Beda Akidah Bukanlah Penodaan

Di antara alasan yang dipakai beberapa ormas Islam untuk melakukan pemberangusan terhadap Ahmadiyah ialah bahwa ajaran Ahmadiyah telah menodai akidah Islam—dan karenanya, ormas-ormas tersebut berupaya nggandhul UU PNPS 1965 demi memayungi mereka dalam aksi persekusi.

Tulisan singkat ini akan mempertanyakan argumen itu: Apakah beda akidah bisa dianggap menodai? Jawaban dari pertanyaan itu bisa dimulai dengan berpikir dari arah yang berbeda: Apa jadinya jika alasan yang dipakai oleh pihak yang hendak memberangus Ahmadiyah itu dipakai, misalnya, oleh non-Muslim untuk menyerang Muslim?

Saat risalah & kenabian Muhammad mula-mula terbit di Mekkah, jelas Islam merupakan agama yang bertentangan dengan “akidah” paganisme musyrik Mekkah. Kenabian Muhammad dianggap menganggu stabilitas kepercayaan. Konon, ajaran Sang Nabi juga dianggap membahayakan kondisi politik & ekonomi yang sudah dinikmati oleh para elite (mala`) Musyrikin. Artinya, Muhammad dituduh sebagai agitator separatisme oleh Musyrikin Mekkah.

Gangguan stabilitas itu tentu tak bisa didiamkan oleh kaum Musyrikin. Akhirnya, setelah dilakukan berbagai upaya, dengan membujuk, mengiming-imingi hadiah, melemparkan kotoran, dan lain sebagainya, musyrikin Mekkah memutuskan untuk membunuh Muhammad. Ringkas cerita, paganis Mekkah mendakwa Muhammad dengan dasar–kalau kita analogikan dengan istilah sekarag–“penodaan agama” dan karena itu ajaran Muhammad harus dibubarkan. Harus diakui, Al-Quran berkata kasar kepada para musyrik itu: “In hum illa kal-an’âm bal hum adhall” (QS 25:44).

Argumen pihak pemberangus Ahmadiyah itu sama persis dengan argumen pengukuh pondasi paganisme Mekkah: menodai kepercayaan yang dianut mayoritas setempat.

Lalu setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, kedatangannya pun tak mulus disambut oleh banyak orang Yahudi. Pertama kali Nabi datang ke Madinah, tidak lantas semua orang Madinah memeluk Islam. Setahun pertama setalah Nabi di Madinah, Muslimin masih minoritas (sekitar 1500 orang) dibanding Yahudi (sekitar 4000 orang). Kedatangannya dianggap pula oleh Yahudi sebagai mengganggu stabilitas politik dan ekonomi Yahudi terhadap kota Madinah—satu pendapat menyebutkan, itu karena kebun-kebun kurma yang sebelumnya milik Yahudi banyak yang kemudian berpindah kepemilikan ke tangan orang Islam. Dominasi perekonomian Yahudi mendapat saingan dengan kedatangan Islam.

Maka propaganda orang Yahudi terhadap orang Islam dilancarkan. Kampanye hitam Yahudi dan para munafik Madinah untuk memojokkan Islam ialah bahwa ajaran Islam itu dibawa pendatang, dan mereka ingin menghegemoni pribumi Madinah. Dalam istilah yang direkam dalam al-Quran, kaum munafik (yang tokohnya ialah Abdullah ibn Ubay ibn Salul) memakai narasi pribumi-mulia (al-a’azz) versus imigran-hina (al-adzall). Atau dengan kata lain, ajaran Muhammad adalah ajaran “impor” (Yah, kurang lebih sama dengan alerginya sebagian orang Islam kini dengan “ajaran” Barat).

Lalu debat teologis antara Yahudi dan Islam berlangsung keras, utamanya menyangkut keselamatan di akhirat. Islam pun mendaku, Musa adalah nabi pula bagi kredo Islam—sedang Ahmadiyah juga menganggap Nabi Muhammad juga nabi mereka. Bahkan tentang puasa sunnah hari Asyura, Nabi berkata pada seorang Yahudi: “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian.”

Demikian panas pula debat Islam dengan Nasrani Najran. Kedatangan Islam tegas menyerang kepercayaan Kristen: Yesus (Isa) hanya nabi, bukan tuhan. Kalau beda akidah dianggap penodaan, “manifesto” Islam itu jelas menista Kristen. Sekali lagi, kesimpulan ini hanya berlaku bila beda akidah dianggap sama dengan menodai.

Maka, kalau statemen bahwa “beda akidah sama dengan menodai” itu benar adanya, dan karena itu menjadi sah pula pemberangusan yang beda akidah itu, tentu benarlah persekusi yang dilakukan orang-orang Islamofobis terhadap Islam. Lagipula, tak sedikit ayat dari Al-Quran yang bernada perintah memerangi mereka yang memiliki kepercayaan yang berbeda.

Jadi, ringkas kalimat, statemen “beda akidah sama dengan menodai” itu, disadari atau tidak, nyata mengamini cara sebagian non-Muslim menyerang Islam.

Maka mari mengingat prinsip emas itu: Jangan perlakukan orang lain dengan apa yang kamu tak ingin orang lain melakukan hal itu padamu. “La yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhîhi mâ yuhibbu linafsihi,” sabda Nabi, “Tidak beriman seorang dari kalian hingga mencintai saudaranya dengan apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” Ini prinsip sederhana saja dalam ajaran Jawa: tepa selira.

Adillah dalam menilai, hingga pada yang engkau benci. Adil itu, menurut QS 5:8, lebih dekat pada takwa. Dan yang paling bertakwa ialah yang paling mulia.

Saya kira, ini logika simpel saja.

Tagged: , , ,

4 thoughts on “Beda Akidah Bukanlah Penodaan

  1. Arief 12/11/2013 pukul 13:44 Reply

    Tulisan yang bagus sekali, Mas Azis. Hanya saja, saya pikir ormas-ormas Islam yang menggunakan dalil penodaan agama ini berpendapat bahwa Islam merekalah yang murni (yang bisa dinodai), sementara Ahmadiyah salah (sehingga bisa menodai yang murni), dan tidak sebaliknya. Mereka mungkin akan men-challenge integritas beragama kita jika, misalnya, kita mengaku bukan penganut Ahmadiyah tetapi mentolerir eksistensinya karena mungkin toleransi bisa diterapkan terhadap penganut agama lain, tapi tidak terhadap kaum yang mengaku sama-sama Islam sementara akidahnya dianggap melenceng. Bahkan bisa jadi dengan begitu kita dianggap membiarkan terjadinya kemunkaran. Rasanya menarik juga kalau Mas Azis bisa membahas isu ini.🙂 Salam kenal.

    Suka

    • azisanwarfachrudin 12/11/2013 pukul 15:01 Reply

      Orang-orang Ahmadi juga manusia. Mereka punya pikiran & perasaan. Mari empati pada sesama manusia. Salam kenal juga, Mas. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca blog ini.🙂

      Suka

      • Arief 13/11/2013 pukul 07:43

        Terima kasih atas tanggapannya, Mas Azis. Memang empati itulah yang kita kedepankan sementara ormas-ormas yang merasa dinodai ini mengedepankan dasar bahwa merekalah yang benar. Saya pribadi merasa sangat sulit berhadapan dengan yang seperti ini: merasa benar dan bertindak berdasarkan keyakinannya itu saja. Bahkan ketika sebenarnya apa yang mereka yakini juga saya amini…🙂

        Suka

      • azisanwarfachrudin 13/11/2013 pukul 18:20

        Setiap orang akan bertanggungjawab atas keyakinannya pada Tuhan, bukan pada yang merasa paling benar itu.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s