dan kebanyakan kita belum sampai kesana….

    Suka

  2. Abdullah 23/10/2013 pukul 16:10 Reply

    Islam lengkap (dan sempurna) ?
    Benar, tetapi dalam tingkatan teori dan penafsiran saja. Semakin cerdas seorang agamawan maka akan semakin bagus tafsirnya. Di level ini, semua agama juga bisa dikatakan lengkap.

    Suka

  3. […] ~ Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 11/10/2013 Sumber: https://azisaf.wordpress.com/2013/10/11/korupsi-agama-dan-moral/ […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s