“Allah” Punya Siapa?

Pengadilan Malaysia, pada pertengahan Oktober 2013, menyatakan larangan kepada sebuah koran Kristen, The Herald, menggunakan kata “Allah”. Putusan ini adalah pembatalan terhadap putusan sebelumnya dari pengadilan yang lebih rendah yang membolehkan. Kata Ketua Hakim Mohamed Apandi Ali: “Penggunaan kata Allah bukanlah bagian integral dari keyakinan Kristiani. Penggunaan kata ini akan menyebabkan kebingungan di komunitas.” (BBC, 14/10)

Sengketa penggunaan kata “Allah” ini sudah bermula sejak pertengahan dekade 2000-an. Bahkan sudah sejak 1998, Sultan Negeri Selangor sudah menerbitkan dekrit yang menyatakan bahwa istilah “Allah” adalah eksklusif milik umat Islam, dan karena itu tidak boleh dipakai agama lain.

Keputusan pelarangan kata “Allah” bagi Kristiani tentu saja menyulut kontroversi. Tidak hanya kalangan Kristen yang memprotes. Sebagian aktivis Muslim di Malaysia turut memprihatinkan keputusan itu sebagai bentuk kemunduran dalam pengembangan hukum terhadap kaum minoritas. Kristen ada sekitar 6 persen dari seluruh penduduk Malaysia.

***

Sejauh yang saya teliti, pelarangan penggunaan kata “Allah” bagi non-Muslim itu sekurang-kurangnya berbasis pada dua argumen. Pertama, selain diduga akan membingungkan masyarakat, penggunaan kata “Allah” oleh non-Muslim diduga mengandung misi keagamaan Kristen. Alasannya sederhana saja: Tuhan orang Kristen di bahasa Inggris disebut “God”. Kristenisasi di Asia Tenggara berasal dari Barat. Kenapa tidak pakai “God” saja, dan bukan “Allah” yang berasal dari bahasa Arab? Di sini terduga ada pertimbangan misiologis.

Kedua, tiada nama baku untuk Tuhan bagi orang Kristen. Bahasa asli-orisinil Alkitab ialah Ibrani. Dalam bahasa Ibrani, Tuhan diberi “nama diri”—dan ditulis dalam huruf Latin—dengan YHWH (tetragrammaton). Bagi orang Ibrani (Israel), kata itu terlalu suci untuk disebut. Dan karena khawatir akan menodai kesucian kata itu saat disebut, maka digantilah dengan sebutan lain seperti “Adonai” (Tuanku yang Perkasa), “Ha-shem” (Nama Itu), “Elohim”, dan “El”. (Catatan: tak sedikit pakar filologi yang berpandangan bahwa kata “Allah” adalah versi Arab dari kata “El” di bahasa Ibrani. Bahasa Arab dan Ibrani termasuk rumpun bahasa Semit).

“YHWH” itu sendiri, yang tak berani diucapkan orang Ibrani, tak memiliki ejaan pasti. Ejaan seperti “Yahweh”, atau “Yehova”, sebenarnya merupakan ejaan yang spekulatif. Intinya, nama diri untuk Tuhan dalam Alkitab tak punya penyebutan yang satu, pasti, dan meyakinkan. Maka nama Tuhan disebut berbeda-beda oleh Alkitab di berbagai versi bahasa.

Sehingga wajar jika di internal Kristen sendiri muncul sekte seperti Saksi Yehova, Siswa-siswa Alkitab, dan lain semacamnya, yang ingin mengembalikan Kristen ke bahasa aslinya, Ibrani, dan menyebut Tuhannya dengan “Yahweh/Yehova”. Apa yang terjadi di Kristen ini jelas berbeda dengan Islam yang, dengan bahasa apapun, tetap menyebut nama diri (proper name) Tuhannya dengan “Allah”.

***

Beberapa catatan penting layak diajukan untuk mempertimbangkan lagi kekuatan argumen pelarangan penggunaan kata “Allah” itu. Pertama, kata “Allah” itu berasal dari masyarakat Arab. “Allah” adalah nama salah satu Tuhan orang Arab-paganis. Orang Arab-Jahiliyah itu, saat ditanyai siapa pencipta langit dan bumi, mereka menjawab “Allah”. (lihat, misalnya, QS 29:21; 31:25; 39:38)

Orang-orang Yahudi-Madinah dan Nasrani-Najran yang berdialog dengan Nabi pun menggunakan “Allah” untuk nama Tuhan mereka. Ini banyak disebut dalam Al-Quran. Tampaknya juga belum pernah terdapati bahwa Nabi melarang Yahudi-Madinah dan Nasrani-Najran menggunakan kata “Allah”. Bahkan terekam dalam QS Ali Imran 3:64, saat berdebat dengan Ahli Kitab, Nabi diperintah untuk berkata: “Marilah kita menuju statemen yang sama: yakni tidak menyembah selain pada Allah.” Terang di ayat ini, kata itu sama: “Allah”.

Kata “Allah” sudah dipakai orang Arab sebelum risalah Muhammad terbit di muka bumi. Nama ayah Nabi Muhammad ialah Abdullah (hamba Allah). Dari dulu hingga kini, orang-orang non-Muslim di Arab menggunakan kata “Allah” untuk menyebut Tuhan, dan tiada seorangpun ulama yang melarangnya—meski tetap ditambahi penjelasan bahwa konsep “Allah” dalam Islam dengan agama lain berbeda.

Bahkan, sekalipun beda konsep pemaknaan kata “Allah”, tak bisa jadi alasan pelarangan agama lain untuk menggunakan kata itu. Jangankan di beda agama, di internal skisma umat Islam sendiri pemaknaan kata “Allah” tidaklah satu pendapat. Di awal sejarah Islam, muncul kelompok Shifatiyyah (yang berpandangna bahwa Dzat Allah punya sifat) dan Mu’atthilah (yang berpandangan bahwa Dzat Allah tak punya sifat). “Allah” dalam konsep aliran Asy’ariyah, berbeda dengan “Allah” dalam konsep Mu’tazilah, berbeda pula dengan konsepnya Mujassimah.

Ahli nahwu dan pakar filologi Arab pun tak sependapat: apakah “Allah” itu merupakan nama diri (proper name) atau nama umum (common name). Mereka juga tak bersetuju: apakah “Allah” itu kata yang jamid (tak punya derivasi), atau musytaq (derivasi dari kata al-ilah).

Kedua, bila mau yang lebih radikal, bisa dikatakan bahwa Islamlah yang mengambil nama Allah dari kosakata Arab. Di awal wahyu turun, Al-Quran memperkenalkan nama Tuhan dengan “Rabb” (iqra’ bismi rabbika), sebagai manifestasi pengenalan konsep baru (yakni Rabb yang menciptakan [alladzi khalaq]). Islam tidak membawa nama Tuhan yang benar-benar baru dan lain. Islam mengambil nama yang sudah dipakai orang Arab. Artinya, Islam tak bisa memonopoli penggunaan kata Allah.

Nabi-nabi dari keturunan Israel, dari Nabi Yusuf, Nabi Musa, hingga Nabi Isa, tidak menyebut Tuhannya dengan bahasa Arab, “Allah”. Nabi-nabi itu diutus dan berbicara dengan bahasa kaumnya: Ibrani. Padahal, klaim Al-Quran jelas bahwa mereka juga muslim. Kalau mau dinyatakan agak kasar siapa pemilik kata “Allah”, maka itu ialah penciptanya, yakni orang-orang Arab, bukan Islam itu sendiri.

Ketiga, alasan misiologis penggunaan kata “Allah” oleh orang Kristen itu, menurut, saya berlebihan. Alasan misiologis tak bisa dipakai untuk melarang penggunaan kata. Kalau logika ini dibalik, maka umat Islam awal pun bisa dilarang menggunakan kata “Allah” sebab ada unsur misiologis: umat Islam memakai kata yang sudah dipakai oleh orang Arab-Jahiliyah.

~ Kotagede, 22 Oktober 2013

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s