Keragaman Pendapat Fiqh

Tulisan-tulisan di bawah ini merupakan hasil dari catatan ngaji saya dulu; muthala’ah kitab “al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu” karya Syaikh Wahbah az-Zuhaily. Isinya hanya sekedar ringkasan-reflektif dari bacaan saya terhadap kitab itu selama sekitar beberapa pekan, tak lebih dari sebulan, menghabiskan jilid pertama dan setengah jilid kedua (sampai bab salat istisqa’). Tentu tidak semua hal dalam kitab itu saya tulis dalam catatan ini. Hanya beberapa bagian saja yang menurut saya menarik, yang kemudian saya catat, lalu saya tulis lagi di sini, disajikan dengan ringan dan praktis.

Ini saya dokumentasikan, dengan harapan barangkali bisa sesekali dibaca di waktu luang. Kini saya bagikan di blog, agar manfaatnya bisa lebih luas, dibaca oleh lebih banyak orang. Dari beberapa poin di sini, setidaknya pembaca tahu, keragaman pendapat dalam khazanah fikih Islam itu amat kaya. Semoga ada manfaatnya.

Kotagede, November 2013

Azis Anwar Fachrudin

 

——————————–

Di masa Abu Hanifah, fiqh itu mencakup yang praksis (‘amaliyah), keyakinan (i’tiqadiyah), dan akhlak. Sebutannya: Fiqh Besar (al-Fiqh al-Akbar). Karena itu, ulama awal mazhab Hanafi mendefinisikan fiqh dengan “ma’rifatun-nafsi ma laha wa ma ‘alayha” (mengetahui apa yang baik dan buruk bagi jiwa).

Setelah itu, fiqh mengalami penyempitan makna, hanya membahas aspek amaliyah-lahir saja, disebut Fiqh Kecil (al-Fiqh al-Ashgar). Definisi paling populer dari fiqh adalah:

العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية

“Ilmu tentang hukum syariat-praksis yang diperoleh (muktasab) dari dalil-dalilnya yang terperinci.” Fiqh bersifat ‘muktasab’, dan karena itu bersifat ijtihadiy, kebanyakan diktumnya bersifat spekulatif (zhanniy), dan hanya sedikit yang pasti (qath’iy).

——————————–

Talfiq (terjemahan simpelnya: mencampur-adukkan mazhab dalam satu paket persoalan fiqh) itu dilarang dengan dasar “sadd adz-dzari’ah” (memblokir potensi penyalahgunaan). Sebab, jika talfiq disalahgunakan, orang bisa menikah tanpa mahar, wali, dan saksi; tak beda dengan pelacuran.

Namun, pada dasarnya, talfiq itu boleh, asal bukan karena mengikuti hawa nafsu. Sebab, pelarangan talfiq itu memberatkan dan bertentangan dengan prinsip “taysir” (memudahkan) dalam syariat. Dalilnya: wa ma ja’ala ‘alaikum fid-din min haraj (QS 27:78); yuridullah bikum al-yusr wa la yuridu bikum al-‘usr (QS 2:185).

——————————–

Kecenderungan fiqh itu mengutamakan kepentingan publik (an-naz’ah al-jama’iyyah). Maka, ketika terjadi pertentangan antara kemaslahatan kolektif (al-mashlahah al-‘ammah) dengan hak individu (haqq al-fard), yang diunggulkan adalah kemaslahatan kolektif.

Prinsip ini termanifestasikan, antara lain, dalam: tiadanya ketaatan terhadap pemimpin yang memerintahkan kemaksiatan, pembatasan wasiat maksimal 1/3 harta warisan, hak syuf’ah (menjual tanah kepada tetangga terdekat), tidak boleh memonopoli sumber air, dll.

——————————–

Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit (80-150 H) wafat pada tahun kelahiran Asy-Syafi’i (150-204 H). Dia orang Persia, imam ahlur-ra’yi (rasionalis), tidak mudah menerima hadits, faqih-nya Irak, pedagang pakaian. Epistemologi madzhabnya: 4 (Quran, Sunnah, Ijma’, Qiyas) + Istihsan.

Yang menarik, Abu Hanifah tak mewariskan kitab. Dua muridnyalah yang mengkodifikasikan madzhabnya, yakni Abu Yusuf dan Muhammad ibn al-Hasan asy-Syaibani. Yang menarik juga, kedua muridnya itu dianggap setataran ijtihad dengan gurunya, sama-sama mujtahid mutlak.

Jadi ingat wejangan Gus Abdul Ghafur Maimoen waktu di pondok saya. Katanya, salah satu tanda proses pengajaran yang berhasil adalah saat murid sudah mampu berbeda pendapat dengan gurunya. Itu antara lain terjadi pada Abu Hanifah dan kedua muridnya.

——————————–

Asy-Syafi’i adalah ulama yang gemar berdebat (munazharah). Diriwayatkan, Asy-Syafi’i pernah berdebat semalam suntuk, dari bakda isya sampai subuh, dengan Muhammad ibn al-Hasan asy-Syaibani (murid Abu Hanifah).

Waqiila, Asy-Syafi’i meninggal beberapa hari setelah berdebat dengan Asyhab al-Qaisi (Faqih-nya mazhab Maliki di Mesir). Ketika perdebatan berlangsung sengit dan panas, Asyhab memukul dan melempar Asy-Syafi’i dengan kunci. Asyhab pernah berdoa, “Ya Allah, matikan asy-Syafi’i, sebab jika tidak maka ilmu Malik akan hilang” (Allahumma amit asy-Syafi’i, wa illa dzahaba ‘ilmu Malik). Asy-Syafi’i sakit karena tragedi pemukulan itu dan wafat beberapa hari setelahnya.

Fakta menarik: Asyhab dan Asy-Syafi’i lahir di tahun yang sama (150 H) dan wafat di tahun yang sama pula (204 H). Asyhab wafat 18 hari setelah wafatnya Asy-Syafi’i. Tapi intinya adalah, rivalitas antara ulama dulu itu panas sekali. Debat antar ulama adalah hal biasa.

——————————–

Selain 4 mazhab yang utama (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), Wahbah az-Zuhaili juga mengakui 4 mazhab lainnya, yakni: Zhahiri (Dawud ibn ‘Ali al-Ashfihani), Syiah-Zaidiyah (Zaid ibn Ali Zainal Abidin), Syiah-Imamiyah (Muhammad ibn al-Hasan al-Qummi), dan Ibadhi-Khawarij (Abdullah ibn Ibadh at-Tamimi).

Dan berikut komentar menarik dari Syaikh Wahbah tentang fiqh mazhab Syiah-Imamiyah:

وفقه الإمامية, وإن كان أقرب إلى المذهب الشافعي, فهو لا يختلف في الأمور المشهورة عن فقه أهل السنة إلا في سبع عشرة مسألة تقريبا, من أهمها إباحة نكاح المتعة. فاختلافهم لا يزيد عن اختلاف المذاهب الفقهية كالحنفية والشافعية مثلا. وينتشر هذا المذهب إلى الآن في إيران والعراق. والحقيقة أن اختلافهم مع أهل السنة لا يرجع إلى العقيدة أو إلى الفقه, وإنما يرجع لناحية الحكومة والإمامة

“Fiqh Imamiyah, meski lebih dekat ke mazhab Syafi’i, ia tak berbeda dengan fiqh Ahlus-Sunnah dalam persoalan yang masyhur kecuali kira-kira terkait 17 masalah. Yang paling penting (dari perbedaan itu) adalah pembolehan nikah mut’ah. Perbedaan Syiah Imamiyah dengan Ahlus Sunnah tak lebih sebagaimana perbedaan mazhab-mazhab fiqh lainnya, seperti Hanafi dengan Syafi’i. Mazhab Imamiyah ini sampai sekarang menyebar di Iran dan Irak. Secara substantif, perbedaan Syiah-Imamiyah dengan Ahlus Sunnah tidak merujuk ke soal akidah atau fiqh, melainkan hanya pada aspek pemerintahan dan imamah.”

——————————–

Dalam persoalan pembagian air, fiqh Syafi’i itu hati-hati banget, dan karena itu kadang terasa berat. Dalam fiqh Syafii, ada klasifikasi air musta’mal, mutaghayyir (masih dibagi lagi: ‘ainy & taqdiriy), air sedikit yang kurang dr 2 kulah, dll. Sedangkan fiqh Hanafi adlh yg paling mudah dlm soal ini.

Dalam fiqh Hanafi, air tak disebut musta’mal jika perubahan sifatnya tak merusak kemutlakan air dan tidak mendominasi air lainnya yg belum dipakai, meski airnya sedikit. Air mutaghayyir itu hanya jika berubah krn dimasak atau perubahannya bisa diindera (tdk ada taghayyur taqdiriy). Air musta’mal, meski tak bisa dipakai utk bersuci dr hadats, masih bisa dipakai utk bersuci dr najis. Dalam fiqh Hanafi, tak ada pembagian air sedikit-banyak dgn batasan 2 kulah, sebab hadits ttg 2 kulah menurut Hanafi mengalami kekacauan matan (idhtirab) dan kontradiksi dgn hadits lain (ta’arudh).

——————————–

Hukum anjing: (1) najis, menurut Syafii dan Hanbali, (2) yang najis cuma mulutnya, menurut Hanafi, (3) tidak najis secara mutlak, menurut Maliki. Mengapa ada perbedaan? Karena redaksi hadits cuma menyebut “jilatan” anjing saja (idza walagha al-kalbu fi ina’i ahadikum). Perbedaan pandangan fiqh hanya karena perbedaan interpretasi terhadap satu kata dalam suatu redaksi nash semacam ini biasa dan banyak terjadi.

——————————–

“Mulamasah” ke perempuan non-mahram itu membatalkan wudhu. Dalilnya pendek saja, yakni ayat “aw lamastum an-nisa'”. Apa itu “mulamasah”? Menurut Hanafi: jimak. Menurut Maliki dan Hanbali: menyentuh dengan syahwat. Menurut Syafii: semua bentuk menyentuh, tak peduli bersyahwat atau tidak. Perbedaan pendapat terjadi karena beda mengartikan makna “mulamasah”.

——————————–

Ijmak ulama (selain mazhab Zhahiri) menyatakan, orang berhadats besar haram menyentuh mushaf. Sedangkan yang berhadats kecil, mayoritas fuqaha juga menyepakati, haram menyentuh mushaf. Padahal, tidak ada dalil qath’iy yg menunjukkan keharaman menyentuh mushaf bagi yg berhadats kecil. Ayatnya: “la yamassuhu illa al-muthahharun”.

Ibnu ‘Abbas dan mazhab Zaidiyah membolehkan orang berhadats kecil menyentuh mushaf. Dalam tafsiran Ibnu ‘Abbas, dhamir “hu” dalam ayat itu kembali ke al-Quran di Lauh Mahfuzh, sedangkan “al-muthahharun” adalah malaikat. Jika penafsiran ini dipertentangkan dengan hadits “la yamassuhu illa thahirun”, maka kata “thahirun” ditakwil: maksud dari “thahir” adalah mukmin.

Itulah pendapat Ibnu ‘Abbas yang pernah didoakan Nabi dengan “Allahumma faqqihhu fid-din wa ‘allimhu at-ta’wil” (Ya Allah, fahamkan Ibnu Abbas tentang agama, dan ajari dia tentang takwil”).

——————————–

Mencukur kumis dan memanjangkan jenggot itu memang sunnah. Haditsnya pakai redaksi perintah: “Uhfu as-syawarib wa arkhu al-liha”. Karena haditsnya memakai perintah, ada sebagian kelompok yang memahaminya dengan kaidah “al-amru tadullu ‘alal-wujub” (perintah berarti wajib). Memanjangkan jenggot itu, menurut mereka, wajib, apalagi sebagian riwayat hadits itu ada tambahan untuk ‘nulayani’ kebiasaan Yahudi dan Majusi. Tapi mayoritas fuqaha menyatakan, itu sunnah.

Sedangkan hukum mencukur jenggot (halqul-lihyah): (1) haram, menurut Malikiyah dan Hanabilah; (2) makruh-tahrim, menurut Hanafiyah; (3) makruh bagi laki-laki dan sunnah bagi perempuan, menurut Syafi’iyah.

——————————–

Menurut Hanafiyah dan Malikiyah, tidak ada kesunnahan tentang batasan kadar air untuk wudhu dan mandi. Yang penting tidak berlebihan (israf).

Sedangkan menurut Syafi’iyyah dan Hanabilah, berdasar pada hadits, kadar air yang disunnahkan untuk berwudhu itu satu mudd, sedangkan untuk mandi satu sha’. Satu sha’ = 4 mudd = 2,75 liter. Wah, itu berapa kalinya botol bensin yang dijual eceran di pinggir jalan? Ngirit banget.

——————————–

Hukum orang kafir masuk masjid: (1) tidak boleh kecuali bila benar-benar darurat, menurut Malikiyah; (2) boleh, menurut Hanafiyah; (3) boleh, kecuali masuk Masjdil-Haram, menurut Syafi’iyah. Bahkan, menurut Syafi’iyah, orang kafir boleh menginap di masjid, sekalipun dalam keadaan junub, tetapi harus dengan izin masyarakat muslim.

Hukum makan makanan yang baunya tak sedap (mungkin termasuk merokok –hadza min ziyadatiy) di masjid: (1) makruh, menurut Syafi’iyah; (2) makruh-tahrim, menurut Hanafiyah; (3) haram, menurut Malikiyah.

Hukum bernyanyi di masjid (kecuali puji-pujian yang baik dan shalawat): haram menurut Syafi’iyah. Hukum nggosip tentang cewek di masjid: haram, menurut Syafi’iyah.

——————————–

“Faqidut-thahurain” adalah orang yang berada dalam kondisi tak bisa mendapatkan dua piranti bersuci (air yang suci-mensucikan dan debu untuk tayammum). Misalnya, di dalam pesawat, kereta api, dll.

Faqidut-thahurain ini hukum salatnya: (1) menurut Hanafiyah dan Syafi’iyah: tetap wajib, dengan niatan lihurmatil-waqti, dan wajib diulangi (i’adah) setelah kondisi kembali normal; (2) menurut Hanabilah: tetap wajib salat lihurmatil-waqti tapi tak ada i’adah; (3) menurut Malikiyah: kewajiban salatnya gugur.

——————————–

Sudah menjadi ijmak, orang yang meninggalkan salat seraya mengingkari wajibnya salat dihukumi kafir-murtad. Namun, jika seseorang meninggalkan salat karena malas, maka menurut jumhur disuruh taubat selama tiga hari. Dan setelah tiga hari belum juga taubat, maka dibunuh. Syafi’iyah menambahi: dibunuh dalam rangka hadd, bukan karena kafir.

Hukuman itu terasa kejam untuk ukuran orang sekarang, tapi demikianlah adanya yang termaktub dalam kitab-kitab fiqh. Syaikh Wahbah sendiri mengunggulkan pandangan Hanafiyah: orang yang meninggalkan salat karena malas tidak kafir, tetapi fasiq. Dalilnya hadits: “Man qala la ilaha illallah wa kafara bima yu’badu min dunilllah, haruma maluhu wa damuhu wa hisabuhu ‘alallah.”

——————————–

Secara umum, Malikiyah-Syafi’iyah-Hanabilah sepakat disunnahkannya salat di awal waktu. Namun Hanafiyah punya pandangan menarik: khusus salat subuh, ashar, dan isya lebih utama kalau agak diakhirkan.

Mengenai yang salat subuh, dalil Hanafiyah adalah: (1) hadits “lakukan isfar untuk salat subuh”. Isfar: waktu ketika semburat cahaya kira-kira mulai akan nampak. Sepertinya ini yang menjadi dasar kebiasaan di pondok Sarang dan Lirboyo, atau pondok2 lain, subuhannya antara pukul 5 sampai setengah 6; (2) agar kantuknya sudah hilang, kan makruh salat dengan menahan kantuk; (3) agar lebih bisa memuat banyak jamaah.

Adapun dalil yang ashar adalah agar waktu untuk melakukan nawafil lebih luas (tausi’atan li ada’ an-nawafil). Sedangkan dalil untuk mengakhirkan ‘isya adalah hadits “jika tidak memberatkan umatku, akan kusuruh mereka mengakhirkan isya sampai sepertiga malam atau setengahnya”. Jadi, salat isya lebih utama dilaksanakan kira-kira pukul 10-12 malam.

——————————–

Ada lima waktu dalam sehari yang dilarang melakukan salat pada saat itu (sudah tahu, kan?). Nah, menurut Syafi’iyah, salat yang dilarang dilakukan pada saat itu adalah salat yang sebabnya terjadi setelah salat.

Sedangkan salat yang sebabnya terjadi “sebelum atau berbarengan” dengan dilaksanakannya salat (as-shalat dzatus-sabab ghairul-muta’akhkhir) maka boleh dilakukan di lima waktu itu. Misalnya: salat qadha, gerhana, tahiyyatul-masjid, istisqa’, jenazah, dsb.

——————————–

Ketika khatib sudah berkhutbah jumat di mimbar, maka salat apapun tidak sah kecuali tahiyyatul-masjid, itupun wajib diringankan (nggak usah suwe-suwe) dan harus 2 rakaat saja. Demikian ini menurut Syafi’iyah. Kalau saya sih, biasanya, jika khatib sudah naik, datang langsung duduk saja.

——————————–

Menurut Hanafiyah dan Malikiyah, cukup satu adzan saja untuk satu kota. Sedangkan Syafi’iyah tidak demikian. Menurut Syafi’iyah, tiap musholla satu adzan. Tapi, itu kan zaman dulu, belum ada mic & TOA. Lha sekarang, tiap RT/RW punya musholla dan selalu “lomba” adzan lima kali sehari. Jadi, baiknya bagaimana? 

——————————–

Setelah adzan, menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, disunnahkan mendendangkan shalawat kepada Nabi. Ini berlaku untuk muadzin maupun jamaah. Tradisi ini bermula pada masa Shalahuddin al-Ayyubi, tahun 781 H. Sepuluh tahun kemudian, tradisi ini menyebar di seluruh negara berpenduduk mayoritas muslim. Dan jumhur fuqaha menyatakan: ini bid’ah hasanah!

——————————–

Tentang syarat sah salat menghadap kiblat, bagi orang yang tak melihat Kakbah (di luar Mekkah), cukup menghadap ke “arah” Kakbah (jihatul-ka’bah). Kita di Indonesia misalnya, cukup ke arah barat (atau barat laut?). Ini pandangan Hanafiyah,Malikiyah, dan Hanabilah. Sedangkan Syafi’iyah mewajibkan harus “tepat” ke arah Kakbah (‘ainul-ka’bah) itu sendiri, sebagaimana orang Mekkah.

Nah, bagaimana dengan mayoritas Nahdhiyyin yang bermazhab Syafi’i? Kita tahu, perkembangan teknologi mutakhir sudah memudahkan kita untuk bisa tepat mengarah ke Kakbah. Tapi banyak masjid yang tak mengarah tepat ke Kakbah.

——————————–

Menurut Hanafiyah, boleh membaca takbiratul-ihram dengan bahasa selain Arab. Jadi, tidak harus “Allahu akbar”, yang penting ada lafal “Allah”-nya. Dalilnya ayat: “wa dzakara-sma rabbihi fashalla”. Sedangkan mazhab lainnya mengharuskan berbahasa Arab. Dalilnya ayat: “warabbaka fakabbir”. Kedua pandangan itu sama-sama berdasar ayat. Kedua ayat itu juga tidak terletak dalam konteks pembicaraan tentang tatacara shalat. Begitu.

——————————–

Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah menyatakan baca Fatihah dalam salat itu rukun. Sedangkan Hanafiyah menyatakan Fatihah dalam salat bukan rukun. Argumen dari pandangan Hanafiyah ini cukup menarik disimak:

(1) Dalil Hanafiyah adalah ayat: “faqra’u ma tayassara minal-Qur’an” (bacalah yang mudah dari al-Quran). Jadi, tak harus Fatihah.

(2) Hadits yang menyatakan Fatihah itu rukun adalah hadits ahad, sehingga bersifat “zhanniyyul-wurud” (transmisinya spekulatif). Sementara dalam epistemologi mazhab Hanafi, hadits ahad tidak bisa dijadikan hujjah untuk ibadah yang dasarnya dalil qath’iy & mutawatir, seperti salat.

(3) Hadits yang menyatakan Fatihah adalah rukun itu bunyinya: “La shalata liman lam yaqra’ bifatihatil-kitab” (tiada salat bagi yang tak membaca al-fatihah). Redaksi “tiada salat” itu dipahami “tidak (sempurna) salat” oleh Hanafiyah, bukan “tidak (sah) salat”, sebagaimana dipahami mazhab selain Hanafiyah.

——————————–

Menurut Hanafiyah (lagi), bagi yang tak mampu melafalkan bahasa Arab, boleh membaca Fatihah dalam salat dengan selain bahasa Arab. Sedangkan ketiga mazhab lainnya, mengharuskan berbahasa Arab, karena kalau tak berbahasa Arab tak bisa disebut baca al-Quran.

Dari kemarin rasa-rasanya mazhab Hanafi itu paling ringan. Mungkin ini karena berbasis ra’yu dan jarang memakai hadits ahad.

——————————–

Batas minimal disebut rukuk dalam salat: telapak tangan menyentuh lutut. Rukuk yang sempurna: ketika punggung dan leher bisa lurus, dan siku sedikit di-benggang-kan. Ini kesepakatan 4 mazhab.

Persoalannya, cukup banyak terjadi, ada yang karena ingin ‘ngrekso’ lurusnya punggung dengan leher maka telapak tangan menyentuh bagian kaki yang di bawah lutut. Nah, bagaimana itu?

Terus, menurut Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, ketika mau sujud, lututnya dulu yang mendarat, baru tangannya. Sedangkan menurut Malikiyah, tangan dulu, baru lutut. Sekian, ini terakhir untuk hari ini. Cari makan dulu.

——————————–

Tentang mengangkat tangan ketika takbiratul-ihram: tingginya sejajar dengan dua pundak (sesuai bunyi hadits “hadzwal-mankibaini”), telapak sejajar telinga, dan jempol hampir menyentuh daun telinga. Ini kesepakatan 4 madzhab. Nah, jika Njenengan sering mengamati pose takbir sebagian saudara kita, ada yang takbirnya itu mengangkat tangan setinggi dan di depan dada. Ndak tahu, itu berdasar pada pandangannya siapa…

Terus, ini di al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu kok ndak ada doa iftitah yang versi “Allahumma ba’id baini…” ya? Yang ada adalah yang versi “Inni wajjahtu wajhiya…” dan “Subhanakallahumma wa bihamdika…”

——————————–

Bakda fatihah dalam salat, baca satu surat pendek sampai selesai itu lebih utama daripada baca banyak ayat tapi ndak sampai selesai satu surat. Qulhu wae lek!

Dan ini hadits menarik:

من أم بالناس فليخفف فإن فيهم الضعيف والمريض وذا الحاجة

“Sopo sing ngimami, prayoga yen ngenthengne sholate (ojo disuwe-suwekke), sebab ning jamaah ono sing apes, sakit, lan nduwe gawean.” Cocok!

——————————–

Sholawat paling utama adalah sholawat Ibrahimiyah. Sholawat ini ma’tsur: langsung diajarkan oleh Nabi untuk dibaca dalam tasyahud akhir. Hanafiyah dan Syafi’iyah mengatakan, lebih utama bila sebelum nama Nabi ditambah kata “sayyidina”. Adapun hadits yang mengatakan “la tusawwiduni fis-shalah”(jangan men-sayyid-sayyid-kanku dalam sholawat) itu hadits maudhu’(palsu).

Mengucap salam penutup salat: (1) Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah: “Assalamu ‘alaikum warahmatullah”; (2) Malikiyah: ditambahi “wabarakatuh”.

——————————–

Sholat di dalam gereja dan sinagog, menurut jumhur, makruh. Alasannya: di dalamnya banyak gambar dan patung-patung. Tapi menurut Hanabilah yang dikuatkan pula oleh pendapat Hasan al-Bashri, Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz, asy-Sya’bi, al-Awza’i, dan Abu Musa al-Asy’ari, shalat dalam geraja dan sinagog boleh. Alasannya: Nabi pernah salat di dalam Kakbah yang pada waktu itu banyak gambarnya. Ini juga masuk ke dalam cakupan makna hadits: “fa ainama adrakatka as-shalah, fashalli, fainnahu masjidun” (dimanapun kamu harus salat, maka salatlah, karena di situ adalah masjid).

——————————–

Doa bakda salat lebih baik yang umum-umum saja, karena banyak minta itu makruh. Dan jangan lama-lama, yang pendek saja doanya tapi padat makna (jawami’ul-kalim). Lebih utama lagi memakai doa yang diajarkan langsung oleh Nabi. Hampir tiap sahabat besar punya doa-doa khusus yang pernah diajarkan oleh Nabi. Misalnya, doa yang diajarkan Nabi kepada Mu’adz ibn Jabal: “Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika”.

Baidewei, sepertinya saya belum pernah tahu Nabi mengajarkan doa ke sahabatnya semisal minta kaya, punya jabatan tinggi, atau punya istri cantik. Malah, menurut Hanafiyah, berdoa “Allahumma zawwijni fulanah” (Ya Allah, jodohkan aku dengan dia) itu makruh-tahrim.

——————————–

Diantara hal yang membatalkan salat adalah banyak gerak. Batasannya, menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, tergantung ‘urf (kebiasaan setempat). Diriwayatkan, Nabi pernah membukakan pintu rumah untuk Sayyidah Aisyah dalam kondisi salat. Diriwayatkan pula, Nabi pernah salat sambil menggendong Umamah yang masih kecil, lalu meletakkannya ketika sujud, dan digendong lagi ketika beranjak berdiri.

——————————–

Kesalahan (lahn) dalam membaca al-Quran bisa membatalkan salat. Dalam hal ini ada dua pandangan: mutaqaddimin dan mutaakhirin. Menurut mutaqaddimin, kesalahan yang menyebabkan rusaknya makna bacaan bisa membatalkan salat. Menurut mutaakhirin, kesalahan i’rab, tasydid, dan panjang-pendeknya bacaan tidak membatalkan, tapi kesalahan mengganti huruf itu membatalkan salat.

——————————–

Berbicara secara sengaja selain al-Quran bisa membatalkan salat. Batasannya: dua huruf dan memahamkan. Namun, menurut Syafi’iyah, berbicara untuk menjawab salamnya Nabi itu tidak membatalkan. Menurut Syafi’iyah pula, berbicara dengan menukil (iqtibas) al-Qur’an juga tidak membatalkan salat. Misalnya, dalam kondisi salat, sembari menyuruh orang untuk mengambil sesuatu, mengucapkan ayat “Ya Yahya khudzil-kitaba biquwwah”. 

——————————–

Memanjangkan rukun salat yang mestinya pendek (tathwilu ruknin qashirin) itu membatalkan salat. Ini menurut Syafi’iyah. Misalnya, i’tidal dengan kadar lama seperti lama baca Fatihah, atau duduk di antara dua sujud dengan kadar lama seperti tasyahud. Dados, ingkang sumadya mawon!

——————————–

Salat sunnah (tathawwu’) itu memiliki fungsi “menambal” kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam salat fardhu. Sebagaimana kita tahu, amalan pertama kali yang dihisab nanti adalah salat. Oleh karena itu, salat sunnah disebut juga dengan “nafilah”, yang berarti “ziyadah” (tambahan).

Salah sunnah yang paling muakkadah (paling tegas dianjurkan) adalah qabliyah subuh dan salat witir. Ganjarannya, menurut hadits, mendapat “humurun-ni’am” (unta merah). Yah, kalau konteks sekarang barangkali Honda Jazz.

——————————–

Kanjeng Nabi melakukan salat tarawih berjamaah di masjid itu delapan rakaat. Itu pun tidak setiap malam. Karena khawatir dianggap wajib, maka Nabi meneruskan salat tarawih di rumah. Di masa Sayyidina Umar ibn al-Khattab, salat itu digabung di masjid semua, menjadi 20 rakaat. Kata Sayyidina Umar: “Ni’matil-bid’atu hadzihi” (sebaik-baik bid’ah adalah ini!). Diceritakan dalam hadits, suasana masjid pada saat dilaksanakan salat tarawih itu bergemuruh seperti gemuruhnya lebah (fakana yusma’u lahum azizun kaazizin-nahli).

Catat ini: kata ‘Aziz, bila pakai huruf ‘ain (عزيز), artinya “mulia” dan “sesuatu yang langka” (ingat hadits ‘aziz). Sedangkan bila pakai huruf hamzah (أزيز), artinya “suara gemuruh”. [Narsis yo ben!]

——————————–

Setelah salat sunnah qabliyah subuh, menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, disunnahkan berbaring sebentar. Dalam hadits diriwayatkan, setelah adzan berkumandang, Kanjeng Nabi salat dua rakaat ringan (rak’ataini khafifataini), kemudian berbaring dengan sisi kanan yang di bawah (idhtaja’a ‘ala syaqqihil-aiman).

Setelah iqamah hendak dikumandangkan, barulah Kanjeng Nabi bangun, keluar rumah, lalu menuju ke masjid. Silakan kalau mau dipraktekan: bar qabliyah subuh, ngglethak sek, ning ampun kebablasen nggih!

——————————–

Kesregepen ngibadah niku mboten sae. Wonten salah satunggalipun Sahabat ingkang sregep ngibadah: saben ndalu salat (qiyamul-lail) lan rinane poso (shiyamun-nahar). Banjur, kanthi radi duko, Kanjeng Nabi ngendikan maring Sahabat niku: “Aku poso, tapi yo buko, aku salat, tapi yo turu lan kumpul bojo. Sapa wonge sing ora demen sunnahku, dudu golonganku.” Hadits niki muttafaq ‘alaih, dipun riwayataken Bukhari lan Muslim. Mekaten, ingkang sumadya mawon nggih!

——————————–

Orang yang bagus bacaan Qur’annya (qari’) tidak boleh bermakmum kepada yang “ummi”, demikian menurut mayoritas fuqaha. Maksud dari “ummi” adalah yang tidak bagus bacaan Fatihahnya, baik seluruhnya atau sebagiannya, sering lahn (kesalahan gramatika sehingga merubah makna), atau tidak fasih. Bila itu terjadi, maka si qari yang jadi makmum wajib mengulangi salatnya. Monggo dipun penggalih!

——————————–

Dalam hal salat jamaah beda mazhab, ada dua kaidah: (1) al-‘ibrah bi madzhab al-ma’mum (yang dijadikan patokan adalah mazhabnya makmum), ini dianut oleh Hanafiyah dan Syafi’iyah generasi awal [mutaqaddimin]. (2) al-‘ibrah bi madzhab al-imam (yang dijadikan patokan adalah mazhabnya imam), ini dianut oleh Malikiyah, Hanabilah dan generasi akhir [muta’akhirin] dari Hanafiyah dan Syafi’iyah.

Contoh dari kaidah pertama: makmum bermazhab Syafi’i tidak sah salatnya jika bermakmum kepada imam bermazhab Hanafi yang tidak membaca Fatihah atau telah menyentuh perempuan [padahal menurut Syafi’iyah, menyentuh perempuan itu membatalkan wudhu]. Demikian pula sebaliknya, makmum bermazhab Hanafi tidak sah salatnya bermakmum kepada imam bermazhab Syafi’i yang berdarah meski itu tak mengalir (sebab, darah yang tak mengalir sekalipun, tidak di-ma’fu menurut Hanafiyah).

Adapun contoh dari kaidah kedua, cukup jelas. Yang penting, jika si imam sah salatnya menurut mazhabnya, maka salat makmum juga sah meski beda mazhab dengan si imam. Syaikh Wahbah az-Zuhaily men-tarjih (mengunggulkan) kaidah kedua itu.

——————————–

Skala prioritas yang paling berhak jadi imam salat jamaah menurut mazhab Syafi’i:

(1) Waliyyul-amri [wali kota/pemerintah]; (2) Imam ratib [imam rutin yang sudah terjadwal]; (3) Shahibul-bait [yang punya rumah]; (4) Afqah [yang paling faham fiqh]; (5) Aqra’ [yang paling bagus bacaan Qur’annya]; (6) Awra’ [yang paling hati-hati menjaga diri dari hal yang syubhat, apalagi haram]; (7) Yang lebih dulu hijrahnya; (8) Yang lebih dulu masuk Islam; (9) Yang paling unggul nasabnya; (10) Yang paling bagus akhlaknya; (11) Yang paling bersih badan dan bajunya; (12) Yang paling baik pekerjaannya; (13) Yang paling bagus suaranya; (14) Yang paling tampan wajahnya; (15) Yang sudah beristri.

——————————–

Makruh bermakmum kepada imam yang suka melakukan bid’ah. Ini disepakati oleh 4 mazhab. Tapi hati-hati, ini rentan disalahgunakan: mentang-mentang paling sesuai dengan sunnah, lantas menganggap yang berbeda sebagai ahlul-bid’ah, kemudian merasa paling berhak jadi imam salat.

Berikut keterangan Syaikh Wahbah az-Zuhaily tentang imam yang ahli-bid’ah:

ويلاحظ: أن كل من كان من أهل قبلتنا لايكفر بالبدعة المبنية على شبهة, حتى الخوارج الذين يستحلون دماءنا وأموالنا وسب الرسول صلى الله عليه وسلم وينكرون صفات الله تعالى وجواز رؤيته لكونه عن تأويل وشبهة بدليل قبول شهادتهم.

“[Layak] diperhatikan: setiap orang yang termasuk ahlul-qiblah [masih menghadap satu kiblat alias sama-sama muslim], tidak dikafirkan sebab melakukan bid’ah yang berdasar syubhat [yang belum jelas dan belum pasti dilarang], sekalipun itu Khawarij yang menghalalkan darah dan harta kita, mencela Rasulullah, mengingkari adanya sifat Allah, mengingkari posibilitas melihat Allah di akhirat, sebab hal-hal itu berdasar pada takwil dan dalil syubhat [bukan dalil qath’iy atau pasti]; hal ini dengan dasar mereka diterima persaksiannya.” (Catatan: tanda dalam kurung “[]” adalah dari saya, penerjemah)

Demikianlah, Syaikh Wahbah bahkan masih mengakui Ibadhiyah-Khawarij sebagai salah satu mazhab dalam fikih.

——————————–

Seseorang makruh menjadi imam jika dia dibenci oleh jamaahnya. Ini kesepakatan 4 mazhab. Hanafiyah menambahi, bukan sekedar makruh, tapi makruh-tahrim. Seseorang juga makruh menjadi imam bila suka melama-lamakan salatnya. Menurut Hanafiyah, itu makruh-tahrim. Menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, itu tidak apa-apa asal para makmum rela dan menerima bila salatnya dilama-lamakan.

——————————–

Musafir tetap wajib jum’atan bila dia berniat mau bermukim minimal 4 hari, atau safarnya dimulai bakda subuh hari jum’at. Musafir tidak dimasukkan dalam hitungan 40 jamaah yang mukim (sebagaimana syarat sah jumat menurut Syafi’iyah).

——————————–

Ta’addudul-jum’ah (mendirikan lebih dari satu jamaah jumat dalam satu balad [kota]) itu pada dasarnya tidak boleh. Bila terjadi dua jumatan atau lebih dalam satu kota, maka yang sah adalah jumatan yang pertama, terutama yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai masjid jami’. Ini pendapat jumhur.

Namun, menurut sebagian Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah, ta’addudul-jum’ah itu boleh dalam kondisi masjid jami’ tidak muat atau antara penduduk kota terdapat permusuhan, tapi yang terakhir ini makruh karena tidak sesuai dengan salah satu tujuan jumatan, yakni untuk syiar kesatuan antara umat Islam.

Syaikh Wahbah az-Zuhailiy menambahi, dengan menukil Ibn Rusyd, bahwa pendapat kedua itu lebih unggul (rajih). Itu pula yang sesuai dengan prinsip memudahkan (taysir) dalam syariat.

——————————–

Adzan jumat itu sekali saja di masa Kanjeng Nabi, Sy Abu Bakar, dan Sy ‘Umar. Di masa Sy Utsman, ketika jumlah umat Islam sudah besar, adzan jumatan dilakukan dua kali. Bahkan, adzan yang pertama disuarakan di az-Zaura’ (suatu tempat di pasar Madinah).

——————————–

Disunnahkan bagi khatib jumat untuk memperpendek khutbahnya, dan memperpanjang shalatnya. Haditsnya:

إن طول صلاة الرجل وقصر خطبته مئنة من فقهه فأطيلوا الصلاة وقصروا الخطبة

“Panjangnya shalat lelaki (yang jadi khatib) dan pendeknya khutbah, adalah tanda kefahamannya tentang fiqh, maka pendekkan khutbah dan panjangkan salatnya.”

——————————–

Hukum bercakap-cakap dengan orang lain ketika khatib sudah naik ke minbar: (1) haram, menurut Malikiyah dan Hanabilah; (2) makruh-tahrim, menurut Hanafiyah; (3) makruh, menurut Syafi’iyah.

Tapi, menurut Syafi’iyah, berbicara untuk menjawab salam, mengatakan “yarhamukallah” kepada yang bersin, menjawab shalawat, mengingatkan jamaah lain agar diam, bahkan menjawab pertanyaan khatib bila khatib bertanya padanya, itu boleh dan tidak makruh.

——————————–

Tarqiyyah (bilal membaca hadits “idza qulta lishahibika wal-imamu yakhthubu, anshit, faqad laghauta” sebelum khatib melakukan khutbah) itu hukumnya bagaimana? (1) bid’ah dan makruh tahrim, menurut Abu Hanifah, tapi boleh menurut kedua muridnya; (2) bid’ah dan makruh, menurut Malikiyah; (3) bid’ah hasanah, menurut Syafi’iyah, karena itu untuk mengingatkan tentang hal yang baik.

——————————–

Bagi musafir, shalat qashar itu hukumnya bagaimana? (1) wajib, menurut Hanafiyah; (2) sunnah-muakkadah, menurut Malikiyah; (3) rukhshah (keringanan), sehingga boleh memilih antara meng-qashar dan tetap menyempurnakan rakaat, menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, tetapi yang lebih utama tetap qashar.

Diriwayatkan bahwa salat qashar itu sedekah Allah yang mestinya diterima. Bunyi haditsnya: “shadaqatun tashadaqa Allahu biha ‘alaikum faqbalu shadaqatahu.”

——————————–

Jarak diperbolehkan qashar, menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, adalah 88,704 km. Jarak ini adalah batas minimal, menurut Syafi’iyah. Sedangkan menurut Malikiyah & Hanabilah, itu jarak bersifat kira-kira (taqriban), jadi boleh kurang dari itu sekira 1-2 mil (Malikiyah), atau sampai 8 mil (Hanabilah).

——————————–

Kapan status rukhshah (keringanan) bagi musafir berhenti? (1) ketika berniat mau mukim 15 hari, menurut Hanafiyah; (2) ketika berniat mau mukim selama 4 hari, menurut Malikiyah dan Syafi’iyah; (3) ketika berniat mau mukim lebih dari 4 hari, menurut Hanabilah.

Menurut Malikiyah dan Syafi’iyah, hari tiba di tempat tujuan dan hari mau meninggalkannya tidak masuk dalam hitungan hari mukim. Dan, safar dengan tujuan maksiat tidak berhak mendapat rukhshah, menurut kesepakatan 4 mazhab.

——————————–

Menurut 4 madzhab, boleh menjamak salat ketika terjadi hujan deras. (Itu dulu, ketika muslim yang tinggal di dekat masjid kok tidak ikut jamaah di masjid itu terasa tabu dan kondisi alamnya masih padang dan banyak debu, entah kalau sekarang). Menurut Hanabilah, boleh menjamak salat ketika disibukkan oleh beberapa hal seperti harus menjaga rumah, harus mengobati orang sakit, dan tuntutan pekerjaan.

——————————–

Salat ‘ied adalah salat sunnah yang paling muakkadah (tegas dianjurkan) setelah salat witir dan qabliyah subuh. Ini menurut Syafi’iyah dan Malikiyah. Sedangkan menurut Hanafiyah awal: fardhu kifayah. Adapun menurut Hanafiyah akhir dan Hanabilah: wajib.

——————————–

Menurut Hanafiyah dan Malikiyah, perempuan yang masih muda (asy-syabbat minan-nisa’) tidak disunnahkan ikut salat ‘ied, namun perempuan yang sudah tua itu sunnah. Sedangkan menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, perempuan muda tidak apa-apa ikut salat ied, asalkan tidak pakai wewangian, pakaian, dan perhiasaan yang bisa mencuri perhatian.

——————————–

Tempat salat ‘ied: (1) di lapangan yang luas, menurut Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah, di masjid malah makruh, karena menyelisihi kebiasaan Nabi; (2) di masjid lebih utama, menurut Syafi’iyah, karena masjid lebih mulia dan lebih bersih untuk salat, kecuali jika masjidnya sempit dan tidak bisa menampung banyak jamaah.

——————————–

Ketika berdoa dalam salat istisqa (minta hujan), dianjurkan untuk bertawassul kepada orang-orang salih. Inilah yang pernah dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn al-Khattab (yang bertawassul kepada al-‘Abbas, paman Nabi), dan Mu’awiyah serta ad-Dhahhak ibn Qais (yang bertawassul kepada Yazid ibn al-Aswad al-Jarsyi). Tak lama setelah doa dengan tawassul itu, hujan pun turun.

Redaksi tawassul ‘Umar kepada al-‘Abbas:

اللهم إن هذا عم نبيك صلى الله عليه وسلم نتوجه إليك به فاسقنا

“Ya Allah, ini paman Nabi-Mu, kami menghadap pada-Mu dengan perantaranya, maka turunkan hujan pada kami.”

Redaksi tawassul Mu’awiyah:

اللهم إنا نتشفع إليك بخيرنا وأفضلنا يزيد بن الأسود, يا يزيد ارفع يديك

“Ya Allah, kami meminta syafa’at pada-Mu, dengan perantara orang paling baik dan utama dari kami, Yazid ibn al-Aswad. Wahai Yazid, angkat kedua tanganmu.”

——————————–

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s