Menyoal Hadis tentang Anjing

Dalam debat umat Islam mengenai status anjing, persoalan yang terjadi tidaklah sesimpel ejekan terhadap keterbelakangan umat Islam yang, setelah menjejakkan kaki di abad 21, masih juga berdebat mengenai hukum anjing. Orang bisa saja melakukan kritik semacam itu. Silakan. Namun, kritik itu tidaklah menyentuh jantung problemnya. Kritik itu hanya mudah diterima oleh yang berpandangan “hadis yang bertentangan dengan nalar mestinya diabaikan”. Kenyataannya, mayoritas muslim saat ini punya “iman” yang kuat terhadap teks hadis. Artinya, kita akan terus tidak layak didengar oleh banyak umat Islam selama argumen yang kita bangun berdasar penalaran semata dan tak berlandas pada teks atau metodologi yang diakui.

Faktanya ialah ada sekian banyak hadis sahih berbicara hal yang cenderung negatif mengenai anjing. Sebagian darinya termaktub di Shahih Bukhari dan Muslim. Dua kitab itu, sebagaimana diakui mayoritas ulama Sunni, adalah kitab tersahih, terselektif dalam menyeleksi para perawi dalam transmisi (sanad), tervalidasi paling akurat setelah Al-Quran (ashahh al-kutub ba’da kitâbillâh). Umat Islam—terutama Sunni—saat ini tidak punya akses menuju apa yang dikatakan Nabi Muhamamad yang melebihi validitas kedua kitab sahih itu.

Di sini problemnya ialah: kalau kita semata-mata menolak suatu hadis atas dasar nalar semata, maka yang terjadi ialah cherry picking (mengambil yang manis [yang masuk akal], membuang yang sepah [yang tak rasional]). Dalam logika demikian, yang terjadi adalah inkonsistensi. Karena itulah, sangat dimaklumi ketika mayoritas umat Islam, dalam menafsiri hadis-hadis tentang anjing yang “tak masuk akal”, berusaha sebisa mungkin melakukan kompromi, baik dengan menghadapkannya dengan Al-Quran yang lebih tinggi statusnya, membandingkannya dengan hadis lain, atau kalau tak bisa ya ditakwil. Yang penting tidak sampai membuang hadis itu, selama sanadnya sahih. [Sayangnya, kritik mata rantai periwayatan hadis (sanad) amat berkembang dalam khazanah Islam, namun kritik isi hadis (matan) relatif minim].

Dengan memahami hal itu, cukup wajar bila sikap kebanyakan umat Islam amat hati-hati saat berbicara tentang hadis sahih—sekalipun itu tak masuk akal dalam nalar orang modern. Tulisan tentang status anjing dalam tinjaun hadis-hadis sahih ini hendak mengutarakan pandangan dalam kerangka itu: mencoba menggunakan metodologi yang diakui oleh argumen audien. Dua hal yang hendak dibahas di sini: status kenajisannya dan hukum memeliharanya.

***

Dalam soal status kenajisan anjing, sebenarnya tiada masalah berarti. Status kenajisan anjing menjadi bahan perbedaan yang masyhur di kalangan pakar hukum Islam klasik: (1) menurut Mazhab Syafi’i dan Hanbali, tubuh anjing seluruhnya najis; (2) menurut mazhab Abu Hanifah, hanya mulut dan air liurnya saja yang najis; (3) menurut Mazhab Maliki, anjing tidaklah najis secara mutlak.

Mengapa perbedaaan pandangan ini bisa terjadi? Redaksi asli hadis tentang najisnya anjing itu begini: “Sucinya bejanamu yang dijilat anjing ialah dengan membasuhnya tujuh kali, salah satunya dengan debu” (HR Bukhari & Muslim). Kata kunci dalam hadis ini ialah “dijilat” (Arabnya: walagha, wulûgh).

Interpretasi ulama fiqh terhadap kata “dijilat” itu tak sesederhana yang terlintas di pikiran awam. Menurut Syafi’iyah dan Hanabilah: kalau jilatannya saja najis, sementara lidah hanya menjilat yang bersih-bersih, apalagi tubuhnya yang belepotan kotoran. Di sini berlaku qiyas-awlawy (contoh lainnya: logika tafsir terhadap ayat “jangan dekati zina” yang kemudian dihasilkan kesimpulan “kalau mendekati saja tak boleh apalagi melakukannya”). Maka tubuh, kulit, dan keringat anjing pun najis.

Menurut Hanafiyah, anjing itu tidak najis di dalam dirinya sendiri (najis al-‘ain). Al-Quran hanya menyebut babi sebagai satu-satunya hewan yang najis (rijs) di dalam dirinya sendiri (lihat QS 6:145). Maka, Hanafiyah berpegang pada teks hadis itu semata: Karena hadisnya hanya menyebut jilatan, maka mulut & liurnya saja yang najis. Selebihnya tidak.

Sedang menurut Malikiyah, bahwa ada perintah membasuh tujuh kali itu sama sekali tak berhubungan dengan kenajisan anjing. Logikanya simpel saja: bukan saja anjing, ayam, kucing, burung, dan hewan-hewan lain yang minum di gelas anda pun kemudian akan anda basuh gelas itu. Alasan di balik hadis itu adalah faktor kebersihan belaka. Adapun ketentuan “tujuh kali dan salah satunya pakai debu” itu tak lain bersifat ta’abbudi (ritual; tak punya rasionalisasi).

Tentang perbedaan pandangan tentang kenajisan anjing ini sebenarnya bukan hal baru. Bagi yang akrab dengan studi fikih lintas mazhab, beda interpretasi semacam itu sudah biasa.

[Note: Di sini ada pelajaran menarik. Yakni, bahwa teks hadis yang segamblang itu ternyata menghasilkan tiga pendapat yang berbeda. Jangankan satu teks, satu kata—bahkan satu harakat dalam sebuah kata—di dalam teks yang sama saja, bisa menyisakan perbedaan mazhab. Karena itu hindarilah pikiran simplistis dalam menafsirkan teks, baik ayat maupun hadis.]

***

Persoalan yang lebih rumit terkait hukum anjing sebenarnya adalah hukum memeliharanya. Ada setidaknya dua hadis sahih yang susah diterima nalar modern.

Pertama, hadis sahih riwayat Bukhari (no. 3225, 3322, & 4002—sesuai penomoran di al-Maktabah asy-Syamilah). Ketiga hadis itu menyatakan dengan redaksi berbeda, tapi intinya sama: “Malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar/patung.” Hadis yang senada juga ada di Shahih Muslim (no. 5633, 5635, & 5636—sesuai penomoran di al-Maktabah asy-Syamilah)

Kedua, hadis sahih riwayat Bukhari (no. 2145) & Muslim (no. 2974, 2943), yang intinya: siapa yang memelihara anjing maka dikurangi pahalanya di setiap harinya sebesar satu qîrâth, kecuali dengan alasan untuk berburu atau menjaga ternak. (Note: Saya agak tergelitik baca hadis ini: kok pahala punya ukuran dengan satuan berat: qirath [sekitar setengah gram, bahkan ada yang bilang sebesar gunung Uhud]?)

Dari kedua hadis itu, sebagian besar ulama, bahkan yang terhitung ‘moderat’ seperti lembaga fatwa Mesir (Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah) yang berisi ulama Al-Azhar, menyatakan: haram hukumnya memelihara anjing kecuali atas alasan untuk berburu dan menjaga ternak/rumah. Jadi, kalau memelihara anjing atas dasar hobi, menurut sebagian besar ulama, itu haram hukumnya.

***

Ada tiga hal yang perlu jadi pertimbangan sebelum kita bulat menerima kedua hadis anjing itu.

Pertama, terhadap kedua hadis di atas, tentu nalar kita dengan segera akan mengajukan banyak pertanyaan: Bukankah Al-Quran justru menghargai anjing dengan menjadikanya hewan yang terlatih untuk berburu (QS 4:107) juga bagian dari kisah magis Ashabul Kahfi? Mengapa anjing dipandang sedemikian hitamnya di hadis di atas?

Bukankah hadis shahih Bukhari sendiri juga mengisahkan seorang lelaki (menurut cerita yang populer tapi belum saya tahu validitasnya: seorang pelacur) yang masuk surga dengan wasilah memberi minum anjing yang kehausan? Bukankah kalau rumah yang ada anjingnya tak dimasuki malaikat maka orang bisa bebas berbuat dosa & tak akan mati di dalam rumah itu (sebab malaikat Izrail, Raqib, & ‘Atid masih menunggu di luar rumah)? Singkat kalimat, keliaran akal dalam mengambil kesimpulan dari hadis di atas tak bisa dibendung. Ia menyentuh bukan saja status anjing melainkan juga bangunan teologi Islam. Nyatanya, pertanyaan-pertanyaan itu sudah dirasakan oleh bukan saja orang modern, tapi ulama klasik. Maka, agar tak terjadi paradoks, sementara iman kepada malaikat adalah salah satu dari 6 rukun iman, sebagian ulama kemudian melakukan spesifikasi (takhshish).

Diketengahkan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani terhadap hadis “malaikat tak masuk rumah yang ada anjingnya itu” bahwa Ibn Waddhah dan al-Khattabi menyatakan: “Malaikat hafazhah (penjaga, pencatat amal) tetap ikut masuk, sebab malaikat hafazhah harus terus membersamai manusia di segala kondisi.” Sebagian ulama lain menyatakan, kata “malaikat” di situ hanya berlaku spesifik untuk Jibril, berdasar pada asbabul-wurud bahwa suatu ketika Rasulullah tiba-tiba tak mau keluar dari rumah yang ada anjingnya tersebab malaikat Jibril tak mau masuk ke dalam rumah itu, sehingga wahyu tak bisa tersampaikan.

Tentang memelihara anjing (kecuali atas tujuan syar’i) yang mengurangi pahala itu pun beda pendapat terjadi. Beda pendapat terjadi sebab satu nalar: bukankah seseorang berkurang-bertambah pahalanya sebab amalnya, dan bukan sebab anjing? Terhadap pertanyaan ini, pandangan terkuat menyatakan: pahala itu dikurangi karena si pemiara melanggar teks hadis larangan memelihara anjing itu sendiri. Sangat tampak dalam kesimpulan ini, sekalipun menyisakan banyak kritik, teks hadis itu tetap dipaksakan agar dipertahankan.

Pendapat-pendapat terkait interpretasi terhadap hadis itu amat banyak. Anda bisa membacanya di syarah hadis-hadis itu (Fath al-Bari, ‘Umdah al-Qari, & Syarh Shahih Muslim). Tentu akan memanjangkan tulisan ini jika semua pendapat diketengahkan. [Note: saya sendiri merasa capek baca komentar-komentar ulama tentang hadis itu. Pendapatnya amat beragam. Kadang-kadang, komentar mereka ada yang sangat tak logis sebab kuat terasa adanya kehendak ingin memaksakan agar hadis itu tetap bisa diterima; tidak diabaikan, sebab sudah diriwayatkan al-Bukhari]

Poin saya adalah: jelas bahwa sejak masa ulama klasik pun sudah dirasakan ada yang paradoks di dalam hadis anjing itu. Selain bertentangan dengan statemen Al-Quran bahwa setiap jiwa senantiasa diiringi oleh “malaikat” penjaga (in kullu nafsin lama ‘alayha hâfizh), hadis itu juga mengandung idhtirâb (kacau): tafsir harfiah dari hadis itu menyisakan tak sedikit silogisme yang tak sinkron dengan bangunan teologi.

***

Kedua, setelah mendapati bahwa komentar mayoritas ulama tetap berusaha agar hadis itu diterima, kita layak bertanya: Bagaimana anjing diperlakukan di masa Nabi Muhammad?

Di Shahih Bukhari sendiri terdapati riwayat, di bab Wudhu, tepat di bahwa hadis tentang pemberi minum anjing kehausan yang kemudian masuk surga: “Anjing-anjing kencing, masuk-keluar masjid di masa Nabi, dan para Sahabat tidak menyiramnya” (kânat al-kilâb tabûlu wa tuqbilu wa tudbiru fi zaman an-Nabiy shallallâhu ‘alayhi wa sallam falam yakûnû yarusysyûna syai’an min dzâlik).

Terkait hadis ini, perdebatan ulama berkisar di persoalan “mengapa para Sahabat tidak menyiramnya?” Itu bahasan tersendiri, tidak diketengahkan di tulisan ini. Tapi bahwa di masa Nabi ada anjing-anjing berkeliaran di masjid (menurut satu pendapat itu maksudnya di emperan masjid), adalah data sejarah yang sahih teriwayat oleh al-Bukhari.

Mungkin atas dasar data sejarah itulah, kemudian Mazhab Maliki—disamping alasan di bagian awal tulisan ini—menyatakan anjing itu tidak najis. Data sejarah itu merupakan the living sunnah (tradisi yang hidup). Mazhab Maliki menjadikan ‘amal ahl al-madînah (praktek kehidupan orang Madinah) sebagai salah satu sandaran epistemologis.

Data sejarah di Madinah itu menarik, sebab dengan data itu kita tahu tentang tradisi yang hidup di Madinah. Dari data itu kita tahu: Bukan sekedar di rumah, bahkan di masjid yang mestinya suci pun berkeliarannya anjing bukan persoalan yang menimbulkan anti-pati sebagaimana masyarakat muslim kini. Artinya, kenyataan itu kontradiktif dengan praktek di masyarakat muslim saat ini—khususnya di komunitas muslim bermazhab Syafi’i dan Hanbali—yang menistakan anjing.

Poin saya: data sejarah tentang berkeliarnya anjing di Madinah di masa Nabi itu ialah “sunnah”. Sedangkan informasi bahwa malaikat tak masuk rumah yang ada anjingnya ialah “hadis”. Sunnah itu lebih umum daripada hadis. Sunnah itu kenyataan yang cair, sedangkan hadis adalah catatan yang beku. Kita mestinya tidak membekukan fakta cair itu dan mereduksinya dalam tafsiran yang simplistis nan beku sebagaimana termaktub dalam hadis. Sunnah (tradisi) menjelaskan generasi muslim awal tiada memiliki masalah berarti dengan anjing. Problem terhadap anjing mulai membudaya sejak hadis-hadis ahad soal anjing itu menyebar luas.

***

Ketiga, hadis ahad (bukan mutawatir), meski sahih, statusnya adalah zhannyyul-wurûd (diduga berasal dari Nabi). Status zhanny berarti kemungkinan besar ia pernah dikatakan Nabi, tapi tetap saja ia tidak pasti 100 persen dari Nabi; tidak qath’iyyul-wurud. Yang tersepakati qath’iyyul-wurûd ialah Al-Quran dan hadis-hadis yang mutawatir.

Bagaimana Al-Quran berbicara tentang anjing? Al-Quran tidak pernah menista anjing. Al-Quran justru memberi penghargaan bahwa anjing adalah hewan yang terlatih—bahkan yang paling terlatih—untuk diajak berburu (QS 4:107). Al-Quran mengisahkan tentang anjing yang setia menjaga Para Pemuda Gua (QS 18: 20-22).

Kalau kita sepakat bahwa yang zhanny mestinya tidak boleh dominan dibanding yang qath’iy (pasti), maka kita mestinya lebih memenangkan bagaimana Al-Quran mencitrakan anjing dibanding statemen hadis yang menista anjing. Lagipula, apa yang salah terhadap anjing, padahal mazhab Maliki dan Hanafi tidak menganggapnya najis secara mutlak? Bukankah yang tidak najis pada dirinya sendiri itu adalah bukti bahwa ia juga sebagaimana hewan bersih lainnya? Sayangnya, kebanyakan umat Islam lebih mengutamakan apologi, menerima hadis anjing di atas tanpa tanpa rasionalisasi; memang benar-benar tak memerlukan alasan.

Begitulah, dari bahasan soal anjing ini, ada satu pelajaran penting: hadis-hadis itu begitu superior mencengkeram dan mendikte budaya umat Islam, bahkan kadang lebih populer dari Al-Quran sendiri. Budaya dominan dalam masyarakat Islam akan terus begitu selama tiada rekonstruksi, reintepretasi, reformasi, atau apalah namanya, pada bagaimana kita semestinya berinteraksi dengan hadis. 

Tagged: , , , ,

17 thoughts on “Menyoal Hadis tentang Anjing

  1. Muhammad Zaki 16/11/2013 pukul 00:40 Reply

    Salam kenal bung!

    Pertama, saya sangat terkesima dengan pola pikir anda yang mempertanyakan grand theory. Artinya apa yang telah mengakar panjang dari historitas keberagamaan, dipertanyakan kembali. Hal tersebut agar kita terhindar dari sikap menerima suatu hal bulat-bulat atau kita lebih terbuka dengan ilmu-ilmu sosial yang telah berkembang saat ini.

    Kedua, saya tidak terlalu terkejut untuk membaca hal-hal seperti ini, karena saya mempunyai suatu pandangan yang sama terkait mempertanyakan kembali barang satu hal dengan memakai kajian yang bisa diterima pada zaman sekarang. Akan tetapi saya pun tidak mengelak bahwasanya perihal Anjing ini atau lebih rinci mengenai “Bersikap adil pada anjing” adalah hal yang klasik.

    Ketiga, dari cara anda menambahkan beberapa poin, dalam tulisan ini ada tiga, saya melihat bahwasanya pendapat anda nyatanya tidak lain merupakan permainan logika sahaja. Bila Quran pun bla…blaa….kenapa bla..bla…? Dan hal tersebut memang menjadi suatu wahana baru bagi dunia Islam yang mempunyai pola pemikiran post grand theory.

    Menurut saya pribadi, atas poin-poin yang dipaparkan penulis, maka mengapa tidak disatukan saja ketiga point tersebut? Saya rasa substansi ketiga poin tersebut adalah sama, ia tak berbeda dari sudut pandang opini.

    Karena dalam ketiga point tersebut sudah jelas tentu bila yang berperan dalam mengajak pembaca adalah membaca ulang kembali satu definisi lalu mendekonstruksi dan mungkin kemudian merekonstruksi pemikiran tersebut.

    Namun saya tak mengabaikan sisi buruk dari tulisan ini. Ada beberapa hal yang mudah untuk ditanggapi banyak orang telah disilaukan oleh banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang ditulis dalam tulisan ini.

    *Dalam url permalink judul tulisan ini, sudah barang tentu penulis mempunyai niat untuk bersikap adil terhadap anjing. Oleh karenanya antitesisnya juga dipaksakan haruslah mendekati wacana keadilan manusia bagi kehidupan Anjing.

    Dalam mencermati hal ini saya rasa orang Islam itu merupakan orang-orang yang adil, terkecuali bagi sebahagian orang, yang mempunyai pemahaman dangkal terhadap kehidupan.

    Anjing dalam konteks ini bisa kita samakan dengan tekhnologi. Ia akan berguna bila digunakan dengan segala yang bisa bermanfaat bagi manusia. Tapi jangan lupa bahwa terdapat pula sisi buruk dari apapun itu hal.

    **Berbeda dengan url permalink, maka judul utama tulisan ini adalah lebih terang untuk menghubungkan permalink tersebut dengan teks sakral yang telah menjadi sandaran penting umat Islam, yakni hadits. Hal ini tidak jauh berbeda dengan poin ketiga yang diajukan penulis.

    Terkait dengan ini maka sudah seharusnya kita tahu bahwa Kehadiran Alquran dan Assunah adalah seiring. Ia berjalan berkelindak bukan?Bila saya ingin menjudge penulis, maka saya akan mengatakan bahwa tesis utama dalam tulisan ini adalah bersandarkan pada bagaimana dalam Alquran diterangkan peran anjing untuk keperluan umat manusia bisa menjadi berbeda ketika berbaur dalam kehidupan manusia?

    Pertanyaannya apakah bila Alquran berkata baik terhadap sesuatu hal, khususnya makhluk hidup, maka ia akan sesempurna apa yang didapati dalam kitab, contoh Anjing? Ataukah ada sisi baik dan buruk yang bisa ditimbulkan oleh Anjing?

    Bila lantas jawabannya mengarah kepada Ya, Maka pertanyaan selanjutnya bagaimana selanjutnya pola pemikiran anda bisa terus mendekonstruksi hal seperti ini?

    Bila saja cara berpikir kita

    Suka

  2. ahadi 24/12/2013 pukul 02:28 Reply

    kenapa jawbannya ngambang?????yg tegas lah pak ustad

    Suka

  3. hunggul 05/03/2014 pukul 13:45 Reply

    Koq ngambang, ini loh masbrow kesimpulannya sesuatu yang spekulatif tidak boleh mendominasi yang mutlak…..

    Suka

  4. ismuzi ezra 05/03/2014 pukul 14:23 Reply

    Tulisan yg menarik…

    Suka

  5. dizal 05/03/2014 pukul 14:54 Reply

    Kalau disuruh memilih memelihara kucing atau anjing, sy pilih anjing

    Suka

  6. […] Tulisan di bawah ini adalah terjemahan saya dari artikel Khaled Abou El Fadl, profesor di University of California, Los Angeles (UCLA), yang berjudul “Dogs in the Islamic Tradition and Nature”. Tulisan aslinya bisa diakses di sini (Dogs in the Islamic Tradition and Nature). Sekedar pembanding, silakan baca pula tulisan saya mengenai hadis-hadis tentang anjing di tulisan lain di blog ini: “Problem Hadits tentang Anjing”. […]

    Suka

  7. AWAL RAHMAT 14/06/2014 pukul 22:40 Reply

    Sallam kenal saudaraku Azis Anwar, Ulasan anda tentang anjing sangat bermafaat sekali untuk islam. Trimakasih

    Suka

  8. chodirin 15/06/2014 pukul 22:55 Reply

    Saya cek (4:107) kok sama sekali tidak berkaitan dg anjing?

    107. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,

    Suka

  9. Ali Irwanto 16/08/2014 pukul 23:04 Reply

    salam.

    Tulisan yg bgs. Dan membuka wawasan terutama soal beda teks hadist dgn sunnah.

    Pernah saya mengangkat hal ini dlm sebuah diskusi dgn rekan2 kerja saya… dan langsung saja dihujani dgn hadist yg menyatakan bhw malaikat enggan datang kepada mereka yg memelihara anjing.

    Klo ikut logika teman2 saya, maka saya akan imortal, karena malaikat Izrail enggan mencabut nyawa saya, mendekat saja tak mau :p … bercanda.

    Yg lbh aneh lagi adalah ketika rekan2 kerja saya begitu “memuliakan” kucing karena dianggap hewan kesayangan nabi. Padahal setahu saya, riwayat yg mengisahkan hubungan nabi dan kucing sangatlah sedikit dan lemah. Sorry oot😀

    Intinya sih, emg soal hubungan manusia dan binatang bnyk yg bercampur dgn mitos/budaya tp dianggap ajaran agama.

    Suka

  10. dee arlani 25/01/2015 pukul 22:35 Reply

    Sy setuju dgn pendapat penulis.. Ini sangat bermanfaat.

    Suka

  11. Masudi Ansori 10/02/2015 pukul 10:02 Reply

    Pokok Permasalahan bukan anjing tetapi P E L A C U R . . . . !

    Suka

  12. shifa maharani 09/05/2015 pukul 02:00 Reply

    Tulisan yg bagus, saya sendiri gamang tentang hukum najis pada anjing.

    Suka

  13. arif deka 02/06/2015 pukul 17:11 Reply

    Om..klo belum paham jangan bikin tulisan,,, tulisannya , mmberikan kesan bahwa kitab ataupun hadis mengandung kontradiksi….itu gak jelas krn anda memaparkan scr tdk jelas,, dgn contoh yg tdk linier..itu hadis tentang pelacur yg masuk surga krn mmberi minum anjing itu dikisahkan yg kejadianx terjdi sblum masehi…itu syariat dalam quran dan hadis itu tdk berlaku mundur…sama halnya sprti daging onta,itu haram sblum turunyya alquran,, juga harta rampasan perang itu haram sebelum turunx surah al anfal…klo mau berlogika, ato bermain diwilayah rasional sono belajar dlu prinsip berpikir ala aristoteles dan kerangka berpikir ilmiah ala karl max…bru bikin tulisan bgni..jujur,,, anda sungguh senasib dengan ludwig feurbach,,, terjebak dalam kesalahan berpikir ato kecelakaan berpikir.ato fallacy of dramatical instance.

    Suka

  14. herimanu 19/07/2015 pukul 06:19 Reply

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Salam kenal.
    membaca postingan di atas, maka saya periksa ayat2 yg di tulis diatas.
    (QS 4:107) Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa
    (QS 18:20-22) Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya”.(QS 18:20)

    Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.(QS 18:21)

    Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.(QS 18:22)

    maka hanya ayat yg terakhir ini saja(QS 18:22) yg menyebutkan tentang anjing. dan itupun hanya sangkaan orang tentang jumlah yg berada di dalam goa. dan ayat tersebut juga menjelaskan bahwa “hanya Alloh saja yang mengetahui jumlah mereka”

    sedang saya sebagai muslim yg masih harus banyak belajar :
    1. Saya tidak memelihara Anjing. dan ( saat ini )tidak ada keinginan untuk memelihara ( “Insya Allah” tdk akan pernah memelihara anjing )
    2. Saya tidak Akan menghindar jika ketemu dng anjing ( kecuali anjing galak/liar yg suka mengggigit siapapun yg ditemuinya )
    3. jika sengaja atau tidak sengaja saya terkena/tersentuh air liur/badan anjing. ( mungkin itu suatu cobaan dari Alloh untuk saya ) dengan segera saya membersihkannya dng cara yg Nabi SAW ajarkan.
    4. Intinya, saya tidak antipati terhadap anjing karena anjing juga makhluk yg punya hak untuk hidup di bumi Alloh, dan selalu bertasbih kepada Pencipta-Nya
    5. saya sebagai Muslim yg berusaha berbuat baik dan berusaha berbuat lebih baik lagi ” jika saya menerima suatu berita, saya berusaha tenang dan mencoba menyelidiki kebenaran berita tsb. dan yg utama tetap menjaga “PERSATUAN DAN KESATUAN UMAT MUSLIM”
    6. Semoga Ridho’ Alloh menyertai semua saudara muslim yg telah berjuang untuk ISLAM “AMIEN”
    7. Selamat Berjuang Saudaraku, tetaplah menjaga PERSATUAN UMAT ISLAM dimanapun berada. Wasalamu’alaikum Wr. Wb.

    Suka

  15. Bram 14/03/2016 pukul 23:46 Reply

    Aslmualaikum.saya muslim saya juga memelihara anjing, mereka saya jaga dan rawat dengan baik, mereka pula ,enegerti tentang batas suci dan tak pernah melanggar 1 kali pun dan dalam keadaan apapun, mereka diluar selalu ..selalu banyak pertentangan masalah anjing, , tapi saya tidak mampu memberikan solusi tentang dosa memelihara anjing,yang saya tahu beribadahlah dan semoga allah menyayangi saya seperti saya menyayangi mahkluk2 ciptaannya ini.baik pula dari kucing, anjng ,bahkan ular yang saya pelihara semoga mereka mendoakan saya agar selalu sehat agar dapat mengurusi mereka dengan baik..

    Suka

  16. Alam 20/03/2016 pukul 04:17 Reply

    Assalamualaikum..
    Salam kenal bagi rekan2 yg mempunyai keanekaragaman pola berfikir..
    Pokok permasalah disini sebetulnya tentang :
    1. Menelihara
    Berkaitan tentang memelihara, jelas sekali pada hadist dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda,
    “Barangsiapa memanfaatkan anjing, bukan untuk maksud menjaga hewan ternak atau bukan maksud dilatih sebagai anjing untuk berburu, maka setiap hari pahala amalannya berkurang sebesar dua qiroth.” (HR. Bukhari no. 5480 dan Muslim no. 1574)

    Nah,.ini kan boleh memelihara, asalkan dg tujuan di atas.. Kalo tujuannya selain diatas, kita tinggal pilih aja, mau berkurang apa nggak? Kan nanti perhitungan ada di akherat.. :p
    Hanya ALLAH yg maha mengetahui apa yg tersembunyi di balik teriakan manusia.

    2. Najis
    Pengertian Najis : “Sesuatu yang dianggap kotor dan mencegah sahnya salat tanpa ada hal yang meringankan.” atau “Sifat hukum suatu benda yang mengharuskan seseorang tercegah dari kebolehan melakukan salat bila terkena atau berada di dalamnya.”
    Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Najis
    (Pake wiki pedia aja ya bos, biar agak simple)
    Pada intinya, najis itu mengahalangi untuk beribadah. Akan tetapi terdapat cara-cara untuk membersihkan.

    Oleh karena itu, saya berpikir bahwa tidaklah bijak jika kita saling mengolok2 sesama muslim yg memelihara anjing memang buat berburu,menjaga tanaman,menjaga hewan ternak,. Tapi kalau diluar itu, cukuplah kita ingatkan bahwa pahalanya berkurang setiap harinya, dan kamu harus rajin bersih2 (untuk membersihkan najis).
    ALLAH yg tau apa dibalik hati manusia

    Mohon dikoreksi pemikiran saya ini,. Agar saling menambah iman kita.
    Wasalamualaikum.

    Suka

  17. Ismailarusli 23/11/2016 pukul 01:33 Reply

    Pada hadits *BEJANA* yg terjilat anjing dibersihkan hal ini berlaku juga u/ jilatan kucing & hewan lainnya SEBAB hadits menyebutkan *BEJANA* bukan salah satu anggota tubuh maka tidaklah anjing itu najis

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s