Aurat dan Tabu

1) Makna literal dari aurat adalah “aib”, “cacat”, atau “sesuatu yang tabu dilihat” (ma yastaqbihu nazharuhu). Namanya “tabu” kan sangat relatif; tiap masyarakat bisa beda. Bahasa Jawanya: “saru”.

2) Bagi orang Jawa yg masih menjunjung unggah-ungguh, kentut sembarangan itu tabu, kalau sendawa & batuk-batuk malah biasa saja. Di Barat, kebalikannya: sendawa itu tabu & kalau mau batuk mesti ditahan.

3) Di pesantren, seorang santri salat di masjid kok pakai kaos oblong, celana jeans, dan tak pakai peci/kopyah, memang sah secara fikih, tapi itu tabu. 

4) Ketika main bola, lututnya para cowok jelas kelihatan. Padahal lutut, menurut fikih klasik, adalah aurat. Coba, ada ndak yang berani demo agar pesepakbola menutupi lututnya karena itu aurat? Apakah terlihatnya lutut pemain sepakbola itu tabu dilihat?

5) Di Papua sana, atau Bali tempoe doeloe; perempuan ‘ngleler’ payudara itu pernah jadi adat; dan sepertinya ia bukan barang tabu dilihat. Sehingga, karena sudah biasa tampak, tidak ada [atau setidaknya amat jarang] ada tindak mesum terjadi sebab ‘horny’ melihat payudara itu.

6) Dulu hingga kini, para simbok dan simbah-simbah di desa tak sedikit yang masih pakai kemben. Mereka yang bekerja sebagai petani terutama, tentu tak mungkin ke sawah sambil memakai jilbab. Dan, saya kira ndak ada lelaki yang kemudian terangsang pada mereka hanya karena rambut, leher, atau betisnya kelihatan.

7) Ketika terjadi tindak pencabulan, sebenarnya mana faktor yang lebih banyak memengaruhi: ceweknya yang berpakaian mini atau cowoknya yang berpikiran mesum? Saya prefer ke yang terakhir.

8) Di kitab fikih klasik Syafi’iyah diterangkan, aurat budak perempuan di dalam shalat itu sama dengan lelaki: dari pusar sampai dengkul. Artinya, budak perempuan bisa sah salat meskipun payudaranya kelihatan. Saya ndak tahu, apakah itu pernah terjadi di zaman Nabi. Cuma yg masih jadi pikiran: Apakah syariat tidak mempertimbangkan bahwa bila budak perempuan salat dengan telanjang dada, maka tidak akan ada laki-laki yang tiba-tiba berpikiran mesum saat melihat buah dadanya?

Food for thought!🙂

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s