Ibn Taimiyah tentang Yazid ibn Muawiyah

Saya asumsikan anda sudah cukup tahu, atau setidaknya bisa mencari sendiri, bagaimana tragedi Karbala terjadi di masa “raja” kedua dari Dinasti Umawi, Yazid ibn Mu’awiyah. Karenanya, tulisan ini tidak hendak mengisahkan detil kisah memilukan itu. Tulisan ini membahas bagaimana kualitas keislaman Yazid ibn Mu’awiyah di mata ulama Ahlus Sunnah sendiri: antara Ibn Taimiyah dengan ulama lainnya.

Yazid ibn Mu’awiyah adalah anak dari Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (pendiri Dinasti Umawi) dari salah satu selirnya yang bernama Maysun, seorang Nasrani-Yakobus yang, karena tak betah tinggal di istana, akhirnya kembali ke habitat kebaduiannya, di pedalaman. Dengan ditunjukkan Yazid sebagai penerus Mu’awiyah, institusi kekhilafahan yang sebelumya “republik” berubah menjadi monarki.

Yazid bukanlah orang yang taat beragama, bahkan gemar bermaksiat, dan tak segan menumpas lawan politiknya sehabis-habisnya. Di masa Yazid, selain di Karbala, juga terjadi tragedi di Hijaz: ribuan muslim Madinah yang menolak membaiatnya dibantai, para wanita jadi janda, dan Kakbah dibakar.

Bukalah, misalnya, Tarikh al-Khulafa (Sejarah Para Khalif) karya as-Suyuthi, di bab tentang Yazid ibn Mu’awiyah, maka akan tertemukan hal-hal yang tak layak dilakukan oleh orang diberi gelar “khalifah” atau amirul-mu’minin (pengatur urusan orang-orang beriman). Juga mungkin tak terbayangkan sebelumnya oleh mereka para “pejuang” khilafah. Termaktub dalam Tarikh al-Khulafa: Yazid gemar menggelar pesta mabuk, bermain wanita, meninggalkan salat, bahkan pernah mencampakkan Al-Quran ke keranjang sampah (innahu rajulun yankihu ummahât al-awlâd wa al-banât wa al-akhawât wa yasyrab al-khamr wa yada’ as-shalâh).

Dengan perilaku Yazid demikian itu, bagaimana pandangan kalangan Salafi-Wahabi tentang Yazid? Dari berbagai hal yang pernah saya simak di website-website mereka serta ceramah-ceramah ulamanya, pandangan Salafi-Wahabi secara umum adalah “diam”: tidak memuji & tidak juga mencela Yazid. Pandangan ini saya duga kuat diilhami dari pandangan Ibn Taimiyah, guru dari para “pendekar” Salafi, tentang Yazid ibn Mu’awiyah di kitabnya, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah fi Naqdh Kalam as-Syi’ah al-Qadariyah. Buku ini memang ditulis Ibn Taimiyah dengan tujuan menyerang Syiah dan Qadariyah, dan kental sekali nuansa sektariannya.

Dalam Minhaj as-Sunnah (2/33), Ibn Taimiyah mengatakan bahwa keislaman, salat, dan puasanya Yazid adalah mutawatir; tak terbantah oleh siapapun. Di bagian lain, saat mengomentari hadis sahih bahwa Islam akan mulia dengan adanya 12 khalifah (menurut redaksi di Sahih al-Bukhari, 12 amir), Ibn Taimiyah memasukkan Yazid—yang banyak melakukan kemunkaran itu—ke dalam hitungan 12 khalifah itu. (Minhaj as-Sunnah, 8/170)

Yang aneh di sini ialah, pandangan Salafi yang terkenal gampang mengkafirkan itu jadi berbeda saat menyikapi Yazid ibn Mu’awiyah. Dalam kasus Yazid, Salafi tampak berusaha agar legitimasi Yazid bisa dikukuhkan dengan tujuan, antara lain, menjadi argumen buat menyerang Syiah. Narasi sejarah yang dikembangkan oleh Salafi untuk mengkambinghitamkan Syiah adalah bahwa yang melakukan makar untuk membunuh Sayyidina Husain adalah orang Syiah di Kufah sendiri. Narasi lain yang ditebarkan Salafi ialah bahwa Yazid tak menghendaki pembunuhan Sayyidina Husain, bahkan Yazid sendiri sedih karena kematian Husain.

Kata Ibn Taimiyah dalam Minhaj as-Sunnah (4/275), bahwa Yazid tak hendak membunuh Husain itu sudah jadi kesepakatan para perawi. (fayuqâlu inna Yazîd lam ya’mur bi qatli al-Husain bi iitifâq ahl an-naqli). Demikianlah pandangan Ibn Taimiyah: mutawatir-nya keislaman Yazid ibn Mu’awiyah. Makna dari mutawatir ialah bahwa informasi itu diriwayatkan oleh banyak orang di tiap generasi perawi, dan mustahil mereka bersekongkol untuk berdusta.

Maka Ibn Taimiyah dipandang oleh para ulama Syiah sebagai representasi Nashibi (pembenci Ahlul-Bayt), atau sekurang-kuranya pemberi legitimasi Bani Umayyah (mereka menyebutnya “Manhaj al-Islam al-Umawi”). Apakah ini berlebihan? Kenyataannya Ibn Taimiyah juga menyatakan bahwa Mu’awiyah tak bisa dipersalahkan begitu saja karena dia adalah Sahabat Nabi. Begitu pula dengan justifikasi Ibn Taimiyah terhadap putranya, Yazid. Dalam Minhaj as-Sunnah (2/239), sebagaimana juga pernah dinukil Cak Nur dalam bukunya Islam, Doktrin, dan Peradaban (h. 248), Ibn Taimiyah tampak menoleransi Yazid. Ibn Taimiyah malah menekankan bahwa Yazid adalah “komandan tentara Islam yang pertama memerangi dan mencoba merebut Konstantinopel, sementara sebuah hadis menyatakan: “Tentara pertama yang menyerbu Konstantinopel diampuni (oleh Allah akan segala dosanya)””—hadis ini di masa selanjutnya, termasuk kini oleh mereka yang suka dengan romantisisime kekhalifahan Islam lampau, dilekatkan kepada Muhammad al-Fatih dari Utsmaniyah; jadi penafsiran terhadap hadis itu amat politis.

Di sisi lain, bagaimana pandangan ulama Ahlus Sunnah lainnya tentang Yazid ibn Mu’awiyah? Klaim Ibn Taimiyah itu tampaknya tak banyak disetujui. Sebelumnya sudah dipaparkan rujukan dari Tarikh al-Khulafa karya as-Suyuthi bahwa Yazid gemar mabuk dan meninggalkan salat. Dan apakah Yazid bersedih dengan kematian Sayyidina Husain?

Termaktub di Tarikh al-Khulafa pada bab tentang Yazid ibn Mu’awiyah: “Ketika al-Husain dan anak-anak dari ayahnya telah terbunuh, Ibn Ziyad membawa kepala al-Husain ke hadapan Yazid. Pada mulanya, Yazid senang dengan pembunuhan mereka, lalu menyesal sebab kaum muslimin memurkai Yazid karena pembunuhan itu. Orang-orang membenci Yazid, dan adalah hak bagi mereka untuk membenci Yazid.” (Walammâ qutila al-Husain wa banû abîhi ba’atsa Ibn Ziyad biru’ûrihim ilâ Yazîd fasarra biqatlihim awwalan tsumma nadima limâ maqatahu al-muslimûn ‘ala dzalika wa abghadhahu an-nâs wa haqqun lahum an yubghidûhu)

Dari keterangan as-Suyuthi itu cukup jelas, klaim Ibn Taimiyah tentang kemutawatiran narasi sejarah bahwa Yazid tak hendak membunuh al-Husain adalah keliru. Pertanyaan lainnya, apakah status keislaman Yazid itu sudah “mutawatir” juga sebagaimana diklaim oleh Ibn Taimiyah?

Syihabuddin Al-Alusi, ulama Ahlus Sunnah, dalam tafsir Ruh al-Ma’ani terhadap Surah Muhammad menyatakan: “… berdasar perkataan ini, jangan berhenti melaknat Yazid tersebab banyaknya sifatnya yang menjijikkan dan perbuatan dosa besarnya di masa kepemimpinannya, dan cukuplah hal itu terlihat pada hari-hari saat ia mengepung penduduk Madinah dan Mekkah.” (… wa ‘ala hadza al-qawli la tawaqqaf fi la’ni Yazîd li katsrati awshâfihi al-khabîtsah wa irtikâbihi al-kabâ’ir fi jami’i ayyâmi taklîfihi wa yakfi mâ fa’alahu ayyâma istilâ’ihi bi ahl al-Madinah wa Makkah)

Al-Alusi, masih dalam tafsirnya terhadap surat Muhammad, juga menyatakan bahwa ada sebagian ulama yang mantap dengan kekafirannya dan mereka eksplisit melaknat Yazid. Di antara mereka ialah al-Hafizh Ibn al-Jauzi, al-Qadhi Abu Ya’la, dan Jalaluddin as-Suyuthi. Ibn al-Jauzi dan Abu Ya’la adalah ulama mazhab Hanbali; mazhab yang sama dengan mazhabnya Ibn Taimiyah.

Di sini saya tak hendak merekomendasikan kepada anda untuk ikut memvonis Yazid kafir. Saya secara pribadi mengikuti pandangan Al-Ghazali, sebagaimana ditulis pula oleh Al-Alusi, bahwa menurut Al-Ghazali, Yazid adalah muslim yang melakukan banyak dosa besar (fajir). Poin saya dalam tulisan ini satu saja: bahwa Ibn Taimiyah (yang digelari Syaikhul Islam oleh kelompok Salafi) telah berlebihan mendukung Yazid. Klaim “mutawatir” dari Ibn Taimiyah, ternyata tidak mutawatir, bahkan ditentang oleh sesama ulama mazhab Hanbali sendiri. Bila menemui buku-buku sejarah Islam kekinian yang membahas Islam di masa Yazid tanpa menyertakan catatan hitamnya, bagi saya secara pribadi, buku semacam itu tak reliable, tak terpercaya sebagai rujukan.

‘Ala kulli hal, dengan menelusuri lebih dalam bagaimana pandangan Ibn Taimiyah dalam soal politik, sebenarnya cukup tampak bagiamana pragmatismenya. Bukalah, misalnya, karya Ibn Taimiyah tentang as-Siyasah as-Syar’iyyah. Ibn Taimiyah mengetengahkan cerita bahwa suatu ketika Imam Ahmad ibn Hanbal (satu dari pengasas 4 mazhab ortodoks Sunni) ditanya seseorang: “Bila ada dua pilihan untuk jadi pemimpin perang, antara yang saleh tapi lemah (at-taqiy ad-dha’if) dan yang banyak bermaksiat tapi kuat dan cakap berperang (al-fajir al-qawiy), mana yang Anda pilih?” Imam Ahmad menjawab: “Yang banyak maksiat tapi cakap berperang, kemaksiatannya untuk dirinya sendiri dan kecakapannya membawa kebaikan bagi kaum Muslimin. Sementara yang saleh tapi lemah, kesalehannya juga untuk dirinya sendiri tapi kelemahannya akan membahayakan kaum  Muslimin. Maka saya memilih yang banyak maksiat tapi kuat.” Dan di antara argumen Ibn Taimiyah tentang hal ini ialah saat Nabi pernah memilih Khalid ibn al-Walid jadi komandan perang. Untuk diketahui, Nabi sendiri pernah bersabda tentang Khalid, “Allahumma, inni abra’u ilayka mimma fa’ala Khalid” (Ya Allah, aku berlepas diri dari apa yang dilakukan Khalid).

 

Tagged: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s